Narendra, pria yang terbilang begitu ramah itu adalah sepupu Ken. Dia biasa dipanggil Rendra.
Rendra mengendarai mobilnya menuju basecamp-nya. Ia dibuat terkejut saat banyak orang sedang mengotak-atik mobil Diego.
Setahu Rendra, Diego tidak ada jadwal untuk balapan. Tapi kenapa semua temannya terlihat sangat sibuk.
"Hei, ada apa ini? Apa yang kalian lakukan?" tanya Rendra penasaran.
"Hei Ren, kebetulan sekali kau datang. Cepat bantu kami!" pinta Diego.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Oh iya, aku lupa memberitahumu. Aku menantang sepupumu untuk balapan!"
Rendra mengernyitkan dahinya. "Maksud kamu, Ken?"
"Benar, siapa lagi? setelah sekian lama, akhirnya ia mau menerima tantanganku"
"Tapi bukankah dia sudah pindah sekolah?"
"Buktinya dia menerima tantanganku. Berarti dia ada di sini"
Narendra pun diam dan membatin. "Bagaimana bisa Ken menerima tantangan Diego? Biasanya ia selalu bilang jika meladeni Diego sama saja dengan buang-buang waktu. Lagipula dia sudah pindah sekolah. Kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran? apa terjadi sesuatu dengannya?"
Beribu pertanyaan muncul dalam benak Rendra. Menurutnya Ken terlihat aneh. Biasanya Ken akan menghubunginya jika akan balapan. Tapi kali ini tidak. Hal ini membuat Rendra menjadi curiga. Ia pun mencoba menghubungi Ken.
"Halo"
"Ken, kau di mana?"
"Exo Mall"
"Exo Mall? apa yang kau lakukan di sana?"
"Tentu saja belanja!"
"Oh ya, aku dengar kau menerima tantangan Diego?"
"Oh iya. Aku lupa memberitahumu. Nanti malam, datanglah. Di tempat biasa. Dan satu lagi, tolong rahasiakan ini dari ayahku!"
"Baiklah"
Rendra mematikan ponselnya. Ia kembali berpikir.
"Exo Mall? bagaimana bisa ia pergi ke mall? bukankah Ken sangat anti dengan keramaian. Ia lebih suka belanja online. Tapi sekarang ia ada di Mall? tidak. Pasti ada sesuatu yang tidak beres"
...
"Cepat, kau ambil baju sesukamu. Aku tidak tahu berapa ukuran bajumu" paksa Ken.
Kirana tercengang. Ia begitu kagum melihat berbagai macam pilihan baju yang beragam. Hal ini membuat matanya seperti dimanjakan.
Lalu Kirana mencoba memegang jaket berwarna oranye, sesuai dengan warna favoritnya.
Beberapa menit yang lalu, Ken berpamitan kepada teman-temannya untuk membeli makanan. Namun saat melihat Kirana memakai pakaian kusut, Ken tiba-tiba berpikir untuk mengajak Kirana ke Mall.
"Hah?" Kirana terkejut sampai-sampai bibirnya menganga. Ia pun menelan ludahnya saat melihat bandrol harga di jaket itu.
"Kenapa mahal sekali? mana mungkin aku punya uang sebanyak ini?"
Kirana mencoba merogoh kantongnya, dan mengeluarkan uangnya. Namun seketika ia cemberut saat melihat uangnya tinggal 25ribu rupiah.
"Kau, kenapa lama sekali? mana baju yang kau pilih? tanya Ken, yang ternyata dia sudah mengganti pakaiannya.
Memang setelah pulang sekolah, Ken belum mengganti seragamnya. Hal itu membuat Ken merasa tidak nyaman.
Kirana tiba-tiba mendekati Ken. Ia berbisik lirih di telinga Ken.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu. Kau saja yang beli!"
"Siapa yang menyuruhmu untuk membayar? aku yang bayar semuanya. Kau ambil saja sesukamu!"
"Tapi Ken, aku tidak mau merepotkanmu. Nanti kau akan kehabisan uang!"
Ken menggelengkan kepalanya, baru kali ini ia melihat gadis yang begitu polos. Sedangkan setahunya, semua wanita akan senang jika diajak belanja apalagi gratis.
Tapi berbeda dengan Kirana. Bahkan untuk memilih satu baju saja, ia takut jika harganya terlalu mahal.
"Tidak, aku tidak akan kehabisan uang. Lihat ini!" Ken mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompetnya.
"Aku memakai ini, dan bukan aku yang membayar tagihannya. Tapi ayahku. Jadi kau tak perlu takut jika aku kehabisan uang. Cepat ambil!"
Kirana masih terdiam di tempatnya. Ia benar-benar takut untuk mengambil jaket itu, karena Ken adalah pria yang baru saja ia kenal tadi pagi. Bagaimana mungkin Kirana sudah sangat merepotkannya? Apa yang nanti Ken pikirkan tentangnya?
"Kau ini lama sekali!"
Ken segera meraih jaket berwarna oranye yang diinginkan Kirana. Kemudian, celana panjang, dan juga beberapa kaos, serta blazer.
Ken mengambil beberapa pakaian tanpa melihat-lihat dan mempertimbangkannya. Ia hanya berpikir, memiliki tubuh yang ideal. Jadi semua baju akan pas jika di pakainya.
Kemudian, Ken segera pergi ke kasir yang tak jauh dari tempat Kirana berdiri. Setelah selesai membayar semuanya, Ken menyuruh Kirana untuk segera mengganti pakaiannya.
"Cepat ganti pakaianmu! terserah kau mau pakai yang mana!"
Kirana tertegun dan mengangguk. Ia begitu terkejut melihat Ken meraih beberapa pakaian begitu saja tanpa berfikir untuk melihat harganya.
Berbeda sekali dengan dirinya, yang menginginkan satu jaket saja ia harus berpikir seribu kali.
Setelah berada di ruang ganti, Kirana merasa sangat senang saat melihat jaket yang ia inginkan ada di tas belanja itu.
"Bagaimana Ken tahu jika aku menginginkan ini? lebih seperti ia tahu isi hatiku. Tapi...ah lupakan saja. Aku akan berterima kasih padanya setelah ini!"
Entah sebuah kebetulan atau Ken benar-benar bisa membaca pikiran Kirana. Hal itu terjadi begitu saja. Seperti mereka akan ditakdirkan untuk berjodoh.
Setelah mengganti pakaiannya, Kirana segera keluar. Seketika Ken begitu terkejut melihat Kirana yang begitu cantik saat memakai pakaian mewah itu.
"Kenapa dia begitu cantik? ah tidak. Ken, kau tidak boleh jatuh cinta kepada gadis angkuh itu. Kau hanya menolongnya, ini rasa kemanusiaan!" batin Ken menggertak dirinya sendiri.
"Bagaimana?" tanya Kirana sembari melontarkan senyumnya yang singkat.
"Ba-bagus. Kau cocok memakainya" jawab Ken gugup, karena ia merasa terpesona melihat kecantikan Kirana. Tapi Ken berusaha menutupi rasa kagumnya.
Beberapa seseorang telah mengawasi mereka dari jauh. Namun Ken dan Kirana tidak menyadari akan hal itu.
Mereka berdua pun berjalan keluar Mall untuk kembali ke basecamp. Akan tetapi orang-orang berpakaian serba hitam tersebut menghadang jalan mereka.
"Mas Ken, maaf. Anda harus ikut kami!"
Ken sangat terkejut, ia tahu bahwa mereka adalah suruhan ayahnya. Kirana begitu terkejut saat mereka ingin membawa Ken. Namun ia tidak merasa takut sama sekali.
"Tidak. Aku masih ada urusan! Sebaiknya kalian pergi!"
Akan tetapi salah satu dari mereka tampak seperti memberi kode agar mereka membawa Ken secara paksa. Dan benar saja, mereka menarik lengan Ken dengan paksa.
"Maafkan kami, ini perintah!"
"Kirana, pergilah. Menyingkir dari sini!" perintah Ken sembari mencoba melawan orang-orang tersebut karena Ken tidak mau pulang.
Akan tetapi Kirana menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau pergi meninggalkan Ken saat dalam masalah.
"Tidak, aku akan membantumu!" teriak Kirana.
"Kau ini. Jangan keras kepala cepat pergi!" teriak Ken lagi.
"Plak"
"Brak!"
Namun Kirana malah berlari ke kerumunan dan berusaha menendang, memukul, serta menonjok orang-orang tersebut.
Ken yang melihat hal itu begitu terkejut. Bagaimana bisa seorang Kirana yang tampak polos, tiba-tiba menjadi jago beladiri?
Setelah melumpuhkan orang-orang itu, Kirana segera meraih tangan Ken. "Ayo Ken, kita pergi!"