Pengawasan terhadap Martha membuahkan hasil pada hari kelima, dengan cara yang tidak diduga siapa pun. Bukan Martha yang tertangkap mengirim surat—melainkan seorang tukang daging langganan dapur yang setiap tiga hari mengantar barang ke kastil. Penjaga di gerbang, mengikuti aturan baru, memeriksa gerobaknya sampai ke lapisan terbawah dan menemukan sebuah tabung kecil dari tulang yang terselip di antara buntalan kain garam.
Tukang daging itu sendiri terlihat lebih ketakutan daripada bersalah ketika ditangkap. Ia bersumpah tidak tahu apa-apa tentang tabung itu—bahwa tabung itu dititipkan oleh seorang pembeli biasa di pasar yang memintanya mengantar barang seperti biasa. Ia menyebut ciri-ciri pembeli itu: bertubuh kecil, berjubah, tidak pernah membuka kerudungnya. Deskripsi yang tidak membantu, tapi juga tidak mengejutkan. Ordo Sayap Malam tidak pernah menunjukkan wajah kepada orang yang bisa ditangkap.
Albert memerintahkan tukang daging itu dibebaskan setelah diperiksa sampai tuntas—tidak ada gunanya menahan orang yang hanya dijadikan kurir tanpa tahu apa-apa. Tapi sejak hari itu, pasar di kota perbatasan pun masuk ke dalam peta pengawasan mereka. Semua pembeli berjubah, semua wajah baru, semua tangan yang membayar dengan emas yang terlalu besar untuk barang yang terlalu kecil—semuanya akan tercatat.
Di dalam tabung itu ada surat. Tinta gelap, tulisan rapi:
“Rantai dapur sudah berubah. Target masih belum tersentuh. Kamar bayi sudah dipetakan. Menunggu perintah untuk pendekatan akhir.”
Surat itu tidak bertanda tangan, dan surat itu tidak pernah sampai ke penerimanya. Burung utusan yang seharusnya membawanya sudah dicegat di kandang oleh Dawin, yang sejak tiga hari lalu tidur di sana dengan alas tidur dan sebotol kopi dingin.
“Kamar bayi sudah dipetakan,” ulang Syahquita, dan suaranya kali ini tidak stabil. Ia membaca surat itu di ruang kerja, di hadapan Albert, Dawin, Keenan, Robert, dan kepala penjaga. “Mereka sudah memetakan kamar Oliver. Bukan kamar kita. Kamar Oliver.”
Albert membaca surat itu dengan rahang yang mengeras sampai tampak menyakitkan. “Mereka tidak hanya mengincar kau. Mereka mengincar semua yang kau cintai. Anak-anak kita.”
“Ini pola lama mereka,” ucap Robert dengan suara rendah. “Ambil yang paling berharga dulu, supaya target datang sendiri tanpa perlawanan.”
Tidak ada yang bicara setelah itu untuk waktu yang lama. Di benak Syahquita, potongan-potongan itu mulai menyatu dengan gambaran yang mengerikan: ramuan tidur di sup untuk melumpuhkan, peta kamar bayi untuk mengambil Oliver, dan kemudian—dia yang akan datang sendiri menyerahkan diri, karena tidak ada ibu di dunia ini yang tidak akan datang.
Ia menggenggam tepi meja sampai buku-buku jarinya memutih. Bukan karena takut—ketakutan itu sudah lama lewat. Yang ia rasakan sekarang adalah sesuatu yang lebih dingin dan lebih tajam: tekad. Mereka sudah salah memilih mangsa kalau mereka pikir ia akan datang dengan damai.
“Kita tangkap Martha sekarang,” ucap Keenan, tangannya sudah di gagang pedang. “Kita peras sampai dia bicara siapa majikannya.”
“Tidak,” jawab Syahquita. Semua menoleh kepadanya. “Kalau kita tangkap dia sekarang, ordo itu akan tahu dan mereka akan mengganti rencana—dengan rencana yang tidak kita ketahui. Selama Martha masih bebas dan masih diawasi, kita tahu dari mana informasi mereka mengalir. Kita bisa memutuskan apa yang mereka dengar.” Ia menatap Albert. “Kita membalikkan arusnya. Kita beri Martha informasi palsu—peta kamar yang salah, jadwal yang salah—dan kita lihat ke mana informasi itu bergerak.”
Albert memikirkan itu sejenak, lalu mengangguk. “Perang informasi. Baik. Mulai malam ini, Martha akan ‘mendengar’ bahwa kamar bayi dipindahkan ke sayap timur. Dan kita akan melihat siapa yang mengubah arah gerakannya setelah itu.”
Penyebaran kabar palsu itu dilakukan dengan hati-hati. Arla membisikkannya di dapur seolah itu rahasia yang tidak sengaja lepas: kamar bayi akan dipindahkan ke sayap timur karena kamar yang sekarang “terlalu lembap”. Kabar itu dirancang untuk terdengar seperti gosip biasa, dan gosip di kastil selalu berjalan lebih cepat dari kuda mana pun.
Dalam dua hari, kabar itu sudah sampai ke semua telinga di dalam tembok—termasuk, mereka harap, telinga yang tepat.
Rencana itu bekerja lebih cepat dari dugaan. Dua hari kemudian, Martha terlihat di kandang burung utusan lagi—kali ini tertangkap basah oleh Dawin yang bersembunyi di balik tumpukan jerami. Suratnya disita sebelum burungnya lepas, dan isinya: “Kamar bayi pindah ke sayap timur. Perlu peta baru.”
Dawin menceritakan penangkapan itu dengan mata berbinar di ruang kerja. “Kalian harus melihat wajahnya saat aku berdiri dari balik jerami. Dia membeku seperti patung. Tangannya masih memegang surat itu ketika aku mengambilnya—dia bahkan tidak sempat berpikir untuk melarikan diri.”
“Dia bukan prajurit,” ucap Robert. “Dia hanya mata-mata upahan. Mereka selalu membeku saat tertangkap.”
Mereka membiarkan surat itu terbang—dengan satu tambahan kecil yang tidak disadari Martha: tinta yang dipakai di kandang burung itu sudah dicampur oleh Alger dengan serbuk tak kasat mata yang akan menempel pada tangan siapa pun yang membukanya, dan akan berpendar biru samar di bawah cahaya bulan.
“Sekarang,” ucap Alger, mengangkat botol kecilnya dengan senyum seorang ahli, “siapa pun yang membaca surat ini akan membawa tanda di tangannya selama tiga hari. Kalau mereka datang lagi ke wilayah kita—dan mereka akan datang—kita bisa melihat tangannya bercahaya di kegelapan.”
Syahquita menatap botol kecil itu, lalu menatap suaminya. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka tidak lagi hanya bermain bertahan. Mereka sudah mulai menarik benangnya ke arah yang berlawanan.
Malam itu, dapur kastil bekerja seperti biasa. Martha mengangkat panci, mencicipi garam, dan menjawab pertanyaan kepala pelayan dengan wajah yang sama tenangnya seperti selalu. Tidak ada yang berubah di luar, dan itulah yang paling penting—selama wajah-wajah di dapur tetap biasa, arus informasi palsu akan terus mengalir ke arah yang salah, dan ordo itu akan terus menggambar peta dari wilayah yang tidak pernah benar-benar mereka lihat.
Di kamar bayi, Oliver tidur dengan dua penjaga di luar pintunya. Di menara pengawas, seorang penjaga memegang lampu yang kacanya sudah diganti dengan kaca khusus dari Alger—kaca yang akan membuat tangan bertanda serbuk itu terlihat berpendar biru dari kejauhan. Dan di kamar utama, Syahquita dan Albert duduk berdampingan di depan perapian, tidak membicarakan perang untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, melainkan membicarakan hal-hal kecil: nama-nama yang mungkin untuk bayi mereka, makanan apa yang tidak lagi membuat Syahquita mual, dan bagaimana wajah Oliver saat mengejar kupu-kupu di taman.
Untuk satu malam itu, mereka membiarkan diri mereka menjadi sepasang suami istri biasa. Besok, perang akan menunggu lagi. Tapi malam itu milik mereka.