“Jika akhirnya benar bahwa perempuan terbaik adalah Kamu.”
-S&A-
Cuaca di Singapura sangat terik, musim di Singapura hampir sama dengan Indonesia. Mereka hanya memiliki dua musim yaitu, panas dan hujan. Terik matahari menemani mereka yang kini duduk disalah satu kafe, tangan gadis itu dengan telaten mengobati luka kemerahan pada pipi Calandra
“Jangan ditekan.” Spontan Calandra menjauhkan es batu dari tangan Senja, sangat perih sekali.
“Aku tidak menekannya.” Jawab Senja merasa tidak enak karena Calandra mengerang kesakitan.
Senja kembali menaruh es batu ke pipi Calandra, sesekali ia gerakan es batu itu agar kemerahan di pipi Alandra sedikit menghilang. Senja melakukannya lebih pelan-pelan agar Calandra tidak menjerit lagi.
“Masih sakit?” Tanya Senja.
“Iya.”
“Berapa kali kamu ditampar?” Tanya Senja lagi.
“Tidak tau.”
"Kok tidak tahu? harusnya, saat ditampar kamu menghitung berapa kali orang tersebut menamparmu.” Ujar Senja.
“Tidak kepikiran hal itu. Lagi pula untuk apa kita menghitungnya?”
"Agar kita tahu berapa kali mereka menampar kita. Jika kita sudah tahu itu semua jawaban kenapa pipimu sangat merah." Jawab Senja.
“Kalau pun ditampar satu kali tetap saja sama, akan membuat pipi kita memerah.”
“Beda Alandra. Kalau hanya satu kali kemerahan ini akan menghilang dengan cepat.” Sahut Senja. Tangannya terus bergerak dipipi Calandra.
Senja mengambil tangan Alandra, lalu ditempelkan diatas es batu yang sedang menempel pada pipi Alandra.
“Kamu pegang sendiri, aku capek." Suruh Senja
Calandra terkekeh. Padahal tidak menyuruh agar Senja mengobati lukanya.
“Terima kasih SenjaRina ...”
“Aku bosan dengan ucapan terima kasihmu.” Sahut Senja.
“Tidak ada kata lain selain kata dan ucapan terima kasih ...”
“Ada kok.”
Calandra mengernyit. Selama ini Alandra tidak tau jika ada kata lain balasan kita saat diberi sesuatu.
“Apa itu?” Tanya Alandra.
“Thanks.” Jawab Senja
“Itu sama saja mengucapakan terima kasih, Senja...”
“Beda Alandra!” Sahut Senja membela diri
“Sama. Hanya beda bahasa saja.” Sahut Alandra.
Yang dikatakan Calandrw memang benar, kata tadi mempunyai inti yang sama yaitu mengucapkan terima kasih hanya beda bahasa saja.
“Tapi hurufnya beda ...”
“Hanya huruf. Yang penting intinya sama.” Jawab Alandra tak mau kalah.
Hanya percakapan ringan namun mampu membuat Calandra merasa hatinya membaik, mengurangi rasa sakit pada hatinya hanya dengan Senja.
“Aduh .... Nona cantik bikin Bibi sama Pak Beni khawatir saja.” Bi Mina mendekati Senja dengan wajah penuh kekhawatiran. Senja berjanji akan menunggu mereka di sekitar Merlion Park namun sekembalinya mereka dari jalan-jalan dan membeli makanan, Bi Mina tidak melihat kehadiran Senja disana. Bi Mina sangat panik apalagi saat ditelepon Senja tidak mengangkatnya.
Mereka serempak menoleh ke sumber suara itu.
“Ya ampun .... Senja lupa sama bibi dan pak Beni. Maaf Bu ...” Ucap Senja tidak enak. Bibi melirik sebentar kearah Calandra, tiba-tiba senyum itu muncul dari sudut bibir Bi Mina. Kalau bersama Mas Calandra pasti akan aman Bibi jadi lega.
Semesta seakan bersahabat dengan mereka. Mereka kembali dipertemukan dengan keadaan dan tempat yang sama.
“Bibi telepon non, tapi tidak diangkat.”
“Senja sedang mengobati saya Bu,” Sahut Calandra.
“Ponsel Senja dibelakang kursi roda, Senja tidak mendengarnya. Maaf Pak, Bi.” Jawab Senja
“Mas Alandra kenapa?” Tanya bi Mina.
“Pipinya merah kena tamparan.” Jawab Senja.
Lagi-lagi Bi Mina tersenyum dengan pemandangan didepannya. Senja dengan telaten menempelkan es batu itu kepipi Calandra, Bi Mina merasa jika mereka sangat cocok. Pertemuan ketiga ini Senja membalas semua kebaikan Calandra.
“Non, es batunya mencair ...” Ujar bi Mina menggoda Senja. Spontan Senja melepaskan es batu dari pipi Calandra. Setelah mengatakan jika ia capek memegangi es batu, Senja kembali mengambil alih es batu itu dan membantu Calandra lagi.
“Ini masih keras, bi ...”
Bi Mina hanya menggoda, selanjutnya Bi Mina mengatakan jika sudah selesai mereka akan pergi ke rumah sakit. Tangan Senja tertahan saat mendengar ucapan bi Mina. Ia hampir saja melupakan tentang hal itu. Senja melirik ke arah jam tangan.
“Bi, kita ke rumah sakit sekarang.” Senja melepaskan tangannya.
“Alandra, Aku harus pergi ke Rumah sakit. Kamu obati sendiri ya ...” Ucap Senja. Untung saja Bi Mina mengucapkan kata rumah sakit, kalau tidak ia pasti akan lupa.
“Santai saja Non, tidak perlu terburu-buru.”
Senja menggeleng. Mereka harus berangkat sekarang juga. Meskipun jarak dari Merlion Park ke rumah sakit yang Senja tuju hanya membutuhkan waktu enam belas menit tetapi ia tetap memilih menunggu lama disana daripada harus terlambat.
“Ayo bi,”
“Boleh saya ikut?” Tanya Calandra
“Bol—”
“Kalau sedang sibuk lebih baik jangan.” Sela Senja sebelum Bi Mina melanjutkan ucapannya.
“Tidak. Saya ikut dengan kalian, ya?” Pinta Calandra.
“Dengan senang hati Mas ...”
Senja tidak bisa menolak, Bi Mina sangat antusias saat Calandra ingin ikut dengan mereka. Padahal Senja tidak ingin karena merasa tidak enak.
****
Senyum itu belum pudar dari bibir Senjarina penjelasan oleh dokter tentang kondisi kakinya benar-benar membuat Senja merasakan rasa syukur yang luar biasa, empat bulan yang lalu ia menjalankan operasi pada tulang kakinya yang patah ternyata mendapatkan hasil sangat baik, bahkan sedikit demi sedikit kaki Senja sudah mampu digerakkan lagi. Dokter juga menyarankan agar Senja belajar berjalan menggunakan tongkat.
Senja semakin senang saat dokter bilang kalau dirinya tidak perlu setiap bulan datang ke Singapura, dokter akan memantau kondisi Senja lewat ponsel saja. Dokter membuat jadwal check up ulang enam bulan sekali. Jika kaki Senja tidak nyaman atau ada rasa sakit harus cepat menghubungi dokternya, dokter juga merekomendasikan dokter Indonesia yang menurutnya tepat untuk menangani Senja saat darurat.
Ia sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup lagi, masih diberi kesembuhan dan ini semua tidak akan ia sia-siakan.
Kakiku semakin membaik dan kabar baiknya aku tidak perlu setiap bulan ke Singapura.
Senja mengirimkan pesan itu ke Amanda teman dekatnya dan juga Andre kakaknya. Tidak perlu menunggu lama keduanya membalas secara bersamaan.
From : Amanda
Yes!!!! Akhirnya .... Semangat terus ya, aku yakin kamu bisa jalan lagi. Biar Kita bisa terbang lagi, kalau Kamu kelamaan istirahat nanti bakalan rindu sama seragam Kita :p
From : Mas Andre
Seriously? Kalau iya mas sangat senang mendengarnya. Maaf mas tidak bisa menemanimu selama di Singapura karena urusan pekerjaan. Ayo semangat untuk belajar jalan!
Senja membaca pesan dari keduanya, ia membalas satu-persatu pesan itu dengan mengatakan ia akan selalu semangat untuk sembuh. Senja berjanji saat pulang nanti, Senja akan semakin giat untuk belajar berjalan.
Senja keluar dari ruangan dokter, disana Calandra sudah menunggu. Pria itu tidak masuk memilih menunggu diluar.
“Sudah?” Tanya Calandra
“Sudah. Terima kasih sudah menunggu ...” ucap Senja.
“Bagaimana keadaan kakimu? Saya mendengar Kamu berteriak.” Tanya Calandra lagi.
“Kondisi semakin membaik, dokter Charles memang jail. Luka pada kakiku dipencet dan Aku spontan menjerit karena nyeri.” Jelas senja
“Syukurlah ...”
“Kalian pasti lapar, mampir ke restoran dulu. Malam ini aku traktir kalian ...” ujar Senja
“Biar saya saja yang mentraktir kalian ...” Tiba-tiba Calandra ikut menyahut
“Biar aku saja.”,
“Saya saja Senja .... Ini sebagai tanda ucapan terima kasih karena kamu telah membantu mengobati pipi saya." Kata Calandra penuh harap.
“Sudah-sudah lebih baik kalian mentraktir kita berdua saja. Non Senja traktir bibi, nah Mas Calandra traktir Pak Beni biar adil. Bagaimana?” Bi Mina melerai perkataan mereka.
Kedua nampak berpikir sejenak dan akhirnya mereka mengangguk secara bersamaan.
“Ayo kita berangkat ...” Ujar pak Beni. Ia pun membantu Senja mendorong kursi roda. Sedangkan Calandra berjalan dibelakang mereka, ia ingin bertanya pada Bi Mina untuk mengobati rasa penasarannya.
“Bu?” Panggil Alandra.
“Ya, mas?”
“Apa ibu saudara Senja?”
Bi Mina menggeleng. "Panggil Bi Mina saja Mas. Bibi pengasuh Non Senja dari kecil." Jawab Bi Mina
“Maaf kalau pertanyaan saya tidak sopan. Apa Senja tidak punya kelurga? Kenapa kalian yang mengantar kesini?” Tanya Calandra
“Punya.”
“Lalu kemana mereka?”
“Untuk soal itu bibi tidak bisa menjawab mas, maaf ya ...”
Calandra mengangguk paham, barangkali itu privasi mereka.
“Kaki senja kenapa, Bi?” Calandra bertanya mengenai hal lain.
“Itu akibat kecelakaan, Mas.”
“Kecelakaan?”
“Non Senja kecelakaan pesawat hingga membuat trauma dan kakinya patah.” Jawab Bi Mina
Mengatakan hal ini hanya akan membuat dirinya sedih dan ingin menangis.
“Pesawat?” Calandra mulai tertarik dengan obrolan Bi Mina lebih lanjut, bibirnya menyuruh agar terus bertanya mengenai Senja. Gadis yang mengobati luka pada pipi Calandra.
“Iya Mas, sekitar satu tahun yang lalu." Jawab Bi Mina lagi.
Calandra teringat. Satu tahun lalu ia mendengar bahwa ada pesawat jatuh dari maskapai lain yang mengakibatkan salah satu teman Alandra meninggal dunia, teman Alandra seorang pilot. Dan hampir seluruh penumpang kelas bisnis dinyatakan meninggal dunia, hanya beberapa orang saja yang bisa diselamatkan. Pramugari dikabarkan meninggal hanya satu orang yang selamat.
“Setahun yang lalu adalah waktu dimana Non Senja berjuang, selama kurang lebih satu bulan mengalami koma. Bukan hanya itu Dia juga berjuang diruang operasi. Setelah bangun dari koma, kaki Non Senja tidak bisa digerakkan. Non Senja dinyatakan lumpuh sementara karena ada tulang yang patah dibagian kaki. Bukan hanya itu bagian tulang pipi juga ada yang patah. Bangun dari koma ia mengalami depresi berat. Melihat wajah, kakinya yang sudah beda. wajah, kaki dipenuhi perban. Tapi beruntung Tuhan masih memberi kesempatan hidup hingga hari ini. Saat itu dimana Bibi dan para keluarga harus merasakan gelisah dan takut. Kita semua takut, jika nanti Non Senja meninggalkan kita semua.” Cerita Bi Mina mengalir sesekali menyeka air mata— Calandra tahu menceritakan ini sungguh berat.
Calandra menyuruh agar Bi Mina tidak perlu melanjutkan. Semakin Bi Mina bercerita, semakin jelas Calandra mendengar isakan.
“Maaf ya Mas, malah cerita ini sama Mas.” Ucap Bi Mina mengusap air matanya.
“Maafkan Saya Bi sudah lancang bertanya. Satu pertanyaan lagi jika Bi Mina tidak keberatan tolong dijawab. Ini yang terakhir.”
“Mas mau tanya tentang apa?”
“Senja bekerja dimana?” Tanya Alandra.
“Non Senja seorang P—”
“Bi, Alandra ada apa kenapa lambat sekali jalan kalian.” Ucapan mereka terputus karena Senja mendekati mereka.
Mereka tidak sadar jika langkah mereka sangat lambat. Mungkin karena mereka sedang bercerita.
“Sedang bertanya tentang bagaimana cara bisa masuk sekolah penerbangan Non,” Bi Mina beralasan.
Senja memandang mereka secara bergantian. Senja ingat jika Bi Mina masih memiliki anak laki-laki yang sebentar lagi lulus SMA.
“Di restoran saja Bi, Senja lapar sekali ...”
“Iya-iya, ayo ...” Bibi mengambil alih untuk mendorong Senja membiarkan agar pak Beni beristirahat. Namun Calandra kembali menahan tangan bi Mina, Calandra mengambil alih untuk mendorong Senja. Dan Bi Mina dengan senang hati mengiyakan.
“Bi, kalau Senja bisa jalan lagi, Senja tidak akan merepotkan kalian lagi.”
Disepanjang perjalanan Calandra sengaja tidak membuka suara, ia hanya mendengarkan obrolan Senja yang ternyata masih belum menyadari siapa yang mendorong kursi roda.
“Bibi kok diam saja? Biasanya ngomong terus ..." Senja merasa heran. Tatapan senja masih ke depan menikmati suasana Singapura di siang hari. Senja merasa ada yang aneh ia berbicara terus-menerus hingga tenggorokan terasa kering, tetapi tumben sekali Bi Mina tidak menanggapi.
Senja pun memberanikan menoleh memastikan jika yang mendorongnya adalah bi Mina. Namun betapa terkejutnya ternyata bukan Bi Mina, melainkan Calandra yang mendorong kursi rodanya.
“Loh, kok kamu yang dorong?” Tanya Senja.
“Kasihan Bibi dan pak Beni pasti capek, dorong kamu dari Indonesia ke Singapura belum lagi ke rumah sakit.” Jawab Calandra.
“Lebih baik Aku dorong sendiri,”
“Memangnya salah jika Saya membantumu, lagi?”
Untuk kesekian kalinya Senja tidak bisa menolak untuk berhenti membantunya.
“Senja ....” Panggil Calandra. Ia berhenti sejenak sengaja memperlambat langkahnya. Membiarkan Bi Mina berjalan didepannya.
Mendapat respon dari Senja, Calandra mula mendekati. “Kapan Kamu pulang ke Indonesia?” Tanya Calandra
“Nanti malam ...”
“Penerbangan jam berapa?” Tanya Alandra lagi.
“Sepuluh malam ...”
“Tidak bisa ditunda sampai lusa?”
Senja mengernyitkan dahinya.
“,Saya ingin mengajak kalian jalan-jalan lagi.” Ucap Calandra.
“Sayangnya tidak bisa karena Kami sudah memesan tiketnya. Lain waktu Kita pasti bertemu lagi.” Tolak Senja tidak enak.
Calandra sedikit kecewa. Ia ingin memaksa namun ia juga tidak ingin membuat Senja tidak nyaman dengan kehadirannya.
“Kamu tidak pulang ke Indonesia?” Senja berbalik tanya.
“Masih ada urusan di Singapura.”
“Kamu tidak bekerja?”
“Masih dalam masa cuti.”
Senja mengangguk.
“Senja ...”
Calandra memposisikan dirinya didepan Senja. Ia menarik nafasnya sebentar, lalu menghembuskan secara perlahan. Mendengar apa yang bisa Mina ceritakan membuat Calandra ingin sekali mengenal Senja lebih dalam.
“Boleh saya berteman denganmu?”
“Boleh dong ...” Jawab Senja, ia tersenyum sekilas.
Hati Calandra menghangat, seakan rasa sakit itu hilang. Calandra menaikkan jari kelingking didepan Senja, seakan mengerti Senja ikut menaikkan jari kelingkingnya. Jari mereka bertautan menandakan hari ini mereka resmi berteman.
Mereka tersenyum hangat, hingga tanpa mereka sadari. Disana Bi Mina dan Pak Beni terus tersenyum tanpa henti. Senja yang ceria akan kembali sebentar lagi. Mereka bersyukur akhirnya ada laki-laki yang berteman dengan Senja
“Semoga cepat sembuh Senja ...”
“Terima kasih pilot Alandra,” Balas Senja.
Calandra kembali mendorong kursi roda, memasuki area restoran. Mereka memakan siang bersama dengan suasana hangat seperti hangatnya matahari yang bersinar saat ini.