Suasana di dalam rumah Dewi terasa sangat murung sejak kejadian itu. Sangat jauh berbeda dari hari-hari biasanya.
Biasanya orang-orang yang tinggal di dalam rumah mewah itu selalu dipenuhi dengan keceriaan dan kebahagiaan. Seolah tidak pernah ada duka yang menyinggahi mereka.
Hidup mereka yang selalu bergelimang harta, memiliki tanah yang luas, dan sangat disegani oleh masyarakat kampung.
Di mata orang kampung, keluarga Dewi adalah keluarga yang tanpa cela dan panutan semua orang.
Tentu saja peristiwa yang baru saja terjadi membuat masyarakat heran, bahkan geram terhadap keluarga Airul.
Tanpa ada penjelasan, Airul dan keluarganya tiba-tiba membatalkan pernikahan begitu saja. Dan yang lebih menyakitkan bagi Dewi, pembatalan itu dilakukan di hari pernikahan. Seolah-olah keluarga Airul sengaja hendak membuat malu keluarga Dewi.
"Kalau memang niat mau membatalkan, kenapa tidak sejak awal saja? Sebelum acara dimulai? Ada dendam apa keluarga mereka sama keluarga saya?" tanya Dewi kesal dan benar-benar dibuat bingung oleh peristiwa itu.
Dini meremas tangan kakaknya, berusaha menenangkan setiap kali Dewi membahas masalah itu.
Sudah lima hari sejak kejadian, tapi keluarga besar mereka tidak juga mendapatkan jawaban dari keluarga Airul.
Airul dan keluarganya sudah kembali ke Jakarta, karena memang mereka berdomisili di sana. Rumah mereka yang dikampung dihuni oleh adik ibunya.
Dan ketika adik ibunya tersebut dimintai penjelasan, dia pun menjawab tidak mengerti.
Zara dan suaminya sudah mencoba berulang kali menghubungi ponsel Airul, tapi sudah tidak aktif.
Sedangkan Rika menjadi sangat syok akibat peristiwa itu. Dia mengurung diri di dalam kamar, tidak mau makan, tidak mau bertemu siapapun, dia hanya tidur.
"Bawa sholat Wi, jangan dituruti sakit hatimu. Nanti kamu bisa sakit kalau begini terus." Etek May-ibunya Mina- menasehati Dewi yang merupakan keponakannya.
Sejak Mak Tini-ibu kandung Dewi dan Dini- tiada, Etek May lah yang menjadi pengganti ibu bagi mereka berdua.
Etek May adalah adik kandung Mak Tini. Sejak orang tua mereka meninggal, Mak Tini lah yang bertanggung jawab pada Etek May. Kebetulan Mak Tini sudah menikah ketika kedua orang tuanya tiada.
Mereka menempati rumah peninggalan orang tua mereka yang sangat besar. Orang tua mereka meninggalkan banyak warisan, berupa kebun dan sawah juga sapi dan kerbau.
Semua itu dikelola oleh Mak Tini dan suaminya demi meneruskan usaha orang tua mereka dulu.
Sebelum Dewi lahir, Mak Tini sempat melahirkan seorang anak laki-laki, namun meninggal ketika berusia satu tahun.
Barulah tiga tahun kemudian Dewi lahir, dan saat itu Etek May sudah menikah dan tidak lagi tinggal di rumah gadang.
Etek May dan suaminya memilih tinggal di rumah mereka sendiri. Mak Tini memberikan sebidang tanah pada Etek May untuk mendirikan rumah.
Suami Etek May bekerja membantu suami Mak Tini di kebun dan sawah. Dari situlah Etek May menghidupi keluarganya.
Etek May melahirkan Mina setahun sebelum Mak Tini melahirkan Dewi. Karena itulah mereka terlihat seusia karena hanya berjarak satu tahun saja.
Kini, Etek May sudah berusia senja dan mulai sakit-sakitan. Tapi, demi tanggung jawab pada anak-anak dari kakaknya, dia tetap berupaya untuk ada di saat Dewi berduka. Sejak peristiwa pembatalan pernikahan Rika, Etek May tiap hari berkunjung ke rumah gadang yang kini ditempati oleh Dewi bersama suami dan anak-anaknya.
Jarak antara rumah gadang dengan rumah Etek May tidak terlalu jauh, masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
"Etek, kalau tahu akan begini, lebih baik saya terima lamaran Fajri saja waktu itu." Dewi seperti menyesali diri, karena telah menolak lamaran Fajri, yang merupakan pemuda satu kampung dengan mereka, sekaligus teman kecil Rika.
Tapi, karena keluarga Fajri dianggap tidak selevel dengan keluarga Dewi, makanya lamaran pemuda tersebut ditolak. Ditambah pula Rika juga sudah berpacaran dengan Airul selama empat tahun.
Airul merupakan warga dari kampung sebelah, tapi keluarganya tinggal di Jakarta. Keluarga Airul memiliki beberapa cabang restoran yang cukup besar di Jakarta, dan mereka dikenal sebagai keluarga yang kaya raya juga.
Perkenalan Airul dengan Rika sebenarnya sudah sejak remaja, karena sepupu Airul merupakan teman sekolah Rika. Keduanya berkenalan ketika Airul pulang kampung untuk berlibur.
Dan keakraban antara Rika dengan Airul berlanjut ketika mereka kuliah. Selepas dari SMA Airul melanjutkan kuliah di Padang. Sejak itulah mereka mulai menjadi akrab, lalu memutuskan untuk berpacaran sejak empat tahun yang lalu.
Hubungan keduanya disetujui oleh kedua belah pihak keluarga. Tidak ada larangan sedikit pun. Mungkin karena mereka berasal dari keluarga yang setara.
Namun, entah karena masalah apa, tiba-tiba saja Airul membatalkan pernikahan itu.