"Kirana. Karena hari ini aku sedang bahagia, aku akan mentraktirmu makan sepuasnya. Kau juga Dimas. Ambillah apa saja yang kau mau!" terang Reina yang bahagia karena ia mendapat nilai tertinggi pada ujian prakteknya.
"Wah, sepertinya Reina sedang banyak uang. Horee…kita makan sepuasnya yuk Dim!" seru Kirana mengajak Dimas.
"Benar Kirana. Yuk kita pesan makanan, kau mau apa?" tanya Dimas.
"Aku mau bakso. Eh tapi sebentar. Aku mau ke toilet dulu!" kata Kirana yang kemudian berjalan menuju toilet.
"Aku juga pesan yang sama seperti Kirana!" teriak Reina.
Langkah Kirana terhenti saat melihat Ken yang mengeluh dan membuang secarik kertas ke dalam tempat sampah.
"Ken? Kau kenapa?" tanya Kirana penasaran.
"Kirana? Baru saja aku akan menyusulmu ke kantin" terang Ken sedikit gugup.
"Kau pergilah ke kantin. Reina dan Dimas sudah ada di sana. Aku ke toilet dulu" terang Kirana.
"Baiklah…" kata Ken yang kemudian berlalu meninggalkan Kirana.
Kirana yang penasaran dengan apa yang dibaca Ken, ia pun bergegas mengambil kertas yang sudah di buang ke tempat sampah tersebut. Kirana segera membuka gulungan kertas itu, tertulis sebuah pesan di kertas tersebut.
Aku tunggu di gang tengkorak
Mario
Kirana begitu terkejut setelah membaca pesan itu. Ternyata Mario masih saja menyimpan dendam kepada Ken karena penolakan cinta dari Kirana. Kirana segera memasukkan kertas itu ke dalam sakunya, ia pun segera berlari menuju ke kantin, berharap ia menemukan Ken di sana. Tapi setelah sampai di kantin, Kirana tidak menemukan Ken.
"Apa kalian melihat Ken? Di mana dia?" tanya Kirana kepada Dimas dan Reina sedikit panik.
"Kami tidak melihatnya. Ada apa?" tanya keduanya penasaran.
Kirana pun memberikan kertas tadi dan memberikannya kepada Dimas dan Reina. Keduanya pun segera membaca kertas tersebut.
"Apa? Mario? Ini gawat. Ken bisa dalam bahaya" ungkap Dimas yang seketika juga panik.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya lagi. Tidak boleh. Cukup hari itu ia berkorban demi aku. Dan sekarang aku tidak mau lagi dia terluka. Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" kata Kirana semakin cemas.
"Kirana, tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Kita akan memikirkan bagaimana caranya" kata Reina mencoba menenangkan Kirana.
"Kau tenang lah Kirana. Aku akan membantu Ken. Sekarang ayo kita cari dia!" ajak Dimas. Dan mereka bertiga pun segera mencari Ken.
Gang Tengkorak adalah gang buntu yang terletak tidak jauh dari sekolah mereka. Gang tersebut biasa disebut gang Maut, karena merupakan tempat berbagai macam kriminal terjadi. Selain itu gang tersebut adalah tempat berkumpulnya para preman-preman yang meresahkan. Sudah beberapa kali anggota kepolisian menutup gang Tengkorak. Tapi masih saja banyak preman yang tetap berkumpul disitu. Mereka menjadikan gang tengkorak Sebagai basecamp.
Kirana, Reina dan Dimas sudah mencari Ken kemana-mana. Akan tetapi mereka tetap tidak menemukan Ken. Mereka pun pasrah dan kembali ke kelas, karena bel tanda istirahat telah usai sudah berbunyi.
Ketiganya segera kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat Ken sudah berada di bangkunya. Namun kali ini kegelisahan telah menyelimutinya. Kirana merasa sangat bersalah. Karena dirinya, Ken lagi-lagi akan mendapat masalah.
Beberapa menit kemudian, bel sekolah tanda pulang telah berbunyi. Para murid bergegas untuk pulang. Ken tampak begitu terburu-buru, tanpa menatap Kirana maupun teman yang lain. Begitu juga dengan Narendra, sepertinya Narendra sudah tahu hal ini. Dan mereka berdua akan menemui Mario di tempat yang sudah ditentukan.
Kirana segera berlari mengejar Ken namun sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi. Motor Ken hancur, bahkan kedua rodanya terlepas.
"Haiist…sial. Aku benar-benar akan membuat perhitungan dengannya!" gerutu Ken dengan amarahnya.
"Sabarlah. Ayo pergi dengan mobilku saja. Aku akan meminta orang mengurus motormu!" ajak Narendra yang juga terburu-buru.
"Ken…Ken tunggu!!" teriak Kirana yang tak dihiraukan oleh Ken. Mobil Narendra melesat cepat meninggalkan gerbang sekolah.
"Kirana, di mana Ken?" tanya Dimas dan juga Reina.
"Dia sudah pergi. Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kirana begitu panik.
"Kita susul saja mereka. Bukankah gang tengkorak tidak terlalu jauh dari sini?" sahut Reina.
"Hah, kau benar. Ayo kita pergi!" kata Kirana yang kemudian berlari begitu saja meninggalkan kedua temannya.
"Kirana tunggu. Dimas, apa kau sudah menghubungi murid-muridmu?" tanya Reina.
"Tentu saja sudah. Mereka akan segera menyusul" terang Dimas.
"Baiklah. Ayo kita susul Kirana!" ajak Reina sembari berlari mengejar Kirana.
Murid-murid Dimas, lebih tepatnya ia adalah pelatih ekstrakurikuler beladiri di sekolah. Untuk itu Dimas memiliki anggota yang cukup banyak. Hal tersebut bisa membantu Ken untuk melawan Mario yang licik itu.
Ken turun dari mobil, dan memasuki gang tengkorak dengan santai. Sementara Narendra, ia masih mengamankan mobilnya dengan mencari tempat yang aman untuk memarkir mobil tersebut. Ken datang dengan tangan kosong, ia hanya mengandalkan kaki dan tangannya untuk menyerang Mario dan komplotannya. Ia pasrah dengan apa yang terjadi nanti. Baginya berkelahi adalah hal yang biasa.
Mario dan komplotannya sudah menunggu kedatangan Ken. Ken sedikit terkejut saat melihat musuhnya berjumlah cukup banyak. Kira-kira 20 orang. Sedangkan ia hanya berdua dengan Narendra. Akan tetapi Ken bersikap tetap tenang.
"Ken Liandra, berani juga kau datang sendiri? Setidaknya mari kita beri dia tepuk tangan atas keberaniannya" terang Mario menyombongkan diri dengan bertepuk tangan.
"Apa maumu?" tanya Ken singkat.
"Tak banyak. Hanya saja aku ingin memberimu sedikit pelajaran karena mengambil Kirana dariku!" teriak Mario.
"Omong kosong apa ini? Jelas-jelas Kirana lebih memilihku" terang Ken.
"Kalau sekarang aku bisa membuatmu tiada, Kirana pasti akan memohon agar aku tidak menyakitimu!" ujar Mario dengan penuh kelicikan.
"Hentikan…hentikan semua ini!" teriak Kirana dengan nafasnya yang tersengal-sengal karena berlarian.
"Kirana, apa yang kau lakukan di sini? Pergilah, ini bahaya untukmu!" pinta Ken.
"Tidak. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian"
"Hah, dan hal inilah yang membuatku begitu muak. Cepat serang mereka" perintah Mario kepada semua anak buahnya.
Perkelahian pun tak bisa dicegah lagi. Mereka mulai menyerang Ken sedangkan Kirana mencoba melawan sebisanya dengan mengandalkan kepiawaiannya dalam beladiri.
Tak lama kemudian Narendra mulai bergabung. Ia mengeluarkan sebuah benda dari sakunya. Sebuah double stick Ruyung Nunchaku, sama persis seperti yang dipakai aktor 'Bruce lee' untuk berkelahi. Narendra dengan cepat masuk ke dalam perkelahian dan membantu Ken serta Kirana. Mereka memukul, menendang dan membanting musuh mereka satu persatu tanpa ampun. Ketiganya pun bersatu di tengah perkelahian sembari memasang kuda-kuda, punggung mereka berhimpitan sembari memutar.
"Kenapa kalian kesini? Ini berbahaya!!!" tanya Ken.
"Ken jangan anggap aku sepupu mu jika menyelesaikan hal sepele ini saja aku tidak bisa!" jawab Narendra.
"Ayooo kita lawan! hiyaaa…" Kirana berteriak, dan kemudian mulai menendang musuhnya.
Akan tetapi perkelahian mereka belumlah seimbang, 20:3 orang. Mereka bertiga masih kewalahan dengan lawan sebanyak itu. Mario terus saja mengawasi Kirana. Sampai pada akhirnya ia bisa mendekapnya erat.
"Kirana, katakan saja kau mau menerimaku. Dan aku akan menggantikan ini semua!"
"Lepaskan aku! Jangan bermimpi. Sampai kapanpun aku tidak akan menerimamu!"
"Kau begitu keras kepala"
Tiba-tiba seseorang menendang Mario dengan keras. Seketika ia pun terpental jauh.
"Dimas?" ucap Kirana merasa terkejut.
"Biadab. Berani sekali kau menyerang Kirana" Kemarahan Dimas pun meluap. Ia segera menghajar Mario tanpa ampun.
Beberapa teman Dimas pun datang dan membantu Ken. Kini mereka seimbang. Dengan begitu Ken sangat mudah melumpuhkan musuh-musuhnya.