Ken melihat Kirana yang tiba-tiba membanting sepedanya, dan berlari menghampiri pria yang sedang dipukuli para preman itu.
"Ayah…!! Ayah…!!! Hentikan. Apa yang kau lakukan kepada ayahku. Beraninya main keroyokan!"
"Hei gadis kecil. Suruh ayahmu membayar hutang!"
Kirana merentangkan kedua tangannya. Mencoba melindungi ayahnya yang sudah terkapar di tanah. "Kami akan membayarnya. Tapi jangan memukulnya seperti ini!"
"Kami sudah memberimu waktu terlalu banyak, bahkan kau juga belum membayar bunga dan dendanya"
"Bersiaplah untuk mengosongkan rumah ini? rumah ini kami sita! atau jika tidak, kau harus ikut kami sebagai jaminan!"
"Tidak. Jangan lakukan itu. Kami akan membayarnya! Jangan ambil ayahku!" teriak Kirana ketakutan.
"Aku tidak mau tahu, bayar hutangmu sekarang!"
Preman-preman itu lalu mendorong Kirana dan dengan paksa membawa ayahnya pergi.
"Tidak. Jangan bawa ayahku. Ayah, jangan pergi! Jangan tinggalkan Kirana sendirian"
Ken melihat semuanya dengan mengepalkan tangannya. Ken merasa sangat kesal.
Ken mencoba maju satu langkah, akan tetapi kembali berhenti saat ia mengingat Kirana yang begitu angkuh terhadapnya.
Ken memilih diam, dan melihat semuanya sampai akhir.
Kirana menarik kembali tangan ayahnya. Ia berusaha sekuat tenaga mencegah preman-preman itu membawa ayahnya.
"Tolong jangan bawa ayahku! Lepaskan ayahku. Lepaskan dia"
Mereka terlibat aksi tarik-menarik. Air mata Kirana mengalir deras tak terbendung. Menyaksikan orang-orang itu membawa ayahnya pergi.
"Kirana, maafkan ayah nak!"
"Ayah…"
"Ayah…"
Prawira merasa sangat terpukul karena harus meninggalkan Kirana sendiri sebatang kara. Namun Prawira tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang hutangnya terlalu banyak.
Ia rela berhutang untuk pengobatan istrinya waktu itu. Operasi sudah dilakukan. Kemoterapi juga sudah dilakukan. Tapi Tuhan berkehendak lain, nyawa ibu Kirana tetap tidak bisa tertolong.
Kirana merasa begitu terpukul, ia terduduk lemas tersungkur di halaman rumahnya. Air matanya terus mengalir. Melepas kepergian ayahnya yang di sekap oleh preman-preman itu.
Hanya ayahnya saja yang ia punya, akan tetapi sekarang Kirana juga kehilangan ayahnya.
Kirana benar-benar merasa hancur. Tidak ada lagi yang bisa ia perbuat. Akankah dirinya menjadi sebatang kara? bahkan Kirana tidak sanggup membayangkannya jika itu benar-benar terjadi kepadanya.
Kirana menundukkan kepalanya, meremas tanah yang ada di hadapannya sebagai pelampiasan kekesalannya.
Tak ada lagi cahaya yang meneranginya. Bahkan langit pun sedang mendung. Dan perlahan meneteskan rintik hujan.
Gerimis mulai turun, seakan ikut mendalami sebuah peran gadis yang kehilangan segalanya. Tangisnya semakin menjadi, dan nafasnya mulai tersengal-sengal.
Ken dengan cepat mengambil payung di mobilnya. Meskipun ia kesal dengan sikap Kirana yang begitu dingin. Ken masih menatap Kirana sebagai wanita. Wanita yang punya sisi lemah dan rapuh.
Ken menghampiri Kirana dengan membawa payungnya.
Tangis Kirana seketika terhenti saat melihat sepasang sepatu telah mendekatinya. Ia lalu menatap sepatu itu dan mendongakkan kepalanya.
"Kkk-en?"
"Kenapa kau di sini?"
Ken mengulurkan tangannya, bermaksud untuk membantu Kirana berdiri.
Kirana merasa ragu untuk meraih tangan itu. Ia merasa bersalah karena selalu angkuh terhadap Ken. Kirana memilih untuk diam.
"Sampai kapan kau akan hujan-hujanan seperti ini? Ayo berdirilah!"
Setelah Ken meyakinkannya. Dengan berat hati, Kirana meraih tangan itu. Ken segera menariknya.
Keduanya saling bertatapan dengan waktu yang cukup lama. Di bawah payung yang sedang menahan air hujan. Mereka menyadari bahwa ada sebuah makna yang tersimpan dalam tatapan mereka masing-masing.
"Doar!!"
"Aaaa!!"
Suara petir telah mengagetkan keduanya. Kirana terperanjat, namun tiba-tiba Ken refleks memeluk tubuh mungil itu.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud untuk…"
"Ayo masuk ke rumahmu! Hujan semakin deras!" ujar Ken memotong pembicaraan Kirana.
Kirana merasa salah tingkah, ia pun masuk ke dalam rumahnya dan diikuti Ken.
Sebuah rumah yang sangat sederhana, tapi sangat rapi. Semua tertata dengan detail, entah kenapa Ken merasa sangat nyaman berada di rumah Kirana. Berbagai macam tanaman hias juga terpajang di depan rumah, membuat suasana rumah ini begitu nyaman dan tenang.
"Apa kau melihat semuanya?" tanya Kirana masih dengan sikapnya yang dingin.
"Iya aku melihatnya!"
"Maafkan aku!" ungkap Kirana lirih.
Ken mengerutkan alisnya. "Maaf? untuk apa?"
"Karena aku sudah memperlakukanmu dengan tidak baik"
"Jadi kau sadar soal itu?"
Kirana laku menatap Ken, dan mengangguk.
"Lupakan saja! Semua orang berhak berperilaku sesukanya. Walaupun kau menganggapku buruk, aku akan menerimanya"
Kirana menunduk. Seakan-akan ia sedang dinasehati oleh seseorang yang lebih tua darinya.
"Kalau boleh tahu, berapa hutang ayahmu?"
Kirana menundukkan kepalanya, ia merasa malu jika membicarakan ini kepada Ken. Karena pada kenyataannya, Ken adalah orang yang baru ia kenal.
"Kalau kau tidak ingin menjawabnya, tidak apa-apa. Aku tidak memaksamu!"
"100 juta"
Ken melotot. "Apa? 100juta?"
Kirana mengangguk dan mulai bercerita. "Awalnya ayahku hanya meminjam 50 juta. Namun saat ayahku tidak sanggup membayarnya, dendanya semakin banyak"
"Untuk apa uang sebanyak itu?"
"Pengobatan ibuku. Namun ibuku tetap tidak bisa tertolong"
Tiba-tiba mata Kirana kembali berkaca-kaca saat mengingat kenyataan pahit yang menimpanya. Ingin sekali ia membendung air mata itu, tapi hatinya menolak untuk itu. Dan air matanya pun mengalir dan jatuh begitu saja.
Ken merasa sangat terharu melihat Kirana yang seperti ini. Di balik keangkuhannya, Kirana hanyalah wanita biasa yang juga rapuh. Pada kenyataannya ia tak setegar yang Ken lihat. Kirana hanya menutupinya dengan topeng keangkuhannya.
"Kau, bersabar lah. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan agar kau merasa tenang. Karena aku tidak pernah mengalami hal seperti ini. Akan tetapi, entah kenapa aku ingin membantumu dan meringankan bebanmu. Itu pun jika kau mengizinkan!"
Seketika Kirana menatapi wajah Ken yang penuh dengan keseriusan itu. Kirana benar-benar tidak menyangka, pria yang baru ia kenal. Berusaha untuk menolongnya.
"A-aku sangat berterimakasih kepadamu. Tapi, sebelumnya aku pernah bilang kepadamu. Aku tak ingin bergantung kepada siapapun!"
Ken menghela nafasnya. Ia sudah menduga bahwa Kirana akan berkata seperti ini. Walaupun sebenarnya ia merasa kesal, Ken tetap ingin membantu Kirana. Entah kenapa ia tidak ingin air mata itu kembali mengalir di pipi Kirana.
"Terserah kau saja. Jika kau tidak ingin aku membantumu, aku akan pergi!" ujarnya yang lalu beranjak.
Akan tetapi ponselnya tiba-tiba berdering. Ken segera mengangkatnya.
"Halo, ada apa?"
"Ken, hari ini Diego menantangmu. Taruhannya 100 juta"
"Apa? Aku tidak punya uang sebanyak itu.
"Tenang saja, jika kau mau, kami akan membantumu.
"Ken, ini demi harga dirimu. Walaupun kau sudah pindah, kami harap namamu bersih! Kami tidak ingin Diego terus menjelekkanmu.
"Dia bilang kau pecundang yang lari begitu saja!"
"Dasar tengkorak hidup. Baiklah aku akan datang! kau tunggu saja!"
"Baiklah Ken. Kami akan menunggumu!"