Denisa terus memeluk Ibu, inilah kebiasaan barunya semenjak kepergian Kakak dan kepulangan Ibu dari Singapura. Ibu terus diam namun Ibu tidak pernah lupa akan tugasnya.
“Bu, maafkan Denisa ...” Ucap Denisa. Andai saja malam itu ia tidak keceplosan berbicara bahwa Alandra mabuk pada orang tuanya, pasti tidak akan seperti ini. Ia tidak tega melihat Ibu, apalagi Calandra mendapat tamparan dari Ayah, Membuat Denisa merasa sangat bersalah.
“Kamu nggak salah ...” Jawab Ibu
“Apa ada kabar dari Kakak?” Tanya Ibu
Denisa menggeleng. “Semua sosial media Kakak nggak aktif.” Jawab Denisa
“Coba telepon lagi.” Pinta Ibu
“Sekarang?”
“Iya ....”
Denisa mengambil ponsel, dengan cepat ia mencoba menghubungi Calandra lagi. Namun jawabannya tetap belum juga mengaktifkan ponsel.
“Bagaimana?”
“Masih belum aktif, Bu ...”
Raut wajah Ibu kembali terlihat sedih seperti diberikan harapan namun sirna ketika pagi ini belum mendapatkan kabar dari putra sulungnya. Benar-benar khawatir, apalagi Calandra baru saja ditampar oleh Ayah. Ibu takut Calandra tidak mengobati pipinya.
“Lebih kita menyusul Kakak ke Singapura.”
"Ayo Bu, kapan?"
"Ibu sangat khawatir dengannya..."
"Ayo kita susul kakak, Bu..." Ajak Denisa.
"Ayah tidak mengizinkan kalian pergi kesana." Ayah Abid keluar dari ruang kerjanya, mendekati istri dan anaknya.
Ibunya masih kecewa dengan ayahnya yang menampar Alandra tepat didepannya, pulang dari Singapura hingga sekarang ibu belum mengajak ayah berbicara.
"Tapikan yah, kita khawatir dengan kakak." Ujar Denisa.
"Biarkan saja. Dia saja tidak khawatir dengan kita. Jangan coba-coba berangkat ke Singapura tanpa sepengetahuan ayah." Tegas ayah.
Ayahnya melirik kearah ibu sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah televisi. Ia tau perempuan itu masih marah. Karena kondisi hati ayah sedang tidak baik ia belum meminta maaf, atau bahkan merayu agar istrinya tidak marah lagi. Ia butuh waktu agar kondisi hati membaik.
"Ada kabar dari kakakmu?" Tanya ayah.
"Belum yah, ponselnya belum aktif."
"Kamu kirim pesan, katakan pada kakakmu agar segera kembali. Jangan membuat ibumu khawatir lagi." Ucap ayah. Ayah bangkit dari sana, dan pergi menjauhi mereka.
Denisa mengiyakan permintaan ayahnya. Ia tau dengan sikap Sang ayah, meskipun sedang marah tetapi rasa peduli dengan anak-anaknya tidak akan hilang.
TING
Dengan cepat Denisa mengambil ponselnya saat suara notifikasi itu terdengar.
From : Kakak Alan.
Kakak akan pulang jika kondisi sudah membaik. Salam untuk ibu dan ayah, jangan khawatir kakak disini baik-baik saja. Kakak juga tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang membuat ayah dan ibu marah dan kecewa.
Denisa membaca isi pesan dari kakaknya, akhirnya ia bisa bernafas lega ketika sang kakak sudah mengabarinya.
"Bu, kakak bales pesanku..." Denisa memberikan ponsel pada ibunya.
"Akhirnya.... Balas pesannya bilang sama dia, cepat pulang. Jangan lama-lama disana. Disini ada ibu, Alandra tidak sendiri."
Denisa mengangguk. Jarinya mengetik apa yang tadi ibunya ucapkan. Denisa permisi sebentar pada ibu, Denisa ingin memberitahu ayahnya juga.
Tok... Tok ... Tok ...
Denisa mengetuk ruang kerja ayahnya.
"Masuk!" Sahutnya dari dalam.
Denisa masuk, ayahnya masih sibuk dengan pekerjaan barunya yang sekarang menjadi seorang pembisnis kuliner.
"Yah..." Panggil Denisa. Denisa menaruh ponselnya didepan ayah, memberi kode agar ayah membaca teks yang terpampang diponsel Denisa.
Seakan mengerti ayah mengambil ponsel Denisa, dibacanya pesan itu. Ternyata itu dari Alandra yang mengatakan bahwa Alandra baik-baik saja bahkan Alandra masih menitip untuknya.
"Suruh Alandra telepon ibu," Ayah mengembalikan ponsel Denisa.
"Iya yah, kalau gitu Denisa keluar dulu." Pamitnya. Ayahnya hanya berdehem sebagai jawabannya.
Ayahnya memang kecewa, tapi ia tidak memungkiri jika dirinya juga merasakan apa yang istrinya rasakan.
Jika dia sudah bersama orang lain, kita juga wajib bersama yang lain. Kehadirannya sedikit membuat luka pada hati Alandra mengering, hanya dengan pertemuan singkat. Jika ditanya mengapa laki-laki mudah untuk melupakan seseorang? Karena laki-laki tau mana sosok yang terbaik untuk mereka.
Alandra tersenyum tanpa henti seketika ia mengingat hal yang barusan ia katakan pada Senja, Alandra mengatakan sesuai apa kata isi hatinya.
Bukan waktunya untuk selalu bersedih terkadang kita diharuskan untuk melupakan peristiwa yang sudah berlalu, melupakan dengan cepat atau lambat itu semua tidak penting. Masa lalu hanyalah rangkaian kisah yang sudah selesai, tidak ada lagi kisah itu maka tidak perlu lagi memikirkan kisah lama. Dan hari ini Alandra berbicara pada diri sendiri ia akan melupakan kisah itu dengan cepat.
Mereka menikmati suasana sore menjelang malam disekitar Marina Bay. Menikmati langit yang sebentar lagi akan berganti warna menjadi jingga.
"Hidup itu harus seperti senja meski pun ia hadir dengan sebentar tetapi ia mampu memberikan kebahagiaan untuk orang lain dengan melihat warnanya." Ucap Senja secara tiba-tiba membuat Alandra melirik ke arah gadis yang bernama Senja juga.
"Jadi saya harus jadi kamu biar bisa buat orang bahagia?" Tanya Alandra.
"Bukan Senja aku, Alandra! Tapi yang disana." Tangan Senja menunjuk ke atas langit sana.
"Saya kira kamu, kalian juga sama namanya Senja."
"Bukan. Senja hari ini cantik sekali...." Puji Senja. Mata Senja masih fokus menatap Senja diatas sana. Senja terhipnotis dengan warna jingga.
"Iya sangat cantik seperti kamu..." Ucap Alandra tanpa sadar. Alandra ikut menikmati senja diatas sana.
"Kamu tadi bilang apa?" Tanya Senja. Ia tidak mendengar mendengar begitu jelas ucapan Alandra.
"Yang mana?" Alandra berbalik tanya.
"Yang tadi.... Pas ada kata cantik."
"Kamu salah dengar. Dari tadi saya diam." Alandra membela diri.
Senja tidak lagi bertanya, mungkin dirinya memang salah dengar karena suasana di Marina Bay cukup ramai. Apalagi banyak pengunjung yang menghabiskan waktu untuk mengobrol.
"Alandra..." Panggil Senja.
"Ya?" Alandra menoleh.
"Pipimu masih sakit?"
"Sudah lebih baik."
"Syukurlah.... Besok jadi pulangkan?" Tanya Senja memastikan.
Harusnya malam ini sekitar jam sepuluh malam Senja harus pulang ke Indonesia, tetapi Alandra meminta bahkan laki-laki itu memohon agar pulang besok pagi saja. Alandra ingin mengajak Senja jalan-jalan lagi, hingga akhirnya Senja mengiyakan lebih tepatnya yang mengiyakan pertama kali adalah bi Mina.
"Iya Senja. Nggak betah ya saya ajak kamu jalan-jalan?"
Bukan hanya Senja saja yang akan pulang, tetapi Alandra juga akan pulang. Ia akan menghadapi apa yang sedang terjadi pada dirinya. Alandra juga tidak mau terlalu lama membuat ibunya cemas.
"Betah kok. Hanya saja aku ingin segera pulang."
Yang senja takutkan hanya satu yaitu, akan bertemu lagi dengan papanya.
Senja dan Alandra sudah berkeliling Singapura dengan puas bahkan Alandra juga mengajak ke beberapa tempat terkenal di Singapura, sedangkan bi Mina berada di hotel. Alandra meminta izin membawa Senja, bahkan Alandra memberi nomor telepon, paspor milik Alandra kepada bi Mina. Agar meyakinkan bi Mina jika dirinya tidak akan berniat jahat pada Senja.
"Kita pulang ke hotel?" Tanya Alandra. Hari pun sudah mulai gelap.
"Sebentar lagi..." Bukan hanya menikmati matahari tenggelam, ternyata Senja sangat menikmati udara malam di Singapura.
Alandra mengambil ponselnya, ia berpura-pura memotret langit. Padahal diam-diam ia sedang memotret wanita disampingnya.
Alandra tidak tau apa yang ia rasakan sebenarnya, ia hanya ingin selalu berada didekat Senja. Menjadi teman berbagi Senja. Alandra tau Senja hanyalah perempuan kesepian. Sama seperti dirinya. Hanya saja Alandra baru merasakan kesepian beberapa hari ini.
Alandra melepaskan jaketnya, memasangkan jaket itu pada Senja. Cuaca malam hari serta angin yang sedikit kencang, membuat Alandra yakin jika Senja kedinginan.
"Al----"
"Pakai saja jaket saya. Agar kamu merasa hangat." Ucap Alandra sebelum Senja bertanya.
"Terima kasih..."
Alandra senang. Senja sudah tidak pernah menolak lagi apa yang Alandra lakukan pada perempuan itu.
*******
Memang benar semua akan dilupakan ketika bertemu dengan pengganti yang menurutnya baik. Tidak perlu menunggu lama, hari ini hati Alandra telah terbuka lebar untuk mencoba lagi mendekat dengan perempuan. Biarkan rasa sakit, kekecewaan, penghianatan ia pendam dalam-dalam.
"Bi, tangannya kenapa?" Tanya Alandra. Melihat pergelangan tangan bi Mina yang sedikit memerah.
"Biasa mas, ini kena cengkraman tangan non Senja. Dia suka takut kalau pesawat take off atau landing. Jadi tangan bibi yang jadi korbannya." Jawab bi Mina.
"Sudah diobati, bi?"
"Cuman merah doang mas, namanya juga tulang tua jadi ilangnya lama." Jelas bi Mina.
Pagi ini mereka akan kembali ke Indonesia, begitu pun Alandra. Mereka masih menunggu pesawat mereka. Sedangkan Senja masih fokus dengan kanvas, serta pensilnya. Yang Alandra tau ternyata Senja memiliki hobi melukis.
Baik Alandra, bi Mina, dan pak Beni, mereka semua tidak menganggu Senja. Sesekali Alandra melirik ke kanvas itu, tangan Senja begitu ahli bergerak dikanvas itu.
Hingga suara pengumuman terdengar ditelinga mereka, mengharuskan mereka masuk ke dalam pesawat.
Seperti sudah tertempel magnet, Alandra enggan berjauhan dengan Senja. Bahkan pria itu menggendong Senja lagi masuk ke dalam pesawat, dan duduk bersampingan.
"Tegang?"
Senja mengangguk.
"Ada saya disampingmu... Kamu boleh cubit, cakar, atau apapun untuk menghilangkan rasa takutmu." Ucap Alandra. Mereka sudah sampai di dalam pesawat.
Senja mengangguk kecil. Inilah yang membuat tersiksa didalam pesawat, ia harus berjuang melawan rasa takut yang luar biasa. Sayangnya kali ini disamping Senja bukan bi Mina melainkan orang lain, sedangkan disamping kiri adalah Alandra. Andai saja bi Mina yang ada disamping kanan, Senja akan melampiaskan rasa takutnya dengan bi Mina. Bi Mina duduk dibelakang mereka.
Pengumuman itu kembali terdengar artinya pesawat mereka akan take off. Alandra dapat merasakan ketika tangan Senja sudah bergerak mendekati tangan Alandra.
Bersamaan dengan jalannya pesawat, hingga begitu sangat terasa jika pesawat itu sedang sedikit demi sedikit mengarah ke atas untuk terbang, cengkraman ditangan Alandra begitu kuat menandakan Senja begitu sangat ketakutan. Matanya terpejam, kegelisahan begitu jelas diwajahnya, Alandra melihat jelas air mata turun dipelupuk matanya seiring dengan munculnya perasaan takut yang luar biasa.
"Rileks Senja...."
"Bayangkan jika ketika sedang berada disalah satu pegunungan, menatap alam hijau dengan cuaca begitu dingin, kamu berdiri disana dan melihat begitu jelas embun yang menempel pada dedaunan."
"Cengkram tangan saya."
Senja mengikuti apa yang Alandra ucapkan, ia mendengar apa yang Alandra katakan. Hanya saja bibir Senja kaku untuk mengucapkan kata. Didalam hati Senja tak berhenti untuk berdoa.
"Bayangkan lagi kita sedang berada didarat berjalan. Diatas tanah dan aspal."
"Tarik nafas, hembuskan pelan-pelan."
"Jangan bayangkan kejadian saat pesawatmu jatuh. Yakin jika pesawat ini mendarat dengan aman."
"Ya..." Senja hanya menjawab kata itu dengan volume suara sangat kecil, nyaris membuat Alandra tidak mendengarnya.
Cengkraman Senja semakin kuat, bahkan Alandra merasakan nyeri namun sekuat tenaga ia menahannya.
"Aaahhhhh---." Hampir saja Senja menjerit namun dengan segara ia menutup mulutnya dengan tangan satunya, Senja tidak boleh berteriak karena akan menganggu yang lain.
"Mau saya peluk?"
Senja menggeleng dengan cepat.
"Jangan. Aku pinjam tanganmu saja." Sahut Senja.
Dan akhirnya pesawat lepas landas, ketegangan, rasa takut perlahan menghilang. Jika pesawat sudah diudarakan Senja sudah biasa seperti semula, ia hanya takut ketika pesawat akan take off dan landing. Pesawat mereka akan membawa mereka ke tanah air.
******
Entah kata apalagi yang harus Senja ucapkan selain kata maaf. Senja tau pasti Alandra merasakan sakit pada pergelangan tangannya, itu semua karena ulah Senja yang mencengkram tangan Alandra sangat kuat.
Mau bagaimana lagi Senja begitu takut jika pesawat akan take off, pikiran Senja akan kembali pada kejadian saat pesawatnya jatuh. Senja masih trauma walau pun selama ini ia selalu berusaha, bahkan berkonsultasi dengan dokter psikiater namun belum mendapatkan hasilnya.
Mereka sudah sampai di tanah air pukul sembilan empat puluh menit, dan baru bisa keluar dari ruang bagasi tepat jam sepuluh. Setelah ini Senja dan Alandra akan terpisah, keduanya harus pulang ke rumah.
"Alandra... Aku minta maaf." Ucap Senja lagi. Ia tau ini sudah kesekian kalinya ia mengucapkan kata maaf.
"Ini tidak sakit Senja... Sudah jangan mengucapkan maaf terus-menerus." Alandra masih mendorong Senja keluar dari bandara.
Hingga langkah mereka berhenti ketika suara seseorang memanggil Senja.
"Senjaaaaa...." Perempuan masih lengkap dengan seragam pramugarinya mendekati mereka.
"Amanda.." Senja menyambut sahabatnya dengan sebuah pelukan.
"Baru pulang?" Tanya Amanda.
"Iya. Kamu sudah selesai bertugas?" Senja berbalik tanya.
"Sudah dong..."
Amanda tersadar ketika ada orang lain diantara mereka, Amanda menatap Senja dan Alandra secara bergantian.
"Kalian pulang bareng?" Karena penasaran akhirnya Amanda memberanikan bertanya.
"Iya." Jawab Alandra.
Namun tiba-tiba Amanda mendekati Senja tepat disamping telinga senja.
"Cie.... Cie yang pulang bareng sama pilot Alandra...." Bisik Amanda.