“Saat ujian datang itu artinya kamu harus bisa berjuang agar kesetiaan itu tidak pudar.”
-S&A
“Kak, bau ketek!” Denisa meronta-ronta berharap Calandra melepaskan diri.
Sudah menjadi kebiasaan Calandra membuat adiknya marah karena ia sering sekali membawa kepala Denisa ke area ketiak. Ayah dan ibu hanya diam saja sesekali melirik ke arah mereka berdua, bagi mereka itu sudah menjadi kebiasaan. Calandra melepaskan Denisa tepat sang adik mencubit bagian perut sehingga membuat dirinya meringis kesakitan.
“Mau menikah tetap saja seperti ini,” cibir Denisa segera meninggalkan Calandra lalu mendekati Ibu dan Ayah.
“Cie sebentar lagi mau jadi Tante.” Goda Calandra
“Ih, tidak mau. Kalau Kakak punya baby harus panggil aku Kakak atau Teteh.” Tegas Denisa. Umurnya masih belia menurut Denisa padahal sudah 19 tahun, Denisa masih muda dan tidak ingin dipanggil Tante.
“Bagusan dipanggil Tante sesuai muka tua kamu itu.”
“Enak saja. Sudahlah ... Lebih baik aku latihan Piano daripada disini sama Kakak.” Ucap Denisa segera meninggalkan ruang keluarga.
Calandra mengikuti Denisa dari belakang lalu saat Denisa sudah duduk dan belum menyadari bahwa ada kakaknya dibelakang. Denisa pun membuka Piano dan jarinya mulai memencet not Piano, namun tiba-tiba dari belakang Alandra ikut memainkan not Piano dengan gerakan cepat sehingga menimbulkan suara yang tidak beraturan.
“KAKAKKKKKKK ...!” Geram Denisa. Denisa berbalik berniat menghabisi Calandra tapi Denisa terlambat Calandra sudah menjauhkan diri.
“Ayah ... Kakak jail ...” rengek Denisa pada Ayah
Sedangkan Calandra yang duduk disebelah ibu hanya tertawa saat berhasil membuat adiknya kesal.
“Alandra ....!” ibu Menegur putra sulungnya tidak membiarkan adu mulut mereka berakhir dengan Denisa menangis.
“Maaf Bu ... Aku senang kalau sudah menggoda Deni.” Ucap Calandra membuat ibu menggeleng tak percaya, untung saja ia tidak memiliki riwayat jantung jadi tidak perlu merasa kaget dengan kelakuan kedua anak mereka.
“Panggil aku Nisa, Kak. Jangan Deni nanti dikira tukang Bakso.” Ralat Denisa
“Bagus Deni contohnya gini, Deni pergi ke—”
“Alandra, Denisa sudah!” Kini giliran ayahnya yang memisahkan mereka, kalau sudah ayah bersuara keduanya pasti langsung diam.
“Pusing ibu melihat kelakuan kalian, Alandra sana ke kamar dan Denisa lanjutankan latihan Piano.” Ibu Melerai
“Iya Bu,” jawab Denisa
Bukan Calandra kalau langsung mendengar instruksi Ibu— Calandra kembali beraksi membawa kepala Denisa ke area ketiak.
“ALANDRA JELEK ...!!!” Teriak Denisa memenuhi ruangan keluarga. Jika kesal Denisa tidak akan memanggil Calandra dengan sebutan Kakak.
Ayah memperingati Denisa untuk segera berlatih Piano jangan meladeni Kakaknya lagi karena tidak akan berakhir jika terus seperti ini.
“Tidak ada tapi-tapian Denisa. Cepat latihan Piano!” tegas Ayah ketika Denisa hampir saja menolak. Ayah emmang penyabar tapi tegas juga. Sifat Ibu dan Ayah memang beda.
Denisa memberengut sedangkan Calandra terbahak didalam kamar ketika Ayah bersuara dan wajah Denisa berubah masam. Calandra membaringkan tubuh, mengamb
****
Ditempat lain.
Sepulang dari tempat Calandra kondisi bukan semakin membaik atau bahagia setelah menerima lamaran Calandra, Anin muntah entah apa penyebabnya. Sudah setengah jam berdiri didekat wastafel mencuci bibir berkali-kali membersihkan bekas muntahan.
“Masih mual nak?” tanya Mama Anin masih setia memijat tengkuk Anin.
Anin mengangguk lemah.
“Mama panggil dokter ya,”
“Tidak perlu Ma, asam lambung Anin naik jadi begini. Siang tadi Anin tidak makan hanya ngemil pas di rumah Mas Alandra.” Jawab Anin
“Jaga kesehatanmu, sebentar lagi akan menikah. Kalau Alandra tahu pasti marah besar.”
“Mama jangan bilang sama Mas Alandra, Anin nggak pa-pa sebentar lagi juga sembuh. Kasihan dia besok harus pergi kerja.”
“Iya-iya. Kamu istirahat dulu biar sembuh.” Suruh Mama Anin
“Ma ....”
“Kenapa?”
Anin sedikit tidak enak mengutarakan hal ini.
“Anin pengin makan Ketoprak yang pedas.” Jujur Anin dengan suara yang sedikit merendah.
“Tidak. Asam lambung sedang naik jangan makan terlalu pedas.” Tegas Mama
“Tapi Ma ... Anin pengin . Ya sudah deh nggak apa-apa kalau nggak pedas, yang penting ketoprak.” Rengek Anin. Setelah perutnya lebih mendingan, sekilas ia langsung terbayang ketoprak.
“Aneh banget kamu Nin, kaya orang ngidam. nanti mama suruh Mbak Ati beli.” Sahut mamanya.
“Yes. Terima kasih mam ...” Anin merasa lega ketika Mama mewujudkan keinginannya.
Sembari menunggu pesanannya Anin memilih duduk diranjang kamarnya, seperti biasa ia akan bermain ponsel. Sekarang ponsel adalah kebutuhan pokok manusia. Anin tersenyum ketika calon suaminya mengirimkan pesan.
From : Mas Alandra.
Rindu ingin segera menjadi pendampingmu agar malamku terjaga dan ketika pulang disambut oleh wajah cantik penghilang lelah.
Anin tersipu malu. Betapa beruntungnya Anin memiliki kekasih sebaik Calandra, selain memiliki ketampanan yang luar biasa Calandra paling jago merangkai kata.
Dasar gombal. Pasti dulu seorang pujangga cinta. :p
Anin mengirim pesan pada Calandra sebagai balasan.
From : Mas Alandra.
Besok ikut ke bandara dong ...
Tidak bisa L
Form : Mas Alandra
Baiklah ... Jaga hati, jaga semuanya sebentar lagi kita bersama. Semoga selalu dimudahkan. I love you Anin ..
Semua pesan yang dikirim oleh Alandra selalu membuat senyum Anin menghiasi bibirnya.
Siap bos. Too❤
From : Mas Alandra.
Mau video call beb ...
Dengan cepat Anin membalas sebelum pria itu menghubunginya.
Tidak ada VC malam ini!
Jika Anin mengiyakan ajakan Calandra untuk video call, Anin percaya yang ada besok pagi mereka akan terlambat masuk kerja. Mengingat Calandra menghubungi dirinya dari malam hingga keesokan paginya sambungan itu tidak terputus. Mereka tidur pun Calandra tidak berniat mamatikan sambungan sedangkan Anin selalu tertidur lebih dulu.
Ting.
Anin membuka ponsel lagi itu pasti balasan dari Calandra
From : 0825****
Malam itu aku tidak pernah lupa dengan apa yang telah kita lakukan, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu— Anin Metralia. Lepaskan Alandra atau aku yang akan membuat Alandra melepaskanmu.
Anin memejamkan matanya kenapa rasanya begitu sulit lepas dari pria yang selalu mengancamnya ini. Padahal setelah malam itu harusnya mereka sama-sama melupakan, Anin yakin baginya itu pertama kali dan tidak akan terjadi apa-apa dikemudian hari.
Anin lebih memilih mematikan ponsel daripada harus meladeni yang nantinya berujung rumit. Ia harus fokus pada pernikahannya dengan Calandra, perasaan bersalah pasti ada tapi Anin saat ini menjadi perempuan egois yang lebih mementingkan dirinya sendiri.
******
Calandra sudah rapi dengan seragam Pilot, pagi ini ia harus melakukan pekerjaan. Seperti biasa ada Ibu yang masih setia memasangkan Dasi dengan rapi. Calandra masih manja pada Ibu— Ibu selalu mengingatkan Calandra agar mandiri apalagi sebentar lagi akan menjadi seorang suami. Percayalah Calandra seperti ini hanya tidak ingin kehilangan momen bersama Ibu, kalau sudah menikah Calandra semakin susah bermanja dengan Ibu. Menikah membuat dirinya harus berubah lebih baik dari sebelumnya.
“Kak, Ibu mau ke apartemen boleh kan?” tanya Ibu
“Kenapa harus izin Bu?”
“Hunian itu milikmu, ibu wajib izin.” Jawab Ibu
“Boleh Bu, kapan pun Ibu mau kesana saja tidak perlu izin pada Alandra. Tumben mau kesana?”
“Mau bersih-bersih. Sebentar lagi kamu menikah.” Jawab Ibu lagi
“Tidak perlu Bu ... Biar nanti panggil cleaning servis saja.”
“Ibu bosan di rumah, Ayah akan ke Bandung untuk mengurus restoran sebelum ditinggal. Sehabis fitting baju bersama Anin sisa waktunya akan Ibu habiskan di Apartemen.” Ucap Ibu
“Tidak perlu Bu, nanti Ibu sakit.”
“Dasar posesif. Mirip ayah.” Ibu terkekeh melihat Calandra yang selalu khawatir dengannya.
“Karena kami sepakat tidak mau melihat wanita yang kita cintai sakit.” Jawab Calandra
“Ibu senang anak laki-laki ibu seperti ini, merasa terlindungi. Tapi tenang saja ini tidak akan lelah.” Ibunya menyakinkan Calandra.
Ibu telah selesai memasangkan dasinya dan saat inilah Calandra kembali harus meninggalkan Ibu untuk beberapa hari, bahkan beberapa minggu kedepan.
“Alandra pergi dulu Bu ...” Calandra mulai menyalami.
“Hati-hati dalam bekerja. Fokus!”
“Siap Bu Bos!” tegas Calandra
Setelah Ibu beralih dengan Ayah yang sedang fokus makan tapi ditunda ketika Calandra hendak menyalami.
“Hati-hati dijalan ... Kabari jika landing.”
“Siap pak pilot senior.”
Ayah tersenyum. Ia jadi teringat saat dimana pernah memakai seragam kebanggaannya sebelum memutuskan pensiun.
“Flight attendant, prepare for arrival ...”
“Cabin ready for landing ...”.
Kemudian keduanya terkekeh setelah mengucapkan kata diatas, itu semua kalimat perintah mereka untuk pramugari.
“Saya lanjut bekerja untuk beberapa hari. Sampai jumpa kapten Abid Pranaja.” Kata Alandra.
“Baik. Cepat selesaikan tugasmu, kapten Calandra Pranaja lalu segera pulang bertemu kami lagi.” Balas Ayah
“Siap!” Tegas Calandra
****
Pagi itu sinar berwarna Jingga masih begitu terlihat diatas langit sana, begitu indah dan menawan bahkan menenangkan sekali bagi gadis berusia dua puluh dua tahun bernama Senjarina ini. Ia selalu tersenyum tatkala memandangi senja pagi hari atau sore menjelang magrib. Pagi-pagi buta terpaksa ia sudah berada di bandara untuk melakukan perjalanan menuju Singapura untuk melakukan pengobatan.
Seperti biasa ditemani Bi Mina dan suaminya Pak Beni yang menjadi supir pribadi Senja. Mereka bekerja bukan satu tahun tapi sudah bertahun-tahun semenjak bi Mina masih muda hingga sekarang— hingga Senja dewasa.
“Bi, jadi bagaimana?” tanya Senja takut-takut— Bi Mina dan pak Beni lupa membawa kursi roda milik Senja dan yang khawatirkan saat ini satu; takut tertinggal pesawat. Kursi roda itu tertinggal di mobil.
“Sabar sedikit Non, Pak Beni sedang mengambil. Ini Bibi telepon terus agar mempercepat jalannya.” Jawab Bi Mina
“Kenapa bisa lupa Bi, padahal sudah jelas kalau kakiku ini cacat. Menunggu disini tidak enak Bi ...”
“Maaf Non ... Mau bibi gendong?” tawar Bi Mina anggap saja ini tanda maaf karena teledor tidak membawa kursi roda untuk Senja.
“Jangan Bi, berat.”
Mereka memilih menunggu pak Beni datang di luar meski suasana pagi ini masih sedikit dingin tapi tetap saja Senja tidak nyaman disini lebih baik ia masuk ke dalam saja. Kehidupan Senja membosankan hidup hanya ditemani mereka yang bukan keluarga kandung Senja sendiri. Semua orang rumah tidak ada yang peduli dengan keadaan Senja, untuk sekedar mengantar Senja untuk pengobatan saja Senja canggung menyuruh salah satu dari mereka untuk menemani. Jawaban akan selalu sama maaf karena kesibukan.
“Maaf ... Apa kalian membutuhkan bantuan?”
Keduanya sontak menoleh dan mendongak, seorang pria didepan mereka berseragam Pilot dari salah satu maskapai.
“Non ... Ada mas pilot.” Bisik Bi Mina
“Tidak ada.” Jawab Senja pada pria berseragam Pilot ini
“Ada Mas, kamu ingin masuk ke dalam untuk menunggu. Kasihan Non Enja jika di luar angin cukup besar takut dia sakit.” Ucap Bu Mina tiba-tiba membuat Senja ingin bersuara tapi pria itu menyela lebih dulu.
“Saya bantu kalian.”
“Tidak usah nanti merepotkan, lebih baik Anda segera masuk ke dalam nanti terlambat.” Tolak Senja halus
“Tidak pa-pa. Saya gendong kamu masuk ke dalam sana.”
“Tidak perlu. Saya bisa menunggu supir disini.” Tolak Senja lagi
“Jangan keras kepala, kesehatan itu penting.”
“Tidak pa-pa Non. Kalau Non sakit kasihan ...” Bi Mina terlihat begitu keukeh meminta bantuan pada pria ini padahal Senja tidak pa-pa menunggu pak Beni disini. Senja tidak ingin merepotkan orang lain.
“Ayolah ...”
Dan akhirnya Senja mengiyakan kalau terus menolak pria berseragam pilot ini tidak akan pergi dari hadapan Senja. Ucapan terima kasih telah Senja lontarkan dan balasan pria itu menyuruh Senja jika mengalami kesulitan meminta bantuan pada petugas bandara, mereka pasti akan membantu Senja. Senja menatap pria berseragam Pilot yang perlahan menghilang dari hadapan Senja.