Ken tetap saja melangkahkan kakinya, ia kemudian mencari ruang kepala Sekolah. Sampai akhirnya dia menemukannya dan kemudian masuk ke dalam ruangan itu, namun ruangan itu kosong. Tidak ada seorang pun di dalamnya.
Tiba-tiba seorang pegawai kebersihan datang dan ingin membersihkan ruang kepala Sekolah. "Maaf pak, apa ini benar ruang kepala sekolah lalu di mana beliau?" tanya Ken kebingungan.
"Iya benar ini ruang kepala sekolah, namun beliau belum datang. Apakah anda murid baru di sekolah ini?" tanya bapak pegawai kebersihan itu.
"Benar pak. Saya murid baru, akan tetapi saya belum tahu di mana kelas saya!" terang Ken.
"Oh baik anda tunggu di sini sebentar saya akan memanggil guru yang lain, barangkali mereka bisa membantu anda untuk menemukan kelas!" terang bapak itu.
"Baik pak, saya akan menunggu disini. Terima kasih banyak atas bantuannya!" kata Ken.
...
"Kirana bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? lihat lututmu! tu kan lecet?"
"Tenang saja, aku tidak apa-apa hanya tergores sedikit. Ini juga akan sembuh jika aku memberinya obat merah!" terang Kirana.
"Kalau begitu aku akan mengambilkan obat merah untukmu, kau tunggu di sini saja!" kata Reina sembari beranjak pergi ke UKS untuk mengambil obat merah.
"Rein....tidak usah! aku akan mengambilnya sendiri nanti!!" teriak Kirana namun Reina tetap saja pergi.
Reina berlari menuju UKS untuk mengambil obat merah, namun langkahnya terhenti saat berada di depan ruang kepala Sekolah. 'Sepertinya ada seorang murid yang duduk di sana?' batin Reina yang kemudian mengintip.
Reina pun merasa penasaran, ia mendekatkan kakinya menuju pintu yang terbuat dari kaca itu. Alangkah terkejutnya Reina saat melihat pria yang tadi menabrak Kirana ada di ruang kepala Sekolah.
'Hah bukankah dia pria yang menabrak Kirana tadi? apa dia adalah murid baru yang akan bersekolah di sini? wah ini akan seru!!" batin Reina sembari tersenyum tidak jelas.
Beberapa menit kemudian Reina datang dengan membawa obat merah dan kapas. Ia membantu Kirana untuk membersihkan luka di lututnya. Namun tiba-tiba bel sekolah berbunyi, semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing. Kirana dan dan Reina juga merapikan duduknya karena sebentar lagi guru akan datang.
Selang beberapa menit guru bahasa Indonesia pun sudah datang di kelas mereka dengan seseorang yang membuntuti di belakangnya.
"Hah siapa dia?"
"Wahh dia sangat tampan!"
"Dia pasti murid baru"
Seketika ruang kelas menjadi sangat ricuh. Semua murid bergumam saat menatapi kehadiran murid baru di kelas mereka.
Kirana sedikit terkejut karena ternyata dia adalah orang yang sudah menabraknya tadi pagi. Namun Kirana bersikap biasa saja. Ia tetap diam dan dingin.
"Selamat pagi murid-murid" sapa bu guru.
"Selamat pagi bu guru" jawab para murid.
"Hari ini kalian akan kedatangan teman baru, dia adalah murid pindahan dari kota. Ayo silakan perkenalkan namamu!!" perintah Bu Rani, guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas mereka.
"Selamat pagi semuanya" sapa Ken dengan senyuman.
"Selamat pagi!!"
"Perkenalkan, namaku Keenan Liandra. Aku biasa dipanggil Ken. Rumahku berada tak jauh dari sini, dan aku baru saja pindah ke daerah di sekitar sini. Semoga kalian semua bisa menerima kedatanganku dengan baik. Terima kasih!" kata Ken memperkenalkan dirinya.
"Sama-sama!!"
"Wah dia sopan sekali. sepertinya dia anak baik-baik!"
"Kami akan menerimamu dengan baik!"
Sahut para murid yang membuat ruangan semakin ricuh.
"Baiklah Selamat bergabung di kelas kami Ken. Oh ya aku akan menempatkan Ken dibangku Kirana. Karena dia murid baru, sedangkan Kirana adalah murid terpandai di kelas ini, saya berharap Kirana bisa membantu Ken untuk belajar dengan baik!" perintah Bu Rani.
"Baik bu, aku akan segera pindah!" terang Reina, karena sebelumnya Reina duduk sebangku dengan Kirana.
"Jangan pergi Rein, bagaimana kau akan meninggalkanku?" kata Kinara sembari menarik tangan Reina agar tidak pergi.
"Tenanglah Kirana, semua akan baik-baik saja. Bukankah ini perintah Bu Rani? ia akan marah jika aku tidak menurutinya!" bisik Reina sembari meninggalkan bangku Kirana dan pergi ke bangku kosong yang lain.
Ken merasa terkejut saat melihat Kirana. 'Bukankah dia wanita yang aku tabrak tadi pagi? ternyata Tuhan mendengar doaku. Aku bisa bertemu dengannya lagi agar aku bisa meminta maaf kepadanya' batin Ken.
"Silakan Ken, kamu bisa duduk disebelah Kirana!" perintah Bu Rani.
Ken segera melangkah menghampiri bangku yang terletak di nomor dua dari depan. Dia pun duduk di sebelah Kirana, namun saat itu Kirana tidak melihatnya sama sekali.
Dia hanya diam, tanpa menoleh ke arah Ken. Persis dengan sebelumnya, Kirana tidak mengatakan apapun dengan Ken waktu Ken tidak sengaja menabraknya tadi.
"Aku Ken!" kata Ken sembari mengulurkan tangannya ke Kirana.
Namun Kirana hanya meliriknya tanpa menjabat uluran tangan Ken. "Kirana."
Ken pun menarik kembali tangannya, ia benar-benar kecewa melihat sikap Kirana. Namun Ken merasa lebih tertantang dengan sikap gadis cantik di sebelahnya.
'Untung saja dia cantik. Kalau tidak, aku akan pergi dari kelas ini!' batin Ken merasa kesal.
...
Sementara, jauh di rumah saudara kandung Rudi, lagi-lagi mereka sedang bertikai karena ingin menguasai perusahaan Rudi.
"Kau dengarlah, kakakmu baru saja membeli perusahaan baru, sedangkan kau hanya dapat menjadi manager di perusahaan milik kakakmu, kapan kau akan menjadi direktur. Kau benar-benar laki-laki tidak berguna!"
Sandra dia adalah istri dari Erwin Santoso, adik kandung Rudi Liandra. Selama ini Erwin bekerja di perusahaan milik Rudi, namun ia hanya menjabat sebagai manager saja. Sedangkan Sandra selalu mendesak agar Erwin mau merebut perusahaan kakaknya itu.
"Kau seharusnya bersyukur, Kak Rudi masih mempercayaiku untuk bergabung di perusahaannya. Apalagi yang kau inginkan?" terang Erwin merasa kesal melihat tingkah istrinya.
"Apa yang kuinginkan? tentu saja aku ingin membeli rumah baru, apartemen baru, mobil baru!"
"Sampai kapan kita hanya meneteskan air liur karena hanya menahannya? aku ingin seperti keluarga Liandra yang sukses dan kaya raya"
"Ah aku sungguh menyesal menikah denganmu, kenapa aku tidak menikah dengan Rudi saja?" terang Sandra.
Erwin merasa terkejut dengan pernyataan Sandra, dia mengambil air minum di depannya dan meneguknya agar ia merasa sedikit tenang.
Erwin sangat mencintai Sandra, bahkan semua keinginannya selalu dituruti. Tapi tidak dengan merebutkan perusahaan milik kakaknya sendiri.
Sebenarnya ia sudah merasa bersyukur karena Rudi adalah orang yang sangat baik bahkan kakaknya telah memberinya rumah, mobil dan juga fasilitas yang lain. Namun Sandra selalu menginginkan hal yang lebih dari itu.
Apalagi beredar soal kabar, Rudi baru saja membeli perusahaan teh. Sandra ingin perusahaan itu agar jatuh ke tangan Erwin. Menurutnya ia hanya meminta satu perusahaan saja untuk Erwin. Namun Rudi tidak menyetujui itu, karena ia ingin kelak anak-anaknya lah yang memimpin perusahaan tersebut.
Bagaimana tidak? Rudi mempunyai tiga anak, dan kelak ia ingin ketiganya menjadi seorang yang sukses.