Sebuah pesta besar akan diadakan di rumah keluarga Liandra. Bagaimana tidak, ini adalah pesta ulang tahun Ken yang ke 17 tahun. Di mana bagi setiap orang, diumur tersebut akan menjadi umur bersejarah. Tentu saja bukan hanya sekedar pesta biasa. Tapi juga perjalanan bisnis bagi orang besar.
"Kak, apa kau akan pakai gaun mana nanti malam?jika kau tidak punya gaun yang cantik, ambil saja punya ku!" tanya Alena.
"Tidak Alen. Aku sedang bekerja, jadi aku akan memakai ini saja!" kata Kirana.
"Baju suster? apa kakak yakin?"
Kirana menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak tertarik dengan pesta tersebut. Pesta yang tidak pantas untuk kalangan Kirana. Jika Kirana memaksa hadir, mungkin akan membuat dirinya di permalukan. Walaupun sebenarnya Ken juga mengundang semua murid di sekolahnya. Tapi tetap saja, Kirana lebih memilih untuk bekerja. Karena, di hari minggu ada bonus untuknya jika ia tetap bekerja.
Setelah memberikan sarapan untuk Alena, ia segera mengemasi piring dan gelas kotor milik Alena ke dapur. Ia pun bertemu dengan banyak asisten rumah tangga yang lain. Mereka sudah sangat akrab. Kirana dikenal sebagai gadis yang begitu baik dan lembut, serta sopan santun.
"Kirana apa kau bisa membantuku? hari ini pekerjaanku banyak sekali, belum lagi aku diminta untuk menghandle pesta mas Ken! apa yang harus aku lakukan?" kata Bu Laili assisten rumah tangga yang sehari-hari menghandle keperluan Ken.
"Baiklah ibu, tenang saja! aku akan membantumu mengerjakan tugasmu. Dan kau, bisa fokus untuk menghandle pesta!" jawab Kirana sembari tersenyum.
"Benarkah, wah...kau baik sekali Kirana. Aku akan sangat berterima kasih kepadamu. Tenang saja, jika gaji bonus ku sudah keluar, aku akan memberikannya untukmu!" papar Laili dengan rasa syukurnya.
"Sudahlah bu, jangan terlalu sungkan. Aku benar-benar senang melakukan ini. Aku tidak akan merasa terbebani. Kalau begitu, tolong catat apa saja yang harus aku lakukan!" kata Kirana dengan semangatnya. Walaupun sebenarnya ia merasa tidak nyaman karena mengurus Ken. Karena hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Kirana melakukan semua itu hanya karena ingin menolong Bu Laili.
"Baiklah Kirana. Akan aku catat beberapa tugas yang harus kau lakukan untuk Mas Ken!" jawab Bu Laili sembari menulis tugas untuk Kirana.
Tugas Kirana untuk Ken:
✓Membangunkan tidur
✓Menyiapkan air hangat untuk mandi
✓Mengantar sarapan
✓Mengambil baju kotor
✓Menyiapkan baju ganti
✓Membersihkan kamar
✓Mencuci baju
✓Mengantar makan siang
✓Menyetrika dan merapikan baju
✓Membuat jus dan camilan
✓Menyiapkan baju ganti sore hari
"Kirana ini daftar tugasmu hari ini, berhubung hari ini ada pesta, kau tak perlu menyiapkan makan malam. Mas Ken jarang sekali bergabung di meja makan dengan nyonya, untuk itu makanan harus di bawa ke kamarnya!"
Kirana menerima kertas tersebut, kemudian ia membacanya. Seketika Kirana menelan ludahnya.
"Ada apa Kirana? apa kau keberatan?" tanya Bu Laili.
"Ah tidak. Kenapa mengurusnya lebih merepotkan dari pada mengurus bayi?" keluh Kirana pelan.
"Kau bilang apa Kirana? aku tidak mendengarnya?" tanya Laili.
"Tidak bu, baiklah aku akan melakukannya. Fighting!" jawab Kirana begitu bersemangat.
Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar Ken. Ini adalah kali pertamanya Kirana masuk ke dalam kamar seorang pria. Kirana sedikit merasa gemetar, namun ia mencoba untuk tenang. Kirana pun mulai membuka pintu, dan masuk ke dalam kamar Ken yang begitu luas dan besar. Ia berjalan mengendap-endap sembari mengamati sekitar. Bola matanya berputar-putar mengoreksi seisi ruangan. Ia menghela nafasnya dan membatin. "Bagaimana sebuah kamar bisa sebesar dan semegah ini? alangkah bodohnya dia jika masih saja mengeluh!"
Kirana berjalan ke arah jendela kaca yang begitu besar. Ia membuka gordennya. Dari balik jendela kaca tersebut terlihat pemandangan yang begitu indah. Pegunungan yang terlihat jelas, kebun membentang luas. Sangat menyejukkan mata. Lagi-lagi Kirana berpikir. "Seandainya saja ini menjadi kamarku, mungkin aku akan bersyukur setiap hari. Aku takkan pergi kemanapun. Karena aku akan merasa betah di sini!"
Kirana menghela nafasnya. Ia kembali teringat bahwa semuanya hanyalah angannya saja. "Hah... Kirana sadarlah. Kau hanya seorang Kirana, pembantu di rumah ini!" keluh Kirana lirih.
Kemudian ia menghampiri ranjang yang begitu besar. Terlihat Ken yang masih tertidur dengan pulas. Ia pun mendekatinya dan mencoba membangunkannya.
"Ken, bangunlah. Ken, buka matamu. Ini sudah pagi?" kata Kirana sembari menggoyang-goyangkan tubuh Ken.
Tiba-tiba Ken menggerakkan badannya dan menggeliat. Namun ia masih menutup matanya, dan berkata. "Bagaimana bisa aku mendengar suara Kirana? apa aku masih bermimpi?"
Kirana tercengang. Ia bingung dengan apa yang di katakan Ken.
"Hei, aku bicara apa? aku memang ada di sini! cepat bangun! dan jangan manja! dasar bayi jumbo!" teriak Kirana.
Seketika Ken terkejut dengan omelan Kirana. Ia membuka matanya dan mengusap-usapnya, berharap apa yang ia lihat adalah benar.
"Apa? kau benar Kirana? jadi aku tidak bermimpi?" tanya Ken yang masih merasa kebingungan.
"Tentu saja tidak!" teriak Kirana semakin kencang.
Tiba-tiba Ken menarik tangan Kirana, sehingga Kirana jatuh menimpa dirinya. Seketika Ken memeluk Kirana erat. "Seandainya saja ini terjadi setiap hari. Memelukmu saat aku membuka mataku di pagi hari. Mencium aroma wangi di tubuhmu. Hah... benar-benar sebuah anugerah terindah!"
Kirana memukul kepala Ken. "Hentikan omong kosong mu itu, ayo cepat bangun. Dan pergi mandi!"
Kirana melepas pelukan Ken, dan segera berdiri kembali.
"Kenapa kau begitu kasar? apa tidak bisa kita melakukan hal romantis sebentar saja?" tanya Ken yang masih merasa malas.
"Tidak akan. Cepat berdiri, dan pergi ke kamar mandi, atau kau ingin sepatuku melayang?" bentak Kirana.
"Ah, tidak. Baiklah aku akan ke kamar mandi. Jangan lakukan itu!"
Seketika Ken terbangun dan berlari ke kamar mandi. Sementara Kirana, ia cengingisan melihat tingkah Ken yang begitu ketakutan.
Sementara dibalik pintu kamar Ken. Beberapa asisten rumah tangga berkumpul dan mengintip kegiatan Kirana dan Ken. Mereka sangat terkejut saat Kirana menyuruh Ken dengan seenaknya saja, sedangkan mereka semua selalu takut untuk berhadapan dengan Ken.
"Wah Kirana? bagaimana bisa dia melakukan itu kepada Mas Ken?" kata salah satu dari mereka.
"Kau benar. Mas Ken sampai lari terbirit-b***t" sahut lainnya.
"Seandainya saja, Kirana benar menghandle mas Ken untuk selamanya. Aku pasti bisa bernafas lega. Biar aku saja yang mengurus mbak Alena!" sahut Laili.
Tiba-tiba saja Nirina yang kebetulan melewati kamar Ken begitu terkejut melihat beberapa asisten rumah tangga sedang mengintip di sela-sela pintu kamar Ken.
"Ehem, ehem...!"
Mereka pun menoleh bersama-sama. Alangkah terkejutnya mereka saat mengetahui bahwa ia adalah nyonya besar.
"Hah. Nyonya maafkan kami!"
"Apa yang kalian lakukan?"
"Maaf nyonya. Kami hanya ingin melihat Kirana yang sedang mengurus mas Ken, karena kebetulan saya ada tugas untuk mengurus pesta ulang tahun mas Ken nanti malam!" jawab Laili.
"Kirana? maksud kamu susternya Alena yang baru?"
"Benar nyonya!"
"Apa dia bisa mengurus Ken? dia masih terlalu muda untuk menghandle keperluan Ken!"
"Kirana bisa melakukannya nyonya. Bahkan Mas Ken sampai lari terbirit-b***t mendengar teriakan Kirana!"
"Apa?" Nirina pun tersenyum. Sepertinya ia mendapat seseorang yang pas untuk mengurus Ken yang susah di atur itu.
"Baiklah. Kembali ke pekerjaan kalian masing-masing!"
"Baik nyonya, kami permisi!"
Mereka pun kembali ke tugas masing-masing. Sementara Nirina yang penasaran dengan apa yang di ceritakan asisten rumah tangganya, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.