"Bagaimana bisa kamu tahu namaku?" Tanya Senja penasaran. Selama ini orang-orang hanya memanggilnya dengan sebutan Senja, bahkan kebanyakan dari mereka tidak tahu nama asli Senja terkecuali teman ditempat kerjanya dulu. Karena diname tag, ia hanya memakai nama Senjarina.
"Ada seseorang yang memberitahu." Jawab Alandra.
Senja langsung melirik ke arah bi Mina, apakah perempuan paru baya ini yang sering menceritakan dirinya pada Alandra? Senja sedikit curiga, pasalnya bi Mina selalu saja mengetik sesuatu diponselnya tidak mungkin, kan jika sedang berkomunikasi dengan pak Beni sedangkan pak Beni juga ada disamping mereka.
Selama tahun-tahun bersama Senja, Senja tidak pernah melihat bi Mina begitu antusias dengan ponselnya mengalahkan anak muda yang sedang dimabuk cinta pasti tidak akan pernah lepas dari smartphone.
"Non jangan ngelirik ke bibi dong, bukan bibi kok pelakunya." Bibi membela diri. Ia tahu arti dari lirikan Senja.
"Masa?"
"Serius non, bibi nggak pernah komunikasi sama mas Alandra." Bu Mina melirik Alandra, meminta membelaan dari pria itu.
"Itu hal yang tidak penting Senja...." Ucap Alandra.
"Suka dengan bunganya?" Alandra mengalihkan pembicaraan Senja dan bi Mina.
"Kamu suka mawar merah.." Ucap Alandra.
"Kata siapa?" Tanya Senja lagi. Kenapa Alandra seakan sangat tahu tentang dirinya.
"Hmmmm.... Tapi kamu suka mawar merah, kan?" Alandra memastikan.
"Tidak juga."
Wajah Alandra berubah. Ia sedikit kecewa, kali ini bi Mina salah menginformasikan kesukaan Senja. Bunga mawar yang Alandra beli itu rekomendasi dari bi Mina yang mengatakan bahwa Senja juga penyuka mawar merah.
"Suka kok... Hanya bercanda."
Alandra langsung mendongak. Senyum itu terbit, Alandra bisa bernafas lega. Ternyata Senja memang benar menyukai mawar merah, jika seperti ini, Alandra akan mengirimkan mawar merah setiap pagi untuk Senja.
Pemandangan yang begitu sempurna malam ini, Senja terus mencium wangi mawar merah. Alandra merasa puas ketika sesuatu yang diberikannya diterima.
"Besok saya akan berikan mawar yang banyak untukmu."
"Tidak perlu Alandra, terimakasih atas niat baikmu."
Memberikan ruang untuk keduanya, bi Mina memilih mundur dari sana.
Alandra berdiri tepat disamping Senja. Menikmati wajah Senja yang sedang mencium mawar merah. Malam ini Senja juga terlihat cantik dengan gaun merah yang dipakainya.
"Jadi ini alasan kamu takut pesawat?" Ujar Alandra.
"Ya, masih trauma dengan kejadian yang lalu." Jawab Senja.
"Saya tidak menyangka jika kamu seorang pramugari."
"Itu resiko untuk orang yang tidak bertanya padaku." Sahut Senja.
"Saya kagum denganmu Senja..." Ucap Alandra.
Senja mendongak. Ia sedikit terkejut ketika Alandra sudah menjadi posisinya menjadi didepannya.
"Kamu adalah perempuan hebat yang pernah saya tahu, perempuan istimewah." Puji Alandra.
"Terimakasih untuk pujiannya."
"Kapan kamu check up?" Tanya Alandra.
"Masih lama Alandra, aku akan ke Singapura enam bulan sekali."
"Beri kabar pada saya jika check up."
"Memangnya kenapa?"
"Agar saya bisa mengantar dan menemanimu didalam pesawat." Jawab Alandra.
"Ada Bi Mina, kamu tidak perlu mengantar."
"Tapi saya memaksa untuk ikut. Karena saya ingin menyembuhkan traumamu pada pesawat." Ucap Alandra.
Senja tersenyum. Tatapan keduanya saling bertemu, Senja memandang pria didepannya. Alandra terlalu sempurna, bukan hanya wajah tetapi sikapnya yang mampu membuat siapa pun merasa kagum pada kebaikan Alandra.
"Kenapa kamu terlihat begitu peduli padaku?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Senja.
"Karena kamu perempuan yang pantas untuk saya pedulikan." Jawab Alandra.
"Andai saja ada kata lain selain terimakasih pasti sudah aku ucapkan untuk kamu yang telah memberikan mawar, menemani selama di Singapura, mengajakku keliling Singapura, makan siang dan datang menemuiku malam in----"
"Saya tidak perlu itu semua Senja.... Saya hanya ingin kamu tidak marah jika saya menemanimu." Sela Alandra.
"Baiklah.... Aku akan mengizinkanmu menemaniku kemana pun aku pergi."
Alandra tidak tahu dorongan dari mana ini berasal, seakan dorong itu begitu kuat hingga membuat Alandra berani memeluk Senja.
"Ekhmmm......" Deheman seseorang membuat Alandra melepaskan pelukannya. Disana ada Bi Mina yang berdiri sembari melipatkan tangannya didepan d**a.
Alandra berbalik membelakangi mereka, mengatur nafasnya, tadi ia spontan memeluk senja. Alandra berbalik menatap bi Mina tidak enak. "Maaf bi, tadi kelepasan." Ucap Alandra. Sembari Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jangan diulangi! Nanti kelepasan terus sampai ke sela-sela." Bibi memeringati.
"Sekali doang bi, tapi kalau bibi ngeizinin saya dengan senang hati menerimanya." Bisik Alandra tepat ditelinga bi Mina, membiarkan Senja tidak mendengar bisikan mereka. Alandra mendapat tatapan tajam dari Bi Mina. Bi Mina tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk kedua kalinya.
Malam ini seperti malam yang paling indah untuk mereka. Bintang diatas sana begitu banyak menjadi pelengkap suasana yang hening dan gelap menjadi terang oleh gemerlapnya sinar bintang.
"Lan, Lo dimana?"
"Stasiun TV, kenapa?"
"Ngapain?"
"Ada perlu. Ada apa?"
"Nama bandara Korea apa ya?"
"Incheon International Airport."
"Oke, thanks ya Lan."
Saat seseorang disebrang sana ingin mematikan sambungan teleponnya, Alandra menahan ingin bertanya lebih lanjut kenapa menelepon dirinya.
"Lo telepon gue cuman nanya itu doang?"
"Ya, Lan. Sorry ganggu."
"Emang dasar! Buat apa smartphone canggih kalau nanya nama bandara aja tanya sama gue." Alandra mencibir.
"Gue males ngetik, tanya Lo lebih cepat. Lo juga google berjalan khusus tentang penerbangan."
"Dasar bocah nggak penting!"
"Hahaha... Sorry-sorry. Ya udahlah gue tutup ya. Jangan lupa malam Minggu kita ketemu sama Rafli juga."
"Ya."
Keduanya memutuskan sambungan telepon. Untuk saja yang menelepon sahabat Alandra coba saja kalau bukan sudah pasti Alandra akan marah padanya karena telah menganggu waktu Alandra. Yang menelepon adalah Andre, sahabatnya.
Saat Alandra baru saja memasukan ponselnya kedalam kantong celananya. Tiba-tiba Senja meraih tangan Alandra, bunga mawar merah yang diberi Alandra kini Senja mengembalikannya. Alandra mengernyitkan dahi meminta jawaban atas apa yang Senja lakukan. Tidak mungkin Senja akan menolak kembali mawar merah ini.
"Senja... Ini mawar untukmu..." Ada perasaan kecewa dalam benak Alandra ketika mawar itu kembali pada tangannya.
"Aku tahu. Aku cuman minta tolong taruh mawar ini dikantong belakang kursi roda."
Detik itu juga Alandra merasakan kelegaan. Bunganya ditaruh bukan dikembalikan.
"Saya antar kalian pulang, ya?" Alandra tidak bisa terlalu lama disini, hari pun sudah mulai malam. Sementara waktu Alandra tidak boleh pulang hingga larut atau lebih dari jam setengah sepuluh malam, karena ia takut ayahnya akan kembali berpikir negatif.
"Ndak perlu mas, ada pak Beni." Tolak bi Mina dengan halus.
Alandra tidak memaksa, ia tahu jika Senja tidak akan selalu dekat dengan pak Beni dan juga Bi Mina.
Malam ini mereka terpaksa harus berpisah, Senja menatap pria yang baru saja pamit dengan dirinya. Senja membalas senyuman Alandra yang selalu menoleh dan tersenyum pada Senja. Malam ini terlalu indah dan sudah pasti nanti malam akan menjadi malam yang bisa membuat mereka tertidur nyenyak.
Baru saja mereka ingin meninggalkan sekitar studio, bunyi ponsel Senja membuat mereka berhenti sejenak. Senja menyempatkan waktu membaca pesan sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.
From : Mas Andre
Sudah selesai? Kalau sudah, cepat pulang. Maafkan mas tidak bisa menemanimu. Lusa mas harus ke Korea, maaf mas belum bisa pulang ke rumah. Hati-hati ya.... Miss you.
Dengan cepat Senja membalas pesan kakaknya dengan mengatakan bahwa dirinya sudah selesai dan akan pulang dengan selamat. Tidak lupa ia juga mengatakan rindu juga pada kakaknya. Meskipun mereka berjauhan tetapi tidak membuat mereka juga jauh, mereka saling mengabari meskipun hanya lewat smartphone.
******
Segala cara sudah dilakukan Keano namun itu semua tidak ada hasil sama sekali, Anin masih bersikap dingin terhadapnya. Membuang muka saat dipandang, tidak digubris jika ditanya. Seakan Keano hanyalah patung bagi Anin, kehadirannya hanya dilewati, suara Keano mendadak tidak didengar oleh perempuan itu. Kalau saja ia tidak memikirkan anaknya yang ada didalam perut Anin, ia tidak akan mau peduli lagi dengan Anin. Semuanya ia lakukan untuk anaknya karena anak sama sekali tidak salah.
Kemajuan Anin hanya satu yaitu ketika makan, makanan itu berhasil dihabiskan. Hanya saja untuk bangkit dari ranjang Anin sama sekali tidak ada niatan untuk bangkit, untung saja kedua orang tuanya begitu mengerti dengan Keano yang sekarang.
"Nin, diminum ya susunya. Kasian si adek pasti butuh asupan susu." Ucap Keano
Anin bangkit dari ranjang, mengambil gelas yang berisi s**u itu. Lalu ia meminumnya.
"Meskipun kamu tidak bicara padaku, setidaknya aku senang saat kamu mau meminum dan memakan apa yang aku siapkan." Ucap Keano.
Anin masih diam.
Anin sudah selesai meminum, ia kembali menaruh gelasnya. Untung saja dikehamilan yang masih terbilang muda, Anin tidak merasakan ngidam yang berlebihan hanya saja terkadang ia merasa rindu dengan Keano saat Keano pergi ke Coffee shop. Gengsi yang besar membuat Anin tidak mengatakan rindu pada Keano.
Sejujurnya Anin merindukan Alandra, Anin ingin tahu pria itu saat ini, Anin sudah mengirim banyak pesan dari w******p hingga email juga sudah pernah Anin kirimkan. Semua itu terlihat sangat sia-sia karena Alandra tidak membuka, bahkan pria itu membuka SIM-card baru. Anin mencari tahu dari teman Alandra tetapi mereka semua hanya mempunyai nomor telepon Alandra yang lama.
Hingga hari ini hati Anin hanya milik Alandra, bukan Keano. Bagi Anin Keano hanyalah ayah dari anaknya, bukan orang yang dicintainya.
Anin ingin segera terlepas dari masalah ini agar ia bisa menjalani hidupnya seperti biasa. Anin berjanji jika dirinya sudah membaik, Anin akan mencari Alandra dan akan Anin pastikan ia pasti bertemu dengan Alandra lagi meskipun dengan kondisi yang berbeda.