Jawaban dari Morrigan tiba pada malam yang berkabut, disampaikan bukan oleh burung melainkan oleh Goran sendiri yang datang langsung ke kastil dengan kuda yang kehabisan napas. Pria pelabuhan itu turun dari sadelnya dengan wajah pucat dan langsung dibawa ke ruang kerja.
Arla membawakannya roti dan sup—sup yang kali ini diperiksa dua kali sebelum disajikan—dan Goran makan seperti orang yang sudah dua hari tidak makan. Di sela-sela suapannya, ia bercerita tentang perjalanannya ke utara: kota pelabuhan yang basah dan dingin, gedung tua yang dijaga sihir, dan penyihir yang menerimanya tanpa pernah membuka pintu sepenuhnya—hanya celah kecil dan mata yang berbinar dalam gelap.
“Dia tidak tua,” ucap Goran di sela makannya. “Dari suaranya, saya kira dia perempuan yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Tapi suaranya… saya tidak mau mendengar suara seperti itu dua kali, Tuan. Suaranya seperti orang yang sudah tahu jawaban dari semua pertanyaan yang belum sempat Anda ajukan.”
“Dia tidak mau bicara lewat cermin,” ucap Goran setelah meneguk dua gelas air. “Dan dia tidak mau datang ke sini. Tapi dia menawarkan satu jalan: dia bersedia memberi tahu siapa majikan kontrak itu, dengan dua syarat.”
Albert menyilangkan tangan di dada. “Sebutkan.”
“Syarat pertama: perlindungan. Morrigan yakin majikannya akan membunuhnya begitu dia bicara, jadi dia minta suaka di wilayah kalian—hidup di bawah perlindungan kastil perbatasan sampai kontrak itu mati.” Goran menelan ludah. “Syarat kedua: dia mau bertemu langsung dengan orang yang menjadi target kontrak. Dengan Tuan Putri Syahquita. Katanya, dia tidak akan membicarakan kontrak itu dengan siapa pun selain dengan orang yang namanya tertulis di dalamnya.”
Ruangan itu hening. Nama Syahquita. Tertulis di dalam kontrak. Kata-kata itu membuat udara di ruangan itu terasa lebih tipis.
“Jadi sudah pasti,” ucap Dawin pelan. “Targetnya memang kau, Syah. Bukan Albert. Bukan kastil. Kau.”
Syahquita duduk dengan sangat tegak. Tangannya berada di atas perutnya, seperti selalu sekarang. “Maka aku memang harus bicara dengannya.”
“Tidak di sarangnya,” ucap Albert cepat. “Kalau dia mau bicara denganmu, dia datang ke wilayah netral yang kita pilih, dengan pengawalan kita, di siang hari bolong. Titik. Kalau dia menolak, kita cari jalan lain.”
“Dan syarat suakanya?” tanya Robert. “Menampung penyihir kontrak darah di wilayah kita adalah keputusan besar. Dia akan membawa musuhnya sendiri ke sini.”
“Atau dia akan membawa nama majikan kita,” jawab Syahquita. Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Kabut malam menutupi halaman, dan di suatu tempat di balik kabut itu, ordo itu sedang menunggu. “Aku sudah memikirkannya sepanjang jalan. Kalau Morrigan benar-benar mau membelot, dia adalah pintu kita satu-satunya menuju majikan itu. Dan majikan itu—siapa pun dia—sudah merencanakan penculikan ini sejak enam bulan lalu. Sejak sebelum aku tahu aku hamil.” Ia berbalik menghadap mereka semua. “Pikirkan itu. Enam bulan lalu, bahkan kami sendiri tidak tahu akan ada bayi ini. Jadi kontrak itu bukan tentang bayi ini pada awalnya. Kontrak itu tentang aku. Bayi ini hanya membuat kontraknya semakin berharga.”
Kebenaran itu jatuh ke ruangan seperti batu ke air tenang. Keenan menyentuh bekas luka lama di lengannya, seperti yang selalu ia lakukan kalau sedang berpikir keras. “Enam bulan lalu,” ulangnya pelan. “Sebelum damai dengan Drake diresmikan. Sebelum Oliver diadopsi penuh. Seseorang sudah mengincar Syahquita sejak masa perang belum benar-benar usai.”
“Itu mempersempit daftarnya,” ucap Robert. “Seseorang dari masa perang. Seseorang yang tidak pernah ikut meletakkan senjata.”
Albert berdiri dengan wajah yang keras. “Maka kita akhiri ini di sumbernya. Kita terima syaratnya—dengan aturan kita. Pertemuan di wilayah netral, siang hari, dengan formasi yang kita pilih. Dan kau tidak pergi sendirian. Aku di sampingmu.”
“Sepakat,” jawab Syahquita.
Nyonya Agatha, yang hadir dalam pembicaraan itu dan sejak tadi diam sambil menyesap tehnya, akhirnya membuka suaranya. “Satu hal yang kalian lupakan,” ucapnya, dan semua mata beralih padanya. “Pertemuan lima hari lagi di kedai persimpangan. Kalian semua sibuk memikirkan Morrigan. Tapi ordo itu juga membaca kalender. Lima hari adalah waktu yang cukup bagi mereka untuk bergerak lebih dulu—sebelum pertemuan itu terjadi. Jangan biarkan pertemuan ini membuat kalian merasa aman. Justru karena kalian sudah menjadwalkannya, mereka akan mempercepat rencana mereka.”
Keheningan kecil jatuh di ruangan itu. Albert mengangguk pelan. “Ibu benar. Kita gandakan lagi penjagaan malam. Dan mulai sekarang sampai pertemuan itu, tidak ada satu pun dari kita yang keluar tembok.”
“Termasuk aku,” ucap Syahquita, sebelum Albert sempat mengatakannya. “Aku tahu. Aku yang paling tidak boleh keluar.”
Albert menatapnya, dan ada rasa terima kasih yang tidak diucapkan di matanya—terima kasih karena kali ini, istrinya tidak memaksanya berdebat untuk melindunginya.
Malam itu juga, jadwal penjagaan diperbarui lagi. Dawin mengambil lorong kamar bayi, Keenan mengambil koridor kamar utama, dan Robert memilih sendiri posisi di atap—tempat yang paling dingin tapi paling luas pandangannya. Tidak ada yang mengeluh. Kastil itu sudah lama berubah dari rumah menjadi benteng, dan semua orang di dalamnya sudah lama berubah dari penghuni menjadi penjaga.
Malam itu, surat balasan kepada Morrigan ditulis dan dikirim dengan Goran yang berangkat lagi ke utara sebelum subuh. Isinya pendek dan jelas: syarat diterima, pertemuan di wilayah netral—kedai tua di persimpangan jalur perdagangan—lima hari dari sekarang, tengah hari.
Syahquita tidak bisa tidur setelah surat itu terbang. Ia berdiri di kamar Oliver untuk waktu yang lama, memperhatikan anak itu tidur dengan damai, dan kemudian ia berjalan ke jendela yang menghadap ke utara. Di kejauhan, kabut bergerak di atas hutan pinus seperti laut yang diam.
Ia memikirkan Morrigan—penyihir yang suaranya membuat pria pelabuhan yang keras seperti Goran bergidik. Ia memikirkan apa yang akan ia tanyakan padanya lima hari lagi, dan apa yang tidak akan ia tanyakan, karena pertanyaan yang salah kepada penyihir kontrak darah bisa berakhir dengan sumpah yang tidak bisa ditarik kembali. Ia memikirkan majikan misterius itu—seseorang dengan emas yang cukup untuk membangunkan ordo yang sudah bubar, dan dendam yang cukup untuk menunggu enam bulan merencanakan semuanya.
Siapa yang membencinya sedalam itu? Siapa yang bertahan selama itu?
“Lima hari,” bisiknya kepada kegelapan. “Lima hari, dan aku akan tahu siapa yang menginginkanku.”
Dan ia berjanji pada dirinya sendiri—pada malam yang berkabut itu, di depan jendela yang dingin—bahwa siapa pun namanya, ia tidak akan lari. Ia sudah selesai berlari sejak lama. Kali ini, ia yang akan berjalan ke arah badai, dengan kepalanya tegak dan keluarganya di belakangnya.