Merasa lebih membaik akhirnya Senja meminta Alandra membantunya berdiri, Senja tidak boleh menyerah. Ia harus bisa jalan lagi, apalagi dokter yang menangani kaki Senja mengatakan jika kakinya sudah membaik itu artinya 80% Senja mempunyai harapan kakinya bisa seperti semula.
Senja berterima kasih pada pria yang masih setia menjadikan pahanya sebagai tumpuan kaki Senja. Jika tadi tidak ada Alandra, Senja tidak tau apa yang terjadi pada dirinya.
"Alandra, aku mau belajar jalan lagi." Pinta Senja. Percobaan pertama tadi masih gagal, Alandra menyuruh Senja agar tidak perlu terlalu terburu-buru.
"Coba gerakan dulu kakinya," Suruh Alandra. Senja mengikuti apa yang Alandra mau. Ia mencoba menggerakkan kakinya, jika digerakkan sudah tidak terasa sangat sakit seperti diawal.
"Lagi,"
Senja terus menggerakkan kakinya. Barulah setelah itu Alandra membantu Senja berdiri.
"Pelan-pelan.."
Senja mengangguk mengerti. Senja belum mulai berjalan ia memastikan jika kakinya sudah kuat untuk berdiri.
Merasa kuat berdiri, dengan pelan Senja melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba baru selangkah ia merasa goyah hampir saja terjatuh untung Alandra dengan sigap menahan badan Senja.
"Pelan-pelan nggak perlu buru-buru."
"Iya."
Alandra berganti posisi menjadi didepan Senja, menjulurkan tangannya menyuruh Senja agar telapak tangannya menggenggam Alandra.
Rasanya Senja ingin menyudahi semua ketika mencoba lagi ternyata gagal. Bahkan Senja jatuh dipelukan Alandra.
"Aku lumpuh..." Lirih Senja. Didalam dekapan Alandra.
"Nggak. Kamu nggak lumpuh, kita coba lagi ya."
Senja menggeleng. "Percuma, kakiku mati."
"Jangan nyerah Senja.." Alandra mengusap punggung Senja.
"Aku lumpuh total Alandra, dokter ternyata bohong. Kakiku masih sama seperti waktu itu masih kaku, tidak bisa digerakkan dan hanya bisa menyusahkan..."
Suara isakan terdengar ditelinga Alandra. Senja menangis. Inilah yang Senja malas saat harus belajar jalan. Ia harus gagal ratusan kali.
"Kamu kembali seperti bayi lagi, untuk bisa jalan bayi butuh waktu sembilan sampai satu tahun. Itu pun harus melalui tahap, dari merangkak lalu jatuh berkali-kali tapi pada akhirnya mereka bisa jalan dan berlari. Jadi jangan menyerah. Coba lagi ya," Ucap Alandra. Untuk hari ini Alandra akan menghabiskan waktunya bersama Senja.
Alandra membantu Senja agar berdiri lagi. Senja mau mencoba lagi, benar apa yang dikatakan Alandra semuanya butuh waktu dan bertahap agar kakinya bisa jalan lagi.
Kegagalan untuk hari ini, Senja tidak berhasil. Alandra tidak memaksa lagi, kaki Senja perlu tahapan. Hingga latihan jalan cukup sampai disini, Alandra berjanji pada Senja besok sore akan menemani Senja.
"Duduk dulu," Alandra menggendong Senja duduk disalah satu kursi taman. Setelah memastikan Senja duduk dalam posisi aman, ia kembali ke tempat untuk mengambil kursi roda. Perlakuan Alandra hari ini sukses membuat Senja merasakan kenyamanan yang baru.
"Tunggu sini ya, saya ke minimarket dulu." Ucap Alandra. Senja mengangguk, ia mulai meminum air yang tadi diberikan oleh Alandra.
Alandra pria pertama yang membuat Senja merasakan apa yang belum Senja rasakan, pria tepat waktu menolongnya.
Tidak lama kemudian Alandra datang dengan menenteng plastik putih ditangannya. Menuju ke minimarket Alandra lari, ia tidak mau meninggalkan senja terlalu lama.
Alandra mengeluarkan sesuatu dari plastik itu, ada dua es krim dan juga beberapa makanan ringan. Alandra mengambil barang berbentuk panjang mirip seperti alat tulis. Tiba-tiba saja Alandra berjongkok meraih kaki Senja. Tangan Alandra mulai menulis dikaji Senja yang masih berbalut perban tebal.
"don't give up, Senja :)"
S & A
Itulah tulisan yang ada dikaki Senja.
"S & A?" Tanya Senja.
"Senja dan Alandra." Jawab Alandra. Ia berdiri lalu duduk disamping Alandra.
"Jangan protes. Biar kamu selalu semangat dan ingat jika Senja tidak sendiri." Ucap Alandra sebelum Senja marah padanya.
"Tapi ini bisa hilang,"
"Tenang... Saya akan membuatnya setiap kita bertemu."
Senja tersenyum dipandangnya tulisan Alandra yang menurut Senja tidak terlalu bagus dan rapi. Gaya tulisan Alandra biasa, tidak sebagus wajahnya.
Alandra membuka plastik es krim itu, ia sengaja membeli dua. Dicuaca yang masih panas walaupun hari sebentat lagi menjadi gelap.
"Biar lebih adem." Alandra memberikan es krim itu pada Senja, senja pun menerimanya.
Mereka menikmati es krim ditemani matahari yang sebentar lagi tenggelam.
"Non Sen---"
"Aduh... Maaf bibi menganggu kalian," Ucap bi Mina tidak enak. Tadi ia mencari Senja, mengelilingi taman ini, menelepon Senja namun Senja tidak mengangkatnya begitu pun saat menelepon Alandra. Pria itu juga tidak mengangkatnya. Bibi khawatir, untung saja bi Mina langsung menemukan mereka. Pemandangan yang indah ketika mereka duduk berdua, rasanya tadi bibi lupa untuk mengabadikannya lalu dikirim ke mas Andre.
Keduanya saling menoleh.
"Bibi sudah selesai?" Tanya Senja. Senja menatap sosok pria disamping bi Mina, kali ini bukan pak Beni.
"Iya non,"
"Non," bi Mina mendekati Senja mengatakan sesuatu lewat bisikan.
Senja menatap pria yang berdiri yang tersenyum ramah pada dirinya.
"Senjarina?" Tanyanya.
Senja mengangguk. Bi Mina hanya membisikan jika ada yang ingin bertemu dengan Senja.
"Senang sekali akhirnya bertemu dengan nona Senja. Kenalan saya Arman." Pria itu mengulurkan tangannya, namun diluar dugaan bukan Senja yang menerimanya tetap Alandra. Alandra membalas uluran tangan pria itu.
Bi Mina terkejut. Begitu pun Senja. Semua itu tidak lama karena suasana kembali biasa.
"Ada apa mas mencari saya?" Tanya Senja.
"Apa benar nona Senja korban kecelakaan pesawat Indonesia tahun 2016?"
"Iya."
"Sejujurnya kedatangan saya kesini, ingin sekali mengundang non Senja datang ke acara kami sebagai narasumber. Kami sudah mencari nona Senja sejak lama, kami mencari tahu dari i********: nona, Email. Namun semua itu tidak ada balasan dari Nona. Hingga akhirnya kami bertanya ke kantor maskapai Nona. Mereka memberi alamat rumah nona Senja." Jelasnya.
"Narasumber?" Heran Senja. Sudah lama Senja memang menonaktifkan akun sosial medianya.
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantong, ternyata sebuah kartu. Pria itu memberikan kartu pengenal itu pada Senja.
Disana tertulis nama Arman Said sebagai direktur salah satu stasiun televisi terkenal. Senja mengembalikannya.
"Stasiun televisi kami punya acara talk show, saya sangat berharap non Senja bisa memenuhi undangan untuk datang ke acara kami." Ucap Arman.
"Maaf saya tidak bisa." Tolak Senja. Bukan hanya sekali ia mendapatkan penawaran untuk menjadi narasumber. Beberapa waktu lalu ia juga mendapat tawaran, Senja menolak. Karena ia tidak mau menceritakan kejadian yang sudah berlalu.
"Kami berjanji saat acara dimulai, kami akan menyembunyikan wajah nona dengan topeng."
"Kenapa Anda ingin sekali Senja datang ke acara Anda?" Alandra bersuara. Ia penasaran.
"Karena saya ingin nona Senja berbagi pengalaman kepada kami tentang kecelakaan pesawat waktu itu. Kalau tidak salah hanya nona Senja pekerja yang masih selamat." Jawab Arman.
Alandra melirik Senja. Biarkan Senja yang memutuskan.
"Bagaimana nona?"
"Tidak bisa."
"Kami akan membayar nona dengan bayarin yang tinggi."
"Ini bukan masalah uang! Tapi ini masalah privasi hidup saya, saya tidak mau cerita buruk harus diceritakan kembali." Tegas Senja.
Alandra akhirnya berdiri dan berbisik pada Arman. Mengatakan pada pria itu jika Alandra akan mencoba membujuk Senja. Arman tampak mengerti apa maksud Alandra.
"Senja..." Panggil Alandra.
Senja mendongak.
"Mereka berharap kamu bisa datang, cerita kamu bisa jadi inspirasi banyak orang." Ucap Alandra.
"Aku tidak mau Alandra."
"Berbagi cerita itu tidak salah Senja, saya bahkan ingin tahu ceritamu."
"Ceritaku tidak ada yang menarik. Aku malu jika harus datang ke acara seperti itu."
"Kamu tidak perlu malu Senja..."
"Aku malu Alandra, aku lumpuh. Jika aku datang manusia di Indonesia bisa melihatku." Alandra memberanikan diri menyentuh kedua pundak Senja.
"Pria itu bilang kamu bisa memakai topeng. Pengalaman, cerita kamu yang terlalu pribadi tidak perlu diceritakan. Ceritakan yang menurutmu itu hal penting yang harus kita semua tahu." Ujar Alandra.
"Saya yakin kamu ditunggu banyak orang..." Ujar Alandra lagi.
Seperti terhipnotis ucapan Alandra. Senja akhirnya mau dengan syarat ia harus memakai topi, topeng dan tidak boleh bertanya terlalu banyak. Tentu saja Arman menyetujuinya. Senyum Arman mengembang akhirnya perempuan yang dicari sudah bertemu dan mau datang ke acaranya. Senja adalah perempuan spesial dan istimewah yang sedang dicari banyak orang. Karena dari perempuan itu mereka semua tahu mengapa pesawat Indonesia bisa jatuh dan penyebabkan puluhan Manusia meninggal.