Hari pertama.
Di mana Ken akan menjadikan tiga harinya sebagai hari yang mengesankan untuk Kirana. Walaupun ia belum mengatakan apapun tentang hari kepergiannya untuk beberapa tahun ke depan. Ken, tidak akan sanggup untuk memberitahu Kirana soal itu, apalagi dengan kondisi Kirana yang baru saja siuman dari koma nya. Ken bingung harus menjelaskan dari mana. Ia pun pasrah, Ken beranggapan mungkin jika hari kepergiannya sudah dekat, Ken akan sanggup mengatakan semuanya.
Setelah selesai berbenah, Ken segera turun dari kamarnya. Namun terlihat Rudi yang juga akan pergi untuk perjalanan bisnis.
"Ayah?" panggil Ken.
Rudi menyunggingkan senyumnya, sepertinya ia sangat mempercayai janji Ken yang setelah ini akan berjuang di negeri orang. "Aku harap kau memegang janjimu!"
"Pasti ayah. Aku akan melakukannya. Demi ayah, dan demi wanita yang aku cintai" ungkap Ken dengan sungguh-sungguh.
Akan tetapi senyum Rudi berubah menjadi masam. Ternyata sebesar itu cinta Ken kepada Kirana. Namun ia juga sangat menghargai ayahnya. Hatinya pun seketika terenyuh mendengar ungkapan Ken. Tak ingin melihat Ken mengetahui jika ia akan meneteskan air matanya, Rudi pun memilih untuk pergi.
"Ayah pergi. Semoga kau berhasil!" terang Rudi tanpa melihat wajah Ken, dan berlalu begitu saja.
Ken pun mengangguk seraya memberi hormat mengiringi kepergian ayahnya untuk perjalanan bisnis.
Tak disangka, dari kejauhan tampak Narendra yang mengawasi gerak-gerik Ken. Sepertinya rasa penasaran sangat tinggi. Ia pun bermaksud untuk mengikuti Ken.
…
Kirana sudah bersiap. Hari ini adalah hari spesial untuknya. Ken telah mengajaknya keluar. Sesuai dengan janjinya yang akan membuat hari-hari Kirana berkesan. Ia pun merasa sangat bersemangat. Kirana mengenakan setelan berwarna oranye. Dan kali ini ia sengaja membuat rambutnya sedikit Curly. Tak lupa ia membawa blazer pemberian Ken, karena suasana diluar lumayan dingin.
Wira mengetahui semua rencana Ken. Ia tersenyum menatapi putrinya yang begitu bahagia, akan tetapi ia kembali bersedih saat ingat kebahagiaannya bersama Ken hanyalah sementara. Karena Ken lah yang memilih pergi. Bukan Wira dan Kirana.
Terdengar suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumah Kirana. Seketika Kirana tampak begitu senang. Ia meraih tas kecilnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
"Itu pasti Ken. Ayah, Kirana pamit dulu!" kata Kirana sembari mencium punggung tangan ayahnya.
"Berhati-hatilah nak!" ujar Wira.
"Baiklah ayah. Ayah hati-hati di rumah!" ungkap Kirana yang kemudian pergi keluar rumah.
Ken tersenyum lebar, melihat Kirana yang sudah bersiap. Ken tak menyangka bahwa Kirana kelihatan sangat cantik saat mengenakan baju yang ia belikan.
"Kau sungguh cantik!" ungkap Ken.
"Itu karena pakaian mahal yang aku kenakan bukan?" ujar Kirana.
"Ah tidak. Bukan karena itu. Kau cantik apa adanya. Silahkan nona, masuklah!" kata Ken sembari membukakan pintu mobil untuk Kirana.
Kirana pun tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil Ken. Dan setelah itu mereka pergi ke tempat yang sudah direncanakan Ken.
"Kita akan kemana?" tanya Kirana penasaran.
"Pertama, aku akan mengajakmu makan" kata Ken.
Kirana pun mengangguk. Namun tiba-tiba Ken meraih tangan Kirana dan menggenggamnya. "Kau tahu, aku selalu ingin melakukan hal ini. Menggenggam tanganmu, dan takkan melepasnya!"
Seketika Kirana pun menoleh menatap Ken yang sedang fokus mengemudikan mobilnya, namun dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang lain terus menggenggam tangannya. Kirana merasakan hal aneh, namun ia kembali menepisnya. Kirana mengira Ken hanyalah rindu kepadanya, karena Kirana yang baru saja mengalami koma selama dua minggu.
"Aku juga. Aku ingin kau selalu menggenggam tanganku, seperti ini!" ungkap Kirana sembari tersenyum. Dan sesekali mereka pun saling menatap mencuri pandang.
Ken membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan yang cukup terkenal di kota itu. Keduanya pun turun dari mobil dan beranjak masuk ke restoran tersebut. Restoran itu memiliki view yang menarik, sebagian terletak outdoor. Tempatnya yang berada di pinggiran tebing pegunungan membuat pengunjung bisa menikmati keindahan alam secara alami. Selain itu, beberapa pohon Pinus yang begitu tinggi dan hijau menambah poin keindahan tempat tersebut.
Awalnya Kirana sempat heran karena tidak ada satupun pengunjung di tempat itu, karena biasanya restoran tersebut begitu ramai, apalagi jika menginginkan berada di kawasan outdoor. Pengunjung akan rela membayar dua kali lipat untuk berada di kawasan outdoor, seperti halnya ruang VIP. Kirana benar-benar tidak menyangka bisa masuk ke dalam restoran ini. Tempat itu hanyalah satu dari daftar keinginan jika ia dewasa kelak dan memiliki banyak uang. Bagaimana mungkin ia bisa pergi ke tempat makan yang spesial itu? Bahkan untuk makan sehari-hari saja dia dan ayahnya harus berhemat.
Tak disangka, Narendra diam-diam mengikuti Kirana dan Ken sampai ke restoran tersebut. Meskipun resiko yang didapatkan adalah sakit hati dan cemburu. Entah bagaimana perasaan sekarang. Yang ia tahu, Narendra hanya merasa tidak rela jika melihat Ken dan Kirana berduaan.
Beberapa hidangan sudah tersaji di atas meja. Tapi kali ini sedikit tampak berbeda. Meja dan kursi itu terhias sangat indah dengan balutan kain-kain berwarna pink. Sedangkan kursi yang lainnya tidak seperti itu. Namun Kirana hanya membatinnya dalam hati. Beberapa tangkai bunga mawar juga tertata rapi di vas meja itu. Kirana begitu terpesona melihat semuanya.
"Surprise!!" kata Ken yang seketika mengejutkan Kirana. Tiba-tiba saja Ken membentangkan tangannya, seraya memberi isyarat agar Kirana mendekat dan memeluknya. Kirana merasa terharu melihat kejutan yang disiapkan oleh Ken.
Dengan sedikit malu-malu, Kirana mendekat kearah Ken dan memeluknya. Seketika Ken pun mendekap Kirana dengan erat.
"Terimakasih Ken, semuanya begitu indah" ungkap Kirana terharu.
"Aku sengaja menyewa tempat ini. Lengkap dengan semua kejutan yang sudah aku siapkan untukmu!" terang Ken begitu bahagia.
"Tapi untuk apa? Bukankah ulang tahunku juga masih lama?" tanya Kirana.
Seketika Ken terdiam. Tidak mungkin ia mengatakan jika ini adalah rencananya untuk membuat Kirana bahagia sebelum ia pergi.
Ken pun mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia segera menarik kursi yang sudah disiapkan tersebut. "Kirana, ayo duduk!"
Kirana akhirnya duduk, ia melupakan pertanyaan yang tidak dijawab Ken. Karena dirinya sibuk memanjakan mata menikmati keindahan pemandangan di sekitarnya
Tidak lama kemudian datang seseorang mengenakan jas rapi dan membawa sebuah biola. Tiba-tiba orang itu memberi hormat dan mulai memainkan sebuah musik klasik. Hal otu membuat Kirana merasa semakin terharu.
"Ken, kau tidak perlu melakukan semua ini. Pergi berdua denganmu saja, aku sudah merasa senang" ungkap Kirana.
"Kau begitu lama meninggalkanku Kirana. Saat kau koma, apa kau tidak tahu. Aku merasa sangat kesepian dan akan menjadi gila. Untuk itu aku ingin menebus semuanya" terang Ken diikuti tawa kecilnya.
Seketika Kirana meraih tangan Ken dan menggenggamnya. "Terimakasih Ken, aku tidak tahu harus mengucapkan ini berapa kali lagi"
Narendra yang menatapi Kirana dan Ken merasa tidak sanggup lagi menahan kecemburuannya. Entah apa yang ia rasakan, Rendra ingin keluar ke kawasan outdoor yang sudah dipesan Ken tersebut. Namun beberapa pegawai melarangnya.
"Maaf mas. Tempat itu sudah dipesan. Jika anda ingin memesan makanan, silahkan duduk di tempat lain" terang pelayan tersebut.
"Tapi, mereka berdua temanku. Aku hanya ingin bergabung bersama mereka" terang Narendra.
"Mohon maaf mas. Tetap saja tidak bisa, karena mas yang disana, melarang siapapun untuk masuk kecuali pelayan" terang pelayan tersebut.
Dengan berat hati. Narendra pun duduk di sebuah kursi di sudut dinding pemisah antara ruangan satu dengan ruangan outdoor tersebut. Sehingga Narendra tetap bisa menatapi Ken dan Kirana dari balik dinding kaca itu.
"Ken, kenapa kau begitu santai melakukan hal ini? Bagaimana jika ayahmu tahu?" tanya Kirana gelisah.
Miko memegang tangan Kirana, dan membelai jemarinya. "Aku sudah meminta izin kepada ayah. Dan beliau mengizinkan begitu saja. Jadi, kau tak perlu khawatir lagi" ungkap Ken meyakinkan Kirana. Akan tetapi lagi-lagi ia merasakan hal aneh. Kenapa tiba-tiba ayah Ken menyetujui hal ini, padahal sebelumnya ia menentang hubungan mereka. Sampai-sampai Ken akan dijodohkan dengan wanita lain.
Ken menatap Kirana tajam, terlihat sebuah ketulusan dari tatapan matanya. Ia paham jika Kirana tiba-tiba merasa gelisah karena jawaban Ken. Namun ia punya cara lain untuk mengalihkan suasana. Ken pun meraih sesuatu dari kantong jaketnya. Ia mengeluarkan benda tersebut dengan senyum yang begitu merekah. Seketika Kirana menatapnya dengan mata yang berbinar-binar. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk love.
"Ken, apa lagi ini?" tanya Kirana yang lagi-lagi merasa terharu.
"Ini adalah sesuatu yang spesial untukmu!" terang Ken. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan memasangkan kalung tersebut di leher Kirana.
Dada Narendra seketika merasa sangat sesak saat Ken memberikan kejutan-kejutan istimewa untuk Kirana. Ia mengepalkan tangannya seperti menahan sebuah amarah yang ia pendam. Matanya mulai berkaca-kaca, hatinya begitu sakit. Ia memendam semuanya. Memendam kekecewaannya, memendam lukanya, karena ia mencintai Kirana begitu dalam, sangat dalam. Bahkan saat luka itu menggores sedikit saja, ia tak dapat menahannya. Padahal jelas-jelas Kirana adalah kekasih sepupunya sendiri. Narendra juga tidak sadar sudah melakukan sebuah kesalahan. Kesalahan yang begitu besar, hingga ia mulai menyimpan sebuah dendam.
Narendra seketika memalingkan pandangannya. Memejamkan matanya, dan menarik nafasnya dalam-dalam. Tubuhnya seperti tak sanggup lagi menopang berat badannya. Ia pun bersandar pada kursi yang ia duduki. Dan mulai menstabilkan emosinya.
"Aku mencintaimu Kirana. Benar-benar mencintaimu. Aku mohon, bertahanlah untuk kita!" ungkap Ken berbisik lirih di telinganya saat selesai memasang kalung tersebut.
Seketika jantung Kirana berdetak kencang. Detaknya pun mulai tak beraturan. Tiba-tiba saja ia merasa kedinginan. Apalagi angin berhembus langsung mengenai kulitnya. Udara pegunungan itu membuatnya dingin, di tambah lagi ungkapan perasaan Ken yang meluluh lantakkan hatinya. Kirana tersenyum menatap Ken. Entah apa yang harus ia katakan, ia sendiri tak mampu berucap. Kirana hanya terpaku dan merasa salah tingkah.
"Aku tidak butuh jawaban darimu Kirana. Aku hanya ingin kau tau, kalau aku benar-benar mencintaimu. Dan memintamu bertahan, dalam kondisi apapun!"
"Aku akan melakukannya untukmu. Sampai kapanpun. Aku akan bertahan. Demi kita Ken. Maka, jangan pernah kau tinggalkan aku!" Jawan Kirana begitu tegas. Namun jawaban itu seketika membuat Ken merasa bersedih, karena jelas-jelas ia akan pergi meninggalkan Kirana. Demi menuruti perintah ayahnya.
Tiba-tiba saja Kirana dan Ken merasa rintikan air jatuh membasahi keduanya. Seketika mereka menatap ke arah langit. Dan benar saja, hujan akan turun. Kirana dan Ken pun bergegas masuk ke dalam restoran. Namun alangkah terkejutnya mereka saat melihat Narendra di sana.
"Narendra? panggil Ken.
"Hai Ken?" jawab Narendra mulai salah tingkah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ken penasaran.
"Ah, kalian di sini juga? Kebetulan aku sedang makan. Apa kalian ingin bergabung?" tanya Narendra.
"Tidak. Kami akan pergi. Selamat makan!" kata Ken. Ia pun segera meraih tangan Kirana dan menggandengnya keluar restoran dan masuk ke dalam mobilnya.
Ken merasakan hal yang aneh pada sikap Narendra. Tidak mungkin itu sesuatu yang kebetulan. Ken pun mulai menaruh kecurigaan dengan sikap Narendra. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Ken pun memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Ia segera menyalakan mesin motornya dan pergi dari tempat itu.
Narendra segera beranjak dari tempat duduknya, dan berusaha berlari mengejar keduanya. Tetesan air hujan yang begitu deras menerpa tubuh Narendra. Akan tetapi ia tak merasakan sakit sedikitpun, karena sakit hatiya lebih dalam daripada tertimpa hujan deras. Bajunya basah kuyup. Dan lagi-lagi Narendra tak menghiraukannya. Namun Narendra tak menemukan mobil Ken. Mereka sudah pergi dari tempat itu. Dengan cepat Narendra berlari ke arah mobilnya dan bermaksud akan mengikuti Ken lagi.
Sesampainya tiba di dekat mobilnya, Narendra segera masuk. Ia meluapkan semua kekesalannya, memukul-mukul setir mobilnya, mata yang awalnya hanya berkaca-kaca seketika pecah begitu saja. Air matanya mengalir perlahan. Ia berteriak sekuat tenaga melampiaskan amarahnya.
"Kiranaaa…apapun yang terjadi. Aku akan tetap mencintaimu. Walau harus merebutmu dari Ken" ungkap Narendra dengan kesal.