Langit hari ini tidak begitu bersahabat. Tampak segumpal awan abu-abu memenuhi luasnya langit yang membentang.
Selang beberapa menit, rintik hujan pun mulai turun. Seakan alam juga turut bersedih karena Kirana yang kehilangan ibunya untuk selamanya.
Gadis itu berjalan di atas tanah pemakaman, menuju liang lahat tempat peristirahatan terakhir ibunya.
Kirana mendekap sebuah pigora yang di dalamnya terpasang foto seorang wanita paruh baya yang sangat cantik. Matanya menatap kosong. Bahkan air matanya seperti sudah kering, dan tak sanggup lagi untuk menetes. Semua terasa begitu berat untuknya.
Semua orang mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya sang ibu. Namun tak satupun orang yang bisa membuatnya bangkit dari kesedihan itu.
Kirana menjadi sosok pendiam, dan dingin. Ia tak lagi berharap kepada dunia, yang akan memberinya kebahagiaan. Ia hanya menjalaninya, mengikuti alur, entah kemana sang waktu akan membawanya pergi?
Kirana hanya pasrah, tanpa ingin berontak. Karena begitulah hidup. Sekuat apapun ia ingin melawan takdir, semua akan sia-sia. Karena kehidupan hanya untuk di jalani, bukan di hindari.
...
Kring...Kring...
"Kirana...!!!" teriak Reina sembari membunyikan bel sepedanya.
"Nah itu Reina sudah datang. Kirana pergi dulu yah!"
Kirana mencium punggung tangan ayahnya dan pergi untuk sekolah.
"Berhati-hatilah nak, kau harus semangat belajar!" tutur Prawira dengan senyumnya, yang membuat Kirana selalu bersemangat. Tak ada lagi yang ia andalkan. Kecuali hidup bahagia dengan sang ayah.
"Iya ayah. Daa..." teriak Kirana.
"Wahh Kirana, kau terlihat begitu segar pagi ini!" kata Reina.
"Bukankah ini hari pertama kita masuk kelas 12, kita harus semangat. Ayo berangkat!" terang Kirana dengan penuh semangat.
Kirana Edrea. Gadis berambut panjang itu memang terlihat sangat cantik. badannya tidak terlalu kurus maupun gemuk, ia memiliki tubuh yang ideal dan tinggi.
Kulitnya yang putih bersih membuatnya banyak di kagumi oleh banyak pria. Apalagi dengan lesung pipi di sebelah kiri membuat poin kecantikannya bertambah.
Namun karena sikap Kirana yang sangat dingin, mereka kesulitan untuk meluluhkan hatinya. Mereka lebih memilih untuk memandang dari jauh, ketimbang sakit hati saat Kirana mengacuhkan mereka.
Kirana menyukai semuanya yang berwarna jingga. Bahkan tas dan jaketnya juga berwarna jingga.
Karena ia menyukai senja. Senja baginya seperti keajaiban Tuhan, di mana di waktu yang singkat itu, langit yang tadinya berwarna biru berubah menjadi jingga, meskipun kemudian langit malam akan merenggutnya. Kirana tetap percaya, bahwa kebahagiaan itu pasti ada. walaupun sebentar.
Ia yakin kehidupannya suatu saat akan berubah menjadi indah, seperti halnya senja.
...
Di sisi lain, keluarga Liandra baru saja pindah ke desa itu. Bukan sembarang keluarga. Mereka adalah keluarga konglomerat pemilik perkebunan teh serta pabrik yang ada di wilayah tersebut.
Mereka memiliki putra. Keenan Liandra, pria tampan putra dari Rudi Liandra.
Seorang pengusaha sukses yang baru saja membeli perusahaan teh yang akan bangkrut yang dulu adalah perusahaan tempat Prawira bekerja.
Pemiliknya yang lama benar-benar sudah tidak bisa mempertahankannya lagi karena ia memiliki banyak hutang. Sehingga perusahaan itu dijual dan di beli oleh Rudi Liandra.
Rudi Liandra merasa sangat bahagia saat mengetahui daerah perusahaan barunya terletak di daerah pegunungan yang begitu indah dan nyaman.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk membeli rumah baru di sekitar perkebunan teh dan mengajak semua keluarganya pindah.
Namun Alena, adik Keenan tidak menyetujuinya. Ia merasa tinggal di pegunungan adalah yang menyebalkan karena terlalu jauh dari pusat kota dan pusat perbelanjaan.
Alena terpaksa menuruti perkataan ayahnya karena tidak ada pilihan lain. Begitu juga dengan Keenan yang akan pindah ke sekolahnya barunya.
Hari ini adalah hari pertamanya. Keenan mengendarai mobilnya perlahan, sembari menikmati keindahan alam saat menuju sekolahnya.
Ia sengaja membuka kaca mobilnya agar ia bisa merasakan kesegaran udara pagi hari.
"Hmm keputusan ayah untuk tinggal di sini adalah keputusan yang tepat. Aku sudah mulai muak dengan kehidupan kota yang rumit" gumamnya.
Namun saat mobilnya melewati tikungan, ia melaju terlalu menepi, akhirnya dengan tidak sengaja mobilnya menyerempet para pesepeda yang akan menuju ke sekolah.
"Awww....!!"
Keenan kehilangan keseimbangan dan mobilnya menabrak Kirana. Dengan cepat Kirana mengerem sepedanya. Namun tetap saja ia tidak bisa menjaga keseimbangannya, dan...
"Bruk...!!!"
Kirana terjatuh.
"Aww!!" Kirana berteriak sambil memegangi lututnya.
Seketika Keenan merasa terkejut saat mobilnya ternyata menabrak seorang gadis yang menaiki sepeda. Ia pun segera turun dari mobilnya dan memeriksa keadaan.
"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja!" terang Keenan sembari mengulurkan tangannya. Berniat untuk membantu Kirana berdiri.
Namun Kirana hanya meliriknya tanpa berkata apa-apa. Ia kemudian bangkit sendiri dan membersihkan bajunya yang kotor. Dan setelah itu Kirana kembali menaiki sepedanya lagi, serta mengabaikan Ken.
'Wahhh dia sangat tampan, bagaimana mungkin di tempat ini ada pria setampan dirinya' batin Reina mengagumi Keenan.
"Hei, kenapa kau diam? aku benar-benar minta maaf. Aku berjanji akan membayar ganti ruginya!" teriak Keenan, namun Kirana tidak menghiraukannya dan melajukan sepedanya.
"Tunggu, siapa namamu?"
"Aku Reina"
"Bukan kamu, tapi dia. Gadis yang aku tabrak!" terang Ken.
"Oh, dia Kirana. Sudahlah dia baik-baik saja. Kirana memang seperti itu. Aku harus mengejarnya, sampai jumpa!"
"Dasar, gadis aneh. Apa dia bisu?" gerutu Ken kesal.
Ken pun masuk ke dalam mobilnya, dan bergegas menuju ke sekolah barunya. Ia berharap bisa bertemu lagi dengan Kirana dan meminta maaf atas kesalahannya.
Baru kali ini ia melihat wanita yang mengabaikannya, biasanya setiap wanita yang melihatnya, mereka akan langsung terkagum dan selalu ingin mendekati Ken.
Namun kali ini benar-benar berbeda. Wanita yang ia temui bersikap sangat dingin.
'Apa Mungkin dia bersikap dingin karena aku menabraknya?'
'Atau mungkin dia mempunyai beban hidup?'
'Ahh... sudahlah Kenapa aku selalu memikirkannya? bukankah biasanya aku yang cuek kepada wanita yang tidak aku kenal?'
Ken terus saja bergumam tak penting, sambil menyetir mobilnya.
Tak berselang lama Ken pun sampai di sekolah barunya, tertulis diatas gerbang sekolahnya. 'SMA Nusa Bangsa.'
Dan Ken membelokan mobilnya masuk ke dalam gerbang itu.
Ken terpaksa sekolah di sini karena hanya inilah SMA satu-satunya yang berada di daerah tersebut.
Kalaupun ada yang lain, itupun akan memakan waktu perjalanan yang sangat lama. Karena terletak sangat jauh dari rumah Ken. Kebiasaan Ken yang sering bangun siang memaksanya untuk tidak memilih sekolah yang jauh dari rumahnya.
Ken masuk ke area sekolah, ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir sekolah. Namun ia merasa sangat bingung. Bagaimana tidak? hanya mobil Ken satu-satunya yang berada di situ.
Sedangkan semua murid hanya memakai sepeda ataupun motor. Ken merasa sangat bingung apakah ia sudah benar memarkir mobilnya di situ? tiba-tiba seorang satpam pun menghampirinya.
"Maaf Mas sepertinya anda salah memarkir. Ini adalah tempat parkir untuk sepeda dan motor, jika anda membawa mobil tolong parkir di sebelah sana di tempat parkir para guru!" perintah satpam tersebut.
Ken menatapi satpam itu. Ia merasa heran. Bagaimana bisa ia harus parkir di tempat parkir guru?
Keadaan ini berbalik jauh dari sekolah Ken yang lama. Bahkan di sekolah Ken yang lama semua murid memarkirkan mobilnya berjajar-jajar.
Mereka juga selalu ingin berlomba-lomba membeli mobil bagus. Namun Ken memahaminya. Ini adalah sekolah di sebuah desa terpencil. Mana mungkin semua orang sanggup membeli mobil mahal untuk anak mereka.