Mereka berangkat tepat setelah matahari terbit, dengan kabut pagi yang masih menggantung rendah di atas jalan setapak. Kereta yang mereka pakai adalah kereta tanpa lambang, ditarik dua kuda biasa, dan keenam pengawal berpakaian seperti pedagang. Albert duduk di dalam kereta bersama Syahquita, dan tidak sekali pun tangannya lepas dari gagang pisau di pinggangnya.
Perjalanan ke kedai persimpangan memakan waktu dua jam melalui jalan perbukitan. Syahquita menghabiskan waktu itu dengan membaca ulang daftar pertanyaannya, sementara Albert menatap keluar jendela dengan mata yang tidak pernah berhenti bergerak—menghitung pohon, batu, tikungan, dan setiap bayangan yang bergerak terlalu cepat.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti sebentar di sebuah mata air kecil di pinggir jalan untuk mengganti kuda. Syahquita turun dari kereta untuk meregangkan kakinya—duduk terlalu lama membuat punggungnya sakit akhir-akhir ini, salah satu keluhan kecil dari kehamilan yang mulai terasa. Albert turun bersamanya, tentu saja, dan berdiri di sampingnya seperti bayangan yang tidak pernah absen.
“Kau ingat pertama kali kita pergi berdua seperti ini?” tanya Syahquita, menatap aliran mata air yang jernih.
“Aku ingat. Kau membenciku saat itu,” jawab Albert dengan senyum tipis.
“Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak mempercayaimu.”
“Itu lebih buruk.”
“Itu lebih masuk akal,” koreksi Syahquita, dan mereka berdua tertawa kecil. Tawa yang singkat dan pelan, tapi cukup untuk mengingatkan mereka bahwa di balik semua ketegangan ini, mereka tetap dua orang yang sudah berjalan jauh bersama.
“Bernapaslah,” ucap Syahquita tanpa mengangkat matanya dari daftarnya, saat mereka kembali ke kereta. “Kau akan membuat dirimu sendiri lelah sebelum kita sampai.”
“Aku sedang berjaga-jaga.”
“Kau sedang tegang. Berjaga-jaga dan tegang itu berbeda. Yang satu berguna, yang satu melelahkan.” Syahquita akhirnya menatapnya. “Kita sudah menyiapkan semuanya. Sekarang tinggal menjalaninya.”
Albert menghela napas dan memaksa bahunya turun sedikit. “Bagaimana kau bisa setenang ini?”
“Aku tidak tenang,” jawab Syahquita jujur. “Aku hanya sudah memutuskan untuk tidak menunjukkannya. Itu dua hal yang berbeda.”
Kedai persimpangan muncul di hadapan mereka tepat sebelum tengah hari: bangunan kayu tua berlantai dua di pertemuan tiga jalan, dengan atap jerami yang sudah beruban dan pelanggan yang silih berganti—pedagang, pengembara, kusir kereta. Tempat yang sempurna untuk pertemuan seperti ini: terlalu ramai untuk pertumpahan darah, terlalu netral untuk dipermasalahkan.
Albert turun dari kereta lebih dulu dan memeriksa halaman dengan matanya sebelum membantu Syahquita turun. Tidak ada yang janggal—kereta-kereta dagang berjajar di sisi timur, dua kusir bertengkar soal harga di dekat sumur, dan seorang pengemis tua tidur di bawah papan pengumuman. Semuanya normal. Justru kenormalan itulah yang membuat Albert semakin waspada.
“Ingat,” bisiknya saat mereka berjalan ke pintu kedai, “kalau aku memberi isyarat, kau langsung kembali ke kereta. Tidak usah bertanya, tidak usah menoleh.”
“Aku ingat,” jawab Syahquita. “Dan kalau aku memberi isyarat, kau tidak meledak di depan penyihir itu. Tidak usah bertanya, tidak usah menoleh.”
Albert nyaris tertawa, dan ketegangan di bahunya turun satu tingkat.
Dua orang Robert sudah berada di dalam—satu di meja dekat jendela, satu di dekat tangga. Keenan dan dua pengawal masuk lebih dulu, memeriksa ruangan, lalu memberi tanda. Baru setelah itu mereka masuk bersama, dengan Albert berjalan setengah langkah di depan istrinya.
Morrigan sudah ada di sana.
Penyihir itu duduk di meja sudut yang paling gelap, dengan jubah abu-abu sederhana yang tidak mencolok sama sekali. Tidak ada aura dramatis, tidak ada asap atau cahaya—hanya seorang wanita dengan rambut gelap yang diikat ke belakang dan mata yang terlalu tenang untuk tempat seperti itu. Di hadapannya ada secangkir teh yang tidak disentuhnya.
“Tuan Putri Syahquita,” ucap Morrigan saat mereka menghampiri. Suaranya persis seperti yang didengar Goran: datar, tenang, seperti orang yang sudah tahu semua jawaban. “Dan Tuan Albert. Duduklah. Teh di meja ini tidak apa-apa—aku meraciknya sendiri, dan aku tidak akan meracuni pelanggan yang kubutuhkan untuk tetap hidup.”
Mereka duduk. Albert di sisi Syahquita, menghalangi sudut ruangan. Keenan mengambil posisi di meja sebelah dengan pengawal, dan Dawin menunggu di luar bersama sisanya.
Pelayan kedai datang untuk menawarkan minuman, dan Albert memesan dua cangkir teh panas dengan nada setenang yang bisa ia pasang. Ketika pelayan itu pergi, Morrigan berkata pelan, “Kau bisa tenang, Tuan Albert. Kalau aku datang untuk menyakiti kalian, aku tidak akan datang dengan teh di tangan.”
“Orang yang datang dengan damai belum tentu pergi dengan damai,” jawab Albert. “Kau akan memaklumi kalau aku tetap berjaga-jaga.”
“Aku tidak hanya memakluminya. Aku mengandalkannya,” jawab Morrigan. “Ordo itu sedang mencariku sekarang. Mereka sudah menyadari aku tidak kembali ke pelabuhan sesuai jadwal. Kalau mereka menemukanku sebelum aku menyerahkan semua yang kutahu, percakapan ini tidak akan pernah terjadi lagi.”
“Kau sudah mendapat surat kami,” ucap Albert. “Syarat-syarat kita sudah jelas. Suaka dan perlindungan, dengan imbalan semua yang kau tahu tentang kontrak yang aktif terhadap istriku.”
“Semua yang kutahu,” ulang Morrigan. Ia menatap Syahquita untuk waktu yang lama—bukan menatap seperti orang menilai, melainkan seperti orang membaca. “Mereka menulis namamu dengan tinta hitam di atas kulit kontrak, Tuan Putri. Namamu, tanggal lahirmu, dan satu benda milikmu yang sudah menjadi pengikat kontrak itu. Sebelum aku mengatakan apa pun, aku ingin kau menjawab satu pertanyaanku.” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit. “Enam bulan lalu, apakah kau pernah kehilangan sesuatu yang pribadi? Sehelai rambut di sisir yang hilang, cincin yang jatuh, saputangan yang tertinggal di suatu tempat?”
Syahquita merasakan darahnya bergerak mundur. Ia memikirkannya—enam bulan lalu, masa perang baru saja usai, perayaan perdamaian, tamu-tamu dari mana-mana. Dan kemudian ia ingat: sehelai rambut yang tersangkut di sisirnya hilang bersama sisir itu sendiri, di sebuah jamuan perdamaian yang ramai, di mana ia meletakkannya sebentar di meja rias dan tidak pernah menemukannya lagi.
“Sisirku,” bisik Syahquita. “Sisirku hilang di jamuan perdamaian. Aku kira dicuri pelayan yang tidak tahu diri.”
Albert menoleh dengan tajam. “Kau tidak pernah memberitahuku.”
“Itu hanya sisir, Albert. Di tengah perayaan perdamaian, dengan ratusan tamu dari dua kerajaan, aku tidak mau membuat keributan karena sisir yang hilang.” Syahquita memijat keningnya, kesal pada dirinya sendiri. “Kalau saja aku melaporkannya—”
“Hei.” Albert memegang bahu istrinya. “Tidak ada yang akan menyangka. Tidak ada. Jangan mulai menyalahkan dirimu atas pekerjaan pencuri.”
Morrigan mengangguk pelan, seperti dokter yang menemukan gejala yang sudah ia duga. “Bukan pelayan. Seseorang mengambilnya dengan sengaja. Dan seseorang itu sudah menginginkanmu sejak jauh sebelum perdamaian ditandatangani.”