Kirana memukul-mukul bantal di kasurnya. Ia berguling ke kanan, ke kiri. Pikirannya begitu kacau. Terkadang ia tersenyum sendiri. Tapi tiba-tiba berteriak tidak jelas.
"Aaahh... Kirana. berhenti memikirkannya!" teriaknya.
Kirana menjatuhkan dirinya ke kasur. Ia lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dan bersembunyi di baliknya.
Kirana mencoba memejamkan matanya, agar ia cepat tidur dan melupakan semuanya.
Tapi lagi-lagi, Kirana mengingat ciuman mesra itu. Ini adalah ciuman pertamanya. Tentu saja Kirana tidak bisa melupakannya.
"Ken, kenapa kau membuatku tidak waras seperti ini? Hikz--hikz..."
Dan akhirnya Kirana tiba-tiba menangis. Sungguh hal itu membuatnya frustasi.
Drrtt... drrt....
Ponsel Kirana, berdering. Ia segera meraih ponselnya.
"Apa Ken? kenapa Ken? dia sudah membuatku seperti orang sinting. Kenapa sekarang menelpon?"
Alih-alih mengangkat teleponnya, Kirana hanya memandangi ponselnya tanpa bergeming.
Tiga panggilan tidak terjawab. Dan Kirana hanya melotot menatap layar ponselnya.
"Satu lagi aku tunggu. Jika menelpon lagi, berarti kita berjodoh. Kalau tidak, yasudah. Aku membuang jauh-jauh perasaan ini" guman Kirana.
Ia menunggu sedikit lama. Ken tidak menelpon lagi. Kirana sedikit kecewa.
"Kenapa tadi aku mengatakan hal itu? Ah tidak-tidak. Apa kau berharap Ken adalah jodohmu? Arrgghhh... Kirana, hentikan!!!"
Kirana memberantakan rambutnya dan menendang bantal gulingnya sehingga semuanya berjatuhan.
Drrtt... drtt...
Tiba-tiba saja ponsel Kirana berdering lagi. Ia segera mengangkat telepon itu.
"Halo, kenapa lama sekali?"
Ken melotot. Dia memeriksa kembali ponselnya dan memastikan bahwa yang ia telpon benar Kirana.
"Benar, ini Kirana. Kenapa dia tiba-tiba marah?" batin Ken.
"Halo, kenapa diam?"
"Ini Kirana kan?"
"Benar, siapa lagi?"
"Bukannya aku menelpon berkali-kali, tapi kau tidak menjawab? sekarang kenapa jadi aku yang salah?"
Kirana memanyunkan bibirnya. Ia merasa salah tingkah.
"Tadi kan aku masih repot"
"Oh, begitu. Sepertinya kau menungguku telepon dariku kan, pipi tomat?"
"Hah. Jangan terlalu percaya diri hidung kecubung"
"Ternyata, cintaku bertepuk sebelah tangan ya?"
"Apa kau bilang?"
"Tidak. Lupakan saja! Selamat tidur Kirana. Mimpi indah ya"
Tut..tut...
Tiba-tiba saja Ken menutup teleponnya.
"Dasar, tidak jelas!" gerutu Kirana kesal.
Ken menghela nafasnya. Ia mendadak gugup. Ia ingin sekali mengatakan I love you kepada Kirana. Tapi dia tidak punya keberanian untuk itu.
"Ah dasar. Kau pengecut sekali Ken!" umpatnya kepada dirinya sendiri.
Keesokan harinya...
Seperti biasa Kirana berangkat sekolah dengan mengayuh sepedanya. Kali ini entah kenapa ia begitu bersemangat. Jaket berwarna oranye yang di belikan oleh Ken selalu dipakainya pergi bersekolah. Selain warna oranye yang ia suka, itu adalah kali pertama Kirana memiliki jaket mahal. Mungkin jika ia ingin membelinya, ia harus menyisihkan uang jajannya selama tigal bulan. Untuk itu, Kirana sangat menyukai jaket tersebut.
Beberapa menit kemudian, Kirana dan Reina telah sampai di halaman sekolah. Beberapa siswa sudah tampak hadir dan berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Ken, ia memarkir mobilnya ditempat parkir para guru.
"Hai Ken!" sapa Dimas yang baru saja tiba do sekolah.
"Hai Dim" jawab Ken, dan mereka pun berjalan beriringan menuju kelas mereka.
"Dimas, apa kau mau membantuku?" pinta Ken.
"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu?" tanya Dimas penasaran.
"Aku ingin membeli motor. Kau bisa bantu kan?"
"Apa? kau yakin? membeli motor?"
"Tentu saja yakin. Aku tidak tahu dealer dekat sini. Lama-lama aku merasa tidak enak jika terus memakai tempat parkir para guru!" terang Ken yang masih berjalan beriringan dengan Dimas.
"Astaga. Beli motor? seperti ingin beli permen saja. Kapan Ken aku bisa sepertimu?
"Apa? ada yang salah dengan ucapanku? Dimas, jadi aku sangat tidak enak. Sebaiknya urungkan niatmu untuk jadi sepertiku"
"Apa benar begitu?" tanya Dimas heran.
"Kalau begitu ini kartu ATMku. Pin nya akan aku kirim lewat w******p. Kau tahu kan motor cross yang terbaru sekarang? aku ingin yang itu!"
Dimas menelan ludahnya, sekalinya ia ingin membeli motor, kenapa yang harganya setara dengan mobil? membayangkannya saja Dimas merasa tidak sanggup.
"Lalu kenapa kau tidak ikut denganku saja?" tanya Dimas.
"Setelah pulang sekolah, aku ada janji. Jadi tolonglah aku. Kau bisa memakai uang itu jika kau ingin membeli sesuatu. Santai saja!"
"Ah tidak Ken. Baiklah aku akan membantumu, tapi untuk memakai uangmu. Aku tidak akan melakukannya. Lebih baik kau mentraktirku saja!"
"Baiklah jika itu maumu. Kita akan pergi makan-makan" ungkap Ken. Namun tiba-tiba keduanya dikagetkan dengan suasana depan kelas mereka yang begitu ramai. Terlihat semua murid membawa balon-balon berbentuk hati. Dan seperti akan ada yang memberi kejutan.
"Apa hari ini ada yang ulang tahun?" tanya Ken kepada Dimas.
"Entahlah, tapi kelihatannya meriah sekali. Ayo kita kesana!" ajak Dimas. Dan keduanya mempercepat langkah menuju kerumunan itu.
Kirana diam terpaku menatapi Mario yang membawa buket mawar merah tersebut. Pria tampan dan populer di sekolahnya itu telah menyatakan perasaannya kepadanya. Akan tetapi hatinya merasa biasa saja. Padahal momen inilah yang didambakan setiap siswi di sekolah itu.
"Kirana, maukah kau jadi pacarku? maaf jika ini terlalu mendadak. Akan tetapi, aku benar-benar tidak bisa memungkiri bahwa aku sangat mencintaimu!"
Seketika suasana menjadi sangat ricuh. Mereka semua membicarakan Kirana dan Mario. Bagaimana bisa seorang Mario jatuh cinta kepada Kirana? mereka menganggap bahwa Kirana begitu beruntung.
"Wah Kirana, si gadis biasa itu? bagaimana mungkin?"
"Tentu saja ia akan menerima cinta Mario. Bukankah itu impian setiap gadis. Apalagi seorang Kirana yang setiap hari mengayuh sepedanya ke sekolah?"
Telinga Kirana merasa sangat panas mendengar ocehan murid-murid lain yang tak henti membicarakannya, dan merendahkannya. Sedangkan Reina, ia masih terkejut dengan apa yang diungkapkan Mario.
"Kirana? kau akan menjawab apa?" tanya Reina berbisik.
Tiba-tiba saja Ken masuk ke dalam kerumunan dan menatapi Kirana dengan tajam. Dimas juga membuntuti Ken di belakangnya. Kirana pun juga menatapi mata Ken, ia pun berpikir.
"Mata itu? mata itu seakan-akan menyuruhku untuk menolaknya. Tapi apa ini tandanya Ken mencintaiku? ah tidak...kenapa aku tiba-tiba berharap kepadanya? meskipun Ken tidak memiliki perasaan itu. Aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun!"
"Kirana. Jika kau menerimaku, ambillah bunga ini! jika tidak kau boleh membuangnya!" pinta Mario dengan tulus.
Entah kenapa Ken tiba-tiba merasa begitu terluka saat melihat Mario menyatakan perasaannya kepada Kirana. Ia merasa dirinya sangat pengecut, bahkan sampai saat ini, Ken belum berani menyatakan perasaannya kepada Kirana. Ken hanya mampu menatapi Kirana dan berharap ia takkan menerima cinta Mario.
"Kirana, jika kau benar memiliki rasa yang sama sepertiku. Kau akan mendengar batinku ini. Aku mohon jangan menerimanya Kirana. Aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu" ungkap Ken dalam hatinya.
Kirana mencoba meraih buket bunga itu, namun hatinya masih belum begitu yakin.
"Wah Kirana menerima bunganya? apa dia menerima cinta Mario?"
"Tentu saja, ia takkan menyia-nyiakan kesempatan seperti ini!"
Suara-suara desus itu muncul lagi ditelinga Kirana. Dan benar-benar menggangunya. Namun tiba-tiba angin berhembus perlahan, menerpa rambutnya yang terurai panjang. Kirana merasa sangat damai saat diterpa angin tersebut. Dan tiba-tiba saja seperti ada yang berbisik di telinganya.
"Aku mencintaimu Kirana. Benar-benar mencintaimu..."
Seketika Kirana tercengang. Ia pun membatin. "Suara itu? suara yang tidak asing aku dengar. Kenapa hatiku tiba-tiba merasa gelisah?"
Kirana kembali menatapi Ken. Tampak wajahnya yang begitu suram, dan seperti menantikan sebuah momen besar yang akan berpengaruh dalam hidupnya.
"Kirana? kau mengambil bunganya? berarti tandanya kau menerima cintaku?" tanya Mario berharap penuh kepada Kirana.
Kirana menatapi Mario yang saat itu sedang menunggu jawabannya. Wajahnya tampak serius. Akan tetapi Kirana yakin, bukan Mario lah yang ia cintai. Dan ia yakin keputusannya, adalah keputusan yang tepat. Kirana tiba-tiba melepaskan genggamannya, dan bunga itu pun terjatuh tepat dibawah kaki Kirana.
"Maafkan aku Mario. Aku tidak bisa menerima cintamu!"
"Hah, Kirana menolak Mario. Bagaimana bisa? dia benar-benar gadis yang angkuh!" sahut murid-murid disekitar mereka.
Vanya pun melotot melihat Kirana yang menolak Mario mentah-mentah dan menjatuhkan buket bunga itu begitu saja.
Setelah menjatuhkan bunga itu, Kirana bergegas meninggalkan Mario dan akan masuk ke dalam kelasnya. Akan tetapi Mario meraih tangan Kirana dan mencengkeramnya. "Kenapa? kenapa kau menolak ku? apa kekurangan ku? kau tahu kan, semua gadis di sini selalu ingin menjadi pacarku. Lalu kau dengan mudah menolak ku dan mempermalukan diriku di depan banyak orang?"
"Lepaskan tanganku. Ada hati yang harus aku jaga. Aku takkan mengkhianatinya!" ungkap Kirana dengan lantang.
Tiba-tiba Ken merasa terkejut dengan jawaban Kirana. Ia kembali membatin. "Hati yang dia jaga? apa itu aku? Kirana, apa kau mendengar kata hatiku?"
"Kau harus membayar ini semua. Kau sudah mempermalukan ku!" teriak Mario kesal.
"Apa kau sudah sinting? aku tidak memintamu melakukan ini? lalu kenapa kau memintaku bertanggung jawab?" teriak Kirana yang juga merasa emosi.
"Lepaskan tanganku! ini sakit!"
"Lepaskan dia!" teriak Ken melerai keduanya.
"Kau siapa berani ikut campur urusanku dengan Kirana!" pekik Mario.
"Aku adalah orang yang di maksud Kirana. Dia ingin menjaga hatiku. Untuk itu pergilah dan jangan lagi menggangunya!" papar Ken penuh keyakinan.
Mario benar-benar merasa kesal, ia merasa malu sangat malu. Baru kali ini cintanya ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis, apalagi gadis biasa seperti Kirana. Mario pun memilih untuk pergi, ia melepas tangan Kirana dan melemparnya begitu saja.
"Ambil Kirana. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Lihat saja nanti!" teriak Mario meninggi.
"Aww...dasar pria sinting" ujar Kirana sembari mengelus tangannya yang terasa sakit karena cengkraman Mario.
"Apa kau terluka?" tanya Ken.
Kirana hanya menatap wajah Ken dengan seksama. Tanpa berkata apapun, Kirana masuk ke kelas dan duduk di bangkunya.
Kirana merasakan sesuatu yang sangat aneh. Ia mendengar bisikan itu. Suaranya tidak asing, namun ia belum bisa memastikannya. Untuk menanggapi Ken, atau berharap banyak kepadanya, Kirana takut dan tak ingin kecewa. Banyak perbedaan diantara mereka. Kirana tak yakin akan hal itu.