Ibu Alandra masuk kedalam ruangan khusus untuk ayahnya menyelesaikan pekerjaan barunya. Meskipun keduanya sudah membaik dan salah satu dari mereka sudah mendahului bicara, tetapi itu tidak membuat ibu Alandra puas. Suaminya masih marah dengan putra mereka, bahkan ini terhitung sangat lama keduanya diam. Alandra sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya tetapi seakan itu belum bisa membuka hati ayahnya. Apalagi saat mereka makan malam tadi, keadaan meja makan yang dulu ramai oleh kedua anak dan ayahnya, kini mendadak sepi.
Ayah Alandra makan lebih cepat dari biasanya, yang membuat ibu Alandra sedih ketika setelah makan malam suaminya itu dengan cepat menghilang dari meja makan. Seakan enggan bertemu Alandra.
"Yah...." Panggilnya. Ibu Alandra mendekati suaminya yang ternyata sedang membaringkan badannya disofa ruangan kerja.
"Kenapa tidur disini?" Tanya ibu.
Ayah Alandra bangkit. Lalu menatap isterinya.
"Kita menunggu ayah.."
"Mas masih sibuk,"
"Kalau mas masih sibuk, kenapa tiduran disini?" Tanya ibu.
"Istirahat sejenak."
Ibu Alandra duduk disamping ayahnya.
"Alandra kembali, kenapa mas malah menghindar?"
"Hmmmm..."
"Sejujurnya aku sedih melihat kalian seperti ini. Maafkan Alandra mas, dia juga sudah mengakui kesalahannya. Sekarang dia sudah kembali seperti dulu." Ucap ibu.
"Ya... Ya... Ya.."
Ibu tidak menyerah terus membujuk agar suaminya sedikit membuka hatinya.
"Mas..."
"Kenapa?"
"Baikan ya sama Alandra."
"Belum bisa,"
"Kenapa? Mas selalu bilang kalau kita harus memaafkan apa pun kesalahan seseorang."
"Mas sudah memaafkan Alandra, hanya saja mas masih kecewa. Mas seperti gagal menjadi ayah."
"Mas nggak pernah gagal jadi ayah, buktinya sekarang Denisa tumbuh jadi perempuan pemberani, Denisa bisa mandiri, Denisa menjadi Pianis. Alandra juga menjadi seorang pilot. Mas berhasil mendidik mereka, membuat mereka sayang dengan saudara serta kedua orang tuanya." Ujar ibu Alandra.
"Biarkan saja, biarkan seperti ini. Rasa kecewa itu akan hilang secara perlahan. Anggap saja ini hukuman untuk Alandra agar lebih menghargai dirinya sendiri." Jawab ayah.
"Kamu tidak perlu khawatir, mas masih peduli dengan Alandra. Walau bagaimana pun dia adalah darah daging mas. Rasa sayang ke Calandra tidak akan pernah pudar." Ucap ayah.
"Tapi kasian dengan Alandra, mas..."
"Kita lihat seberapa lama ia bisa meluluhkan hati ayahnya. Jangan terlalu memikirkan hal ini Bu..." Ayahnya berdiri, lalu menyuruh ibu agar ikut berdiri juga.
"Jangan memaksa mas untuk berbaikan dengan Alandra," ucapnya mengusap pipi sang istri, lalu kembali ke meja kerjanya.
********
Pria bernama Alandra terus menatap ke arah televisi, tanpa berkedip bahkan tidak bergeming ketika keluarganya mendekati, mengajak bicara. Seakan tidak ada yang boleh mengganggunya untuk saat ini.
Padahal acara belum dimulai, pembawa acara baru membuka acara mereka beberapa detik yang lalu. Kedua pembawa acara itu masih berbicara tentang acaranya, mengatakan untuk hari ini ada tamu spesial yang akan menemani mereka selama empat puluh menit. Sesekali ia melirik ponselnya berharap ada pesan disana. Sofa itu mendadak bergerak ketika Alandra melihat sang adik sudah duduk disampingnya.
"Serius amat.." Denisa melirik ke arah arahnya, tanpa merasa bersalah kakinya ditumpuhkan tepat di perut kakaknya sedangkan ia langsung berbaring, kepala Denisa bersandar disisi sofa.
"Kakimu tolong kondisikan!" Alandra menyingkirkan kaki Denisa, namun Denisa mengulanginya lagi.
"Lagi posisi enak kak, jangan ganggu."
Alandra pulang ke rumah orang tuanya, ia tidak mau semakin menghindari ayahnya. Ia tau meskipun kehadirannya seperti tidak dianggap dan ayahnya selalu memasang wajah datar saat bertemu Alandra, tetapi Alandra tidak menyerah terus mendekati mereka agar ayahnya kembali membuka hatinya lalu memaafkan Alandra. Alandra kembali fokus pada luar televisi, mengabaikan Denisa.
"Penantian yang sangat panjang, akhirnya malam ini adalah malam sangat spesial. Malam ini kita kedatangan tamu yang luar biasa, dia adalah mantan salah satu pekerja penerbangan. Dia seorang wanita yang patut kita tiru semangatnya yang tidak pernah pudar dan selalu yakin jika dia bisa seperti sedia kala." Ucap pembawa acara di televisi.
Mata Alandra fokus ke layar televisi, bahkan ia membesarkan volume agar terdengar jelas. Ia tidak mau melewatkan hal ini. Hal yang sangat penting baginya. Alandra tidak ikut menemani ia lebih memilih melihat dari layar televisi. Alandra juga tidak perlu khawatir karena kata Senja dan bi Mina mereka juga ditemani oleh kakak Senja.
"Dek, kamu jangan berisik ya." Ucapnya pada Denisa.
"Hm.." Denisa masih fokus ke layar ponselnya.
Pembawa acara pun kembali berbicara, kali ini bintang tamu acara mereka langsung dipanggil.
Muncul sosok perempuan duduk di kursi roda dibelakangnya dibantu oleh seorang ibu-ibu.
Alandra benar-benar terkejut ia kira permintaan Senja dikabulkan ternyata tidak. Senja muncul tanpa topeng atau topi. Malam ini Senja datang di acara talk show yang sudah didiskusikan beberapa waktu yang lalu.
Alandra dapat melihat dari layar televisi jika Senja sedang tersenyum kearah pembawa acara dan yang lainnya.
"Kami senang sekali akhirnya nona Senja mau datang ke acara kami."
Senja tersenyum lagi.
Pembawa acara memperkenalkan Senja kepada semua orang. Dan akhirnya sesi wawancara itu dimulai.
"Bisa diceritakan bagaimana kejadian itu bisa terjadi?"
"Hari itu pesawat melakukan penerbangan seperti biasa, tidak ada firasat yang aneh. Saya hanya bicara garis besarnya saja, pesawat kami menghadapi angin yang kebetulan hari itu sedang kencang. Pilot sudah memberitahu kita agar tetap tenang, namun semua tidak bisa ditahan. Pesawat kita salah mendarat hingga akhirnya pesawat jatuh tepat disebuah pemakaman, pesawat kami terbakar. Saya tidak mengingat dengan jelas, yang hanya diingat teman-teman saya menjerit meminta tolong, bahkan teman saya, pramugari juga duduk disamping saya dia meninggal akibat terbentur monitor. Copilot, pilot, pramugara, penumpang kelas bisnis semua dinyatakan meninggal."
Alandra begitu serius melihat cerita Senja, Alandra tahu disana Senja menahan tangisnya.
"Saya salah satu pramugari yang masih dikatakan utuh, dan masih hidup. saya sempat berbicara dengan teman saya sebelum dia meninggal. Sebelum tubuh kami ditemukan. Namanya Devi, dia berbicara sembari menahan sakit. Ia mengatakan jika saya harus selamat, jika saya harus bertahan. Saat itu kami saling menguatkan, saya menguatkan Devi agar bertahan, saya mencoba berteriak agar orang-orang disana menemukan kami. Teriakan saya terlalu lemah sehingga mereka tidak mendengarnya, lumuran darah pada tubuh kami terus mengalir hingga akhirnya saya tidak sadarkan diri. Dan Devi meninggal saat itu juga. Karena tubuh kami seperti tertimpa sesuatu. Pramugari yang tersisa hanya saya sendiri."
Semua penonton di studio, pembawa acara dan suasana disana mendadak hening ketika Senja menceritakan saat kejadian kecelakaan pesawat.
"Saya sempat dinyatakan hilang, baru ditemukan tengah malam ketika semua penumpang sudah diselamatkan. Saya berjuang melawan semuanya, kaki saya patah, tulang pipi saya patah. Saya melakukan pengobatan kurang lebih satu setengah tahun. Saya bersyukur Semua yang saya alami tidak parah. Keajaiban yang luar biasa membuat saya sadar jika semua ini atas kehendak-Nya. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, hingga saat ini saya masih diberi kesempatan hidup. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hidup yang kedua ini."
"Saya terbangun dari koma dan sadar dari obat bius begitu terkejut ketika melihat diri saya sendiri, kaki tergantung, wajah dipenuhi perban yang melilit bagian kepala. Saya mengalami depresi selama dua bulan untung saja ada Bi Mina dan dokter psikiater yang membantu agar saya tenang. Itu semua masa yang tidak mudah untuk saya jalani. "Senja mengakhiri ceritanya, ia mengambil tisu yang diberikan oleh bi Mina. Bi Mina mengusap punggung Senja agar lebih tenang.
Tanpa terasa Alandra terbawa suasana oleh cerita Senja, Alandra tidak menyangka jika Senja adalah seorang pramugari. Ia tidak pernah melihat Senja meskipun mereka sama, seorang pekerja penerbangan.
"Yah, itu pramugari maskapai ayah yang selamat ya?"
Samar-samar Alandra mendengar obrolan ayah dan ibunya yang ternyata ikut duduk disofa, Alandra tidak tahu kapan mereka datang karena ia terlalu fokus pada layar televisi.
"Iya. Dia si Anira."
Alandra menoleh ketika ayah menyembut Senja dengan nama Anira.
"Nama dia Senja, yah." Ucap Alandra. Ayahnya ikut menoleh, mereka saling berhadapan.
"Panggilannya Senja. Nama asli Anira Senjarina." Jawab ayah masih dengan nada datarnya.
Alandra tidak menonton sampai habis, ia beranjak dari sofa memasuki kamarnya. Mengambil kunci, memakai jaket lalu keluar.
"Kak, mau kemana?" Tanya Denisa. Perempuan itu bangkit lalu memandang kakaknya yang sudah rapi.
"Pergi." Jawabnya singkat.
Alandra berpamitan dengan ibu dan ayahnya, meskipun sang ayah masih belum juga menampakkan sikap bersahabat. Padahal tadi masih bisa menjawab pertanyaan Alandra.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ibu.
"Keluar dulu Bu, Alandra janji nggak akan ngapa-ngapain."
"Biarkan saja dia pergi, tidak perlu ditanya." Sahut sang ayah.
"Alandra pamit yah, Bu. Alandra mau ketemu Senja." Ucap Alandra. Lalu pergi dari hadapan mereka.
Sedangkan mereka diam, mereka terkejut dengan apa yang baru saja Alandra katakan. Denisa, ibu dan ayah mereka saling memandang. Mereka tidak salah dengar, kan?
******
Ingin rasanya Alandra tertawa melihat bagaimana ekspresi terkejut Senja saat melihat dirinya ada didepannya. Bi Mina memang selalu bisa diandalkan, dengan bertanya pada bi Mina, Alandra pasti akan tahu dimana mereka sekarang. Tidak sia-sia Alandra menyimpan nomor bi Mina dari pada Senja.
"Hey..." Sapa Alandra.
"Kok ada disini?"
Bukannya menjawab, Alandra melihat ke kanan-kiri mencari keberadaan seseorang.
"Kakakmu mana?"
"Dia nggak jadi nganter masih di Surabaya." Jawab Senja.
Alandra mengangguk paham. Tiba-tiba Alandra mengeluarkan sesuatu.
"Untuk pramugari hebat..." Ucapnya. Alandra mengeluarkan satu tangkai mawar merah yang baru saja ia beli.
Bi Mina menyenggol bahu Senja dengan pelan, menyuruh agar Senja segera menerima bunga mawar.
"Mawar merah ini menggambarkan sosok kamu. Merah yang berarti berani, seperti kamu. Kamu berani melangkah dan berani semangat untuk sembuh." Ucap Alandra.
Senja menerima mawar tersebut, ia mencium mawar yang ternyata sangat wangi sekali.
"Terima kasih Alandra..."
"Sama-sama Anira." Balas Alandra.
Senja mendongak. Menatap Alandra, Alandra baru saja mengatakan namanya. Bagaimana bisa pria itu tahu nama panjang Senja?