“Bahasa cinta yang sulit ditampakkan.”
-S&A-
Mencoba menghindar yang berharap bisa berhasil Saat mereka baru saja keluar dari bandara, dua pria dengan gaya pakaian sangat formal mendekati mereka. Mereka memaksa Senja untuk ikut, beribu penolakan yang sia-sia, paksaan dan katanya wajib untuk ikut atau mereka akan berbuat kasar pada Senja— Senja pemikiran Pak Beni Bi Mina mereka tidak boleh terluka. Hingga akhirnya Senja menuruti dan kini mereka menyesal karena dipertemukan dengan Papa.
Menunggu satu hari berada dikamar hotel ini, Senja diberi fasilitas banyak oleh kedua pria berbadan besar itu— fasilitas mereka baik tidak membuat Senha merasa tersiksa.
“Bagaimana kabarmu?” Tanyanya
Senja tidak menjawab. Papa mendekati Senja, Senja mencoba mundur— Senja ingin segera keluar dari hotel ini ia muak melihat Papa yang terlihat biasa-biasa saja seakan tidak pernah memberi luka pada Senja.
“Sampai kapan kamu seperti ini, menghindar dari Papa?”
Senja tidak menjawab lagi.
Baik Bi Mina dan Pak Beni merasa kebingungan yang mereka tahu tuannya akan pulang ke rumah mereka besok Tapi kenapa sekarang malah ada didepan mereka.
“Ternyata mudah sekali membohongimu ... kamu ke Singapura hanya karena mendengar kabar Papa akan pulang, Papa tidak pulang Senja ... Papa hanya menjebakmu agar ke Singapura menemui papa.” Jelasnya.
“Nggak. Semakin papa terus berbohong, maka Senja semakin muak dengan papa. Lagi pula Senja ke singapura ingin check up.” Jawab Senja.
“Lusa baru check up. Jangan bohong lagi!”
“Papa yang banyak bohong padaku.” Balas Senja
“Papa tidak pernah berbohong denganmu.”
“Terserah papa!”
Papanya semakin mendekat, Senja mencoba memundurkan kursi rodanya. Setahun belakangan ini ia tidak ingin berdekatan dengan Papa.
Tangan Papa menahan kursi roda milik Senja.
“Senja ... Maafkan Papa,” Ucap Papa penuh penyesalan.
Senja membuang mukanya. Sekali pun Papa melontarkan ribuan kata maaf ia belum bisa memaafkan.
“Senja lelah. Senja ingin tidur.”, Ucap Senja.
“Papa sudah pesankan kalian kamar. Tapi papa perlu bicara denganmu.”
“Senja tidak ada waktu.” Tolak Senja.
“Senja ...” Entah dengan cara apalagi Papa bisa menjelaskan semua pada Senja, Senja terlalu kecewa dengan dirinya. Sebenarnya ini bukanlah kesalahannya hanya saja Senja belum bisa menerima kehadiran orang baru.
Senja menepis kedua tangan Papa dari kursi roda, ia berbalik meninggalkan Papa. Diikuti oleh Bi Mina dan pak Beni.
Papa tidak bisa menahan Senja. Tapi ia berjanji akan terus membujuk Senja agar bisa berdamai dengannya. Begitupun dengan kedua pria tadi mereka tidak mengejar Senja, tuan mereka tidak menyuruh.
“Kita cari hotel yang jauh dari hotel ini ...” Ucap Senja. Setelah mereka berhasil keluar dari hotel tadi.
“Non ...” Panggil pak Beni. Pak Beni berhenti sejenak.
“Cobalah memaafkan Papa ... Dia sayang Non." Ucap Pak Beni. Bi Mina mengangguk setuju dengan apa yang suaminya katakan.
“Belum bisa pak. Aku masih kecewa sama papa.” Jawab Senja.
“Walau ibu sudah pergi, tapi Non masih punya Papa yang menyayangi non.”
“Kalau Dia sayang sama senja nggak mungkin menikah lagi disaat senja kr—” Senja menghentikan ucapannya. Mengingat semua itu hanya akan membuatnya emosi.
“Tolong pak jangan bahas tentang Papa lagi.” Pinta Senja. Pak Beni mengangguk paham.
Mereka sudah sampai di hotel yang sudah pesan, Senja menyuruh Pak Beni dan Bi Mina mencari makanan. Ia tahu mereka pasti lapar mengingat mereka berdua tidak suka dengan makanan yang disediakan di pesawat.
****
Suasana sepi ditemani hembusan angin yang membuat Calandra begitu menikmatinya, menghilangkan kesedihan dalam hati, menghilangkan rasa sakit pada pipinya. Ia duduk disekitar Merlion Park— pikiran semakin kosong semakin tak terarah dan terkendali.
“Memejamkan mata adalah salah satu cara menikmati ciptaan Tuhan.” Ucapnya.
Calandra menoleh. Mencari tahu pemilik suara itu. Disana seorang perempuan duduk di kursi roda menampilkan senyum ke arah Calandra.
Alandra membalas senyum itu.
“Kita bertemu lagi ...” Ucapnya.
Calandra bangkit lalu mendekati perempuan itu.
“Sendirian?” Tanya Alandra.
“Iya. Bi Mina sama pak Beni sedang makan, Aku sengaja jalan-jalan sebentar sembari menikmati Merlion Park.” Jawab Senja
Calandra mengangguk paham.
“Senjarina ...” Perempuan itu menyodorkan tangan. Tidak ada lagi rasa canggung diantara keduanya, Senja hanya ingin mengenal pria yang sering membantu dirinya.
“Panggil saja Alandra ...” Balas Calandra.
Tangan mereka saling bertautan.
“Tanganmu berdarah ...” Pekik Senja.
Calandra melepaskan tangannya. Ia langsung memeriksa tangannya dan benar tangan bagian telunjuk berdarah. Ini pasti karena tadi ia terkena pecahan botol kaca yang Calandra lakukan tadi. Calandra tidak merasa.
Senja mengambil tangan Calandra, Darah terus mengucur tidak bisa dibiarkan lama-lama— Senja meminta tolong pada Calandra untuk mengambil kotak P3K dibelakang kursi roda Senja. Ada tas berwarna kuning bermotif bunga Matahari, didalamnya berisi obat-obatan, kotak P3K dan lainnya.
Dengan sangat hati-hati Senja membersihkan luka Calandra dengan air terlebih dahulu lalu dilanjutkan alkohol agar darah itu bisa berhenti, mencari plester tapi tidak ada.
“Bisa minta tolong sekali lagi untuk mengambil plester ditempat tadi?”
“Tunggu sebentar.” Calandra bangkit lalu mencari barang yang dimaksud Senja tadi. Setelah ketemu ia mencoba memasang sendiri namun Senja menahannya.
“Biar aku yang pasang ...” Pintanya.
“Saya bisa pasang sendiri.”
“Ayolah jangan menolak ... Aku juga tidak suka ditolak.”
Dengan terpaksa akhirnya Calandra memberikan plester itu. Luka Calandra sudha tertutup rapat— tidak bisa lagi kuman masuk kedalam luka itu.
“Terima kasih Senja ...” Ucap Calandra
“Kita impas. Kamu pernah membantuku Juga.” Balas Senja
“Maaf tadi aku tidak sopan mengambil jarimu tanpa izin ....” Ucap Senja tidak enak.
“Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengobati saya.” Kata Calandra.
Senja mengangguk dengan senang. Semua yang ia lakukan hanyalah spontanitas saja. Merasa iba ketika Calandra sendiri tidak sadar ada darah mengalir dari tangannya.
“Lain kali jangan dibiarkan. Cepat obati lukanya.”
“Iya Senja ... Rasa sakit dijari sama sekali tidak terasa." Jawab Alandra.
“Ada masalah?” Tanya Senja.
“Memang kelihatan kalau sedang ada masalah?” Calandra berbalik tanya.
“Iya. Maaf lancang .... Pipimu merah seperti terkena tamparan. Pasti sakit ya,” Tangan Senja terulur mengusap pipi Alandra.
“AWWW ...” Calandra memekik. Entah kenapa ketika tangan Senja mengusap pipi ia malah merasakan perih.
“Maaf tidak sengaja ...” Senja langsung melepaskan tangannya.
“Ayo kita cari air hangat.”
“Untuk?
“Mengobati pipimu.” Jawab Senja
“Tidak perlu ...”
“Kamu tunggu disini. Aku cari es batu disekitar kafe dekat sini ...”
Senja memundurkan kursi rodanya. Namun saat Senja ingin menjalankan kursi rodanya, Calandra menahannya.
“Kita cari sama-sama.”
“Ayo!”
Calandra mulai mendorong kursi roda Senja.
Entahlah apa yang ada dibenak Senja sehingga Senja ingin sekali mengobati luka pada tubuh pria ini. Mungkin karena sering menolong membuat Senja menjadi peduli. Hari ini mereka sama terlukanya Senja luka batin karena Papa yang menemui sedangkan Calandra luka fisik yang Senja tidak tahu penyebabnya.
****
Keano menatap Anin dengan perasaan campur aduk. Ia merasa kasihan dengan keadaan Anin saat ini. Perempuan itu seperti hidup namun tak bernyawa, setelah pembatalan pernikahan Anin dan Calandra lalu digantikan dengan dirinya— Anin berbaring diatas ranjang tanpa berbicara satu kata pun. Perempuan itu akan bangkit ketika lapar atau ke kamar mandi. Mereka telah menikah, lebih tepatnya mereka menikah karena terpaksa. Keluarga Anin tidak mau menanggung malu jika mereka tidak segera dinikahkan. Meskipun Keano tahu pernikahan tidak boleh diselenggarakan saat keadaan wanita sedang hamil. Namun apalah daya Keano yang terus-menerus mendapat paksaan untuk menikahi Anin hari itu juga.
Anin sudah tidak bekerja lagi, jika bekerja Keano takut Anin akan menjadi bahan omongan mereka. Keano bahagia mendapatkan Anin untuk mengisi hidupnya meskipun cara mereka bersatu harus menyakiti hati lain.
Keano belum berani berbicara banyak pada Anin kecuali kata maaf dan menyuruh makan, minum s**u hamil. Ia membiarkan Anin dengan sendirian. Keano memasuki kamarnya melihat Anin sebentar setelah itu ia berbalik lagi meninggalkan Anin.
“Nin ...” Panggil Keano
Anin tidak menggubris.
“Terima kasih sudah memberiku keturunan.” Ucap Keano
Bukan balasan yang Keano terima dari Anin melainkan satu tamparan keras dari Anin, Keano pasrah mungkin tamparan ini bisa membuat kondisi membaik.
“Keturunan yang tidak diharapkan!” sahut Anin
Keano tidak lagi mengajak Anin bicara, ia lebih memilih keluar kamar.
“Gimana keadaan Anin?” Tanya Papa Keano.
"Kenapa Papa suka sekali muncul secara tiba-tiba?" Untung saja Keano tidak punya riwayat penyakit jantung. Papanya ini sekali saja tidak muncul secara tiba-tiba dihadapan Keano. Jarang sekali papa menegur dulu agar Keano tidak terkejut.
“Tidak juga. Bagaimana istrimu?” Papa Keano mengulang pertanyaannya.
“Masih sama.”
“Dekati terus, cuman kamu pengobat lukanya saat ini.”
“Iya Pa. Keano terus berusaha untuk mendekati Anin.” Jawab Keano.
Awalnya Papa Keano kecewa dengan sikap anaknya tapi setelah Keano menjelaskan bahwa mereka tidak sengaja melakukan. Alkohol yang membuat mereka terjebak. Disamping rasa kecewanya Papa Keano sangat terharu dengan sikap anaknya yang memilih tanggung jawab, tanpa melarikan diri karena kesalahannya. Begitu juga anak bungsu mereka— Levita yang ikut merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Anin.
“Datangi kafe Keano ....”
“Iya pah, Keano tau.”
“Perhatikan juga usahamu, harus bisa mengimbangi.” Ucap Papa Keano.
“Hari ini Keano kesana. Titip Anin Pa ...”
“Pergilah. Mama dan Papa akan menjaga istrimu.”
Keano mengangguk. Ia mengucapkan terima kasih pada Papa. Sebelum ia pergi Keano menyempatkan waktu masuk menemui Anin lagi.
“Aku pergi dulu untuk mengurus Coffee shop. Kalau meminta sesuatu kamu bisa kirim pesan.” Keano mengusap rambut Anin— Anin segera menepis.
Anin tidak merespon ucapan Keano, namun ia mendengar apa yang Keano katakan. Yang Anin inginkan saat ini bertemu dengan Calandra, Anin hanya ingin kembali pada Alandra. Anin hanya butuh seseorang yang membantu agar ia keluar dari kehidupan Keano, Anin tidak mencintai Keano sampai kapan pun.