Terpaksa mereka harus terpisah, pertemuan mereka cukup hingga di Bandara. Karena keduanya harus pulang kerumah masing-masing. Alandra sudah berpamitan dengan mereka, dan kini hanya tersisa Senja, pak Beni, bi Mina dan Amanda.
Amanda, perempuan itu sedari tadi tak berhenti menggoda Senja bahkan bertanya tentang banyak hal, tentang bagaimana bisa ia kenal dengan Alandra. Padahal Senja sudah menjawab jika pertemuan itu tidaklah sengaja, semua itu berawal saat dirinya ingin pergi ke Singapura. Bahkan pertemuan mereka juga lebih banyak bertemu dibandara daripada dijalan raya.
"Kalian lagi dekat?" Tanya Amanda lagi.
"Nggak Nda... Aku sama dia cuman ketemu doang."
"Masa? Tapi kaya ada yang aneh,"
"Aneh?" Senja mengernyitkan dahinya.
"Ayo jujur dong.. Please... Aku janji nggak akan bilang sama mas Andre." Amanda memiliki rasa penasaran yang tinggi, mengingat ia sangat tau bagaimana seorang Alandra. Alandra adalah pria yang memiliki kecuekan yang tinggi terhadap teman kerja perempuannya.
"Apaan sih Nda.... Aku sama dia nggak ada apa-apa. Udah ah, cepat jalan!" Suruh Senja. Mengalihkan pembicaraannya.
"First time aku lihat mas Alandra peduli sama perempuan.... Apalagi kamu digendong dia."
"Please deh... Nggak perlu gitu."
"Aku ngomong serius Senja. Kalau nggak salah dia udah punya tunangan." Ucap Amanda.
Sekilas Senja tersenyum, namun senyum itu tidak bertahan lama.
"Bahkan hampir mau nikah. Kemarin aku pancing dia apa benar sudah menikah, tapi mas Alandra menjawab belum. Gosip yang aku dengar, mas Alandra gagal nikah gara-gara si cewek hamidun." Cerita Amanda.
Senja tertarik dengan obrolan Amanda. Berharap Amanda menceritakan lagi.
"Terus?" Akhirnya mulut Senja bertanya.
"Ya gitu.... Kayaknya dia frustasi maka-nya pergi Singapura."
Entahlah apa benar yang dikatakan Amanda? Tetapi memang ada yang aneh, beberapa hari bersama di Singapura laki-laki itu seperti tidak arah, bahkan lebih memilih mengantar Senja ke rumah sakit dan jalan-jalan. Ia kira Alandra ke Singapura ada pekerjaan.
"Masa sih? Tapi... dia biasa-biasa aja. Sama sekali tidak terlihat jika ia sedang.... Hm.... Patah hati." Ujar Senja. Tanpa sadar ucapannya hanya semakin membuat Amanda penasaran.
"Laki-laki paling pinter menyembunyikan kesedihannya, sekali pun hatinya benar-benar hancur mereka tetap mengatakan baik-baik saja. Beda dengan perempuan, kalau kita patah hati langsung nangis berhari-hari. Kamu harus tau Senja; jika perempuan bisa menyembunyikan perasaan selama bertahun-tahun, maka laki-laki bisa menyembunyikan kesedihannya selama bertahun-tahun."
"Iya, Bu dokter cinta..."
"Jadi kali aja pas ketemu kamu dia lagi menyembunyikan patah hatinya."
"Ya, aku sempat jalan bareng di Sing--" Senja langsung mengatupkan bibirnya. Tidak boleh, ia tidak boleh melanjutkan ucapannya. Itu hanya akan membuat Amanda semakin bertanya.
"Kalian jalan bareng?" Selidik Amanda.
"Nggak."
"Terus tadi mau ngomong apa?"
"Nggak ngomong apa-apa kok,"
"Kebanyakan alasan. padahal aku sudah tau. Alandra dan kalian jalan bareng. Bahkan Alandra menemanimu ke rumah sakitkan?"
Senja bungkam. Bagaimana bisa Amanda tau tentang hal itu?
Amanda mengeluarkan sesuatu dari tasnya, Amanda mengambil ponselnya. Lalu menyuruh Senja melihatnya.
Disana ada foto dirinya dan Alandra duduk saling bersampingan, yang Senja yakini foto itu saat dirinya dirumah sakit.
"Dapat darimana?" Tanya Senja penasaran.
"Ada deh.... Kamu memang tidak bisa berbohong padaku Senja. Aku sengaja tadi memancingmu, tapi kamu tidak mau jujur."
Senja cemberut. Bukan ia tidak mau jujur hanya saja bagi Senja itu bukan hal yang penting untuk di bahas.
"Tapi aku senang lihat kalian berdua..."
"Udah ah, ayo dorong lagi!" Suruh Senja. Sudah terlalu lama mereka ada didalam bandara.
"Fans Alandra banyak loh, harus kuatin hati kamu ya," Amanda mulai mendorong Senja keluar dari bandara, menuju tempat parkir. Kali ini Amanda ikut satu mobil dengan Senja.
"Inikan jaketnya mas Alandra.." Ucap Amanda. Ia memang hafal dengan jaket milik Alandra, karena sebelum Alandra melakukan penerbangan pasti pria itu memakai jaket yang sedang Senja pakai.
Senja menunduk, memastikan apa yang Amanda ucapkan. Ternyata memang benar, Senja lupa mengembalikan jaket milik Alandra sejak dari Singapura ia selalu memakainya. Tadinya ia sudah ingin mengembalikan tetapi saat didalam pesawat Senja mendadak merasa kedinginan, dan Alandra kembali memasangkan jaketnya lagi.
"Cie.... Cie. So sweet.... Dikasih jaket mas Alandra. Uhukk!" Amanda menggoda Senja.
"Nggak ih. Ini pinjem, didalam pesawat aku kedinginan." Jelas Senja.
"Masa sih?"
"Iya, Nda!"
"Cie.... Uhukk... Uhukk.."
"Amanda jangan gitu!" Dengus Senja.
Hingga obrolan mereka terputus. Saat bi Mina mendekati mereka.
"Non, ada telepon nih." Bi Mina memberikan ponselnya pada Senja.
"Dari siapa bi?"
"Mas Alandra.."
"Eh?"
"Mas Alandra mau ngomong sama non Senja." Sahut bi Mina.
Dengan. Ragu Senja menerima ponselnya, lalu didekatkan ponsel itu ditelinganya. Senja diam, ia menunggu Alandra berbicara terlebih dahulu.
"Senja?"
"Ya," Senja menjawab. Untung saja Alandra langsung memulai bicara.
"Masih di bandara?"
"Sudah keluar, sekarang sudah sampai ditempat parkir."
"Diluar hujan besar, bilang sama pak Beni jangan ngebut. Saya sudah sampai rumah."
"Iya. Syukurlah... Jika kamu sudah dirumah."
"Hati-hati Senja. Saya tutup ya,"
"Kamu juga hati-hati Alandra."
"Sampai ketemu lagi.."
"Oke. Alandra jaket kam---"
Namun sayang Alandra telah mematikan sambungan teleponnya.
"Cie.... Ada yang lagi diperhatiin sama pilot. Cie.."
Senja mencubit lengan Amanda, agar Amanda bisa diam dan tidak menggodanya.
"Amanda, diam!"
"Iya-iya, aku diam."
Pak Beni menggendong Senja masuk ke dalam mobilnya, dan diikuti oleh Amanda dan juga bi Mina.
Mobil mereka mulai meninggalkan kawasan bandara Soekarno Hatta, mata Senja tak pernah lepas pada mereka yang bekerja dibandara. Matanya menatap mereka yang berjalan dengan seragam lengkapnya, dibenak Senja merasakan kerinduan, ia rindu dengan seragam, rindu bekerja hingga berhari-hari.
*****
Ibu Alandra tak henti-hentinya memeluk Alandra, ternyata Alandra pulang dengan waktu yang cepat. Masih keadaan yang sama seperti waktu itu, hanya saja ada sedikit merah di bagian pipi. Ia tau tamparan suaminya terlalu keras sehingga warna merah dipipi Alandra menghilang dengan sangat lambat.
"Ibu kangen sama kamu, nak.." Ucapnya.
Alandra mengusap punggung ibunya dengan sayang. Ia baru bisa bertemu ibunya, karena sang ayah masih menghindari, apalagi saat Alandra baru saja datang dan mencoba mengetuk pintu, ternyata sang ayah yang membukanya. Alandra ingin menyalami, namun ayah berbalik meninggalkannya. Alandra tau ayahnya masih kecewa.
Ia juga tau bagaimana khawatirnya ibu terhadap dirinya, Alandra sempat pulang ke apartemennya ternyata keadaan apartemen sudah bersih tidak ada lagi pecahan kaca disana. Alandra yakin itu semua berkat ibunya yang menyuruh orang agar membersihkannya.
"Alandra baik-baik saja Bu, maafkan Alandra ya..."
"Dimata ibu kamu nggak pernah salah.." Ibu Alandra melepas pelukannya, ia kembali melihat pergelangan tangan Alandra yang memerah. Ia sudah sempat bertanya dan jawabannya itu hanya merah biasa, tidak sakit.
"Yakin tangannya nggak sakit?" Tanya ibu sekali lagi.
"Nggak Bu, ini cuman merah doang." Jawab Alandra lagi. Pergelangan tangan Alandra sempat merasakan perih, mungkin akibat cengkraman Senja yang sangat kuat, namun rasa perih itu sudah menghilang.
"Ibu obati ya,"
"Nggak perlu Bu..."
Ibu Alandra bersyukur ternyata kesalahan yang Alandra perbuat waktu itu bisa dijadikan pelajaran untuk Alandra. Alandra tidak melakukan hal negatif lainnya, dan ia merasa sangat bersyukur sekali.
"Bu.." panggil Alandra.
"Ya?"
"Bagaimana dengan ayah?"
"Kamu temui dia di ruang kerja, minta maaf dengan ayah. Ibu yakin dia memaafkanmu.."
"Tapi Alandra takut Bu, tadi saja ayah menghindar saat Alandra ingin bersalaman."
"Dicoba dulu. Ayahmu bukan seorang pendendam."
"Ya Bu, nanti Alandra kesana."
"Bu..." Panggil Alandra lagi.
"Ya, kenapa?"
"Salah tidak jika Alandra membuka hati dengan cepat?" Tanya Alandra. Menatap kedua manik mata sang ibu, meminta mendapat tentang apa yang sedang ia rasakan sejak bertemu dengan dengan perempuan bernama Senjarina.
Setiap waktu yang Alandra jalani, ia selalu merasa khawatir dengan Senjarina. Alandra ingin selalu berada didekat Senja untuk melindunginya.