Lima hari sebelum pertemuan dengan Morrigan berjalan seperti lima pekan. Kastil perbatasan hidup dalam dua lapis kenyataan: lapis luar yang tenang dan biasa—makan bersama, Oliver bermain di taman, jadwal harian yang tidak berubah—dan lapis dalam yang penuh persiapan: rute perjalanan yang digambar dan digambar ulang, formasi pengawalan yang dilatih di halaman belakang, dan daftar pertanyaan untuk penyihir itu yang ditulis dan dicoret berkali-kali.
Syahquita yang menulis daftar pertanyaan itu, dengan Albert duduk di sebelahnya. “Pertanyaan pertama harus yang paling penting,” ucapnya. “Kalau pertemuan itu terganggu, kalau ada yang salah, aku harus sudah menanyakannya lebih dulu.”
“Siapa majikannya,” ucap Albert.
“Siapa majikannya,” setuju Syahquita, menuliskannya di baris teratas. “Kedua: apa tepatnya isi kontraknya—hidup atau diambil hidup-hidup, ke mana, untuk apa. Ketiga: berapa banyak orang ordo itu di lapangan. Keempat—” ia berhenti, mengetuk-ngetukkan penanya, “—kenapa dia mau membelot. Jawaban itu akan memberi tahu kita apakah dia bisa dipercaya.”
Albert membaca daftar itu, lalu menambahkan satu baris dengan tulisannya sendiri: “Kelima: apa kelemahan kontraknya. Semua kontrak darah punya celah. Tanyakan celahnya.”
Syahquita menatap suaminya. “Kau tahu banyak tentang kontrak darah.”
“Aku bangsawan perbatasan, Syah. Kami dibesarkan dengan pengetahuan tentang hal-hal yang tidak pernah kami harapkan akan benar-benar kami hadapi,” jawab Albert. “Kontrak darah tidak bisa dibatalkan oleh majikannya—tapi bisa dipatahkan kalau syarat pengikatnya hilang. Rambut, darah, barang pribadi yang diserahkan saat kontrak dibuat. Kalau benda itu hancur, kontraknya mati.”
Itu informasi penting, dan Syahquita menuliskannya dengan huruf yang ditebalkan. Benda pengikat. Kalau mereka menemukan apa yang diserahkan majikan itu kepada ordo, mereka tidak perlu menang perang—mereka hanya perlu menghancurkan satu benda.
“Bagaimana kau tahu semua ini?” tanya Syahquita sambil menulis.
“Dari guru perangku waktu aku kecil. Dia orang yang percaya bahwa musuh terburuk adalah musuh yang tidak kau pahami,” jawab Albert. “Aku membencinya waktu itu. Sekarang aku berhutang padanya.”
Syahquita menuliskan satu catatan lagi di pinggir daftar: tanyakan Morrigan apakah pengikatnya sisir. Lalu ia meletakkan penanya dan menggosok matanya yang lelah. Albert langsung berdiri, mengambil daftar itu dari tangannya dengan lembut tapi tegas.
“Cukup untuk malam ini. Daftarnya sudah bagus. Otakmu butuh istirahat sama seperti tubuhmu.”
Kali ini Syahquita tidak berdebat. Ia membiarkan suaminya menuntunnya ke kamar, dan ia tertidur dengan daftar pertanyaan itu masih berputar di kepalanya seperti roda yang belum mau berhenti.
Keesokan malamnya, ketika mereka berdua sendirian di ruang kerja setelah semua orang bubar, Albert tiba-tiba bertanya, “Kau sudah memikirkan nama?” Pertanyaan yang aneh di tengah perencanaan perang, tapi Syahquita mengerti—Albert selalu mencari pegangan pada hal-hal yang normal saat badai mendekat.
“Belum. Tapi aku tahu satu hal: anak ini tidak akan diberi nama dari nama jenderal atau raja mana pun,” jawab Syahquita. “Dia akan diberi nama yang artinya damai. Supaya setiap kali kita memanggilnya, kita ingat apa yang sedang kita pertahankan.”
Albert tersenyum kecil. “Damai. Aku suka itu.” Ia menatap peta di atas meja sekali lagi, lalu meniup lilin. “Besok kita mulai lebih awal. Tidur sekarang.”
Persiapan logistik berjalan di latar belakang semua itu. Dawin mengatur rute dengan tiga rencana cadangan. Keenan memilih sendiri pengawal yang ikut—enam orang, tidak lebih, karena rombongan besar akan terlihat dari jauh. Robert menyiapkan kedai persimpangan itu: dua orang kepercayaannya sudah tiba di sana dua hari lebih awal, menyamar sebagai pedagang, memetakan setiap pintu dan jendela.
Dan di tengah semua itu, ada satu tugas yang lebih berat dari strategi mana pun: memberi tahu ibunya—sebagian saja.
Sebelum itu, sore harinya, Syahquita menghabiskan satu jam penuh di kamar Oliver. Anak itu sedang dalam fase menumpuk balok-balok kayu menjadi menara yang miring, lalu menjatuhkannya sambil tertawa, lalu menumpuknya lagi. Syahquita menonton dari kursi goyang, dan sesekali Oliver berlari ke arahnya untuk memamerkan menaranya yang sudah jadi, dengan wajah bangga yang membuat Syahquita ingin mengunci waktu di tempatnya.
“Menara yang tinggi sekali,” puji Syahquita saat Oliver menyeretnya mendekat untuk melihat karya terbarunya. “Besok ibu pergi sebentar. Oliver di rumah dengan Arla dan nenek-nenek, ya.”
Oliver menatapnya dengan mata besar yang tidak sepenuhnya mengerti, lalu kembali ke balok-baloknya. Anak kecil tidak punya konsep tentang pergi dan bahaya; bagi Oliver, besok hanyalah hari lain dengan balok-balok dan taman dan orang-orang yang mencintainya. Syahquita bertekad dalam hati untuk menjaga dunia anak itu tetap seperti itu—tetap sederhana, tetap aman, tetap tanpa ketakutan.
Di pintu kamar bayi, ia berhenti dan menatap anak itu sekali lagi. “Ibu akan pulang,” bisiknya. “Ibu selalu pulang.”
Malam sebelum keberangkatan, Syahquita memberi tahu ibunya—sebagian. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati ketika mereka duduk berdua di kamar.
“Besok aku dan Albert pergi seharian,” ucapnya. “Ada pertemuan penting di persimpangan. Kau, Nyonya Agatha, Oliver, dan Arla tetap di kastil. Kastil ini tidak akan pernah lebih aman dari besok—semua penjaga terbaik tetap di sini.”
Ibunya memperhatikannya lama. “Pertemuan dengan orang yang sudah membuat semua orang tegang berminggu-minggu ini.”
“Iya.”
“Dan kau pergi sendiri ke sana, dalam keadaan mengandung.”
“Aku pergi dengan Albert, dengan enam pengawal terbaik, di siang bolong, di wilayah netral yang sudah dipetakan lebih dulu,” jawab Syahquita. “Dan aku pergi karena hanya aku yang bisa mendapatkan nama itu, Bu. Nama orang yang menginginkan keluarga kita hancur.”
Ibunya menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Kalau ibu melarangmu, kau akan tetap pergi.”
“Iya,” jawab Syahquita jujur.
“Maka ibu tidak akan melarang. Tapi ibu akan menunggu di gerbang sampai kalian pulang. Dan kalian akan pulang.” Ibunya memegang tangannya erat. “Kau dengar ibu? Kalian akan pulang.”
“Kami akan pulang,” janji Syahquita.
Nyonya Agatha, di kamarnya sendiri, menerima kabar itu dengan cara yang sangat berbeda. Ia hanya mengangguk sekali, lalu berkata, “Bawa pisau kecil di ikat pinggangmu. Bukan untuk menusuk—untuk memotong. Benang, tali, apa pun yang mengikat. Orang yang paling banyak selamat bukan yang paling kuat, melainkan yang paling siap untuk membebaskan diri.”
Syahquita menerima nasihat itu dengan sungguh-sungguh, dan keesokan paginya, pisau kecil itu terselip rapi di ikat pinggangnya di balik mantel panjangnya.
Albert yang melihatnya hanya menaikkan alis, dan ketika Syahquita menjelaskan dari mana nasihat itu berasal, suaminya itu mengangguk pelan. “Untuk sekali ini, aku dan ibuku sepakat tentang sesuatu. Bawa juga yang ini.” Ia mengeluarkan belati kecil dari laci mejanya—belati dengan gagang sederhana yang sudah lama ia miliki—dan menyerahkannya kepada Syahquita. “Untuk berjaga-jaga. Aku lebih suka kau tidak perlu memakainya sama sekali.”
“Aku juga,” jawab Syahquita, menyelipkannya di sisi lain ikat pinggangnya. Dua pisau kecil, dari ibu mertua dan suami. Perang memang mengubah cara orang mengatakan cinta.