Dua mobil itu sudah bersiap di garis start. Diego menggeber-geber knalpotnya seraya bersiap untuk meluncur. Begitu juga dengan Ken. Sesekali ia memejamkan matanya dan berdoa agar dapat memenangkan pertandingan ini untuk membantu Kirana. Ia menggenggam erat setir mobilnya, dan bersiap menancap gas.
Gadis payung nan cantik mulai menghitung mundur dengan menenteng bendera.
"Tiga, dua, satu...!!!"
"Wusshhh…!!!"
Kedua mobil itu pun melesat dengan cepat. Melintasi jalanan yang dipilih sebagai rute balapan tersebut. Menancap pedal gas lebih dalam, demi mencapai kemenangan.
Diego unggul beberapa meter di depan Ken. Namun Ken tidak merasa khawatir. Ia tetap terlihat santai dan tenang. Sebentar lagi akan ada jalan menikung dan berkelok-kelok cukup tajam.
Dalam hal ini, Ken lah yang akan unggul. Ken sangat yakin, karena dirinya adalah pembalap handal di jalan menikung. Dan benar saja, saat jalanan mulai menikung. Dengan mudah Ken mendahului mobil Diego. Ia memutar-mutar setirnya dengan lihai, sampai-sampai mobil terlihat seperti tergelincir. Namun jangan salah sangka, itu adalah salah satu trik seorang Ken untuk beraksi di jalanan menikung.
Kirana tak henti-hentinya mengucap doa untuk Ken, agar tidak terjadi apa-apa dengan Ken. Kekhawatirannya memuncak. Apalagi ini adalah kali pertamanya melihat balapan seperti ini. Jantungnya berdetak dengan kencang. Bahkan ia sangat gemetar.
"Tuhan, tak apa jika Ken tidak memenangkan balapan ini. Tapi aku mohon selamatkanlah dia!"
Kirana menggenggam erat kedua telapak tangannya, dan mendekatkannya ke bibirnya. Ia sangat gugup. Sesekali ia memejamkan matanya dan kembali berdoa.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" batin Kirana yang mondar-mandir tak bisa diam.
Rendra yang melihat itu, merasa kasihan dengan Kirana. Ia pun mendekatinya.
"Kirana, tenanglah. Ken akan baik-baik saja!"
"Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan ia sedang bertaruh nyawa"
Rendra terkekeh dan membatin. "Gadis itu polos sekali"
"Kirana, jangan terlalu khawatir! Ken sudah terbiasa melakukan ini"
Kirana melirik tajam ke arah Rendra. "Kau diam saja. Jangan membuatku semakin gugup"
Seketika Rendra diam, namun terlihat menahan senyumnya.
Baru kali ini ia melihat gadis yang begitu polos. Akan tetapi ia memiliki ketulusan hati, apalagi saat melihat Ken sedang balapan. Entah kenapa Rendra semakin iri, saat Kirana terus mengkhawatirkan Ken.
Sementara Ken masih berjuang untuk mengalahkan Diego. Kali ini jalanan lurus ada di depan mata, lagi-lagi Diego dapat mendahului Ken dengan mudah.
"Haiist sial..." keluh Ken merasa kesal.
Tiba-tiba saja Ken merasakan gemetar pada tubuhnya. Seketika jantungnya berdetak kencang. Ken teringat saat Kirana memeluknya dan memberinya semangat. Ia pun berkata dalam batinnya.
"Ini adalah hari yang paling mengesankan bagiku. Aku tidak sengaja menabraknya. Lalu aku tidak menyangka bahwa dia akan menjadi teman sebangkuku. Kemudian kami berteman, dan melewati waktu bersama. Kirana, apakah ini petunjuk dari Tuhan jika kaulah pendamping hidupku kelak? kenapa aku merasa sangat bergantung padamu. Bahkan tiba-tiba aku menerima tantangan Diego demi mendapatkan 100juta. Kirana, tunggu aku! mulai detik ini aku berjanji akan membuatmu bahagia"
Ken menancap pedal gasnya. Mobilnya melesat jauh, mendahului mobil Diego. Garis finish sudah tampak di depan mata. Mobil Diego hanya berjarak beberapa meter darinya. Ken kembali menambah kecepatannya. Dan dia pun akhirnya melewati garis finish dengan waktu tercepat.
"Ciiittt...!!!" Ken mengerem mobilnya, suaranya terdengar melengking.
"Yeay... Ken menang!" seru Rio dan teman-temannya kegirangan.
"Yes Ken berhasil gaes…!"
Mereka bertiga meloncat-loncat kegirangan mendapati bahwa Ken telah memenangkan balapan ini. Ketiganya pun berpelukan dan melakukan tos persahabatan mereka.
Kirana masih merasa gemetar. Ia tidak menyangka Ken akan melakukan hal ini demi Kirana. Bagi Kirana ini adalah sesuatu yang begitu extrem. Akan tetapi bagi Ken ini adalah hal yang biasa untuknya.
Beberapa menit kemudian Ken tampak keluar dari mobilnya. Kirana begitu panik. Seketika ia berlari ke arahnya dan memeluknya begitu saja. Bahkan ia pun tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Semua terjadi dengan tiba-tiba.
"Ken, apa kau tidak apa-apa? kau baik-baik saja kan? bagaimana keadaanmu?" Kirana tampak sibuk memeriksa wajah Ken, lengan Ken, siku Ken dan bagian tubuh lainnya.
Ken pun segera menarik tangan Kirana dan memegangi kedua pipi Kirana.
"Hei, dengarkan aku dulu! kenapa kau begitu panik? aku tidak apa-apa. Dan aku juga baik-baik saja. Bukankah aku sudah bilang, aku sering melakukan hal ini? lalu kenapa kau masih khawatir?"
"Tetap saja Ken, aku takut jika aku tidak bisa melihatmu lagi!"
"Apa?" Ken mengernyitkan dahinya. Dia terkejut dengan perkataan Kirana. Ken pun berpikir. "Tidak bisa melihatnya lagi? berarti itu sama saja ia tidak ingin kehilanganku?"
"Ah maksudku. Aku takut kau celaka. Itu saja!" jawab Kirana gugup.
"Ah, aku tahu. Jika kau khawatir denganku. Berarti kau mulai mencintaiku kan?" kata Ken sembari tersenyum genit.
"Omong kosong apa kau ini?" Kirana merasa salah tingkah. Ia pun pergi meninggalkan Ken begitu saja untuk menutupi rasa malunya. Pipi Kirana memerah. Ia merasa sangat malu. Ken tersenyum melihat tingkah Kirana yang begitu aneh karena terlalu mengkhawatirkannya.
Setelah pertandingan selesai, mereka semua kembali ke basecamp. Ken pun akhirnya menceritakan semuanya kepada teman-temannya tentang niatnya menerima tantangan balapan, karena untuk Kirana. untungnya semua teman Ken baik. Mereka menyadari posisi Ken. Bahkan mereka akan melakukan hal yang sama jika menjadi Ken. Keselamatan ayah Kirana yang terpenting sekarang.
Biasanya setelah Ken menang mereka akan pergi makan-makan ataupun liburan. Akan tetapi sekarang uang tersebut untuk Kirana, jadi Ken tidak akan mentraktir teman-temannya. Ken lalu meminta maaf untuk hal itu.
"Kalian tak apa kan? jika aku pakai uang ini seutuhnya? untuk Kirana?" ujar Ken sedikit menyesal.
"Kau ini bicara apa? tentu saja kita tidak apa-apa. Kita sudah sering melakukannya, pergi bersama, makan bersama. Jadi pakailah uang itu jika kau memang memerlukannya!" terang Rio mewakili teman lainnya.
"Baiklah. Terimakasih teman-teman kalau begitu, kami undur diri!" ungkap Ken sembari melakukan tos untuk perpisahan.
"Apa kau yakin, ini tengah malam?" tanya Vicky khawatir.
"Tidak apa-apa. Ayah Kirana harus segera di selamatkan!" tambahnya.
"Baiklah. Berhati-hatilah kalian. Jika ada apa-apa segera hubungi kami!" sahut teman Ken yang lain.
"Terimakasih semuanya. Kami pamit dulu" sapa Kirana berpamitan.
Sampai di mobil, Kirana menggenggam tangan Ken. Hatinya berdebar. Rasa haru, terimakasih ingin ia sampaikan kepada Ken. Tapi bibirnya tidak bisa berucap apapun. Matanya nanar. Kirana berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air matanya.
"Hei, kau ini kenapa?"tanya Ken.
"A-aku gak tau harus ngomong apa? aku terimakasih banyak Ken!"
Ken meraih kepala Kirana, lalu menyandarkan di bahunya. Dengan lembut Ken mengusap kepala Kirana.
"Ini bukan apa-apa Kiran. Sekarang, keselamatan ayahmu yang terpenting! berhenti menangis. Setelah ini kita masih akan berjuang!"
Kirana mengangguk. "Baik Ken. Ayo kita pergi!"
Ken tersenyum. Senyum yang begitu merekah. Senyum yang membuat siapapun yang menatapnya akan menjadi tenang dan damai. Begitu lah Ken di mata Kirana.