“I can't stop thinking about you.”
-S&A-
Dentuman musik begitu terdengar jelas ditelinga, lampu-lampu menyala dan berubah-ubah warna. Suasana yang begitu ramai semua orang mencari kesenangan, mencari kenyamanan. Ia duduk dan memulai meminta sesuatu untuk dituangkan digelasnya, ia meneguk setelah itu ia kembali meminta lagi, meminum hingga beberapa gelas. Ini pertama kalinya ia menikmati dunia malam, sudah buntu pikirannya hingga akhirnya ia memilih kesini agar bisa melepaskan rasa sakitnya.
Seketika dosa dilupakan, seketika janji mengenal dunia ini diabaikan yang terpenting ia sembuh dari luka.
“Lan, Alandra ...!” Seru seseorang
Suara musik yang semakin keras membuat Calandra tidak begitu mendengarnya.
“Lan, Alandra ....” Panggil seseorang lagi
Calandra menoleh dengan mata yang sudah berkunang-kunang. Calandra menyipitkan matanya melihat siapa yang ada didepannya ini, ada dua orang disana.
“Lan .... Gue Revaldi dan Andre.” Teriak Revaldi
“Siapa?” Tanya Calandra dengan suara keras.
“ANDREE ....”
“REVALDI ...”
“Siapa?!” Teriak Calandra lagi suara musik terlalu kerasa Calandra sama sekali tidak bisa mendengar.
Keduanya semakin kesal, Calandra dalam kondisi mabuk. Mereka tidak menyangka patah hati akan membawa Calandra berada ditempat ini— padahal selama bersahabat meski Revaldi jarang berkumpul dan lebih sering bersama Andre tapi persahabatan mereka wajib untuk menghindari kelab malam. Revaldi dan Andre tidak sengaja datang ke kelab ini karena ada urusan dengan teman bisnis mereka, tidsak sengaja juga bertemu Calandra disini.
“REVALDI TEMAN KOMPLEK LO.” Teriak Revaldi kencang. Andre tertawa kenapa sahabatnya ini malah mengatakan teman komplek.
“Kok Lo ketawa sih?!”
“Harus banget anak komplek?” Sahut
“Biar Dia dengar.”
“Revaldi, Andre sahabat Gue bukan teman komplek!”
Memang orang mabuk selalu tidak waras, mereka berbicara kemana Calandra berbicara kemana. Tidak saling menyambung.
“Sejak kapan Lo kaya gini?” Tanya Revaldi.
“Kaya gini apanya?”
“Sejak kapan Lo suka mabuk?” Tanya Revaldi lagi.
“Sejak hari ini.” Calandra meminta agar menuangkan Bir lagi ke dalam gelasnya. Padahal ia sudah menghabiskan banyak. Bahkan Calandra semakin mabuk. Benar kata beberapa temannya masalah akan hilang jika pergi ke tempat ini.
“Anin kamu dimana, Nin ...” Calandra sudah merancau.
Revaldi berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada tender untuk tidak lagi memberi Bir, pria ini sudah mabuk.
“Bagaimana ini?” tanya Revaldi pada Andre
“Bawa balik. Dia mabuk parah,”
Revaldi mengangguk dan mencoba membujuk Calandra lagi dibantu Andre juga.
“Kita pulang, Lan ...” Revaldi mencoba menyadarkan Calandra.
“Anin kenapa kamu jahat sama Alandra ...” Rancau Calandra lagi.
“Wanita gila!”
“w************n!”
“Kamu murahan ....” Jari Alandra menunjuk kearah Revaldi. Revaldi langsung menepisnya.
“Sialan .... Lo ketawa dari tadi Ndre,”
“Mabuknya lucu.” Sahut Andre
“Bantu Gue!”
Revaldi dan Andre seorang pembisnis sukses yang kini harus pulang-pergi Indonesia-Singapura.
“KAMU WANITA GILA YANG TEGA MENYAKITI HATI LAKI-LAKI.” Rancau Calandra lagi. Jika suara musik kelab malam volume rendah semua orang pasti mendengar ucapan Alandra.
“ANIN METRALIAAAAA ...”
Revaldi dan Andre semakin geram dengan rancauan Alandra, akhirnya ia menarik paksa membawa Calandra ke hotel tempat mereka menginap.
Suara dering dari ponsel Calandra membuat Andre menghentikan langkahnya. Calandra yang tidak ammpu mengangkat telepon akhirnya Andre mengangkat telepon dari Denisa— adik Calandra.
“Nanti dikabari lagi ya, Denisa .... Kakakmu sedang ke toilet.” Ucap Andre via telepon
“Suruh Dia telepon balik atau kirim alamat di Singapura.”
“Iya. Nanti disampaikan.” Pungkas Andre memutuskan sambungan telepon mereka. Andre sengaja tidak berbicara Calandra sedang dalam keadaan mabuk itu sama saja menambah bumerang untuk Calandra.
“Sudah nggak tidak bisa mabuk, masih aja nekat.” Cibir Revaldi Revaldi menarik Calandra masuk kedalam mobilnya. Calandra sempat memuntahkan isi perutnya.
***
Pagi harinya ...
Calandra merasakan bagian kepala masih sangat berat, tetapi memaksakan agar bisa membuka matanya. Mengedarkan pandangannya bertanya-tanya dimana dirinya saat ini. Yang ia ingat semalam berada di kelab malam, meminum Birr hingga membuatnya mabuk, bertemu dengan Revaldi dan Andre. Selanjutnya ia tidak ingat.
“Sudah baikan, Lan?” Tanya Revaldi mendekati. Semalam ia dan Andre bersusah payah membawa ke hotel. Untung saja setelah sampai di depan hotel beberapa satpam membantunya hingga kini bisa berada dikamar hotel tempat Revaldi menginap.
“Lebih baik. Thanks Rev ... Andre mana?”
“Ada urusan mau bertemu seseorang. Dia minta maaf tidak pamit denganmu.”
“Santai aja ...”
“Semalam kenapa Lo ada disana?” Tanya Revaldi.
“Sedang berantakan hingga akhirnya Gue memutuskan ke kelab malam.” Jawab Calandra
“Gagal menikah bukan berarti Lo gagal hidup juga. Janji kita bertiga tidak akan masuk kesana.”
"Gue minta maaf karena mengkhianati perjanjian Kita. Tapi hati Gue berantakan butuh ketenangan. Gue pengin bayangan Anin hilang dari kepala Gue.” Jawab Calandra
“Jangan berlebihan. Ke kelab malam bukan pilihan Lan ... Lo bisa berpaling dari Anin, Singapura itu bebas banyak perempuan yang bisa Lo ajak kenalan. Sudah pergantian tahun masih saja galau karena perempuan.”
Ia tidak lagi membalas ucapan Revaldi. Ia lebih memilih pamit untuk kembali ke hotel dan tidak lupa Calandra meminta maaf pada dua sahabatnya. Dunia ini terlalu sempit disaat dirinya sedang tidak terarah, Revaldi dan Andre hadir untuk membantunya.
Dan ternyata Revaldi menginap juga dihotel yang sama, hanya beda lantai saja.
Calandra membuka pintu kamar hotel, langkahnya mulai memasuki kamar. Calandra mengambil satu botol Bir. Benar apa yang dikatakan Revaldi benda ini bukan jalan keluar untuk membuatnya tenang karena hanya sementara. Calandra berjanji tidak akan mengulangi.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu Calandra langsung berjalan untuk membuka, ia yakin pasti itu petugas hotel yang sepertinya akan mengantar sarapan.
“Yah ...” Panggil Calandra. Calandra mengerjapkan matanya memastikan bahwa ia sedang tidak salah melihat.
“Nak ...” Ibu memanggil.
Dan benar kedua orang tuanya ada didepan Alandra.
“Masuk yah,” Suruh Calandra. Ayah masuk tanpa mengeluarkan kata apapun.
PLAK ...
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Alandra.
“Yah ...”
PLAK ...
Tamparan kedua kembali mendarat. Lebih keras dan terasa perih di pipi.
PLAK ... PLAK ...
PLAKK ....
“KAMU PIKIR DENGAN SEPERTI INI SEMUA AKAN MENJADI LEBIH BAIK?!”
PLAKK ...
Tangan sang Ayah seperti tidak bisa terkontrol lagi, batinnya menyuruh agar memberi pelajaran pada putra sulung mereka yang kini telah melukai hatinya.
“Ayah tidak pernah mengajarimu mengenal barang itu, Alandra!”
“Ayah pernah ada diposisimu, kehilangan orang yang kita sayang. Tapi tidak melakukan hal negatif seperti ini.”
“Kamu kira dengan hal seperti ini, masalah itu akan hilang?!”
PLAK ...
PLAK ...
Tamparan itu terus Calandra dapatkan untuk sekian kalinya, kekecewaan terlihat jelas dimata Ayah. Ibu hanya menahan tangisnya melihat Calandra ditampar. Tidak ada pembelaan sebab Ayah melarang. Ayah mengambil semua botol alkohol milik Calandra yang terletak di atas Meja.
PRANG ...
PRANG ...
PRANG ....
Semua botol itu berhasil dipecahkan oleh Ayah.
Tidak ada orang tua yang mengabaikan begitu saja saat anak mereka berada dititik paling lemah. Kepergian Calandra ke Singapura secara mendadak bahkan tanpa izin— membuat mereka sedikit kecewa. Mereka tidak butuh surat yang Calandra tulis sebagai bentuk permintaan maaf dan pamit, mereka hanya butuh Calandra berbicara langsung pada mereka.
Ayah terpaksa menyusul ke Singapura bersama Ibu karena perempuan itu merasa khawatir dengan putra sulung mereka. Padahal Ayah memberi pengertian agar ia berangkat sendiri mencari Calandra. Namun istrinya memaksa ingin ikut. Ayah mencari keberadaan dengan mudah. Ia menelepon ke semua hotel yang ada di Singapura menanyakan apakah Calandra menginap di hotel mereka.
Awalnya ia hanya memastikan jika di Singapura Calandra dalam keadaan baik dan aman. Namun ternyata dugaannya salah. Ayah mendapat laporan dari putri bungsunya yang mengatakan Calandra sedang mabuk. Terdengar suara bising seperti kelab malam dan samar-samar mendengar Calandra yang meracau meski sahabat Calandra berusaha menutupi tapi Denisa lebih dulu memahami.
Baik Ayah dan Ibu mereka masih berpikiran positif, mereka memilih memastikan sendiri. Dan ternyata apa yang dikatakan oleh putri bungsunya benar. Ayah datang ke kamar Alandra dan melihat penampilan Alandra yang berantakan, masih ada sisa bau alkohol yang tercium. Ditambah saat ia memasuki kamar hotel melihat beberapa botol alkohol di atas meja. Rasa marah dan kecewa muncul didalam benaknya. Melihat Calandra seperti ini ia merasa gagal menjadi orang tua.
Wajah marah Ayah begitu terpancar jelas, Calandra hanya mampu menerima tamparan yang ayahnya lakukan. Ia tidak menyangka ayahnya akan datang ke Singapura.
“Ayah sudah ....” Isak Ibu mencegah Ayah untuk menampar Calandra lagi.
“Ayah sudah .... Calandra anakmu. Kalau tampar Calandra, lebih baik Kamu tampar Aku .... Kamu tega sama Calandra!" Isak ibunya lagi.
“IBU DIAM!” Bentak sang ayah
“JANGAN BELA ANAK SEPERTI INI! DIDIDIK BAIK-BAIK TAPI TIDAK BISA MENANAM APA YANG KITA DIDIK.” Kobaran amarah masih terpampang jelas di wajah Ayah.
Ibu langsung mendekat lalu memeluk Calandra saat Ayah ingin mencoba menampar Calandra lagi. Tangan ayahnya tertahan. Ayah tidak mungkin menampar lagi disana ada Ibu yang menjadi pelindung Calandra.
“Calandra minta maaf Yah ... Calandra hanya manusia biasa, kalau Ayah bisa menjadi orang baik. Bukan berarti Alandra juga bisa. Alandra seperti ini pasti ada alasan. Maaf Alandra belum bisa menjadi anak baik seperti yang Ibu dan Ayah mau." Ucap Alandra.
Ibu mengusap pundak Calandra. Ia mengerti kenapa Calandra melakukan hal seperti ini. Ia memahami bagaimana rasanya patah hati.
“Bu ... Maafkan Alandra." Lirih Alandra.
“Ibu sudah memaafkanmu ...” Jawab Ibu
“Ayah kecewa sama kamu Calandra! sejak kecil Ayah tidak pernah mengajarkan, bahkan mengenalkanmu dengan itu semua. Semua ada jalan tanpa harus melakukan hal yang dilaramg, ada Ayah, Ibu. Kamu tidak sendiri Calandra!” Ayahnya benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya.
Calandra mempasrahkan diri dihadapan ayah, semua itu karena emosi, kesedihan, frustasi dan hati yang sedang berantakan. Calandra menyesal setelah ini.
“KITA PULANG BU!” Ayah melepaskan pelukan Ibu dari Calandra, lalu menarik paksa meninggalkan Calandra.
“Ibu mau disini aja sama Alandra ...” Tangan ibu tidak lepas dari genggaman Calandra.
Sekuat tenaga ayah melepaskan genggaman Ibu dari Calandra. Hingga akhirnya bisa terlepas.
“Alandra ...”
“ALANDRA PULANG NAK ...” Teriak Ibu
Isakan tangis ibunya terus terngiang jelas ditelinga Calandra. Calandra tahu Ibu memberontak tetapi tarikan tangan Ayah tak mampu membuat Ibu melepaskan diri.
Calandra menunduk. Tamparan keras dari Ayah tidak terasa sakit untuk saat ini. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri.