“Manis, bahagia, tawa adalah keinginan namun sayang kini hanya ada tangis yang didapatkan dari kesetiaan.”
-S&A-
Senja bercermin memandang wajahnya sendiri, mengoleskan cream wajah seperti biasanya. Wajah sudah mulai membaik setelah melakukan pengobatan. Hanya saja ia sedang menunggu kakinya kembali ke semula. Terhitung sudah satu tahun lebih sebulan sejak kejadian ia duduk di kursi roda dan juga harus melakukan pengobatan ke Singapura. Bukan di Indonesia pengobatan tidak bagus hanya saja Senja mencari pengobatan yang terbaik.
“Non, kopernya sudah selesai?” Tanya bi Mina.
“Sudah Bi,”
Bi Mina mengambil koper milik Senja. "Non kenapa dadakan banget ke Singapura?" Tanya Bi Mina.
“Nggak Bi, maju dua hari doang. Sekalian liburan karena suasana Singapura bikin tenang.” Jawab Senja
Bi Mina tidak lagi bertanya ia sudah paham jika Senja pergi hari ini agar tidak bertemu dengan Papa Senja.
“Non ...”
Senja menoleh. Perlahan ia memundurkan kursi rodanya berbalik arah menghadap ke arah Bi Mina yang memanggilnya.
“Ketemu dulu sama Papa ....” Ucap bi Mina.
“Belum bisa Bi, Papa pasti pulang sama istrinya. Senja malas bertemu.”
Setelah Senja merapikan diri, kini sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Malam ini Senja pergi ke Singapura, padahal jadwal check up lusa. Tetapi ia tidak ingin dicari oleh Papanya. Toh selama ini Papa tidak peduli dengan Senja, kebetulan Senja juga memegang uang sendiri jadi tidak merepotkan keluarga. Satu kaki Senja memang tidak bisa digerakkan sama sekali tetapi kaki satunya masih bisa digerakkan bahkan berdiri. Hanya saja harus ada bantuan tongkat.
Perjalanan menuju bandara menggunakan taksi, untung saja perjalanan kali ini Senja tidak terkena macet. Senja melarang pak Beni membawa mobil. Mereka sudah sampai, sudah melakukan check in, mereka mencari tempat duduk diruang tunggu. Pesawat mereka akan terbang sekitar dua jam lagi.
“Boleh kami duduk disini?” Tanya Senja pada pria berkacamata hitam yang sedang duduk.
“Silakan ...”
Bi Mina dan Senja duduk tidak saling berjauhan kalau Pak Beni bebas karena peran Bi Mina sangat penting untuk Senja.
“Pak Beni pasti lelah ya?” Tanya Senja seperti biasa Pak Beni dan Bi Mina yang selalu menemani Senja. Selama memasuki pesawat pak Beni lah yang akan menggendong senja.
“Nggak Non ..." Jawab pak Beni. Ini sudah menjadi pekerjaan tentu saja ia menikmati dan tidak merasakan lelah.
“Tidur saja dulu pak,” suruh Senja
“Iya Non terima kasih ... Tapi Bapak tidak terlalu lelah.” Jawab Pak Beni lagi
Senja beralih dengan kegiatannya sendiri, sedangkan Bi Mina sudah mulai memejamkan matanya. Menunggu itu hanya membuat mereka merasakan kebosanan. Bandara menjadi kenangan indah untuk Senja, bayangan dulu sebelum menjadi lumpuh masih tercetak jelas diisi kepala Senja. Senja mengambil kanvatinya ia akan melukis menggambar lagi agar menghilangkan rasa bosannya. Saat dirinya sedang fokus melukis, tiba-tiba saja sebelah pundaknya terasa berat. Ia menaruh pensil itu lalu menoleh. Tangan Senja buru-buru menjauhkan sesuatu dari pundaknya, ternyata kepala lelaki disamping Senja.
“Nin ...” Gumamnya.
Membuat Senja merasa heran.
Saat kepala sudah dijauhkan, kepala itu kembali mendarat ke pundak Senja.
“Anin .... Kamu tega Nin ...” Gumamnya sekali lagi.
Senja benar-benar tidak nyaman dengan laki-laki disampingnya ini.
“Mas ... Mas ...” Senja menepuk pipi laki-laki itu. Agar tersadar dan menjauhkan kepalanya dari pundak Senja.
“Aku mencintaimu Nin ...” Bukan hanya kepala, tangan lelaki itu dengan beraninya menggenggam tangan Senja. Senja buru-buru melepaskan tetapi genggaman tangan itu terlalu erat. Senja tahu kalau pria disampingnya itu sedang tertidur. Senja tidak bisa melihat siapa sebenarnya laki-laki ini. Kedua mata lelaki itu tertutup oleh kacamata.
“Aku sangat mencintai Anin Metralia .... Sangat mencintaimu.” Gumamnya lagi.
Senja merasakan lengan bajunya itu basah, Senja menoleh sebentar. Ia dapat melihat dengan jelas laki-laki yang kepalanya ada dipundak Senja sedang menangis.
“Mas ...” Panggil Senja
Pria disamping Senja masih berbicara tidak jelas, mengabaikan panggilan dari Senja. Dengan perlahan senja menjauhkan kepala itu dari pundak dan memilih pindah tempat dibantu Bi Mina.
***
Your attention please, passengers of Gathay Airlines on flight number GA328 to Singapore please boarding from door A12, Thank you.
Suara pengumuman pesawat yang akan membawa Calandra ke Singapura begitu terdengar jelas dikedua telinga. Perlahan ia membuka mata, tadi ia sempat tertidur untuk beberapa jam. Memejamkan mata lebih baik setidaknya rasa sakit itu menghilang sebentar. Calandra menoleh sebentar, yang ia ingat tadi ada dua perempuan yang duduk bersama. Sepertinya mereka sudah lebih dulu memasuki kabin. Calandra sedikit membaik mungkin karena ia mengistirahatkan semuanya dengan tidur.
“Mas, Alandra?” Panggil salah satu pramugari Gathay Airlines. Tentu saja mereka mengenal Calandra— Calandra bekerja di maskapai yang sama hanya beda pesawat dan tujuan terbang.
“Mau honeymoon, ya?” Tanyanya. Ternyata kabar pernikahan sudah tersebar luas padahal untuk acara akad hanya beberapa orang saja yang tahu.
Calandra tersenyum kaku. Harusnya memang benar hari ini ia honeymoon bersama Anin.
“Mana istrinya, Mas?” Tanyanya lagi.
Sial bagi Calandra karena harus menghadapi pertanyaan ini dimulai hari ini dan mungkin beberapa waktu berikutnya.
“Saya belum menikah. Itu hanya gosip.” Jawab Alandra.
“Loh ... Jadi cuman gosip ya? Aku kira benar.”
“Iya ...” Jawab Calandra lagi.
Pramugari itu pamit dengan Calandra karena dirinya harus kembali bekerja. Calandra duduk dikelas ekonomi, tidak ada kelas bisnis atau lainnya. Ia lebih nyaman duduk bertiga bersama orang lain. Setidaknya ia tidak sendiri. Bagi Calandra kesendirian yang semakin susah membuat dirinya tenang. Calandra membuka ponselnya, notifikasi masuk secara beruntun. Ada Denisa juga yang mengirimkan pesa. Ia tahu adiknya terlalu khawatir dengan Calandra, tapi yakinlah bahwa ia masih bisa mengontrol diri.
Calandra membalas pesan Denisa mengatakan bahwa pesawat sebentar lagi akan take off, tak lupa juga menyampaikan maaf serta salam untuk kedua orang tuanya. Pesan kedua dari Anin, mantan calon istrinya. Calandra tidak akan membuka pesan itu, namun sayang seperti ada dorongan kuat sehingga tangan membuka pesan tersebut.
From : 081******
Maafkan aku mas....
Aku tahu semuanya terlalu menyakitkan untukmu, tapi Aku berani bersumpah itu semua hanya kesalahan kita berdua bahkan aku adalah korban dari Keano. Aku sudah merencanakan kejujuran setelah kita menikah, Aku yakin kamu pasti menerima aku. Aku bodoh, aku benci malam dimana kehancuran hubungan kita dimulai.
Aku kira tidak akan terjadi hal seperti ini, Aku berpikir bahwa Aku baru melakukannya hanya sekali dan itu tidak mungkin membuatku hamil. Sekali lagi Aku minta maaf, Aku tahu saat ini kamu pasti kecewa, dan terluka. Kamu boleh membenciku atau bahkan melupakan Aku. Jalani hidupmu seperti semula. Ketahuilah bahwa Aku selalu mencintaimu.
Anin Metralia.
Calandra langsung menghapus pesan, jika dulu pesan Anin adalah satu hal yang ia tunggu. Sekarang berbeda ia seakan muak dengan semua pesan yang Anin kirimkan padanya. Anin kita melupakan adalah satu cara agar luka hatinya mengering, Anin salah. Untung saja sebelum memasuki bandara sempat mampir disalah satu konter handphone. Ia membuka SIM-card baru, membuang semua yang pernah ada.
Calandra menonaktifkan ponsel miliknya, mengambil SIM-card lama dan diganti dengan yang baru. Dirinya yakin dengan melakukan seperti akan jauh lebih tenang. Mematahkan SIM-card lama agar Anin tidak lagi menghubungi. Sebelum itu Calandra menghubungi Ibu dulu untuk memberitahu bahwa nomor telepon baru ini miliknya.
To : Ibu cantik
Maafkan Alandra Bu .... Jangan khawatir pada Ku, hanya butuhk ketenangan saat ini. Aku janji akan segera pulang. Simpan nomor yang ini. Love you Bu ...
Setelah mengirim pesan pada Ibu, ia kembali memasukan ponsel. Pemberitahuan dari cabin crew bahwa pesawat akan take off sebentar lagi. Calandra menoleh pada dua wanita yang duduk disampingnya. Padahal pesawat belum terbang, tapi kedua wanita itu sudah lebih dulu memejamkan mata.
****
Suara teriakan, doa, serta tangisan air mata membuat suasana didalam semakin mencengkram.
“Tolong ...”
"Tuhan tolong kami ...”
“Ya Allah ...”
“Guncangannya semakin keras ....”
“Allahuakbar ....”
“Tuhan kami masih ingin hidup ...”
“Tidakkkk ...”
Guncangan itu semakin terasa, hingga benturan keras membuat mereka tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
“Tolong, sakit ...”
“Tolong anak saya ...”
“Sakit ...”
“Arghhhh ...”
“Senja ... Senja ...”
Teriakan terus menggema dikedua telinga Senja, Senja tidak mampu bergerak. Seluruh badan mendadak kaku, hanya rasa kesakitan yang ia tahan. Ia pasrah jika dirinya berakhir pada hari ini.
Keringat mulai membasahi wajah Senja, tangannya mulai bergetar.
“TIDAKKK ...” Senja menjerit keras. Tanpa ia sadar ia memeluk seseorang yang Senja sendiri tidak tahu siapa.
Mimpi itu kembali muncul, mimpi satu tahun yang lalu. Kejadian itu membuat Senja mengalami trauma.
“Non ... Non Senja.” Panggil Bi Mina. Sangat jelas Senja masih terisak dipelukan penumpang sebelahnya.
Bi Mina melihat ke arah penumpang itu yang ternyata seorang pria. Bi Mina merasa bahwa ia pernah bertemu dengan pria itu tetapi ia tidak mengingat jelas dimana. Usia yang tak lagi muda membuat Bi Mina begitu lemah jika harus mengingat sesuatu.
“Kenapa Bi?” Seorang pramugari yang ternyata mengenal Senja dan Bi Mina.
“Non Senja mimpi buruk.” Jawab bi Mina.
Pramugari dengan nama Amanda Lerzia mendekati Senja.
“Mas Alandra, ini teman Saya. Maaf ya dia memang punya trauma." Ucap Amanda.
Untung saja pria bernama Calandra mau mengerti kondisi yang ada.
“Senja ...” Panggil Amanda.
“Ini Aku Amanda. Semuanya baik-baik saja, nggak perlu takut ...” Amanda mencoba menenangkan Senja yang masih gemetar.
“Aku takut ....”
Amanda masih jelas mendengar isakan Senja.
“Kamu lepas dulu ya, Kamu peluk Bi Mina saja.” kata Amanda.
Perlahan senja melepaskan pelukan, saat ia sadar ternyata ia memeluk pria asing.
“Maaf ...” Ucap Senja
"Tidak apa-apa." Jawab Alandra. Ia sempat terkejut dengan tindakan perempuan bernama Senja itu memeluknya.
Calandra mengeluarkan botol aie yang ia bawa. Membuka penutup botol itu lalu memberikan pada perempuan disampingnya.
“Minum dulu biar bisa tenang.” Calandra menyodorkan air putih pada Senja. Senja menerimanya.
“Terima kasih Mas ... Dua kali Mas menolong kami." Ucap Bi Mina. Bi Mina teringat saat memandang wajah Calandra.
“Kalian kenal?” Tanya Amanda
“Waktu kita ke bandara Mas ini sempat menggendong Non Senja masuk ke dalam bandara, terus hari ini membantu memberikan air putih."
Amanda mengangguk paham.
“Terima kasih Mas Alandra," Ucap Amanda.
Padahal Calandra sama sekali tidak tahu mereka, bahkan ia tidak menyangka kalau mereka pernah bertemu. Bisa jadi Calandra lupa dengan mereka.
“Sama-sama.” Balas Calandra.
Senja merasa dirinya sudah mulai membaik. Ia memberikan botol air putih pada Bi Mina. Setiap dirinya berada didalam pesawat pasti ia selalu teringat atau bahkan mimpi kejadian saat itu. Seakan kejadian itu begitu jelas teringat dikepalanya.
“Maaf sudah merepotkan kalian ...." Ucap senja tidak enak.
“Sudah membaik?” Tanya Alandra.
Senja mengangguk.
“Aku kembali tugas dulu, lima menit lagi kita landing.” Pamit Amanda.
Landing sebentar lagi itu membuat Senja sedikit lega Untung saja perjalanan Indonesia-Singapura hanya membutuhkan waktu satu jam tiga puluh menit atau bisa hanya satu jam saja.
Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara internasional Changi Singapura perbedaan waktu antara Singapura dan Jakarta adalah 1 jam 30 menit. Silakan kepada Anda untuk kembali ke tempat duduk anda masing-masing, menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka di hadapan Anda dan mengencangkan sabuk pengaman. Akhirnya kami seluruh awak pesawat Gathay Airlines di bawah pimpinan kapten Azhar mengucapkan terima kasih telah terbang bersama kami, dan sampai jumpa di penerbangan lain waktu. Terima kasih.
Tepat disaat pengumuman tentang pesawat berakhir, Calandra dapat merasakan perempuan disampingnya menggenggam tangannya begitu erat mata kembali terpejam. Ketakutan begitu jelas diwajahnya.
“Tarik nafas lalu keluarkan nafasmu agar lebih rileks.” Bisik Calandra tepat ditelinga Senja.
Senja menuruti apa yang dikatakan oleh Calandra.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kita sudah mendarat dengan aman.” Ucap Alandra.
Senja membuka matanya, ternyata yang dikatakan pria disampingnya benar. Mereka sudah landing di Singapura terlihat semua penumpang sudah melepaskan sabuk pengaman bahkan bersiap-siap untuk turun.
“Terima kasih untuk tadi ....” Ucap Senja pada Calandra.
“Sama-sama. Kamu harus bisa menikmati saat kita sedang berada diatas. Dan mintalah minuman seperti kafein atau minuman berenergi dan meminum lainnya. Itu bisa membantu menghilangkan rasa takut atau trauma naik pesawat.” Jelas Calandr
Kalau tentang itu Senja tahu. Tapi ia tidak mau harus meminum semua itu, ia ingin melawan rasa takutnya. Bisa jadi ia malah tida berselera minum saat panik.
“Nanti aku coba ...” Ucap Senja.
Pesawat mereka landing dengan mulus. Calandra bangkit tadinya ia ingin meninggalkan perempuan itu, tapi dorongan hatinya ingin sekali membantu lagi.
“Biar saya saja yang gendong Dia, pak." Ucap Calandra pada Pak Beni
“Tidak perlu ... Biar pak Beni saja.” Tolak Senja.
“Tidak apa-apa. Biarkan saya membantumu sekali lagi.”
Tanpa menunggu jawaban Senja selanjutnya, Calandra sudah menggendong perempuan itu keluar dari kabin pesawat. Senja sedikit panik dan khawatir karena pertama kali digendong orang lain.