Rudi Liandra, memiliki tiga anak. Anak pertama yaitu Ben Liandra dan Keenan Liandra. Mereka adalah putra kembar. Namun setelah Nirina istri Rudi melahirkan dua putra kembar itu, mereka memutuskan untuk menitipkan Ben kepada kakak Nirina yang ada di luar negeri.
Leora adalah kakak Nirina yang belum mempunyai anak sampai umur pernikahannya sudah mencapai sepuluh tahun. Untuk itu Rudi dan Nirina mempercayakan Ben kepada mereka agar bisa merawat Ben dengan baik.
Sedangkan anak ketiga adalah Alena Liandra. Dia adalah gadis mungil dan cantik berumur sekitar 15 tahun. Ia duduk di bangku SMP, Alena terpaksa pindah ke tempat baru karena ayahnya harus pindah ke tempat yang lebih dekat dengan perusahaan yang baru saja ia beli.
Sebenarnya Rudi juga bisa untuk tidak pindah, karena ia bisa mempercayakan perusahaan kepada beberapa pegawainya. Namun setelah Nirina dan Ken mengetahui suasana di sekitar perusahaan .Mereka ingin sekali pindah ke tempat itu karena menurutnya mereka butuh ketenangan dan kenyamanan. Ken sudah sangat bosan tinggal di kota dengan kehidupan kota yang membuatnyanya merasa lelah.
Sandra meninggalkan meja makannya, ketika ia merasa berbeda pendapat dengan Erwin. Sementara Narendra, putranya selalu menyayangkan sikap ibunya yang menurutnya sangat keterlaluan.
"Narendra, bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Erwin.
"Sekolahku baik-baik saja ayah!" ungkap Narendra.
"Aku harap kau tidak terpengaruh dengan sikap ibumu yang seperti itu!" ujar Erwin.
"Tidak ayah. Bagaimana pun juga aku sangat menghormati mereka. Paman adalah orang yang sangat baik, begitu juga dengan Ken. Aku sangat beruntung memiliki saudara sepertinya!" terang Narendra.
...
Ken hanya memutar-mutar pensilnya dan tidak menyalin soal yang sudah di tulis di papan tulis. Ken kemudian memukul-mukulkan pensilnya ke meja karena ia sudah merasa sangat bosan.
"Hei kenapa kau sangat berisik? Apa kau tidak bisa diam?" tegur Kirana yang terganggu dengan keberisikan Ken.
"Akhirnya kau bisa bicara juga? lalu kenapa kau hanya diam dan tidak menyapaku?" tanya Ken.
"Apa itu penting bagimu!" tanya Kirana dengan wajah dingin.
"Kau...!!"
"Ken, bukankah kau murid baru. Aku ingin setelah ini kau maju ke depan dan mengerjakan soal nomor 1!" perintah guru matematika.
'Ah sial, benar-benar menyebalkan! kenapa haru aku?' gerutu Ken dalam hatinya.
"Ken, apa kau mendengarku?" panggil guru matematika itu.
"Baik pak, aku akan mengerjakannya!" jawab Ken penuh keraguan.
"Baiklah, akan memberimu waktu 10 menit, setelah itu kamu maju ke depan!" perintah pak guru.
'Ah bagaimana aku harus mengerjakannya, bahkan soalnya saja aku tidak paham' batinnya sembari memberantakkan rambutnya karena kesal.
"Kau kenapa?" tanya Kirana heran melihat Ken yang tampak gelisah.
"Apa kau mau membantuku? aku benar-benar tidak bisa mengerjakannya! aku mohon?" pinta Ken merengek.
"Kau lihat contoh ini,9 a + 2b terdiri dari dua suku yaitu 9a dan 2b.3 n2 - 2n - n terdiri dari tiga suku yaitu 3n2, 2n, dan n. Penyebutan dua suku disebut binom, tiga suku disebut trinom, sedangkan suku banyak dinamai dengan polinom. Namun, apabila hanya ada suku biasanya disebut suku tunggal" terang Kirana menjelaskan tentang soal aljabar tersebut.
Akan tetapi Ken hanya menatapi wajah Kirana dengan tatapan kosong. Ia melihat sosok yang membuat dirinya tenang dalam diri Kirana. Sosok yang sebenarnya sangat lembut namun terlihat rapuh.
'Dia baik, cantik, dan peduli. Tapi kenapa semua orang berkata bahwa ia seorang yang dingin dan angkuh. Ah mungkin mereka belum mengenalnya saja' batin Ken.
"Jika kau hanya menatapku seperti itu, aku tidak akan mau mengajarimu!" gertak Kirana mengancam.
"Ahh maaf, aku akan belajar dengan serius!" jawab Ken sembari tersenyum. "Tolong ulangi sekali lagi!"
...
Alena hanya membaringkan tubuhnya di atas kasurnya, sejak pagi ia hanya bermalas-malasan dan tidak mau beranjak dari tempat tidurnya. Alena merasa tak enak hati, saat kedua orangtuanya memutuskan untuk tinggal di desa ini. Bahkan Alena seperti tidak mempunyai semangat lagi.
"Alena, sampai kapan kau akan seperti ini? Lihatlah kakakmu, dia bersemangat untuk pergi ke sekolah barunya. Sedangkan kau, masih saja bermalas-malasan" papar Nirina.
"Siapa suruh kalian memaksaku untuk ikut, aku kan sudah bilang, biarkan aku tinggal di rumah kita yang lama. Aku bosan di sini, lihatlah ibu. Tidak ada mall, tidak ada cafe, tidak ada salon. Lalu Alena harus bagaimana?" Keluh Alena merasa sedih.
"Alena, kita masih bisa kesana saat akhir pekan. Ibu berjanji akan selalu mengajakmu pergi ke kota saat akhir pekan, bagaimana? Kau setuju?" tanya Nirina dengan senyum lembutnya membujuk Alena.
"Benarkah? Baiklah ibu, mulai besok aku akan pergi ke sekolah. Tapi aku takut untuk pergi sendiri. Apakah ibu mau mengantarku di hari pertama?" tanya Alena memohon.
"Baiklah sayang, ibu akan mengantarmu besok! Sekarang kau pergilah mandi dan segera sarapan!" pinta Alena.
"Baik ibu!" jawab Alena penuh semangat.
...
Jam istirahat telah tiba, semua murid bergegas merapikan peralatan belajarnya dan bersiap untuk istirahat. Begitu juga dengan Kirana, ia bersiap untuk pergi ke kantin.
Keenan berharap Kirana akan mengajaknya untuk pergi ke kantin, karena hanya dialah orang pertama yang ia kenal di sekolah barunya. Namun tetap saja Kirana bersikap dingin. Ia pergi begitu saja meninggalkan bangkunya tanpa menatap Ken.
"Hei Ken, ayo kita ke kantin! Perkenalkan aku Dimas!" kata Dimas sembari mengulurkan tangannya.
"Ah, aku Ken. Baiklah, mari kita ke kantin!" seru Ken sembari menjabat tangan Dimas tanda sebuah perkenalan.
Kirana bermaksud akan pergi ke toilet, sedangkan Reina pergi ke kantin dulu dan menunggu Kirana di kantin. Namun sesuatu yang tidak di harapkan telah terjadi.
"Hai lihat, Kirana sebentar lagi mendekat. Ayo kita mulai!" teriak seorang siswi seperti memberi aba-aba. Ken mengawasinya dari jauh, ia penasaran apa yang sebenarnya akan mereka lakukan.
Kirana baru saja keluar dari toilet, ia sibuk merapikan pakaiannya. Untuk itu ia tidak begitu fokus melihat jalan yang akan ia lewati. Tiba-tiba Vanya, ketua dari genk 'Girly' sebuah genk populer di sekolah menyandung kaki Kirana hingga Kirana jatuh tersungkur.
"Aaaa!!" teriak Kirana saat seseorang telah menyandungnya.
"Hai Kirana, apa kabar. Aku mau pesan bakmi 5 porsi , tapi rasa stroberi? Apa tidak ada? Kenapa kau payah sekali?"
"Hahaha, bakmi rasa stroberi, kau ada-ada saja Van?"
"Dasar, gadis miskin. Bisa-bisanya masih bersikap angkuh di sini! Hei sadarlah, kau hanya anak penjual Bakmie"
Kirana mulai mendapat p*********n dari genk tersebut. Setiap hari ia selalu di lakukan tidak adil seperti ini, namun lama-kelamaan, Kirana sudah terbiasa dengan kejadoan seperti ini. Tidak ada yang berani membantunya, karena Vanya adalah anak pemilik yayasan, ia bisa saja berbuat semaunya, bahkan ada beberapa siswa yang di skors hanya karena mereka berusaha membantu Kirana. Untuk itu mereka hanya bisa terdiam saja menatapi Kirana.