"Ulangi lagi ucapan kamu yang tadi," pinta ibu Alandra. Barangkali ia salah mendengar.
"Salah tidak jika Alandra membuka hati lagi?"
Ibunya tersenyum. Apakah selama di Singapura putranya ini menemukan perempuan penyembuh lukanya?
"Tidak ada yang salah kak. Hal seperti ini bukan ibu yang harus menjawab, tapi ini." Ibu membawa tangan Alandra tepat didada Alandra.
"Kamu bertanya pada hatimu apakah siap menyambut yang baru? Apa sudah siap jika hati itu terluka lagi?" Tambah ibu.
Spontan Alandra memeluk ibunya, yang dikatakan ibunya memang benar. Hatilah yang punya jawaban. Senja, perempuan itu berhasil membuka mata Alandra untuk bangkit dari lukanya.
"Jadi siapa perempuan itu?"
Alandra melepaskan pelukannya. "Perempuan?" Calandra heran dengan pertanyaan ibunya.
"Pasti ada perempuan dibalik ucapanmu yang tadi, kan?"
"Nggak ada Bu, Alandra hanya bertanya."
"Ibu kira ada perempuan yang berhasil menyembuhkan lukamu. Pesan ibu hanya satu, kalau cari perempuan hati-hati. Jangan buat luka untuk kedua kalinya." Pesan ibu.
"Iya bu. Semoga secepatnya Alandra menemukannya."
"Ibu tunggu. Temui ayah dulu, Alandra.." Suruh ibu.
"Sekarang Bu?"
"Iya. Kamu punya salah wajib meminta maaf pada ayah."
Dengan ragu akhirnya Alandra bangkit, berjalan ke arah ruang kerja ayahnya.
Sesampai disana Alandra ragu untuk membuka bahkan mengetuk pintunya. Hingga akhirnya ia berkelana dengan pikiran, detak jantung berpacu lebih cepat dari biasanya. Selama dua puluh empat tahun baru kali ini membuat ayahnya kecewa, ada perasaan takut dalam benak Alandra. Ia takut ayahnya mengusir Alandra.
Tok...
Alandra mengetuk pintu dengan pelan, sangat pelan hampir tidak terdengar oleh ayah didalam sana.
Tok...
Ketukan yang kedua sedikit keras. Namun sama suara itu belum sampai ditelinga ayah.
Tok... Tok...
Ketukan yang bermula hanya sekali kini Alandra mengetuk pintu dua ketukan.
Disana ibunya menggelengkan kepala melihat sang anak terlalu lama berdiri diluar.
Tok.... Tok... Tok.
Dengan segala keberanian yang ada akhirnya Alandra berhasil mengetuk pintu dengan keras.
"Masuk!" Seru ayah dari dalam sana.
Alandra masuk. Disana ayahnya terlihat sedang sibuk, terbukti kertas serta dokumen tertumpuk disana.
"Yah..." Panggil Alandra.
Ayah melepas kacamatanya, lalu berbalik menatap Alandra dengan posisi masih duduk.
"Masih ingat pulang?"
"Mas--"
"Masih ingat ibu?" Sela ayah.
"Masih yah,"
"Kenapa kamu pulang? Bukannya diSingapura jauh lebih enak? Tidak ada yang melarangnya. Bahkan disana kamu bisa merasakan kebebasan."
Suara ayahnya halus, namun kata-katanya sangat menyentil Alandra.
"Maaf yah..." Alandra menunduk.
"Kata maaf tidak akan bisa meredakan emosi ayah."
"Saat itu Alandra tidak bisa berpikir jernih yah, Alandra tidak sadar dengan apa yang sudah Alandra lakukan. Itu semua karena pengaruh Anin yang begitu dahsyat untuk Alandra." Jelas Alandra.
"Tidak sengaja? Lalu alkohol diatas meja kamu membelinya juga tidak sengaja?"
Alandra menunduk, Alandra kehabisan kata untuk membalas ucapan ayah yang itu.
"Ayah sudah tua tidak mampu menjagamu seperti saat kecil jadi harusnya kamu tidak merusak dirimu sendiri."
"Ingat pekerjaanmu adalah seorang pilot jika kamu tidak bisa membawa nyawa sendiri, Maka kamu juga tidak akan bisa membawa nyawa orang lain!"
"Alandra janji tidak akan mengulanginya lagi yah... Cukup sekali seumur hidup Alandra, Alandra menyentuh barang itu. Alandra akan buktikan pada ayah." Tegas Alandra.
"Janji bisa saja ingkar."
"Alandra berani bersumpah didepan ayah." Tegas Alandra lagi.
"Keluarlah, ayah sedang sibuk." Suruh ayah.
Ayahnya berbalik memunggungi Alandra.
Terpaksa Alandra berbalik keluar dari ruangan ayahnya. Alandra belum mendapatkan. Maaf dari ayahnya.
Alandra menunduk keluar dari ruangan ayahnya, ternyata sakit juga ketika Alandra meminta maaf namun maaf itu tidak didapatkan.
"Gimana kak?" Tanya ibunya.
"Ayah masih marah Bu..."
"Yasudah, biar ibu yang bicara dengan ayahmu." Ibu menepuk bahu Alandra, berlalu meninggalkan Alandra, masuk ke ruangan suaminya.
TING.
Suara ponsel Alandra, membuat Alandra langsung mengambilnya. Ada satu pesan masuk, Alandra pun membacanya.
Mas, non Senja sedang di taman Karanti menunggu Senja sekalian belajar jalan. Mau kesini?
Itu pesan dari bi Mina. Alandra menyimpan ponselnya.
Kembali memasuki ruangan ayahnya, ia tau wajah ayahnya masih datar seperti biasanya. Ia berpamitan pada keduanya.
Setelah mendapatkan izin dari ibunya, Alandra mengambil kunci motor, memakai jaketnya lalu berjalan kearah luar. Kali ini ia akan pergi menggunakan motor.
*****
Senja menikmati semilir angin yang menerpa kulit wajahnya, suasana sore yang begitu sejuk. Sesejuk suasana hatinya. Hari ini ia mulai mencoba belajar jalan meskipun. Kakinya masih sangat kaku.
"Bi, tinggalin Senja sendiri ya..."
"Tapi non, nanti non Senja jatuh."
"Nggak akan bi, kalau ada bibi, Senja jadi grogi." Jawab Senja.
"Ya udah bibi belanja kebutuhan aja deh, kalau sudah selesai telepon bibi ya."
"Siap Bu bos..."
Bibi tenang meninggalkan Senja sendiri, karena tadi ia sudah mengirim pesan pada Alandra. Bibi sempat bertanya dimana rumah Alandra, ternyata rumah Alandra tidak jauh dari taman ini. Hingga akhirnya ia memberanikan diri mengirim pesan mengatakan bahwa senja ada disini. Sebenarnya ini permintaan Alandra sendiri, yang menginginkan jika ada ditaman Karanti segera beritahu Alandra.
Sepeninggalan bi Mina, perlahan-lahan Senja mulai menurunkan kakinya dengan kedua tangannya. Ia mengunci kursi rodanya agar tidak bergerak. Setelah tidak ada lagi penghalang Senja mencoba berdiri, meskipun akhirnya ia harus terduduk kembali.
Senja tidak patah semangat ia mencoba lagi, ada sedikit rasa sakit itu menjalar pada bagian kakinya. Senja berhasil berdiri. Ia mencoba melangkah namun sayang Senja kembali gagal. Senja masih semangat, terus mencoba hingga berkali-kali.
BUGH.... BUGH.... BUGH...
Senja memukuli kakinya, ia harus gagal lagi kakinya terlalu kaku untuk digerakkan.
"Sepertinya aku lumpuh total..." Lirih Senja. Ia tidak mau jika lumpuh total, ia ingin bisa berjalan lagi.
"Aku bisa, aku pasti bisa...." Senja menyemangati diri sendiri. Ia kembali yakin.
Senja Mencoba lagi untuk berdiri, kakinya harus bisa bergerak meskipun hanya satu atau bahkan setengah langkah. Namun semua tidak seperti apa yang Senja harapkan.
Brukkk..
Senja terjatuh tepat saat kakinya mulai melangkah. Ia tidak bisa bangkit, semua badannya mendadak kaku.
"To... Lo... Ng..." Teriak Senja.
"Mas Andre, bi Mina, pak Beni.... Tolong..." Senja membutuhkan pertolongan orang. Senja ingin mengambil ponselnya namun ponsel itu ada ditas yang kini terletak diatas kursi roda. Jangankan untuk mengambil ponsel, mencoba bangkit saja Senja tidak mampu.
"SENJAAA..."
Dari kejauhan sana Alandra segera lari mendekati Senja. Dari tadi ia mencari keberadaan Senja, seluruh ditempat ditaman ini ia datangi namun tidak ada sosok Senja. Ternyata Senja ada disini.
Dengan sigap Alandra membantu Senja berdiri, mendudukan kembali kekursi rodanya.
Raut wajah Alandra berubah menjadi khawatir, Senja baru saja jatuh. Dan tidak ada satu orang pun yang menolong.
"Dimana Bi Mina?" Tanya Alandra. Ia memberikan air putih. Ia mengambil dari belakang kursi roda, yang Alandra yakini itu pasti milik Senja.
"Aku nyuruh bi Mina pergi." Jawab Senja. Senja mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Untung Alandra datang, ia tidak tau apa jadinya jika Alandra tidak datang.
"Kenapa kamu nyuruh bi Mina pergi, Senja..."
"Aku ingin sendiri."
"Kamu baru saja terjatuh. lain kali bi Mina harus ada disampingmu."
"Aku hanya kurang fokus."
"Kamu tidak boleh sendiri."
Alandra berjongkok dihadapan Senja. Tangannya mengambil kaki Senja lalu diletakan diatas pahanya. Alandra mulai memeriksa kaki Senja, memastikan tidak ada luka disana.
"Ada yang sakit?" Tanya Alandra.
"Sedikit."
"Bagian mana?"
"Mata kaki." Jawab Senja.
"Kita ke rumah sakit ya."
"Tidak perlu. Rasa sakit ini akan hilang sendiri."
"Lebih baik kita ke rumah sakit untuk memastikan."
Senja menggeleng. Ini hanya sakit biasa, mungkin karena terjatuh tadi.
"Senja.... Lain kali jangan seperti ini. Kalau ada orang kemungkinan ada yang membantu, tetapi jika tidak ada orang kamu akan tersiksa karena rasa sakitmu." Ucap Alandra dengan lembut. Melihat Senja terjatuh membuat hati Alandra dipenuhi rasa takut, khawatir yang luar biasa.