Dokter menyarankan agar bayi Zara langsung dimandikan dan dikafani di rumah sakit.
Dewi dan Taufik setuju. Bahkan mereka berdua tidak ingin Zara melihat kondisi bayi perempuan itu. Demi menjaga mental Zara.
Sebelum dikafani, Taufik menyempatkan untuk memotret jenazah anaknya dengan kamera ponsel, sebagai kenangan.
******
Prosesi pemakaman diadakan hari itu juga. Taufik menelpon beberapa pekerja agar membantu menggali kubur di pemakaman milik keluarga Dewi.
Jenazah bayi Zara langsung dibawa ke pemakaman. Dewi ingin semua prosesi itu berjalan dengan cepat. Dewi tidak ingin orang lain tahu tentang kondisi cucunya. Demi menghindari pertanyaan dan gunjingan dari tetangga.
********
Acara pemakaman itu berlangsung dengan cepat, hanya dihadiri oleh keluarga dan beberapa kerabat saja.
Mereka langsung pulang ke rumah Dewi, sedangkan Taufik kembali ke rumah sakit untuk menemani Zara.
Zara belum mengetahui soal kematian bayinya, karena efek bius membuatnya belum sadarkan diri.
*******
Dewi beserta rombongan sudah tiba di rumah. Hari sudah menjelang magrib kala itu.
Rumah tampak sepi, pintu depan dalam keadaan terkunci, sedangkan jendela masih terbuka. Lampu-lampu juga belum dinyalakan, sehingga rumah tampak gelap.
"Biiii." Dini mencoba memanggil bibi. Namun tidak ada sahutan.
"Pergi kemana bibi?" Dini berbalik badan ke arah Dewi dan yang lainnya. Bertanya penuh kebingungan.
Dewi menarik napas jengkel, karena di saat seperti itu, mereka harus menunggu lama di luar.
"Pergi mungkin," sela Mina.
"Pergi kemana? Sudah tahu kita lagi repot begini, masa dia pergi sih? Lagian kan dia harus jagain Rika di rumah." Dewi benar-benar kesal dengan kelakuan bibi.
Tiba-tiba Ujang berteriak dari arah belakang.
"Pintu belakang engga dikunci Pak, Buk!" Ternyata Ujang berinisiatif mengecek ke arah belakang rumah.
Rajul bergegas menyusul Ujang. Mereka memasuki rumah lewat pintu belakang, lalu membukakan pintu depan yang terkunci dari dalam.
Dewi, Mina, Dini dan Yudi-suami Dini, memasuki rumah setelah pintu terbuka.
Kondisi rumah benar-benar sepi dan remang karena cahaya matahari sudah redup.
Rajul dan Ujang menyalakan lampu agar ruangan menjadi terang.
"Di mana bibi?" Dewi yang kesal langsung mencari bibi ke kamarnya yang berada di dekat dapur.
Sementara Mina dan Dini memeriksa kondisi Rika. Ternyata gadis itu masih tidur, dan kondisinya baik-baik saja.
"Biiiiii!" teriak Dewi sembari bergegas menuju dapur.
Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Dewi menyalakan lampu ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.
"Bibi." Dewi masih memanggil-manggil pembantunya tersebut.
Dia mengembuskan napas kasar sebagai pelampiasan hatinya.
Dewi mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat, sambil terus memanggil bibi.
Karena tetap tidak ada jawaban, Dewi membuka pintu itu dan kembali memanggil bibi.
"Bibi," panggilnya dengan suara yang lebih rendah, karena dia berpikir bibi sedang tertidur.
Samar-samar terlihat bayangan seseorang sedang terbaring di atas kasur, dan Dewi semakin yakin bahwa bibi tertidur pulas.
Dia meraba saklar lampu yang ada di dinding, lalu menyalakan lampu.
Alangkah terkejutnya Dewi begitu melihat kondisi bibi. Wanita itu terbujur kaku dengan mata melotot ke atas.
Dewi langsung berteriak, sehingga mengundang semua orang berlarian ke kamar bibi.
*******
Bibi masih bernapas,tetapi tidak sadarkah diri. Entah hal apa yang membuatnya jadi seperti itu.
"Sepertinya dia 'disapa' oleh makhluk halus," ujar Umak yang dipanggil untuk mengobati Bibi.
Dewi dan Rajul seolah tidak percaya dengan perkataan Umak. Karena sudah berpuluh-puluh tahun mereka tinggal di rumah itu, belum pernah ada kejadian seperti ini.
Begitu pun dengan bibi. Dia sudah sangat lama ikut dengan keluarga Dewi, dan selama ini aman-aman saja.
Umak menyiapkan pengobatan untuk bibi. Dewi pun memanggil keluarga bibi untuk datang ke rumah agar bisa membantu mengurus bibi.
******
Malam itu, bibi tidur ditemani oleh Erni-keponakan bibi. Kondisi bibi masih belum banyak berubah, terbaring diam dengan tatapan kosong. Tetapi tubuhnya sudah tidak kaku lagi seperti tadi.
Kepalanya ditempeli daun-daun obat yang sudah dibacakan doa oleh Umak. Umak juga memberikan air putih yang sudah dibacakan doa, dan harus diminumkan jika badan bibi terasa panas.
Melihat kondisi bibi seperti itu, Erni tidak bisa memejamkan mata, karena takut terjadi sesuatu pada bibi.
Akhirnya Erni hanya duduk bersandar di samping bibi.
Untuk mengusir jenuh, Erni memainkan ponselnya sambil sesekali menoleh ke arah bibi.
Sebenarnya Erni agak bergidik juga melihat kondisi adik ibunya itu. Apalagi malam semakin larut dan suasana semakin sunyi.
Tok tok!
Erni disentakkan oleh suara ketukan di pintu kamar. Pandangannya langsung mengarah ke sana. Tetapi dia tidak beranjak dari kasur karena takut hanya salah dengar.
Namun, kembali ketukan itu terdengar. Kali ini bersamaan dengan suara seseorang yang memanggil namanya.
"Erni," panggil suara seorang perempuan yang sangat dikenal oleh Erni.
Erni buru-buru turun dari kasur dan membukakan pintu.
"Eh, Uni Rika. Ada apa Uni?" Ternyata Rika yang mengetuk pintu kamar.
"Tolong bikinkan aku teh," ujar Rika.
"Baik, Uni. Nanti saya antar ke kamar uni ya," balas Erni dengan rasa sungkan.
Rika mengangguk pelan, lalu pergi.
Erni pergi ke dapur memasak air untuk membuatkan teh panas. Selang beberapa menit, teh itu sudah jadi dan langsung diantar ke dalam kamar Rika yang berada di ruangan tengah.
Erni melangkah dengan sangat hati-hati, karena pencahayaan di dalam rumah sangat redup. Hanya ada beberapa lampu sudut sebagai sumber cahaya.
Sesekali Erni bergidik juga, karena ruangan di dalam rumah itu benar-benar sepi.
"Uniiii." Erni mengetuk pelan pintu kamar Rika. Dia takut membangunkan penghuni rumah yang lain.
Rika tak kunjung menyahut, meskipun Erni sudah berkali-kali mengetuk dan memanggil namanya.
Terpaksa Erni memberanikan diri membuka pintu kamar Rika. Ternyata lampu di kamar itu tidak dinyalakan. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu kamar mandi milik Rika, sehingga cukup membantu Erni untuk melangkah ke dalam.
"Uni Rika, ini teh nya," panggil Erni dengan suara pelan. Saat itu Rika tampak berbaring di atas tempat tidur.
Erni meletakkan nampan pembawa teh itu di atas meja. Lalu mendekat ke kasur untuk membangunkan Rika.
"Uni..." Erni menepuk-nepuk tangan Rika sambil memanggilnya.
Tapi Rika masih pulas dan tidak ada tanda-tanda akan bangun.
Akhirnya Erni kembali ke meja untuk mengambil nampan dan berniat kembali ke belakang. Pada saat Erni hendak memindahkan cangkir dari nampan ke atas meja, tiba-tiba pintu kamar Rika yang tadinya terbuka, menutup sendiri.
Erni refleks menoleh ke arah pintu. Untuk beberapa saat dia berdiri mematung sembari mengatur napas.
Setelah agak tenang, barulah diraih nampan yang masih di atas meja.
Dan ketika hendak melangkah, Erni terpekik kaget. Ternyata Rika sudah berdiri di dekatnya.