Dini mengajak bibi duduk di meja makan yang terletak di dapur. Kondisi bibi sedikit lebih tenang setelah Dini memberinya segelas air putih. Wajahnya sudah tidak pucat, meskipun masih terlihat tegang. Pelan-pelan Dini mulai bertanya.
"Bibi kenapa barusan?" tanya Dini dengan nada lembut.
"Tadi bibi mendengar suara barang pecah. Setelah bibi lihat ke sana, ternyata guci itu yang pecah," ujar bibi dengan suara bergetar. Dia masih tampak linglung, namun berusaha mengingat-ingat kejadian tadi.
"Iya, itu guci kok bisa pecah begitu?" Dini malah balik bertanya.
Dia heran, guci yang sudah puluhan tahun berdiri di situ, dan selama ini aman-aman saja, tapi kok hari ini bisa pecah berkeping-keping.
"Tadi, ada Uni Rika di sana." Bibi menjawab seadanya.
"Rika? Tidak ada siapa-siapa tadi." Dini menyangkal perkataan bibi.
Bibi pun mengangguk.
"Saya juga ragu kalau itu Uni Rika," lirihnya.
"Haah?" Dini semakin heran melihat sikap plin plan bibi.
"Soalnya setelah diobati oleh Umak tadi, Uni Rika tertidur pulas," lanjut bibi dengan tatapan nelangsa.
"Rika diobati oleh Umak?" Dini semakin heran dan kali ini malah terkejut.
Bibi mengangguk.
"Memangnya Rika kenapa?" tanya Dini heran, karena setahu Dini hanya orang-orang yang diganggu makhluk halus lah yang akan diobati oleh Umak.
Akhirnya bibi menceritakan semua kejadian yang telah terjadi. Dini sungguh terkejut. Sejak ia lahir sampai dewasa belum pernah ada kejadian aneh yang terdengar di rumah itu.
"Jadi, Zara di bawa ke rumah sakit?" tanya Dini lagi, kali ini dia berubah khawatir.
"Pantas saja rumah ini sepi. Tadi pas aku datang ke sini, dan memanggil-manggil dari luar, tidak ada satu orang pun yang keluar, makanya aku masuk saja karena pintu engga dikunci," jelas Dini.
"Engga dikunci?" bibi memotong ucapan Dini.
"Iya, " jawab Dini cepat.
"Tadi saya kunci kok Ni." Bibi pun menjawab penuh keyakinan.
Dini menyipitkan matanya.
"Iya uni, saya kunci. Saya biasanya kalau sendiri di rumah, tidak pernah membiarkan pintu tidak terkunci." Bibi terus meyakinkan.
"Ini buktinya aku bisa masuk," jawan Dini dan membuat bibi tertunduk.
"Mungkin bibi lupa tadi. Namanya juga manusia. Lagian tidak apa-apa juga kok. Di kampung ini aman, tidak ada maling." Dini berusaha menenangkan bibi yang terlihat merasa bersalah.
Kemudian Dini bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamar Rika untuk menjenguknya.
Sementara itu, bibi masih bingung perkara pintu depan yang tidak terkunci. Padahal dia sangat yakin kalau tadi sudah dikunci.
*****
Sementara Dini menjenguk Rika ke dalam kamarnya, bibi membersihkan pecahan keramik tadi.
Pecahan keramik itu dimasukkan ke dalam sebuah baskom besar. Satu per satu kepingan keramik itu dipunguti dengan sangat hati-hati agar tidak melukai tangannya.
Tanpa sengaja, bibi memegang sebuah benda yang dibungkus oleh plastik bening.
Bibi memungut benda yang seukuran telapak tangan itu dan memperhatikan dengan seksama. Ada gulungan kain putih di dalamnya.
Bibi merasa penasaran, berniat ingin membuka. Tapi sekelebat suara menghentikan niatnya.
"Jangan ikut campur!" Suara itu terdengar sangat marah.
Bibi refleks melepaskan benda itu, hingga jatuh ke lantai. Ketakutan kembali menyeruak di dalam dirinya. Dia buru-buru memasukkan semua pecahan keramik itu ke dalam baskom, termasuk bungkusan plastik itu. Lalu menaruhnya di teras belakang.
******
Di dalam kamar, Dini mendapati Rika tertidur pulas. Dia menatap gadis malang itu sejenak, sebelum meninggalkan kamar dan kembali ke dapur.
*******
Sementara itu di rumah sakit, tindakan operasi sesar segera dilakukan, demi keselamatan bayi dan Zara.
Dewi dan Rajul terpaksa menyerah pada keputusan dokter. Suami Zara tiba di rumah sakit ketika proses operasi berlangsung. Begitu pun dengan Dini dan Mina, mereka tiba hampir bersamaan. Mereka berdua diantarkan oleh suami Dini dengan mobil pribadi milik Dini.
Hampir satu jam setengah proses operasi itu berlangsung, dan selama itu mereka semua menunggu dengan wajah cemas.
Dalam suasana penuh ketegangan, pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter tampan yang berusia sekitar 45 tahun berdiri di situ.
Dewi dan yang lain segera menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana dokter? Apa cucu saya sudah lahir?" tanya Dewi mewakili yang lainnya.
Dokter tersebut mengusap wajah dengan telapak tangannya. Dia tampak sangat gugup.
Orang-orang yang kini tengah berdiri di hadapannya ternyata dapat membaca kegugupan itu.
"A-apa yang terjadi, dokter? Bagaimana kondisi bayi dan istri saya?" Karena dokter itu tidak kunjung menjawab tanya mertuanya, Taufik kembali memberikan pertanyaan.
Raut wajah dokter itu begitu pucat. Kepalanya bergerak pelan seperti menggeleng-geleng.
"Ada apa dokter?" tanya Dewi mulai panik. Hatinya meyakini ada sesuatu yang tidak beres.
"Mohon maaf, Ibu dan Bapak...," ucap dokter itu lemah.
Mendengar perkataan dokter, semua mata terbelalak ke arah dokter, seolah menunggu kalimat selanjutnya.
Dokter itu akhirnya meneruskan kalimatnya, "bayinya meninggal," ujarnya lirih.
Dewi langsung menangis, tubuhnya lesu. Dini dan Mina langsung memapah tubuh gempal itu agar tidak merosot ke lantai.
"Ya Allah, kenapa cobaan ini bertubi-tubi? Apa salah ambo?" Dewi meraung-raung sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Sabar Wi, sabaaar." Mina berusaha menenangkan Dewi, meskipun dia sendiri juga sangat bersedih.
Hanya Dewi dan Taufik yang diizinkan masuk ke dalam untuk melihat jasad bayi Zara.
Dan tangis mereka berdua kembali pecah ketika melihat kondisi bayi tersebut.
Tengkorak kepala bagian kiri dari bayi mungil itu remuk. Menurut dokter, kemungkinan terkena benturan.
Tapi Dewi membantah perkataan dokter, bahwa tidak mungkin terkena benturan, karena Zara tidak pernah mengalami kecelakaan apa pun selama kehamilan.