Hari ketiga…
Dan hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan Kirana. Entah apa yang harus aku lakukan? Bahkan sampai sekarang aku masih belum berani menjelaskan tentang kepergianku. Bibirku serasa tertutup, aku tidak sanggup mengatakan sepatah katapun tentang kenyataan bahwa aku harus pergi darinya.
Ken masih berdiri di depan cermin yang terletak di kamarnya. Sembari menatap dirinya yang mengenakan setelan jas berwarna hitam. Sangat sempurna. Siapa wanita yang tidak akan terpesona melihat ketampanan Ken? Anak CEO kaya itu selalu berhasil meluluh lantakkan hati perempuan manapun. Akan tetapi kali ini ia ingin mengakhiri semuanya. Ia sudah menemukan wanita yang ia cari selama ini. Yaitu Kirana. Wanita yang sanggup menyentuh bahkan mencuri hatinya. Kini dunia pun akan ia berikan jika untuk Kirana.
"Mas Ken…maaf mobilnya sudah siap" papar sopir yang akan mengantar Ken.
"Baiklah. Sebentar lagi aku akan turun. Oh ya, tolong minta sopir yang lain untuk menjemput Kirana dan mengantarnya langsung ke sekolah. Acara akan segera dimulai pukul 7 malam" perintah Ken.
"Baik mas Ken" ujar sopir itu yang kemudian meninggalkan kamar Ken.
Hari ini adalah malam pelepasan siswa kelas tiga. Dimana hari ini akan diadakan pesta dansa sekaligus penyerahan ijazah untuk murid kelas 3. Selain itu pemilihan King dan Queen juga akan diadakan di malam ini. Malam yang begitu membuat Kirana bahagia, tapi tidak untuk Ken. Bagaimanapun juga malam ini ia akan berterus terang kepada Kirana tentang kepergiannya. Walaupun ia sendiri merasa tidak yakin.
Kirana dan Reina menghabiskan waktu berjam-jam dikamar Kirana hanya untuk berdandan. Gaun yang diberikan Ken kepada Kirana membuat semua orang akan takjub. Tentu saja itu bukan gaun biasa. Ken membelinya di butik langganan keluarganya yang dirancang khusus oleh desainer terkenal.
"Wah Kirana kau cantik sekali. Benar-benar seperti Cinderella dari negeri dongeng" ungkap Reina.
"Dan terima kasih atas makeup yang begitu menakjubkan ini. Kau benar-benar berbakat sekali untuk hal bermake-up" papar Kirana.
"Ah, itu hal yang biasa. Dan yang menjadi pertanyaan, kita ke sekolah naik apa? Apa kita harus bersepeda dengan gaun seperti ini?"
"Kau benar. Aku juga bingung. Apa aku harus minta tolong Ken? Ah tidak, aku terlalu sering merepotkannya." ungkap Kirana.
"Kalau begitu, biar aku saja yang minta tolong Narendra!" sahut Reina.
Kirana terkejut saat Reina menyebutkan nama Narendra. Bahkan sahabatnya itu tidak pernah bercerita soal Narendra kepadanya. "Cie,cie…kau sekarang dekat dengan Narendra? Kenapa kau tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku?"
Reina mulai salah tingkah. "Ah tidak ada apa-apa. Aku dan dia teman biasa"
"Lalu kenapa pipimu memerah? Akui saja, kau mencintainya kan?" sindir Kirana terus-terusan. Hal itu membuat Reina semakin malu.
Reina pun mati kutu, ingin rasanya menepis semuanya. Tapi pada kenyataannya ia memang sangat mencintai Narendra. Hanya saja ia memilih untuk memendam. Karena Reina tahu, wanita yang dicintai Narendra adalah Kirana, bukan dirinya.
"Kirana…!" terdengar seseorang memanggil namanya.
"Reina, siapa yang datang?" tanya Kirana penasaran. Karena ayahnya pun sedang ada di kedai.
"Sepertinya suara itu tidak asing bagiku. Sebentar aku akan memeriksanya" ujar Reina sembari memeriksa ke depan.
Tampak punggung seseorang berpostur tinggi ramping dengan balutan setelan kemeja berwarna hitam. Tak salah lagi, ia adalah Narendra. Reina bergumam pada hatinya. "Panjang umur sekali. Baru saja aku membicarakannya, dia sudah datang di hadapanku!"
"Narendra?" panggil Reina.
"Eh, Rein? Kau di sini?" tanya Rendra.
"Benar. Kebetulan kau datang. Kita bingung mau berangkat naik apa. Mana mungkin kita bersepeda dengan memakai gaun" terang Reina diikuti tawa kecilnya.
"Aku juga sempat berpikir demikian. Untuk itu aku bermaksud menjemput kalian" tutur Rendra.
"Narendra? Wah kau baik sekali" sahut Kirana yang baru keluar dari rumahnya. Seketika pandangannya tertuju pada Kirana. Gadis cantik itu benar-benar telah mencuri hatinya dengan pesonanya.
Reina yang melihat Rendra terpaku melihat Kirana mulai merasa tidak nyaman. Ia pun mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"
"Ah, kau benar. Daripada kita terlambat!" sahut Narendra mulai salah tingkah.
Namun saat mereka akan memasuki mobil, tiba-tiba saja ada mobil mewah berhenti tepat di belakang mobil Narendra. Kemudian seseorang memakai pakaian rapi keluar dari mobil tersebut.
"Pak?" sapa Narendra.
"Mas Rendra? Maaf mas Ken menyuruh saya untuk mengantar Kirana ke sekolah" ucap sopir itu.
"Tapi, aku sudah menjemputnya. Biar aku saja yang membawanya" terang Rendra.
"Maaf mas, tapi ini perintah. Saya tidak berani membantah" sahut sopir tersebut.
Kirana yang paham bagaimana Ken, ia pun tak mengukur waktu. "Baiklah pak, aku ikut denganmu"
Seketika Kirana masuk ke dalam mobil itu. Ia tidak ingin urusan menjadi paham. Kirana tahu betul bagaimana sikap Ken, apa yang ia inginkan harus dilaksanakan. Kalau tidak, ia bisa emosi dan marah.
Terlihat raut kekecewaan dari wajah Narendra. Ia yang sudah membayangkan akan datang ke pesta itu dengan Kirana kini semuanya hanya lah angan saja. Reina pun juga bingung harus ikut dengan siapa. Daripada menjadi luapan kekecewaan Narendra ia segera menuju mobil yang di tumpangi Kirana. "Kirana, tunggu!"
Tiba-tiba saja Narendra meraih tangan Reina. "Kau ikut denganku saja!"
"Reina, kau ikut dengan siapa?" tanya Kirana mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil itu.
Reina pun mulai bingung. Disisi lain, Narendra memegangi tangannya. Ia pun berkata. "Aku dengan Rendra saja"
Reina meringis, entah ia akan menjadi pendengar setia Narendra yang akan curhat soal Kirana, ataupun sebagai pelampiasan kekecewaan Rendra. Reina hanya menurut.
…
"Maafkan aku pak. Aku benar-benar minta maaf jika pada akhirnya aku harus memilih meninggalkan Kirana. Aku tidak punya pilihan lain. Daripada melihatmu dan Kirana pergi tanpa arah, aku yang memilih untuk pergi"
Mata Ken mulai berkaca-kaca. Bahkan sedikit lagi air mata itu akan keluar dari sudut matanya. Ken mengungkapkan semuanya kepada prawira. Keputusan yang terpaksa harus ia ambil.
"Nak Ken, bapak sangat berterimakasih sekali karenamu, bapak dan Kirana tetap bisa tinggal disini. Berjuanglah nak, bapak yakin Kirana juga sangat mencintaimu. Dia akan menunggumu"
Mereka duduk berhadapan di sebuah meja makan di kedai bakmie milik prawira. Pembicaraan yang cukup serius, bahkan dari hati ke hati. Baru kali ini Ken mengungkapkan semua perasaannya kepada orang tua. Bahkan ia belum pernah melakukan ini kepada kedua orang tuanya. Tiba-tiba ia meraih tangan prawira dan mencium punggung tangannya.
"Pak. Ken mohon, restui kami. Aku berjanji akan kembali untuk Kirana. Entah kapan itu terjadi, akan tetapi aku serius dengan ucapanku"
Ken tak bisa lagi membendung air matanya. Ia pun menangis di hadapan Wira dan meminta restu kepadanya. Wira pun juga demikian, ia tidak tega melihat Ken yang bersungguh-sungguh mencintai putrinya. Hanya doalah yang bisa diberikan Wira untuk mereka berdua.
"Bapak merestuimu nak! Kau jadilah anak yang bisa membanggakan kedua orang tuamu. Setelah itu mintalah restu kepada mereka soal Kirana!"
"Baik pak. Ken pasti akan berjuang, untuk keluarga ku dan juga Kirana"