“Mencintaimu adalah pilihan. Hidup bersamamu adalah tantangan.”
-S&A-
Senyum itu sudah menghiasi bibir Calandra Pranaja sejak pendaratannya berhasil di bandara Soekarno Hatta. Bersamaan dengan pendaratan ia juga telah usai bertugas. HariHari ini adalah hari yang sangat ia tunggu, tangan Calandra tak lepas mengenggam kotak berwarna merah itu. Seperti janjinya pada ayah dan ibu ia akan mengungkapkan keinginanya setelah selesai bertugas pada perempuan yang sudah ia kenal bahkan sempat dekat saat sekolah dasar.
Anin metralia wanita pertama yang mampu membuat Calandra menutup hati dan tidak memberi kesempatan pada wanita lain untuk menepati hatinya. Calandra menggeret kopernya dengan cepat, meninggalkan temannya yang lain. Beberapa pramugari bahkan para pengunjung di Bandara tak lepas pandangan ketika Calandra melewati mereka.
Ketampanan yang Calandra miliki adalah warisan dari ayahnya yang juga mantan pilot. Meskipun ayahnya sudah pansiun dan sekarang lebih fokus pada bisnisnya tetapi tetap saja nama Abid Pranaja masih dikenal banyak orang. Ia bangga menjadi anak dari seorang pilot hebat seperti ayah.
Bukan berarti Calandra masuk dunia penerbangan karena ayahnya, tentu saja tidak. Ayah Calandra tidak campur tangan mengenai ini. Ayah menyuruh agar Calandra berjuang sendiri dari masuk ke sekolah penerbangan, hingga bisa bekerja disalah satu maskapai penerbangan yang namanya cukup terkenal di Indonesia. Semuanya tidak mudah ia dapatkan.
“Mas Alandra mau pulang?” Tanya salah satu pramugari yang kebetulan terbang dipesawat yang sama.
“Iya.” Jawab Alandra singkat
Pramugari bernama Putri Ayu Lesmana tersenyum. “Dijemput ya?” tanyanya
“Iya, dijemput calon istri saya. Saya duluan Put ...” Kata Calandra. Bukan Calandra tidak punya sopan santun dengan meninggalkan pramugari itu. Tetapi ada satu hal yang membuat dan berusaha untuk menghindar dari perempuan. Saat ia menemukan wanita yang ia cintai, berarti ada hati yang harus ia jaga. Sebisa mungkin Calandra jaga hati itu agar tidak terluka.
Kesannya terlalu berlebihan tapi percayalah Alandra juga memiliki peran untuk tidak membuat wanita lain menaruh harapan padanya. Calandra sudah sampai dipintu keluar. Wanita memiliki rambut sebahu dengan gaya pakaian seperti wanita pada umumnya. Ia pun mendekat ke arah Calandra.
“Welcome back mas ...” sambut Anin biasa saja seakan kejadian lalu sudah dilupakan begitu saja.
“Kangen ...” balas Calandra
“Balasan tidak nyambung sekali mas.”
“Tidak pa-pa. Aku benar-benar kangen kamu.” Ucap Alandra
“Aku juga ... Kamu kuat kita terus-menerus tanpa komunikasi kalau kamu sedang tugas?” Anin menatap kedua mata Alandra serius.
“Yaps. Biar ada sensasi sendiri, komunikasi secara terus-menerus akan cepat bosan.”
“Baiklah ... Kita lihat sampai berapa lama bertahan seperti ini.”
Alandra mengacak rambut Anin gemas.
“Ibu tidak jadi ikut?” tanya Alandra. Matanya melirik kanan-kiri mencari keberadaan ibu yang belum terlihat. Biasanya ibu selalu ikut menjemput Alandra. Meskipun wanita paru baya itu harus ikut ayahnya mengembangkan bisnis kuliner tetapi tetap saja ibu bisa meluangkan waktunya menjemput Alandra.
Nama asli memang Calandra tapi lebih suka dipanggil Alandra agar tidak mirip panggilan perempuan entahlah kenapa ayah dan ibunya ini menamai Alandra harus ada kata Cala didepannya.
“Ikut. Ibu sedang ke toilet.” Jawab Anin
“Boleh peluk?” tanya Alandra takut-takut.
“Tumben izin,” Sindir Anin
“Agar kamu tidak marah.” Jawab Alandra
Anin tahu, Alandra memang selalu meminta izin melakukan apapun seperti memeluk. Hanya pelukan yang Anin berikan tidak ada lagi selain itu, Alandra benar-benar menjaganya.
“Iya deh ... Sini katanya peluk,” Anin merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Alandra.
Detik kemudian Calandra langsung memeluk Anin dengan erat, menumpahkan seluruh kerinduannya lewat pelukan. Sebentar lagi perempuan ini akan menjadi bagian dari keluarga Pranaja.
“Alandra ... Jaga diri dong. Masa pelukan di tempat umum?”
Pelukan mereka terlepas ketika mendengar suara ibu memperingati keduanya.
“Ah, iya maaf Bu. Aku rindu Bu ...” Alandra beralih memeluk ibunya erat.
Ibu membalas pelukan Calandra. Usia pernikahan dengan suaminya sudah cukup lama ternyata, padahal ia baru merasakan tidak lama Calandra masih dalam gendongannya tapi sekarang sudah besar, menjadi pilot seperti ayahnya. Bahkan sifat keduanya sama.
“Denisa mana Bu?” Tanya Alandra. Denisa adik Alandra berusia 19 tahun memang keduanya memiliki jarak 9 tahun, umur Alandra sekarang 28 tahun.
“Tidak mau ikut. Sedang belajar piano.” Jawab ibu
Calandra mengangguk paham, Denisa memang sedang fokus les piano agar ia bisa mengikuti ajang perlombaan piano yang katanya akan digelar tahun ini.
“Ayah?”
“Di rumah, kamu lupa?”
Hampir saja Calandra melupakan ini padahal ia sendiri yang membuat rencana.
Calandra menyengir. “Maaf Bu ... Maklum kelamaan diudara.” Ucap Calandra.
“Untung bukan karena faktor umur.”
“Aku masih muda Bu, 17 tahun.” Sahut Alandra
“Berarti adiknya Denisa dong?”
“Bisa jadi ...” jawab Calandra sembari terkekeh.
Mereka mulai meninggalkan bandara Soekarno Hatta. Calandra tidak sabar untuk segera sampai di rumah.
“Sini koper kamu biar ibu yang bawa,” Pinta Ibu
“Tidak usah Bu ... Anin saja yang bawa ya,” Anin meminta dengan sopan.
“Baiklah ... Anggap saja belajar menjadi istri seorang pilot.” Ucap ibu
Anin mengangguk malu-malu.
“Calon istri yang baik.” Puji Alandra
Setiap pujian yang Calandra lontarkan pasti akan membuat pipi Anin memerah dan detak jantungnya akan mempacu lebih cepat dari biasanya.
Kembali pada Calandra.
Pertemuan dengan Anin memang mudah sekali, berawal dari Alandra yang datang ke bank tempat Anin bekerja lalu ada sedikit masalah dengan ATM milik Calandra— berawal dari komunikasi biasa menjadi komunikasi intens dan memutuskan menjadi sepasang kekasih.
“Kalau bisa kamu jangan lama-lama berpacaran nak, ayah tidak mau kamu menjadi perusak anak perempuan orang. Jika sudah cocok dan yakin bawa perempuan lebih serius atau lamar dia untuk menjadi istrimu.”
Itulah nasehat dari Ayah Calandra.
Alandra bersyukur ketika Ayah dan Ibu langsung menyukai Anin bahkan setuju untuk merestui hubungan keduanya. Menurut ibu Anin perempuan yang memiliki sopan santun tinggi. Masuk kedalam hati Anin salah satu hal terindah bagi Calandra, apalagi jika Anin bisa menerima niat baiknya.
********
Calandra sengaja membawa Anin ke rumahnya agar tidak curiga. Ibu masuk lebih dulu sedangkan Calandra dan Anin masih diam didekat mobil sembari tersenyum-senyum tidak jelas.
“Kamu cantik.” Puji Calandra
“Kamu kenapa mas kok dari tadi gombal terus?” Anin merasa aneh, Anin juga gugup tapi Calandra tidak peka terus saja membuat Anin tersipu.
Calandra menarik hidung Anin dengan gemas. “I love you Nin ...” Ucap Calandra
“Me too mas jelek ..”
Calandra terkekeh dengan ejekan Anin. Tanpa menunggu jawaban Anin selanjutnya Calandra membawa Anin masuk ke dalam rumahnya.
Anin sedikit bingung dengan keadaan rumah Calandra yang begitu sepi padahal baru saja mereka berpisah.
“Kalau mau minum ambil sendiri, aku mandi dulu biar bersih dan wangi.” Ucap Calandra
Anin mengangguk, dan langsung duduk di sofa.
Calandra menaiki anak tangga dengan cepat mencari keberadaan orang tuanya.
“Ayah ... Ibu ...” panggil Calandra sembaru mengetuk pintu kamar keduanya
Pintu terbuka disana ada ayah yang pertama kali Calandra lihat.
“Sudah siap?” tanya Ayah
“Mau mandi dulu yah,”
“Tidak perlu. Sekarang saja berangkat.” Ujar Ayah
“Jangan dengarkan Ayah, sana mandi yang bersih. Masa mau bertemu calon mertua belum mandi.”
“Biar turun-temurun Bu,”
“Tidak Yah. Jangan buat malu keluarga.”
Calandra mendadak pusing melihat keduanya ribut hanya masalah sepele. Akhirnya Calandra berjalan ke arah kamarnya untuk mandi lalu bertemu mereka. Hari ini juga sudah mulai gelap.
“Kita tunggu di bawah ya,”
“Iya.” Balas Calandra
Calandra menuruni anak tangga dengan pelan, sangat pelan bahkan ia sempat berhenti lama sekali menetral rasa gugupnya. Calandra sudah bersih dengan pakaian lengkap dan rapi. Calandra menggosokkan kedua tangan untuk menghilangkan gugup. Calandra kembali yakin ia pasti bisa dan semuanya akan berjalan sesuai rencananya. Calandra berhasil menuruni anak tangga, ia bisa melihat disana raut wajah Anin menampakan kebingungan. Bukan hanya kehadiran ayah dan ibu di ruang tamu tetapi disana ada kedua orang tua Anin.
Calandra menyalami kedua orang tua Anin. Lalu ayah Calandra mengintruksi agar kedua orang tua duduk membiarkan anak mereka berdiri. Calandra mendekati Anin yang semakin bingung dengan suasana seperti ini, ada apa sebenarnya. Calandra tersenyum sekilas, lalu mengambil kedua tangan Anin.
“Bingung?”
Anin mengangguk. Mulutnya tak mampu berbicara.
“Anin jangan bicara sebelum aku selesai berbicara, simak semuanya baik-baik. Anin Metralia .... Tepat dihari ini aku sengaja membawa mama dan papamu ke rumah sebagai saksi. Jangan cemas sebelumnya aku sudah mendatangi kedua orang tuamu untuk meminta restu, bahkan minta kamu untuk menjadi bagian dari hidupku. Mereka menyetujui bahkan sangat setuju. Aku berterima kasih kepada kedua orang tuamu yang telah menciptakan wanita sempurna dimataku. Hari ini aku ingin mengungkapkan isi hati— aku mohon dengarkan baik-baik. Meeting you was fate, becoming your friend is choice, but falling in love with you is out of my control. Anin .... Will you marry me? maukah Anin menjadi bagian hidupku dan menjadi ibu dari anak-anakku," Ucap Calandra dengan lancar tanpa salah kata sedikit pun. Calandra membuka kotak merah itu didalamnya ada cincin satu pasang.
Anin tidak tau harus berbuat apa, ia bahagia sangat bahagia ia tidak menyangka bahwa Calandra melamarnya. Jujur saja selama ia tidak pernah berpikir bahwa Calandra akan melamar dalam waktu secepat ini. Ketika peristiwa dua bulan lalu tiba-tiba menghantui Anin tapi Anin segera menepis, semua sudah selesai dihari itu juga agar tidak saling menganggu. Anin yakin Calandra akan menerima keadaan Anin nantinya. Satu tahun waktu yang tidak singkat, Anin tidak mau menyakiti, meninggalkan Calandra begitu saja. Anin belum menjawab, ia menoleh ke arah mama, dan papanya. Meminta jawaban dari mereka.
Mereka tersenyum lalu mengangguk.
Memejamkan mata sebentar, restu orang tuanya didapatkan. Akhirnya Anin mengatakan 'iya'.
“Yes i do ... Tidak ada alasan untuk menolakmu.” Jawab Anin. Detik kemudian air matanya lolos dari kedua matanya.
“Terima kasih ...” ucap Calandra terharu. Calandra menahan diri untuk tidak memeluk Anin didepan orang tuanya.
Inilah yang disebut kejutan kecil untuk Anin dari Calandra.
Bahagia?
“Cinta itu ada dan mencoba menjaga tapi ketika harus mengkhianati bisa saja itu tidak sengaja.”
-S&A-
Acara lamaran yang dihadiri keluarga keduanya berjalan lancar, restu sudah dapat Calandra dapatkan. Bukan hanya itu terlihat kedua orang tua Anin begitu excited tentang acara pernikahan yang digelar bulan depan. Baik keduanya tidak mau menunggu lama apalagi ibu Calandra yang menyuruh segera karena musim liburan Calandra takut sibuk dan tidak bisa mendapatkan cuti diwaktu yang mereka inginkan.
Semuanya setuju akan itu. Mereka menikmati cemilan yang dibuat oleh Ibu, saling melemparkan tawa dan juga obrolan hangat, sehangat kopi dan teh yang tersedia di atas meja. Tiba-tiba Anin merasa ada yang tidak beres dengan perutnya, hingga akhirnya dia permisi untuk pergi ke toilet.
Anin berjalan dengan cepat ke arah toilet, gejolak pada perutnya tidak bisa ia tahan— memuntahkan semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya. Anin menyandarkan kepalanya dibelakang pintu, setelah mengeluarkan ia merasa jauh lebih baik. Ada apa dengan dirinya? Bersamaan dengan itu ponsel Anin berdering menandakan satu pesan masuk.
From : 0825******
TINGGALKAN CALANDRA ATAU AKU AKAN MEMBUAT KELUARGAMU HANCUR!
Anin menyandarkan badannya dipintu toilet, pesan ini lagi yang ia dapatkan padahal mereka sudah sepakat untuk tidak membahas ini. Tidak melarang Anin dan anggap semua tidak pernah terjadi, Anin menyesal. Semua yang ia lakukan perlahan mulai terdampak pada dirinya.
Jangan macam-macam. Jangan ganggu hidupku lagi, kita sudah sepakat tentang hal ini. Calandra dan aku akan menikah.
Anin membalas pesannya.
Drrrtt ... Drrrtt ....
0825***** is calling ...
Anin menolak panggilan tidak penting itu. Memilih segera keluar agar mereka tidak curiga. Anin melihat ke arah kaca, penampilannya tidak berantakan.
Ting.
Saat Anin ingin keluar dari kamar mandi sura ponselnya kembali membuat Anin untuk langkahnya.
Bagus pesanku tidak dibalas, telepon tidak diangkat. Ternyata kamu ingin aku memulai permainan itu.
Anin rasanya ingin menangis segala ancaman yang diberikan membuat Anin merasa takut.
******
Calandra menyusul Anin, ia sedikit khawatir karena cukup lama Anin ada di dalam kamar mandi. Apalagi ia sempat mendengar suara Anin seperti sedang muntah.
Tok .....Tok ... Tok
“Sayang ...” panggil Calandra sedikit mengeraskan suara.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tok .... Tok. .. Tok ...
“Tunggu ....!!” seru Anin dari dalam
Calandra kembali merasa lega saat didalam sana sudah menyahut. Pintu itu terbuka— Calandra langsung menangkup wajah calon istrinya.
“Are you okay?” tanya Calandra khawatir
Anin mengangguk.
“Kenapa muntah?” Tanya Calandra.
“Sepertinya Maag kambuh.” Jawab Anin. Sebelumnya Anin memang memiliki masalah pada lambungnya, sering sekali kumat secara tiba-tiba.
“Apa perlu kedokter?”
“Tidak perlu. Sebentar lagi juga sembuh, aku ada obatnya.” Jawab Anin
“Sekarang juga harus minum obat, di depanku.” Suruh Calandra sembari menarik Anin menuju dapur untuk mengambil air hangat.
Setelah itu Calandra membawa Anin ditempat ayunan milik Denisa, ia sudah izin kepada kedua orang tuanya untuk berbicara dengan Anin berdua. Disinilah mereka duduk Calandra masih menikmati wajah cantik calon istrinya.
“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Calandra
“Bahagia, sedih. Terima kasih atas kejutan ini Mas ... Terima kasih sudah mencintaiku hingga detik ini.” Ucap Anin tulus
“Sudah pernah ku katakan apapun yang terjadi aku akan memperjuangkanmu, Nin ...” Jawab Calandra
Anin melepaskan diri dari Calandra, berganti posisi menjadi saling bertatapan. Anin mengenggam tangan Calandra.
“Mas ... Jika suatu saat aku mengecewakanmu, bahkan menyakiti Mas Alandra apakah mas masih menerimaku?” Kedua mata mereka saling bertemu.
“Tergantung. Jika rasa sakit itu tidak terlalu dalam bagiku, aku akan tetap menerimamu ... Tapi aku berharap sampai kapan pun kamu tidak menyakitiku, Nin ..” Jawab Calandra.
“Apa kamu siap dengan segala kekurangan ku?” tanya Anin lagi
Calandra melepaskan tangannya dari genggamannya beralih meletakan kedua tangannya dipundak Anin.
“Jika aku tidak serius hubungan kita tidak akan sejauh ini, aku menerima segala kekuranganmu.” Tegas Calandra
Anin tersenyum ia merasa lega. Calandra mencintainya bukan karena nafsu tetapi laki-laki itu mencintainya dengan tulus. Anin berterima kasih kepada Tuhan menghadirkan Calandra dalam hidupnya, ia yakin semuanya akan baik-baik saja.
Bersamaan dengan waktu menjelang malam, langit biru perlahan berganti warna jingga. Sorot cahaya jingga begitu jelas mereka nikmati saat ini.
“Kamu itu seperti Senja di atas sana Nin, sangat indah tapi bedanya kamu keindahanmu tidak pudar.” Ucap Calandra
Lagi-lagi tangan Anin spontan memukul bahu Calandra, entahlah Anin tidak tahu kenapa Calandra suka sekali menggombal.
“Kamu kenapa suka sekali memukulku?”
“Gemas. Kamu tidak cocok jadi pilot lebih baik jadi raja gombal.” Jawab Anin
“Aku sudah jadi raja tapi dihatimu.”
“AWW ... Sakit sayang ..” Berlama-lama dengan Anin sepertinya Calandra harus siap segalanya. Anin suka sekali memukul, mencubit badannya saat Calandra mencoba menggombalinya. Tapi melihat raut wajah memerah Anin membuat Calandra bahagia.
“Cubitanmu lumayan menyakitkan seperti cubitan Ibu pada Ayah.”
“Memang Ibu sering mencubit Ayah?” tanya Anin
“Sering. Ayah memiliki sifat menyebalkan menurut ibu.” Jelas Calandra
Walau pun Ibu dan Ayah tidak muda lagi. Tapi keromantisan mereka tidak pernah pudar, Ayah sangat menyayangi Ibu. Bahkan Ayah lebih sering mengalah sesalah apa pun sikap ibunya.
“Mas sudah menyerahkan semua persiapan pernikahan sama ibu. Jadi kalau ada apa-apa sama ibu ya. Mas tidak bisa menemani kalian harus mengejar waktu dan jadwal agar bisa cuti sesuai rencana." Jelas Calandra.
“Anin mengerti Mas, semangat mas pilot ...!!” seru Anin
“Semangat dong ...” Balas Calandra
****
Seorang gadis duduk dikursi roda dengan kaki masih terbungkus perban, diam tanpa kata tapi tangan masih setia menganggambar dikertas kosong berwarna putih. Hari-hari yang dulu indah kini terasa hampa, tidak bisa melakukan aktivitas normal seperti yang lain.
“Non, mau jus Alpukat?”
“Nanti saja Bi, masih belum pengin.” Jawabnya
Nama Senjarina hidup bertiga bersama pengasuh sejak kecil serta supir, Senja selalu menikmati kesendirian ini meski membosankan. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kakinya pulih.
Senja menaruh pensilnya, keahlian ini sudah dimiliki sejak ia masih sekolah menengah pertama. Berawal dari hobi lalu Senja menjadi pintar menggambar dikertas putih ini, ia akan mewarnai dengan pensil gambar. Selama keadaan seperti ini Senja lebih banyak mengisi waktu menggambar saja, sementara belum diperbolehkan belajar jalan.
“Mau cemilan Non?” Bi Mina menawarkan lagi
“Nanti Bi.” Jawab Senja lagi
Bi Mina memahami dan keluar dari kamar Senja. Menunggu waktu sore menjelang malam, seperti biasa ia akan keluar untuk menikmati warna Jingga di atas sana.
Senja tidak sabar.
Warna Jingga perlahan mulai muncul diatas sana, Senja tersenyum bahagia tatkala Jingga itu tidak malu lagi untuk keluar. Begitu indah dan patut untuk kita syukuri— setiap hembusan nafas yang tercekat, setiap rasa sakit, trauma yang dialami seakan hilang dalam sekejap ketika ia bisa menikmati Senja sore ini.
“Suka senja sore ini Non?” tanya Bi Mina
“Sangat suka Bi,” jawab Senja
Disela-sela menikmati Jingga Silangit tangan Senja tidak berhenti untuk melukis Senja diatas kertas kosong berukuran A4. Bi Mina tersenyum memandangi hasil karya tangan Senja yang tidak pernah terlihat buruk dimatanya.
“Non kenapa suka senja?”
“Karena Senja itu indah Bi, aku ingin menjadi senja yang selalu muncul kepermukaan meski sebentar tapi selalu berkesan, dirindukan ketika hilang.” Jawab Senja
“Non sudah menjadi senja buktinya nama Non juga Senja.”
“Hanya nama Bi,” Sahut Senja
Senja melanjutkan lagi melukis setiap apapun yang ia lukis berharap yang melihat bisa menyukainya. Ketika ada senja disore ini Senja selalu berharap warna Jingga mampu menjad pelipur lara.