“Tidak ada yang tahu bahwa kita sama terlukanya.”
-S&A-
Kakak dari perempuan bernama Senjarani— Andre memasuki kamar adiknya setelah ia pulang lebih dulu dari acara salah satu sahabatnya. Ia tidak bisa meninggalkan Senja terlalu lama. Ia ingin hari ini menghabiskan waktu dengan adiknya yang hanya berbeda tiga tahun— Andre berusia 28 Tahun sedangkan Senja 26 Tahun. Ia tersenyum tatkala adiknya sedang fokus melukis disana, Andre mendekati dan menganggu dengan cara menggerakkan kursi roda Senja. Senja terkejut dan Andre terkekeh berhasil menghilangkan konsentrasi adik semata wayang.
“Senjarani ...”
“Rina, mas.” Ralat Senja
“Biar saja suka-suka Mas.” Andre duduk disebelah adiknya, setiap hari Senja memang suka sekali duduk di kursi roda lalu menatap suasana luar dari balkon kamar atau melukis. Hanya ini yang Senja lakukan selama dirinya lumpuh, bosan tentu saja. Tapi Senja tidak bisa menyalahkan takdir terus-menerus. Siapapun itu tidak mau menjadi lumpuh tak berdaya seperti sekarang.
“Ih dasar.... Masih belum move on aja sama nama Rina.”
Kakaknya ini memang suka sekali mengganti nama belakang Senja.
“Nenek-nenek mau lahiran juga tahu kalau Mas sudah move on dari Rina.” Jawab Andre santai.
“Emang ada nenek-nenek lahiran?”
“Cuman orang yang gampang percaya kalau ada nenek-nenek lahiran.”
Senja memukul bahu Andre. Kakaknya memang jarang sekali berbicara serius lebih banyak melantur.
“Kalau ngomong sama mas nggak ada benarnya!” Ucap Senja kesal.
“Minggir Mas ...” Senja mendorong kursi roda dengan kedua tangannya untuk masuk ke dalam kamar— saat ini Senja berada di balkon rumah.
“Mas katanya ke acara nikahan sahabat mas?” Tanya senja.
“Sudah ..”
“Kok cepat banget?”
“Gagal nikah.” Jawab Andre. Andre membantu mengangkat Senja dari kursi rodanya untuk duduk disofa kamar.
“Loh, kok bisa Mas?” tanya Senja penasaran
“Ceweknya hamil tapi bukan anak dia.” Jawab Andre. Andre mengangkat kaki Senja diatas pahanya. Perlahan tangannya terulur memijat kaki Senja yang masih dibalut dengan kain.
Senja semakin terkejut serta penasaran sekali, Senja ingin tahu cerita sahabat kakaknya itu. Aneh tapi bisa dibilang nyata ada saja hamil diluar pernikahan tapi bukan anak dari kekasihnya.
“Sahabat mas itu orang yang sibuk mereka jarang bertemu, Mas pikir ceweknya emang baik luar-dalam. Tapi ternyata tidak sesuai dengan yang mas nilai. Ya seperti itulah manusia .... Selalu merasa kurang cukup dan tidak bisa bahkan memahami apa itu kesetiaan. Mas masih terbayang-bayang bagaimana raut wajah bahagia sahabat Mas.” Jawab Andre
“Mas, jelasin dong .... Senja kurang begitu paham.” Kata senja.
“Intinya si cewek mengkhianati sahabat mas. Kamu bayangkan saja cewek yang dinilai baik dimata orang tiba-tiba pas dihari pernikahannya ada laki-laki lain datang dan bilang jika perempuan itu sedang hamil."
Senja terdiam. Sejujurnya ia terlalu terkejut sekaligus merasa kasihan pada sahabat kakaknya ini. Kenapa tega sekali wanita itu.
“Mas cuman bilang sama kamu jangan menyakiti laki-laki. Laki-laki kalau sudah sayang dan cinta semuanya bakalan memberi apapun untuk kekasihnya sekalipun nyawa ia pertaruhkan demi membuktikan rasa cintanya. Baik laki-laki dan perempuan harus sama-sama menjaga.” Ucap Andre
Senja mengangguk paham. Ia sama sekali tidak bisa menyakiti orang lain.
“Terus kenapa ada disini, sebagai sahabat yang baik harusnya Mas ada disampingnya.”
“Setelah akad nikah itu gagal, sahabat Mas bilang dia butuh sendiri dan tidak ingin diganggu oleh siap pun. Lagi pula Mas yakin dia tidak akan melakukan hal negatif.” Jawab Andre.
“Senja ikut sedih. Pasti terluka sekali ...”
“Itu semuanya sudah takdir ... Walaupun kita mempertahankan mati-matian kalau takdir bilang tidak bersatu, kita nggak bisa apa-apa. Kita cuman bisa pasrah menerimanya.” Ujar Andre.
Senja mengiyakan ucapan kakaknya. Manusia hanya bisa merencanakan.
“Kapan kamu ke Singapura lagi?” Tanya Andre.
“Lusa. Padahal aku nggak pengin harus bolak-balik Indonesia-Singapura.”
“Sabar kalau sudah sembuh pasti tidak akan ke Singapura lagi."
Sebenarnya Senja masih sedikit trauma menaiki pesawat.
“Mas, antar Aku sama Bi Mina ke apartemen dong ...”Pinta Senja.
“Pasti mau menghindari papa lagi?” Tebak Andre.
“Iya.”
Untuk saat ini Senja belum bisa bertemu papanya, bahkan bisa dibilang ia malas. Senja selalu menghindari papa saat mendengar sang papa akan pulang ke rumahnya. Senja ingin segera ke Singapura agar tidak merasa terganggu lagi.
“Sampai kapan kamu seperti ini?” Tanya Andre serius.
“Sampai waktu yang menjawab kapan aku bisa akur sama papa. Ayo dong mas antar Aku ke apartemen.” Pinta Senja lagi
“Baiklah ... Ayo,” Andre menurunkan kaki Senja, ia memang tidak bisa mencegah keinginan sang adik— ia memahami tentang keadaan Senja dan Papa yang belum membaik. Sembari menunggu Andre yang tengah mengangkat telepon Senja mulai memanggil bi Mina menyuruh perempuan paru baya itu siap-siap.
“Nja ... Mas sepertinya tidak bisa mengantarmu. Sama Pak Beni saja bagaimana?”
“Mas mau kemana?” tanya Senja
“Sahabat Mas butuh bantuan, Mas harus ke apartemennya. Adiknya telepon kalau sahabat Mas mengamuk disana.” Jelas Andre
“Iya Mas. Sana pergi temui sahabat Mas, dia butuh Mas. Senja bisa sendiri kok.”
Andre bernafas lega. Ia segera bangkit lalu mendekati Senja, mencium kening adiknya sekilas.
*****
PRANG ....
PRANG ....
PRANG ....
Suara pecahan dari dalam apartemen dilantai lima ini begitu jelas terdengar oleh Denisa. Ia mengetuk pintu apartemen tersebut tetapi tidak ada tanda-tanda akan dibuka. Ia khawatir terhadap Kakak.. Saat penolakan terhadap mantan calon kakak iparnya itu, Calandra masih begitu terlihat tenang hingga akhirnya ia memilih mengatakan pada semua ia ingin sendirian. Hingga akhirnya Denisa meminta izin pada ayahnya untuk mengikuti sang kakak, untung saja kakaknya hanya pulang ke apartemen. Meski Calandra sering sekali membuat Denisa marah dan menangis tapi tetap saja sebagai adik kekhawatiran terus dirasakan Denisa.
“KAKAK BUKA PINTUNYA ...!!” Seru Denisa dari luar. Ia terus mengetuk pintunya bahkan lebih keras. Sudah meminta bantuan salah satu sahabat Calandra, sebentar lagi akan datang.
PRANG ....
PRANG ....
PRANG ....
Denisa benar-benar dibuat panik oleh kakaknya, laki-laki itu terus memecahkan barang yang ada didalam apartemennya. Hingga akhirnya Denisa berinsiatif menelepon Ayah untuk memberitahu password apartemen Kakak— hanya Ayah dan Ibu yang mengetahui password apartemen Calandra. Denisa menanyakan kabar Ibu yang sempat pingsan untung saja sudah membaik kata Ayah, Denisa bisa bernafas lega.
“Kalian tidak perlu panik. Nanti Denisa mengabarkan Ayah lagi, Ayah jangan kesini. Denisa tutup ya, assalamualaikum ...” Denisa menutup sambungan teleponnya.
Denisa berhasil membuka pintu apartemen kakaknya, Denisa berjalan dengan hati-hati, pecahan kaca itu berserakan. Ia mendekati kakaknya yang terduduk dilantai, berantakan, terlihat tidak terarah. Menyakitkan bagi Denisa.
“Kakak ...” Panggil Denisa
“Denisa, kenapa ada disini?” Tanya Calandra berbicara dengan nada biasa.
“Keluar kamu Denisa, Kakak ingin sendiri!” Usir Alandra.
“Denisa mau disini temani Kakak.” Jawab Denisa
Denisa memandang suasana apartemen kakaknya. Semua foto bersama Anin sudah tidak terlihat lagi disini. Bahkan penampilan kakaknya begitu berantakan. Jas yang dipakai tadi sudah tidak terlihat lagi.
PRANG .....
Calandra bangkit lalu kali ini ia memecahkan kaca rias yang ia beli khusus untuk Anin, Alandra menyiapkan semuanya untuk Anin. Tapi ternyata semua mimpi itu hancur karena penghianatan. Sakit sangat amat terasa sakit. Rasanya Calandra tidak ingin hidup lagi. Calandra ingin memecahkan barang lagi, Denisa menahan tangan Calandra.
“Jangan gila kamu, kak! Hentikan semua ini.” Tegas Denisa.
“Barang ini tidak pantas ada disini ..... Semuanya hanya membuat luka, Denisa ...”
Denisa dapat melihat kedua mata kakaknya itu begitu memerah. Denisa mulai gemetar menahan Kakak sendirian— ia berharap sahabat Kakaknya segera datang.
“Cukup! Bukan tindakan hal ini untuk menyembuhkan lukamu.”
Keduanya menoleh. Andre Rezalsani— sahabat dekat Calandra sudah berada disana, dekat pintu yang kebetulan tidak ditutup oleh Denisa. Calandra melepaskan kayu yang dari tadi ia pegang untuk memecahkan semua barang yang berkaitan dengan Anin.
“Lan .... Gue temanan sama Lo bukan satu tahun, kita sudah bertahun-tahun. Cara ini bukan yang tepat untuk menyembuhkan luka.” Ucap Andre mendekati keduanya
“Lo tidak akan mengerti perasaan Gue, Ndre.”
“Paham. Dikhianati itu menyakitkan tapi Lo juga harus berterima kasih setidaknya kehamilan Anin diketahui sebelum ijab qobul.” Sahut Andre
“Tapi ini benar-benar menyakitkan ketika kesetian sama sekali tidak berarti untuk Anin.”
“Iya Lan, jangan lukai diri sendiri. Obati dulu tangan Lo.” Andre bangkit sebentar mencari keberadaan kotak P3K di apartemen Calandra tapi sayang sekali tidak ditemukan.
Sedangkan Denisa mengusap punggung kakaknya ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Calandra melepaskan pelukan dari Denisa. Ia kembali mengambil kayu itu, ada satu lagi bingkai foto Alandra dan Anin yang berukuran sangat besar. Calandra mendekati bingkai itu. Denisa ingin menahannya begitu Andre tapi keduanya tidak sanggup tenaga kakaknya terlalu besar dari mereka.. Hingga akhirnya bingkai itu pecah, Denisa dan Andre menutup kedua telinga dengan tangannya ia sangat takut dengan bunyi pecahan barang.
“Sialan. Betapa bodohnya punya sahabat kaya Lo.” Dengus Andre
Sedangkan Denisa sudah mengambil alih keluar membeli beberapa obat untuk menyembuhkan luka ditangan Kakaknya. Andre memegang tangan Calandra yang terluka, bisa-bisanya seorang pilot patah hati lalu melakukan yang melukai diri sendiri.
“Awww ...!!” ringis Calandra tepat saat Andre menekan luka Calandra.
“Mampus!” Kesal Andre
Pria memang bodoh kalau sudah patah hati.
Calandra diam. Sakit pada tangannya benar-benar tidak terasa sama sekali dibandingkan rasa sakit pada hatinya. Kesetiaan, keseriusan, bahkan segala yang Calandra punya selalu ia jaga. Tapi semuanya sia-sia ia terhanyut dalam cinta yang salah. Calandra mengeluarkan kotak yang didalamnya berisi cincin yang harusnya dipakai dijemari Anin, tapi cincin itu kini harus menjadi kenangan terpahit didalam hidupnya. Mencintai namun yang dicintai ternyata tidak mencintai kita, jika mencintai kita tidak ada sakit hati diantara keduanya. Akad belum dimulai bahagia juga belum dimulai, tetapi takdirlah yang menghancurkan semuanya dalam waktu sangat cepat. Pada akhirnya semua itu hanyalah sia-sia.
Calandra meremas kotak itu, ia bangkit lalu mendekat ke arah jendela apartemennya. Tanpa menunggu lama Calandra melemparkan kotak cincin itu ke arah luar— biarkan orang lain yang menemukan Calandra sudah tidak ingin menyimpan cincin yang sekarang sudah tidak indah lagi.
Denisa sudah datang, mulai mengobati tangan Kakak dengan serius, kalau saja suasana hati kakaknya sedang membaik. Denisa yakin Calandra akan berteriak karena kesakitan, seperti dulu saat mereka masih sama-sama kecil. Saat dimana membantu sang Ibu memasak, tangan Calandra tidak sengaja tersayat pisau, dan akhirnya pria itu benar-benar seperti perempuan. Menangis karena sayatan pisau itu sangat membuatnya perih.
“Harus sadar Lan kita semua masih peduli sama Lo.” Ucap Andre
“Ya, thanks sudah kesini Ndre ...”
“Ya, anytime for you ...” Balas Andre
“Denisa, Ndre ..” Panggil Calandra.
“Ya? Terima kasih kalian ....”
Denisa mengangguk. "Nggak perlu membuat luka lagi, jadilah Alandra seperti yang kami kenal. Tutup luka itu dan buka kebahagiaan baru. Semangat kak!" Ucap Denisa.
Alandra tersenyum setidaknya kehadiran adiknya membuat Alandra sedikit tenang.
“Aku butuh sendiri dan akan pergi ke Singapura.” Ucap Calandra
“Butuh sendiri nggak harus ke Singapura Kan ...”
“Gue butuh sendiri, ketenangan. Tolong mengerti kali ini ...
“Denisa ikut.” Ujar Denisa.
“Kamu harus sekolah dan les Piano. Kasih Kakak waktu untuk sendiri." Ucap Calandra.
“Nggak. Aku bakalan ikut kemana Kakak pergi." Tegas Denisa.
“Denisa ... Kakak ingin sendiri. Tolong mengerti untuk kali ini." Alandra menatap Denisa dengan tatapan memohon.
“Tapi kakak harus sering mengabari kami.”
“Kakak janji akan terus memberi kabar pada kalian.” Calandra memberikan amplop pada Denisa.
“Ini apa?” Tanya Denisa.
“Tolong kamu kasih sama ayah dan ibu, sampaikan juga permintaan maaf kakak karena tidak pamit dengan mereka. Bilang sama ibu jangan terlalu khawatir. Kakak akan selalu baik-baik saja.” Ucap Alandra.
Denisa menerima amplop itu. Untuk kali ini Denisa dan Andre harus rela melepaskan Calandra walaupun berat karena kondisi kakak sedang tidak stabil. Keberangakatan Calandra ke Singapura hari ini juga, ia akan pergi meninggalkan keluarga untuk mengobati luka hatinya.