Ken menutup ponselnya. Ia kembali menatap Kirana yang masih terlihat dengan wajah muram. Tiba-tiba Ken teringat hutang ayah Kirana yang berjumlah 100 juta itu.
Ken berniat untuk menerima tantangan Diego agar bisa mendapatkan uang 100 juta, walaupun resikonya jika ia kalah, ia akan kehilangan uang sebanyak itu. Akan tetapi, Ken yakin bisa memenangkannya.
"Kirana, ayo ikut aku!"
Tanpa basa-basi, Ken menarik tangan Kirana dan mengajaknya pergi.
"Kemana?" tanya Kirana. Tapi Ken membisu.
"Ken, apa kau tidak bisa bicara. Jawab pertanyaanku! kau akan membawaku kemana?"
"Sudahlah, kau akan tahu nanti. Ini demi kamu dan ayahmu!"
Kirana mengernyitkan dahinya. Ia pun membatin. "Apa yang dimaksud dengan aku? dan kemana Ken akan membawaku? tapi jika benar ia akan menyelamatkan ayahku, lebih baik aku menurut saja"
Kirana mengunci mulutnya. Ia tak ingin bertanya banyak hal. Yang ia yakini adalah, Ken bukanlah orang jahat. Meskipun dia baru mengenalnya, hati Kirana berkata, jika Ken orang baik.
Ken membuka pintu untuk Kirana. Dan Kirana segera masuk ke mobil mewah itu. Meskipun ini pertama kalinya. Kirana mencoba terlihat santai.
Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Diperlukan waktu sekitar 3 jam untuk turun dari pegunungan itu dan menuju ke kota.
Bagi orang lain medan tersebut sangatlah berbahaya dengan jalanan yang meliuk-liuk dan berkelok-kelok.Namun bagi Ken, ini adalah hal yang biasa.
Sejak duduk di bangku SMP Ken sudah mahir mengendarai mobil. Setelah itu, ia mencoba menantang adrenalin dengan mengikuti beberapa balap mobil off road racing.
Tapi semua keluarganya tak ada yang berkenaan jika Ken memiliki hobi tersebut. Apalagi ayahnya, ia selalu menentang Ken untuk balapan.
Akan tetapi kali ini Ken akan melakukannya demi Kirana. Bukan untuk dirinya sendiri. Dan Ken yakin bahwa dirinya akan menang, karena keinginannya untuk membantu Kirana begitu kuat.
Dalam perjalanan mereka berdua hanya diam. Tidak ada suara apapun kecuali deru mobil. Lama-lama Ken merasa penasaran. Ia pun menoleh ke arah Kirana. Seketika ia terkekeh, saat melihat Kirana tertidur pulas.
...
"Bagaimana sekolah Ken hari ini?" tanya Rudi saat makan malam dengan keluarga Ken.
"Dia sudah mulai sekolah hari ini. Tenang saja, aku yakin Ken akan berubah menjadi anak yang baik" papar Nirina, ibu kandung Ken.
"Lalu di mana dia? Kenapa dia tidak makan malam bersama kita?" tanya Rudi mengerutkan keningnya.
"Kakak menemui teman-temannya di kota!" sahut Alena.
"Hah, anak ini benar-benar membuatku pusing. Ini yang kau bilang dia akan berubah?" teriak Rudi menggertak Nirina.
"Aku yakin dia punya alasan lain. Ia tak mungkin Ken sengaja melakukannya. Apalagi dia tidak berpamitan. Tidak biasanya Ken seperti ini!" terang Nirina membela putranya.
"Kau selalu saja membelanya, inilah akibatnya karena kau terlalu memanjakannya! Hah... sepertinya nafsu makan ku telah hilang"
Rudi membanting sendok dan garpunya. Ia menekuk sikunya dan tampak mengepalkan tangannya menahan kesal.
"Alena, apa kau yakin kakakmu pergi ke kota?" tanya Nirina yang begitu khawatir.
"Aku yakin, dia mengirim pesan kepadaku"
"Lalu kenapa Ken tidak menelpon langsung ke ibu?"
"Entahlah ibu. Mungkin kakak sedang buru-buru. Dan kali ini ia membuat ayah marah lagi! Hah... benar-benar membuat suasana berantakan!" keluh Alena sembari mengaduk-aduk makanannya.
Baru saja Rudi akan memberi kepercayaan kepada Ken, namun tetap saja Ken masih saja bertemu temannya di kota. Rudi merasa benar-benar sangat kecewa.
"Anak itu masih saja tidak bisa di nasehati, suruh orang untuk mencarinya dan bawa dia pulang!" perintah Rudi dengan nada meninggi.
"Kau, tenanglah dulu. Nanti aku akan bicara dengannya pelan-pelan!" tutur Nirina menenangkan Rudi.
Alena hanya menatap keduanya dengan kecut. Sudah menjadi kebiasaan ia melihat orangtuanya bertikai hanya karena kelakuan Ken yang seperti berandalan.
Ken sering keluar malam, keluyuran, atau balapan. Bahkan beberapa kali ia berurusan dengan polisi, namun karena Rudi adalah orang berada, ia bisa membebaskan Ken kapan saja dan memberikan uang jaminan.
...
Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam. Sedangkan balapan itu akan di mulai pukul satu dinihari. Ken bermaksud akan pergi menuju basecamp nya yang terletak di sebuah komplek perumahan yang ia beli dengan teman-temannya. Sekaligus ia akan mengecek kondisi mobilnya terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, Ken telah sampai di basecamp. Namun Kirana, ia masih tertidur pulas dan tidak menyadari bahwa mereka telah sampai. Ken pun mencoba untuk membangunkan Kirana perlahan.
"Kirana hei, bangunlah! kita sudah sampai" ucap Ken sembari menepuk pipi Kirana.
Kirana menggeliat, ia pun mencoba membuka matanya pelan-pelan. "Hah, apa kita sudah sampai?"
Ken tersenyum melihat Kirana saat menggeliat. Sepertinya ia tidur dengan nyenyak di mobil Ken. "Sudah. Kita sudah sampai. Ayo kita turun?"
"Kruk...kruk..."
Kirana melotot, saat mendengar suara perutnya. Ia merasa sangat malu kepada Ken.
"Apa kau lapar?" tanya Ken sembari tersenyum.
Kirana mengangguk dengan malu-malu. Sungguh ini adalah kali pertamanya Kirana pergi dengan seorang pria. Ia masih merasa canggung. Apalagi suara perutnya telah menjatuhkan harga dirinya.
"Ayo kita masuk dulu. Aku akan memesan makanan online saja!" ajak Ken.
"Hai Ken. Akhirnya datang juga"
"Hei kalian! Lihat Ken sudah datang!" teriak Rio memberitahu teman-temannya yang sedari tadi sudah menunggu Ken.
"Hei apa kabar kalian?" sapa Ken sembari melakukan tos sebagai salam persahabatan.
"Ken, siapa yang kau bawa ini? baru hari pertama kau sekolah di tempat barumu. Kau sudah mendapatkan gadismu" sindir Aldi terkekeh.
Mereka begitu terkejut saat seorang wanita yang begitu cantik datang bersama Ken. Namun kali ini cantiknya begitu natural dan alami, bahkan cara berpakaiannya begitu polos. Hal ini menarik perhatian teman-teman Ken.
"Wah, sepertinya pacar baru lagi!" sahut Rio yang juga menyindir Ken.
"Hei berhenti! Jangan bicara sembarangan! Ini teman sebangkuku. Namanya Kirana!"
"Kirana, dia teman-temanku!" ujar Ken.
"Hai, aku Kirana!"
Senyumnya begitu singkat. Namun lesung di pipinya masih terlihat.
"Ckckck…" sahut teman-teman Ken.
Mereka berempat, Rio, Aldo, Vicky, dan Ken, adalah teman yang sangat akrab. Mereka selalu bersama-sama menjalani segalanya, dalam suka maupun duka.
Meskipun Ken sudah pindah, namun mereka tetap menjalin persahabatan. Apalagi jika seseorang menantang Ken, atau menyulitkan salah satu dari mereka. Mereka tidak akan tinggal diam, dan akan membalasnya.
Dan kali ini, Diego lah yang mencari masalah dengan Ken. Beberapa waktu yang lalu, Diego memang menantang Ken untuk balapan. Ken pun menerima tantangan itu, namun sebelum semuanya terjadi, Ken sudah harus pindah ke sekolah barunya. Untuk itu, Diego terus mengumpat jika Ken adalah laki-laki pengecut.
"Baiklah, bagaimana trik kita malam ini? apa kita perlu mengecek mobilku? atau memakai mobil uang yang lain?" tanya Ken dengan serius.
Namun sepertinya mereka semua tidak fokus dengan apa yang dibicarakan Ken. Bagaimana tidak? mereka hanya diam terpaku menatapi Kirana yang duduk di sebelah Ken.
"Hei, apa yang kalian lihat? kenapa kalian mengabaikanku?" pekik Ken.
"Apa Ken? kau bicara apa?" tanya Vicky yang terkejut mendengar bentakan Ken.
"Hah... kalian ini. Kirana sebaiknya kau tunggu di ruang tamu sebentar. Sepertinya mereka tidak fokus karena kau ada disini"
"Ah baiklah. Aku akan menunggumu di depan!"
"Ken, bukan maksud kita seperti itu. Ayo kita lanjutkan rapat kita!" terang Rio salah tingkah.
"Tidak. Biarkan saja Kirana menunggu di depan. Agar kalian fokus!" ungkap Ken merasa kesal.