Waktu yang ditunggu telah tiba— tidak terasa bahkan sempat mengira melakukan persiapan ini akan membutuhkan waktu lama tapi dugaan itu salah, Menikah siapa yang tidak ingin melakukan janji sakral ini, semua mau. Mengucapkan didepan penghulu disaksikan keluarga masing betapa bahagia yang dinikahi adalah perempuan yang kita cintai merasa tidak sia-sia rasanya. Jas milik Ayah begitu pas dibadan Calandra— berkat Ibu Calandra menjadi seperti ini. Calandra sempat dibuat khawatir oleh Ibu, Ibu mengatakan bahwa takut jika dikemudian hari Calandra akan disakiti tapi Calandra meyakinkan kembali jika ketakutan itu Ibu tidak akan terjadi dan menganggap bahwa hal itu wajar mengingat nanti Calandra akan jarang bersama Ibu. Calandra berada didalam mobil menuju ke rumah Anin, semalaman ia tidak bisa tidur sama sekali pikirannya dipenuhi tentang pernikahannya.
“Calandra ...” Panggi Ayah
“Iya,” Calandra yang sedang fokus menunduk langsung menatap Ayah
“Jangan tegang. Santai aja.”
Calandra mengangguk. Mobil mereka sudah sampai dikediaman Anin, ternyata keluarga Anin menyiapkan semua ini. Calandra disambut hangat oleh keluarga Anin. Rasa gugp semakin menerpa Calandra— ingin segera menuntaskan ini semua. Susana juga tidak banyak orang, untuk akad nikah keluarga mereka memilih disaksikan beberapa saja baru resepsi mereka akan mengundang ribuan orang. Malam nanti semua yang diundang oleh keluarga mereka akan datang ke resepsi Calandra.
Calandra belum melihat Anin disini namun detik kemudian, Anin sudah mulai berjalan mendekati Calandra. Kebaya putih dengan make up yang tidak mencolok sesuai keinginan Calandra, perempuan yang menepati ruang hati Calandra selama satu lebih terseny didepan Calandra. Setelah sah menjadi suami-istri akan ada ratusan pujian yang Anin dengar dari bibir manis Calandra.
“Kamu sudah siap?” tanya Papa Anin setelah melewati beberapa proses sebelum mereka duduk.
“Siap pah,” jawab Calandra penuh ketegasan
Tangan Calandra mulai mengulur, tangan mereka saling bertautan— Papa pasti tahu bagaimana kondisi tangan Calandra. Sangat dingin, detak jantungnya tidak beraturan. Ternyata mengikrarkan akad nikah jauh lebih gugup daripada interview pekerjaan.
Dengan sekali tarikan nafas, Calandra sudah siap untuk melakukan ijab qobul pagi ini. Demi Anin, demi masa depan Calandra— Calandra harus berhasil.
“Bismillahirrahmanirrahim .... Cal—“
“TUNGGU ....!!!” Teriak seseorang dari luar sana. Semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah seorang pria yang berdiri di pintu sembari mengatur nafasnya.
“Calandra .... Tolong jangan nikahi Anin.”
“Keano ...” Gumam Alandra. Keano— pria itu sudah berapa tahun tidak terlihat dihadapan Calandra, terakhir saat bukber bersama itu pun sudah beberapa tahun yang lalu.
“Batalkan pernikahan ini, Anin sedang mengandung anak Saya.” Ucap Keano penuh ketegasaan.
Keluarga Anin saling memandang mereka tidak mengerti apa yang Keano ucapakan. Mereka masih belum percaya mengingat banyak sekali zaman sekarang orang pura-pura. Entah berpura-pura menjadi hal yang mereka inginkan, Anin gadis yang baik-baik tidak mungkin melakukan yang dilarang keluarga besarnya.
“Om ..... Tolong jangan lanjutkan pernikahan ini.” Mohon Keano.
Disana Anin lari mendekati Keano. Laki-laki itu pengacau acaranya. Anin tidak merasa dirinya hamil, tidak ada tanda-tanda muntah kemarin karena asam lambung naik dan menjelang menstruasi perempuan akan seperti orang ngidam yang menginginkan sesuatu, meski menstruasi belum datang tapi Anin yakin.
Plakkk .....
Satu tamparan berhasil melayang dipipi Keano, Anin menamparnya.
“Jaga bicarmu Keano, Aku tidak hamil!”
Keano mengusap pipinya yang terasa perih akibat tamparan Anin. Tamparan Anin tadi cukup keras mengenainya. Semua orang yang ada di ruangan nampak bingung, begitu pun Calandra. Pria itu belum membuka suaranya ia menunggu penjelasan maksud dari Keano.
“Kamu jangan jadi pembohong Anin Metralia! Kamu hamil anak saya. Saya merasakannya. Kalau kamu tidak percaya silahkan kamu cek menggunakan testpack ini.” Keano mengeluarkan bungkusan testpack yang sengaja ia bawa.
“Apa maksud kalian?” tanya Calandra melirik keduanya saling bergantian.
“Dia pria gila yang ingin menghancurkan kita Mas.” Jawab Anin
Tangan Anin hampir saja melayang lagi tetapi Calandra menahannya.
“Papa butuh penjelasan kalian ...” Papa Anin bersuara.
“Tidak perlu ada penjelasan pah .... Anin dan Keano tidak ada hubungan apa-apa." Jawab Anin.
“Kami ada hubungan om.” Keano tidak menyerah. Keano hanya ingin menunjukan sikap tanggung jawab meskipun ia menjadi pria b******k yang berani menyentuh Anin. Lebih tepatnya mereka saling menyentuh.
“Bisa kamu jelaskan?” Pinta Calandra masih dengan suasana tenang.
“Tidak perlu mas, tidak perlu ada penjelasan .... Aku tidak ada hubungan dengan dia.” Sahut Anin
Anin sudah ditahan oleh papanya, sekeluarga meminta agar Keano menjelaskan tentang semua ucapannya. Bagi Keano ini adalah kesempatan karena keluarga ini memilih mendengarkan kebenaran dari mulutnya. Keano tahu tatapan Anin begitu memohon agar Keano tidak menjelaskan apa yang terjadi antara mereka. Tetapi Keano pria yang memiliki tanggung jawab yang besar jadi apa saja akan ia lakukan untuk menebus kesalahannya.
“Saya yakin kalian akan mengatakan saya laki-laki b******k karena telah merusak Anin, tapi maafkan saya. Itu diluar kendali kami untuk melakukan hal itu. Kedatangan saya kemari hanya ingin bertanggung jawab. Izinkan saya yang menikahi Anin.” Ucap Keano dengan tegas.
BUGH!!!!!
Satu Bogeman mengenai wajah Keano, Alandra memukulnya.
“Jangan asal bicara Keano! Saya yakin Anin tidak seperti itu.” Ucap Calandra
Keano bangkit lalu menyeka pipinya. “Saya tidak asal bicara Lan! Kamu bisa tanyakan langsung sama Anin.”
“Anin, jujurlah pada Alandra!” Pinta Keano.
“Aku sedang tidak berbohong. Apa yang kamu ucapkan Itu semua omong kosong! Sudah Ku katakan jangan ganggu hidupku lagi!” Jawab Anin.
Keano bersumpah ia tidak akan menyerah begitu saja ia akan terus meyakinkan keluarga ini agar bisa mempercayainya. Kejadian dua bulan yang lalu merugikan Anin dan Keano tidak ingin semakin membuat Anin merasa bersalah, Keano ingin ada disampin Anin melalui kesusahannya
“Kapan kamu melakukannya?” Papa Anin bersuara.
“Tepat dua bulan yang lalu om, saat acara reuni, aku Kakak dari Levita. Saat itu Calandra tidak datang karena harus bekerja.” Jawab Keano.
Rasanya Calandra ingin memukul Keano lagi, tapi tangannya ditahan oleh sang ayah. Ia memang membenarkan ucapan Keano tentang reuni SD, Calandra tidak bisa datang ia sulit mengatur jadwal terbangnya yang semakin hari semakin padat. Tapi tidak mungkin Anin mengkhianatinya, Calandra tahu persis bagaimana Anin Metralia.
“Bagaimana bisa kalian melakukan hal itu sedangkan kamu tahu Anin adalah calon istri Calandra?” Ayah Calandra bersuara dengan nada tenangnya. Padahal jauh didalam lubuk hatinya emosi sudah mulai berkobar, ia terus menahannya. Ayah jadi teringat ucapan istrinya beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa ada hal yang berbeda dengan Anin, bahkan istrinya sempat bilang apakah sedang hamil anak Calandra? Tetapi ayah terus memberi nasehat agar sang istri harus bersikap positif. Mereka tahu jika Alandra tidak akan melakukan hal seperti itu apalagi menghamili sebelum ada pernikahan.
“Saya tidak tahu jika Anin calon istri teman Saya, asal kalian tahu kami melakukan tanpa paksaan meski esok hari Anin menyesalinya.” Jawab Keano
BUGH ...!!!
BUGH ...!!!
BUGH ...!!!
BUGH ...!!!!
“Itu pukulan untuk pria pengkhianat sepertimu.” Ucap Alandra.
BUGH ...!!!
Keano menerima setiap pukulan yang dilayangkan oleh Calandra. Ini semua adalah risiko yang harus ia terima. Tidak lama karena Ayah sudah mencegah Calandra kembali.
“Bagaimana bisa kamu yakin jika Anin sedang hamil?” Tanya papa Anin dengan nada serius, ia belum sepenuhnya percaya pada Keano.
“Saya merasakan mual terus-menerus padahal sebelumnya saya sama sekali tidak pernah mengalami hal seperti itu. Setelah saya mencari tahu mual yang saya alami bisa terjadi karena istri kita sedang mengandung. Saya menyimpulkan bahwa apa yang saya rasakan karena Anin sedang mengandung. Saya hanya melakukan ini pada Anin Om ...” Jawab Keano
Baru saja Alandra ingin melayangkan pukulan lagi, Ayah Calandra menahan Alandra agar tidak terjadi pemukulan bisa babak-belur si Keano. Mendengar penjelasan dari Keano kini semua berganti menatap Anin untuk meminta penjelasan. Anin menunduk ia mengakui pernah berbuat dengan Keano tapi percayalah ia hanyalah korban. Anin masih mengingat jelas meskipun ia sedang mabuk karena dipaksa temannya tapi ia setengah sadar jika Keano menarik dirinya dengan paksa hanya saja kelanjutannya ia memang menikmati.
“Maafkan Aku ...” ucap Anin sembari terisak mulutnya tidak mampu lagi berkata-kata.
Calandra mengambil bungkusan testpack yang jatuh dekat Keano.
“Pakailah testpack ini, jika benar kamu tidak hamil. Mas akan tetap menikahimu." Alandra memberikan testpack itu pada Anin.
Anin menerimanya dengan tangan bergetar. Ia berharap kepada takdir agar berbaik hati dengan anin agar bisa melanjutkan pernikahannya dengan Calandra.
Calandra menunggu kurang lebih setengah jam Anin belum juga keluar dari kamar mandi, harusnya hari ini menjadi momen untuk keduanya tapi ada saja halangan menghampiri mereka. Calandra khawatir tapi ia mencoba mengetuk pintu kamar mandi tapi belum ada jawaban dari Anin. Menit kemudian Anin keluar dengan wajah tidak bisa digambarkan lagi oleh Calandra— tangan Anin bergetar hati Calandra mulai membara.
“Aku hamil ...” Isak Anin
Bagi pisau yang menusuk relung hatinya, Calandra merasakan rasa sakit yang luar biasa. Matanya memerah, bukan rasa malu yang Calandra rasakan tapi kemarahan, kekecewaan menjadi satu dihari bahagianya. Selama menjadi pasangan sama sekali Calandra tidak menyentuh, mencoba melindungi Anin. “Perempuan murahan!” desis Calandra penuh kemarahan.