Mereka berdua pun berlari menuju tempat di mana mobil Ken terparkir. Setelah mereka masuk, Ken menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kencang. Akhirnya mereka bisa lolos dari kejaran orang-orang suruhan ayah Ken.
Sambil menahan rasa sakit, salah satu dari mereka telah menelpon pak Rudi.
"Halo, maaf Pak. Mas Ken lolos. Ada seorang wanita yang membantunya lari!"
"Apa wanita? tetap cari Ken sampai dapat. Aku tidak mau tahu, segera bawa dia pulang!"
Kirana dan Ken masih dengan nafas yang tersengal-sengal. Mereka mencoba menarik nafas dan menstabilkannya.
"Hah, aku tidak menyangka kau bisa menghajar mereka begitu saja. Memukul dan menendang tanpa ampun!"
"Jangan salah Ken. Aku belajar beladiri dari kecil. Ayahku yang mengajarkannya!" terang Kirana begitu bersemangat.
"Lalu kenapa kalian tidak menghajar preman-preman yang dengan kasar menagih hutang kepada kalian?"
"Tentu saja tidak. Kami yang berhutang, kami yang bersalah. Aku tidak akan melawan jika kesalahan ada di pihak kami. Tapi ngomong-ngomong, siapa orang-orang tadi? kenapa mereka akan membawamu?"
Ken menelan ludahnya karena terkejut dengan pertanyaan Kirana. Dia takut jika Kirana tiba-tiba marah, karena Ken lah yang bersalah. Orang-orang itu akan membawa Ken karena Ken yang melanggar janji kepada ayahnya.
"Tadi, itu tadi. Entahlah...aku juga tidak tahu. Padahal aku juga merasa tidak punya hutang!"
"Wah, sangat menyebalkan. Untung saja kita bisa lolos dari mereka"
"I-iya kau benar. Untung saja!" jawab Ken tersenyum kecut.
Setelah beberapa menit, mereka telah sampai di basecamp. Ken dan teman-temannya segera mengontak-atik mobil Ken agar dapat berlari dengan kencang, dan memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Mereka segera pergi ke lokasi balapan. Sebenarnya ini tergolong balapan liar. Sebenarnya ia sudah berjanji kepada ayahnya untuk tidak balapan lagi.
Tapi Ken terpaksa melakukannya, karena ia butuh uang untuk membantu Kirana.
Ken hanya berharap, tidak ada polisi malam ini.
Kirana merasa terkejut ketika sampai di lokasi balapan. Ini memang kali pertamanya melihat hal seperti ini. Ia masih merasa canggung.
Beberapa menit kemudian, Rendra datang dengan Diego dan gengnya. Rendra tercengang saat melihat Ken datang dengan seorang wanita.
Dan kali ini ia yakin, wanita tersebut sama sekali bukanlah tipe Ken. Dan anehnya lagi, Ken selalu bercerita kepada Rendra jika ia dekat dengan seorang wanita, tapi kali ini tidak.
"Apa karena Ken sudah pindah, makanya ia seperti menjauh dariku. Atau bahkan ia sudah tidak menganggapku sebagai sepupu terdekatnya lagi? ah tidak...aku mungkin salah sangka"
Daripada berprasangka yang tidak-tidak. Rendra menyebrang jalan dan menghampiri Ken. Ia tidak ingin buruk sangka kepada sepupu terbaiknya itu.
Mereka bersama sejal kecil, melakukan hal apapun, bertukar mainan, bahkan bersekolah di tempat yang sama sejak TK. Namun karena keadaanlah Ken jadi pindah sekolah.
"Hai Ken!" sapa Rendra.
"Rendra, kau sudah datang?"
"Tentu saja. Aku tidak akan melewatkan hal ini. Ken, boleh aku bertanya?"
"Katakanlah!"
"Kenapa kau tiba-tiba menerima tantangan Diego? Apa sesuatu telah terjadi?"
"Oh itu, aku mendadak sedang butuh uang!"
Tiba-tiba saja Kirana mendengar percakapan antara Ken dan Diego.
"Butuh uang? mendadak? apa ini benar-benar karena aku? bahkan ia akan membahayakan nyawanya demi aku? tidak...kenapa Ken melakukan ini? ia benar-benar bersungguh-sungguh untuk membantuku!"
"Seorang Ken butuh uang? ini benar-benar lelucon!" ungkap Rendra terkekeh.
"Hei kau jangan meledekku. Aku tidak ingin melibatkan ayah dalam hal ini" terang Ken.
Lalu Kirana tiba-tiba menghampiri ken dan Rendra. Ken pun seketika menutup mulutnya, ia tidak ingin Kirana mendengar semuanya.
"Dan ini, siapa?" tanya Rendra saat melihat Kirana datang.
"Oh iya, kenalkan ini Kirana. Dan Kirana, ini Rendra. Sepupuku"
"Aku Kirana" sapa Kirana dengan senyumnya yang singkat.
"Wah kau benar-benar andalan. Baru pertama sekolah saja kau sudah mendapatkan kekasih. Aku sangat iri denganmu!" ungkap Rendra.
Kirana pun memanyunkan bibirnya, ia tidak menyangka bahwa selama ini Ken adalah seorang playboy yang sering bergonta-ganti wanita. Jika karena ia butuh bantuan Ken, Kirana tidak akan mau ikut dengan Ken.
"Ah tidak. Kau salah sangka, Kirana adalah teman sebangkuku, dia bukan pacarku!" terang Ken ketakutan melihat tatapan kesal Kirana.
"Wah sayang sekali, padahal Kirana begitu manis. Dan kau tidak tertarik padanya?" ungkap Rendra yang sengaja menggoda mereka berdua.
Ken pun segera menarik tangan Kirana dan pergi menjauh dari Rendra. Dia pun berkata.
"Kirana please, jangan hiraukan kata Rendra. Dia suka mengada-ada dan yang terpenting sekarang. Tolong doakan aku, agar aku bisa menang melawan Diego!"
Tiba-tiba saja Kirana meraih tubuh Ken dan memeluknya erat. "Maafkan aku, aku telah merepotkanmu. Aku yakin, kau akan menang!"
"Hei, hei. Lihat itu!" bisik Rio menepuk pundak teman-temannya sembari menyuruh mereka melihat Kirana yang memeluk Ken.
"Sepertinya mereka punya hubungan spesial!" papar Vicky.
"Kau benar. Jika mereka hanya teman, tidak mungkin pelukan mereka terlihat sangat tulus!" ucap Aldi menambahkan.
Narendra juga melihat hal itu. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa iri melihat Ken dan Kirana saling berpelukan. Padahal ia juga baru bertemu dengan Kirana. Dan baru kali ini Rendra benar-benar merasa iri.
Rendra menggigit bibirnya. "Hah, Rendra kau bodoh... kenapa tiba-tiba kau merasa iri dengan mereka. Di luar sana masih banyak wanita yang lebih cantik dari Kirana"
Ken merasa gemetar. Baru kali ini ia merasakannya. Meskipun beberapa kali ia terlibat hubungan dengan wanita, Ken tidak pernah merasa segugup ini.
"Ken, berjanjilah padaku untuk tetap selamat!"
Ken menghela nafasnya. "Kirana jangan takut. Aku sudah terbiasa melakukan ini"
"Tapi ini baru pertama kali aku melihatnya. Wajar saja jika aku cemas"
"Kau mencemaskanku? Apa kau sudah berubah jadi wanita yang hangat?"
"Apa maksudmu? Aku baik dan peduli"
"Tapi menurutku tidak. Kau dingin dan angkuh"
Kirana melototi Ken. Namun Ken tidak bergeming. Ia menatap mata Kirana dengan waktu yang sedikit lama.
"Setelah aku mendapat uang itu. Kau bisa menebus ayahmu. Kau hanya punya ayahmu kan? Aku akan berusaha sebaik mungkin"
Ken lalu pergi meninggalkan Kirana yang masih berdiri mematung di tempatnya. Kirana tiba-tiba merasa sangat khawatir dengan pria yang baru saja mengobrol dengannya.
"Ken? Kenapa sepeduli itu kau kepadaku? Kita baru pertama kali bertemu. Dan kau sudah banyak membantuku. Aku tidak tahu haruskah aku berubah menjadi sosok yang hangat. Atau tetap dengan Kirana yang dingin?"
Jauh dari tempat Kirana berdiri, Rendra mengawasinya dengan seksama. Tidak, itu karena Kirana tampak berbeda. Sikapnya terlihat polos dan kampungan. Namun kecantikannya natural.
Rendra tak berhenti menatap Kirana. Timbul berbagai prasangka di benaknya. Entah perasaan apa itu? Rendra juga merasa bingung.