“Rumit dalam sebuah hubungan berawal dari dirimu sendiri.”
-S&A-
Persiapan menjelang pernikahan semakin dekat, mengajak calon mantu ke butik gaun pengantin. Masih belum percaya dalam benak jika sebentar lagi anak semata sulung mereka akan menjadi kepala keluarga untuk keluarga kecilnya, bukan tentang memberi cucu secepat mungkin— percayalah sebagai seorang ibu pasti khawatir melepaskan anak untuk menikah, rasa takut dan lainnya. Bearista— Ibu dari Calandra dibantu orang tua Anin membagi tugas untuk acara ini. Bagian Ibu membawa Anin untuk fitting sedangkan keluarga Anin mempersiapkan catering dan kekurangan lain. Calandra sudah memiliki pakaian yang akan dipakai dihari akadnya. Memakai jas milik Ayah, Ayah menyuruh Calandra memakai karena jas itu pernah dipakai saat Ayah melakukan akad nikah dengan Ibu.
“Bu, kalau lelah duduk saja.” Kata Anin. Anin ditemani pemilik butik ini memakai gaun berwarna putih, berlengan panjang. Calandra tidak memperbolehkan Anin menggunakan gaun yang terlalu terbuka.
Calandra dan Ayah memiliki sifat posesif yang sama terhadap perempuan.
“Tidak pa-pa sayang ...” jawab Ibu
Anin merasa sedikit tidak enak melakukan fitting baju dengan calon ibu mertuanya. Tidak lama kemudian Anin keluar dari ruang ganti dan ibu menatap tanpa berkedip. Calon menantu mereka begitu cantik dan anggun, Calandra pasti akan menyukai calon istri menggunakan gaun ini.
“Cantik sekali menantu Ibu ...” puji ibu
Ibu mendekati Anin, berjalan memutari Anin. Menilai gaun yang dipakai Anin sudah terlihat sempurna. Ibu tidak bisa memungkiri Calandra pintar dalam mencari calon istri. Selain raut wajah yang cantik Ibu menyukai kecantikan lain pada diri Anin. Ibu mengenal Anin selama ini cukup terbilang baik dan memiliki tata krama yang baik.
“Bagaimana penilaian Ibu terhadap gaun ini?” Anin
“Bagus, cantik dan gaun ini mirip sekali saat Ibu menikah dulu.” Jawab Ibu
Gaun berlengan panjang, bahkan badan kita tidak tembus pandang. Anin memiliki penilaian yang sama dengan Ibu tentang gaun ini. Berwarna putih dengan mutiara putih disekitar pergelangan.
“Sayang suka yang in?”
Anin mengangguk dengan antusias. Menit kemudian mereka sepakat mengambil gaun ini untuk acara akad nikah, Ibu menunggu Anin kembali sampai perempuan itu sudah mengangganti gaun dengan pakaian semula. Ibu duduk diruang tunggu.— ponselnya berdering ia langsung membukanya dan ternyata itu dari Calandra yang mengatakan sedang mendarat. Bearista langsung membalas dengan mengatakan jika ia sedang bersama Anin. Dan tidak lama kemudian putra sulungnya itu langsung menghubunginya.
“Assalamualaikum Bu ...”
“Waalaikumsalam ... Dikasih tahu ada Anin langsung deh video call. Biasanya paling susah diajak telepon.” Ibu dapat melihat wajah tampan putra sulungnya dari layar ponsel.
“Ibu apa kabar, Ayah man?”
“Ibu baik. Ayah seperti biasa mengurus restoran dulu sebelum cuti mengurus pernikahan kalian.” Jelas Ibu
“Bukankah sudah ada Paman Niko membantu Ayah?”
“Seperti tidak tahu karakter Ayahmu saja.”
Calandra terkekeh disana. Calandra paham dengan sifat Ayah yang selalu merasa tidak puas jika belum menangani sendiri.
“Bu, Anin mana?”
“Ada. Tunggu ya ...”
“Menjelang pernikahan aku semakin tidak bisa tidur dan konsentrasi dalam bekerja Bu.” Jujur Calandra. Ibu adalah teman juga bagi Calandra karena selalu memberikan rasa nyaman jika Calandra menceritakan keluh dan kesah.
“Harus fokus. Percaya pada Ibu pernikahan tidak menyeramkan nak, kamu lihat pernikahan Ibu dan Ayah baik-baik saja kan?”
Calandra mengangguk. “Iya Bu. Calandra selalu berdoa dan meminta dilancarkan semuanya sampai Aku dan Anin menjadi satu.” Jawab Alandra
“Aamiin ... Ibu selalu berdoa untukmu. Semangat bekerja nak,”
“Iya Bu, oh iya nanti Anin menginap di rumah ibu saja. Kasihan Ibu sendirian.”
“Ada Denisa. Anin harus banyak istirahat agar sehat sampai akad nikah selesai. Ada Anin mau bicara?”
Detik kemudian dari sana Calandra kembali tersenyum saat calon istrinya sudah keluar dari kamar ganti menggunakan pakaian biasa. Calandra mendengar Anin sedang bertanya bahwa siapa yang menelepon.
“Mau dong Bu ...”
Ibu memberikan ponsel pada Anin. "Dari pria posesif." Ucap Ibu
Anin tersenyum geli. Kekasihnya ini sudah sangat terkenal dengan sifat posesif— bahkan sahabat Anin dikantor selalu mengingatkan Anin sebelum pergi meminta izin pada Calandra agar Calandra tidak mencari. Dengan cepat Anin menerima ponsel, lalu diarahkan ke wajahnya.
“Mas Alandra ...!!!” seru Anin dari sana
“Hai baby ...”
“Aku bukan bayi Mas ...”
Calandra terkekeh. “Bagiku kamu tetap bayiku, Sayang ...” Ucap Calandra
“Ish, dasar. Sudah landing ya?”
“Landing di Medan. Ingin sesuatu yang harus dibeli?” Tanya Calandra
Menjadi kebiasaan mereka, Anin yang kerap kali memesan barang itu juga karena Calandra insiatif bertanya.
“Beli sesuatu yang tidak ada Mas.”
“Aku. Aku sesuatu yang langka untuk ditemukan.”
Untung Calandra tidak ada dihadapan Anin coba ada disini sudah pasti cubitan akan melayang dipinggang Calandra karena mulai mengeluarkan gombalan maut.
“Untung Mas tidak disini.”
“Iya. Kalau disamping mu sudah pasti tangan manis itu melayang kebagian tubuh.”
“Bawa saja oleh-oleh yang banyak buat Ibu, Ayah dan Denisa juga.” Ibunya ikut menyahut dari samping yang tentunya Calandra mendengar.
“Siap itu pasti akan Aku bawa. Oh iya, Jaga diri baik-baik, tidak perlu diet ketat untuk terlihat cantik dan pas dengan gaun. Apapun keadaanmu Mas tetap mencintaimu ...”
“Dasar tukang gombal. Tolong tahu tempat untuk ini Mas.”
“Biar saja. Ibu juga pernah muda. Ingin sekali cepat pulang agar bertemu dengamu.”
“Kerja yang benar, Anin tunggu di rumah.”
Pembicaraan mereka tidak bisa terlalu lama karena harus pulang—disana Calandra merasa sedikit kecewa karena harus berpisah dengan keduanya. Bagi Ibu dan Anin mendapatkan kabar dari Calandra sudah merasa sangat lega. Fitting baju pegantin telah selesai, Anin memilih kebaya berlengan panjang dipadu dengan rok batik berwarna kecoklataan, sangat pas dipadukan dengan kebaya putih.
“Mampir ke restoran dulu ya, Ibu malas masak. Ayah dan Denisa tidak ada dirumah jadi bisa santai.”
“Ibu mau makan dimana?” tanya Anin
“Menurut Anin lebih enak dimana dan apa?” Ibu bertanya balik
“Makan kerak Telor saja Bu, sejak kemarin Anin ingin sekali makan itu.” Ucap Anin.
Tanpa Anin sadari ucapannya membuat Ibu merasa heran, ia sedikit ada kecurigaan dengan calon menantunya, bahkan badan Anin juga ada perubahan. Entahlah itu hanya perasaanya saja atau bagaimana. Ia berharap apa yang sedang ia pikirkan itu bukanlah hal yang benar.
“Nanti Anin mau mampir cari es Cendol dulu Bu, gorengan didekat mini market juga.”
“Nanti kita kesana ya ...” ucap Ibu lembut
Terlihat raut wajah berubah menjadi sumringah tatkala Ibu mau menuruti permintaan Anin. Ibu membuang pikiran negatif, seperti yang pernah suaminya katakan. Belajarlah untuk selalu postif terhadap orang lain.
****
Merasa puas ketika keinginan itu sudah dikabulkan itulah yang Anin rasakan. Setelah makan Kerak Telor, es Cendol dan gorengan perutnya langsung melega— mereka sudah terpisah. Anin pamit pada Ibu untuk berpisah karena Anin harus ke kantor ada pekerjaan yang harus dikerjakan yang sangat penting. Hari ini memang izin setengah hari saja dan itu disetujui oleh Bos. Senyum Anin tidak seperti biasa, begitu merekah setelah apa yang terjadi dalam hidupnya. Sebentar lagi ia akan menjadi istri Calandra, impian keduanya selama ini. Calandra sudah sejak dulu mengajak Anin untuk serius dalam hubungan ini bahkan baru tiga bulan hubungan mereka berjalan, Calandra sudah mengutarakan keinginan baik ini tapi sayang Anin sempat menolak karena mereka belum mengenal sepenuhnya. Tiga bulan waktu terlalu singkat.
Langkah Anin menelusuri jalanan jarak tempat mereka makan tidak jauh dari tempat kerja Anin.
“Nin ...”
Panggilan seseorang membuat Anin menoleh, Anin terkejut. Moneleh sebentar lalu Anin melanjutkan langkah tanpa ada niatan untuk berhenti— Anin tidak mau berhadapan dengan orang ini. Mereka tidak punya masalah lagi.
“Nin, tunggu.”
Tangan Anin dicekal, langkah Anin terlalu lambat sehingga lebih dulu ditahan. “Mau lari lagi?” tanyanya
“Kamu tidak bisa lari kali ini.” Ucapnya
“Lepas!” pinta Anin— Anin memberontak melepaskan cekalan tangan itu tapi sayang terlalu kuat sehingga Anin susah untuk melepaskan.
“Lepas ....” pinta Anin lagi
“Tidak.”
PLAAKK ...
Satu tamparan melayang. Tidak ada kemarahan diraut wajah terlihat santai sekali padahal tamparan Anin cukup keras.
“Kita harus bicara.” Tegas
“Sudah aku katakan tidak ada lagi kepentingan diantara kita. Kejadian itu murni ketidak sadaran antara kita, jangan ganggu hidupku lagi. Sebentar lagi aku menikah.” Balas Anin
“Kamu tidak bisa menikah dalam kondisi hamil, Nin.”
Anin hampir menampar lagi tapi dicegah. Anin mendorong d**a pria bernama Keano ini lalu berlari menjauhi Keano yang masih diam ditempat. Ada perasaan lega ketika bertemu Anin meski tamparan dan perlakuan kasar dari Anin— Anin baik-baik saja. Keano senang melihatnya.
Anin berlari menuju area kantor dengan menahan tangis, ia tidak boleh menangis disepanjang jalan. Anin segera menghapus pikiran, ucapan yang Keano katakan tadi. Semua itu tidak akan terjadi hanya dengan melakukan satu kali, hamil itu perkara yang jauh sekali. Ini hanya alasan Keano saja agar Anin bisa lepas dari Calandra lalu bersama Keano, sampai kapan pun Anin tidak sudi dengan Keano. Anin sama sekali tidak menyukai, tidak memiliki rasa terhadap Keano.