Reina berlari menghampiri kerumunan, ia terbelalak saat mengetahui kali ini Vanya dan teman-temannya mulai menganggu Kirana lagi.
"Kirana maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa!" batin Reina sembari menahan air matanya.
"Hei lihatlah, rambutnya begitu panjang, indah sekali. Apa kamu sudah keramas?" teriak Vanya lantang, beberapa siswa mulai menatapi mereka, namun mereka tidak berani menolong Kirana.
Kirana hanya terdiam, bahkan percuma saja jika ia melawan. Kirana akan kalah dengan jumlah genk Vanya lebih banyak, yaitu lima orang. Sedangkan Kirana, ia hanya seorang diri, dan tidak ada yang membelanya.
Vanya membawa sebotol saos tomat, entah apa lagi yang akan ia perbuat kepada Kirana. "Hei Kirana, kali ini aku membawa shampoo keluaran terbaru loh, rambutmu akan tampak indah jika memakainya, biar aku yang menuangkan ini di rambutmu!"
Kirana memejamkan matanya, ia merasa sangat pasrah jika harus menerima perlakuan ini. Sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya di perlakukan seperti ini. Semua siswa-siswi yang melihat ini merasa sangat syok.
Mereka semua gemetar saat Vanya akan menuangkan saos tomat itu ke rambut Kirana.
"Vanya benar-benar keterlaluan, seandainya saja ada yang berani menolong Kirana"
"Benar juga, kasihan Kirana!"
"Sebenarnya, dia gadis yang baik. Tapi dia memang pendiam"
"Sebenarnya apa salah Kirana, hingga Vanya terus mengganggunya?"
Seketika suasana tampak ricuh, semua murid membicarakan Kirana dan genk 'Girly'. Mereka sebenarnya merasa kasihan kepada Kirana yang setiap hari di rundung oleh genk 'Girly'.
Vanya membuka botol saos tomat tersebut, ia bersiap akan menuangkannya ke rambut Kirana. "Kirana, bersiaplah, satu, dua, ti.."
"Berhenti!!"
Tiba-tiba Ken mencengkeram tangan Vanya.
Semua orang menatapi mereka, apalagi dengan kehadiran Ken, banyak yang belum mengenalnya, karena hari ini adalah hari pertama Ken bersekolah di sekolah itu. Vanya terbelalak menatapi Ken. "Bagaimana bisa ada pria setampan ini di sekolah ini? Dia seperti pangeran" batin Vanya masih tertegun menatapi ketampanan Ken.
Kirana menghela nafasnya, ia merasa sangat lega saat saos itu tidak jadi dituangkan ke rambutnya.
"Kau, benar-benar wanita licik. Bagaimana bisa kau mengganggu temanmu sendiri, hingga sedemikian rupa? Apa kau sudah gila?" tutur Ken.
Namun Vanya hanya menatapi Ken tanpa menjawab apapun. Ken benar-benar merasa kesal dengan Vanya.
"Kirana, ayo berdiri!" perintah Ken sembari menarik tangan Kirana dan membantunya berdiri.
Kirana segera berdiri, ia sangat bersyukur sekali, ada yang berani menolongnya. Tapi lagi-lagi Kirana masih bersikap dingin kepada Ken. Menurutnya mereka semua sama saja, Ken hanya mencari perhatian, karena dia murid baru di sekolah ini.
Ken menarik tangan Kirana menuju ke kantin, sedangkan Dimas dan juga Reina membuntuti mereka.
"Lepaskan tanganku!" teriak Kirana lantang.
Ken menghentikan langkahnya, dan melepas genggamannya dari tangan Kirana. Ia pun menoleh ke arah Kirana.
"Bagaimana kau hanya diam saja saat mereka menyerangmu? apa kau memang begitu polos? tapi menurutku itu bukan sebuah kepolosan. Tapi kebodohan!" papar Ken dengan kemarahannya.
Seketika Kirana tercengang melihat Ken begitu marah. Baru kali ini ada seorang pria yang begitu peduli dengannya.
"Terimakasih telah menolongku. Tapi aku tahu, kau melakukan ini hanya untuk mencari perhatian saja!"
"Apa kau bilang? aku? mencari perhatian? bahkan jika aku tidak mencarinya, semua orang akan memperhatikanku!"
Kirana hanya memandangi Ken dengan wajah kesal. Ia pun memilih untuk pergi dan tidak ingin berdebat dengan Ken.
"Hei, kau mau kemana? aku belum selesai bicara, berhenti!" teriak Ken memanggil Kirana yang terus saja berjalan meninggalkannya.
"Ken, tolong maafkan sikap Kirana. Dia memang seperti itu, apalagi dengan dirimu yang baru saja ia kenal. Sulit untuk memahaminya. Aku harap kau akan maklum." kata Reina yang kemudian pergi menyusul Kirana.
"Hah, benar-benar gadis yang aneh. Aku hanya menolongnya. Tapi kenapa dia mengatakan bahwa aku akan memanfaatkannya?" gerutu Ken dengan kesal.
"Selama ini mereka yang berteman dengan Kirana, nyatanya memang hanya ingin memanfaatkannya!" terang Dimas.
"Maksudmu?" tanya Ken penasaran dengan pernyataan Dimas.
"Mereka semua bilang ingin berteman dengan Kirana, tapi ternyata mereka hanya ingin mencontek tugasnya, atau bahkan menyuruh Kirana mengerjakan PR mereka. Maka dari itu, Kirana selalu bersikap dingin. Apalagi dengan dirimu yang baru saja kenal"
Ken terdiam sesaat. Ia pun membatin 'Bagaimana ada gadis sepolos itu? apa aku salah karena mengatakan dia bodoh? kenapa aku menjadi gelisah? Ahh...sudahlah, jangan terlalu memikirkan gadis angkuh itu'
Dimas menatapi Ken yang sedang melamun, lalu ia menepuk pundak Ken."Hei, kenapa kau diam saja? ayo duduk dan memesan makanan!"
"Oh iya, mari kita makan!" jawab Ken sembari duduk di kursi kantin sekolah. Dimas segera memesan dua mangkuk bakso dan beberapa minuman.
"Lalu apalagi yang kau ketahui tentang Kirana?" tanya Ken yang masih penasaran.
"Sepertinya kau tertarik sekali dengan Kirana?" tanya Dimas sedikit menyindir.
"Bukan begitu maksudku. Kirana teman sebangku ku kan? aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat, karena berapa banyak pertanyaan yang aku lontarkan, dia tidak akan menjawabnya!"
"Ahahaha..." Dimas tertawa. "Kau benar, sia-sia saja kau mengajaknya bicara. Dia akan tetap diam tanpa menjawabmu!"
"Kau menertawaiku?" tanya Ken sedikit kesal.
"Tidak kawan, aku hanya bercanda!" jawab Dimas dengan senyumnya.
"Kirana. Ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Ibunya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ayahnya seorang penjual bakmi. Setelah pulang sekolah, biasanya ia membantu ayahnya untuk berjualan. Kirana sebenarnya gadis yang baik. Ia penolong, dan setia kawan. Akan tetapi setelah ia tahu semua orang memanfaatkannya, Kirana seketika menjadi angkuh. Ia menjadi tidak peduli dengan orang lain. Sahabatnya yang sampai sekarang masih setia menemaninya adalah Reina"
Ken terharu mendengar kisah hidup Kirana yang begitu menyedihkan. Ia pun berpikir seandainya saja ia berada di posisi Kirana, ken tidak akan sanggup menjalani kehidupan yang begitu kelam. Jika saja semua orang tidak mengerjainya. Hidupnya tidak akan sepedih ini.
"Sampai kapan kau hanya mengaduk-aduk mangkok bakso mu? ayo cepat habiskan. Setelah ini jam masuk akan berbunyi!" papar Dimas yang terheran melihat sikap Ken.
Setelah jam istirahat selesai. Semua murid kembali masuk ke kelas. Begitu juga dengan Ken dan Kirana. Setelah mendengar kisah hidup Kirana, Ken lebih banyak diam, tidak seperti saat pertama ia datang dan banyak mengacau. Kirana yang melihat tingkah Ken tiba-tiba berubah, juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
"Apa hantu kantin telah merasukimu?" tanya Kirana.
Seketika Ken menoleh. "Sekalinya kau bicara, kenapa hanya meledekku?"
"Kau terlihat aneh. Aku takut jika kau kerasukan hantu!" tutur Kirana.
"Kau ini? bagaimana denganmu? apa kau baik-baik saja?" tanya Ken yang masih mengkhawatirkan Kirana.
Kirana menatapi mata Ken, terpancar sebuah tatapan yang berbeda dari kedua matanya. Kali ini Kirana melihat sebuah ketulusan orang yang benar-benar peduli terhadapnya, dan bukan berpura-pura baik seperti teman-temannya yang lain.
"Jangan pernah mengkhawatirkan aku lagi. Aku tidak mau bergantung kepada siapapun!"
Ken menghela nafasnya. Lagi-lagi perkataan Kirana membuatnya kesal. "Kenapa kau begitu angkuh? aku hanya ingin tahu keadaanmu?"
Namun Kirana hanya meliriknya. Tatapannya tajam, namun tenang. setelah itu Kirana pergi meninggalkan Ken begitu saja.
Hal itu membuat Ken semakin penasaran, dengan sosok gadis yang menolak kekhawatirannya.
Hingga saat jam sekolah berakhir, Ken telah mengikuti Kirana secara diam-diam sampai ke rumahnya.
Namun, sebuah peristiwa buruk telah terjadi tepat di depan matanya. Ken pun mengawasi dari jauh.
"Brak!"
"Ampun pak, tolong ampuni aku!"