"Ibuu, toloooong!" terdengar suara teriakan Zara dari ruang tengah.
Dewi bergegas pergi ke arah datangnya suara. Ternyata, di ruang tengah Rika sedang terbaring di lantai. Sedangkan Zara berdiri tidak jauh dari sana.
"Ibu, Rika kenapa?" tangis Zara sambil memegangi perutnya yang sudah besar. Saat ini Zara tengah mengandung, dan memasuki usia kandungan 9 bulan.
Dewi berlari menghampiri Rika yang menggelepar di lantai.
"Rika, kamu kenapa, Nak?" Dewi mencoba merangkul Rika.
"Tolong panggil ayahmu, minta tolong seseorang untuk memanggil ayahmu!" perintah Dewi pada Zara.
Zara segera berlari keluar untuk mencari Ujang, salah satu pekerja keluarga mereka.
Sementara itu, Dewi berusaha menenangkan Rika. Bibi datang membawakan segelas air putih untuk diminumkan pada Rika.
Rika tidak mau meminum air itu sedikit pun, tubuhnya masih menggelepar, tatapan matanya kosong, ekspresinya datar.
Wajahnya sangat pucat seperti kurang darah.
Tak lama, Zara kembali ke ruang tengah. "Ujang sedang menjemput ayah ke kebun," ujar Zara. Dia sedikit terengah, mungkin karena pengaruh kehamilan.
"Kita bawa saja Rika ke dalam kamar, Bu." Zara mengusulkan pada ibunya.
Dewi mengangguk sembari menatap ke arah bibi sebagai kode agar membantunya.
Tanpa perlu bertanya, Bibi langsung mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tubuh Rika.
"Kamu tidak usah ikut, Zara. Biar Ibu saja dan Bibi." Dewi melarang Zara karena mempertimbangkan kondisi Zara.
Zara setuju, dan bergeser untuk memberi ruang pada ibu dan bibi. Namun tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram oleh Rika.
Spontan Zara terkejut, dan terpekik.
"Kenapa?" tanya Dewi. Pekikan Zara itu menarik perhatiannya.
Zara berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Rika, tapi tidak berhasil karena cengkeraman itu terlalu kuat.
Dewi pun terkejut begitu mengetahui apa yang terjadi. Dewi membantu Zara untuk melepaskan cengkeraman Rika, tapi cengkeraman itu malah semakin kuat, hingga menyebabkan pergelangan tangan Zara berdarah.
Pada saat yang sama, Zara merasakan kontraksi di perutnya.
"Akh... awww." Zara meringis akibat kontraksi itu. Di satu sisi tangannya masih dicengkeram oleh Rika, sehingga Zara tidak bisa leluasa untuk memposisikan tubuhnya.
Terjadilah kepanikan di saat itu. Tubuh Rika kembali dibaringkan di lantai, agar Dewi dan bibi bisa bersama-sama melepaskan cengkeraman Rika. Namun ketika tubuh Rika diletakkan kembali di lantai, otomatis membuat tubuh Zara ikut tertarik lebih dekat ke arah Rika.
Pada saat itu, tangan Rika yang satu lagi dengan cepat mencekik leher Zara, sehingga Zara terjerembab ke atas tubuh Rika.
Dewi dan bibi semakin panik melihat posisi Zara yang kepayahan. Perutnya tertindih oleh tubuhnya sendiri.
Erangan kesakitan keluar dari mulut Zara, sementara Rika masih tetap dengan sikap dinginnya.
"Rika, sadar nak. Kamu kenapa?" Dewi menangis sambil terus berusaha menyadarkan Rika.
Untung Rajul, suami Dewi segera datang bersama Ujang. Mereka turut membantu melepaskan cengkraman Rika dari tubuh Zara.
Setelah melewati waktu beberapa menit, akhirnya cengkraman itu lepas juga, namun perutnya sempat dicakar oleh Rika sehingga membuat Zara kembali terpekik.
"Awwww."
Zara terhenyak ke lantai, menimbulkan rasa yang bercampur aduk.
Rasa takut, sakit dan kontraksi berbaur di tubuh Zara. Dia terus memegangi perutnya yang hanya dibalut oleh daster tipis.
Rajul, Ujang dan bibi membopong tubuh Rika ke dalam kamar, sementara Dewi langsung memeluk Zara yang menahan sakit.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" raut Dewi sungguh khawatir. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada Zara. Takut terjadi hal buruk pada calon cucunya. Cucu pertama yang sangat dinantikan oleh keluarga besar mereka.
Demi menghindari resiko yang tidak diinginkan, akhirnya Zara dibawa ke rumah sakit terdekat, karena kontraksinya juga semakin parah.
******
Di rumah, bibi diminta untuk menjaga Rika yang kini telah tertidur setelah diobati oleh Umak, seorang dukun kampung. Sedangkan Dewi dan suaminya pergi ke rumah sakit disupiri oleh Ujang.
Rika tampak sudah nyenyak, Umak pun pamit pulang dan bibi kembali meneruskan pekerjaan di dapur.
SREEET
Bibi berhenti sejenak ketika mendengar suara langkah kaki diseret. Wanita bertubuh pendek dengan rambut yang selalu dikuncir itu mempertajam pendengaran.
Karena tidak ada suara apapun yang terdengar, bibi kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan meja dapur.
PRANG
Kali ini bibi dibuat kaget mendengar suara barang pecah. Tubuhnya nyaris melompat.
Dia segera berlari ke ruang tengah untuk mengetahui apa yang terjadi.
Matanya melotot melihat sebuah guci besar kesayangan Dewi pecah berkeping-keping di atas lantai. Dan di samping pecahan guci itu Rika tengah berdiri mematung dengan tatapan yang masih kosong.
Antara panik karena melihat guci itu pecah bercampur rasa takut karena melihat Rika berdiri seperti itu, bibi pun jadi gugup, dan bingung harus berbuat apa.
Tanpa diduga, Rika berjalan ke arahnya, dengan gerakan kaku dan tatapan tajam.
Bibi gemetar tapi tubuhnya tidak mampu digerakkan.
Napasnya terasa sesak ketika Rika telah berdiri tepat di hadapannya. Saking takutnya, bibi menangis, apa lagi kini mata Rika berubah menjadi putih, dan tampak sangat mengerikan.
Rika membuka mulut, dan seketika tercium aroma busuk yang menusuk hidung bibi.
Rika mendekatkan kepalanya ke arah telinga bibi yang hanya bisa pasrah dalam ketakutannya.
"Jangan ikut campur." Terdengar bisikan lirih di telinganya.
Setelah itu, tiba-tiba saja bibi merasa tercekik.
"Akh...akh." Terdengar suara tercekat dari tenggorokan bibi. Dengan berurai air mata, wanita yang sudah lama mengabdi di keluarga Dewi itu berusaha melepaskan cekikan Rika dari lehernya tapi terlalu kuat.
Tiba-tiba...
"Bi!" Seseorang menepuk punggungnya sambil berteriak.
Bibi langsung tersadar dan buru-buru menarik napas.
Setelah itu barulah bibi menyadari akan kehadiran Dini di sana.
"U...uni Dini." Suara bibi terdengar bergetar. Dia nyaris terhenyak ke lantai, untung Dini refleks menangkap tubuhnya.
"Kenapa Bi?" tanya Dini heran, tatapannya beralih pada pecahan guci yang berserakan di lantai.
Bibi juga bingung mau mengatakan apa pada Dini. Apalagi Rika sudah tidak ada di ruangan itu.