Ken berjalan diikuti beberapa asisten di belakangnya melewati lorong sebuah rumah sakit. Tapi kali ini bukan rumah sakit biasa, melainkan rumah sakit jiwa. Ini adalah keputusan yang ia buat setelah memikirkannya beberapa kali. Ken akhirnya memantapkan hatinya. Ia pun memasuki sebuah ruangan. Terlihat beberapa polisi serta dokter yang sedang memeriksa seorang pasien. Tiba-tiba saja pasien itu berlari menghampiri Ken sambil menarik-narik baju Ken.
"Ken, kau di sini? Ken bilang kepada mereka kalau kita akan segera menikah. Kenapa mereka begitu kasar kepadaku? Padahal aku sudah bilang jika aku ini calon istri pewaris perusahaan ternama"
Ken hanya menatap gadis itu tanpa mengatakan apapun. Wajahnya datar tanpa menunjukkan ekspresi, bahkan ia terlihat biasa saja.
"Ahahahha… apa kalian tahu? Dia ini calon suamiku!" teriak gadis itu dengan tertawa terbahak-bahak. Beberapa asisten Ken mencoba menghalangi. Akan tetapi tangan Ken memberi isyarat melarang.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ken kepada seorang dokter yang baru saja memeriksa pasien tersebut.
"Pasien mengalami depresi berat, bahkan yang ia ingat dia adalah seorang pengantin" papar dokter itu.
Ken mengernyitkan alisnya. "Lalu, apa dia bisa sembuh?"
"Bisa. Meskipun butuh waktu yang sedikit lama. Karena ini jenis depresi ringan" papar sang dokter.
"Baiklah. Tolong sembuhkan dia. Saya permisi!" kata Ken yang kemudian membalikkan badannya meninggalkan kamar itu.
"Ken. Tunggu Ken. Jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu. Bukankah kita akan menikah?"
Ken tak menghiraukan teriakan itu. Ia tetap saja melangkah pergi. Tiba-tiba saja seorang wanita beserta seorang laki-laki paruh baya menghampirinya. Ia menari lengan Ken dengan sesenggukan.
"Ken, tolong lepaskan Tiara. Aku tahu kesalahannya sangat besar. Tapi aku mohon maafkan dia!"
"Aku sudah memaafkannya. Akan tetapi hukum harus tetap berlanjut. Karena dia, aku dan Kirana hampir saja kehilangan nyawa. Dan aku tidak terima itu"
"Tolonglah Ken. Berapapun yang kau minta, aku akan memberimu. Tapi tolong cabut perkara mu" sahut pria di sebelahnya yang ternyata adalah ayah Tiara.
"Aku tidak butuh uang itu om. Bahkan berapa yang kau punya, aku juga memilikinya lebih darimu. Jadi jangan anggap uang bisa menyelesaikan segalanya"
Lagi-lagi ibu Tiara masih tidak terima dengan keputusan Ken. Ia kembali merengek dan menarik-narik lengan Ken. "Aku mohon Ken, lepaskan Tiara. Dia putri kami satu-satunya. Maafkan dia Ken…"
"Tante. Dia akan diobati sampai sembuh. Setelah itu, semuanya akan aku serahkan ke pengadilan. Permisi Tante!"
Ken pun bertekad meninggalkan mereka. Meskipun ada perasaan tidak tega kepada kedua orang tua itu. Tapi jika mengingat perbuatan Tiara yang menyebabkan Tiara mengalami koma, Ken tidak bisa membiarkan itu terjadi.
…
"Ken ini bukan mimpi kan?" tanya Kirana ketakutan. Bagaimana tidak? Ia sedang merasa sangat bahagia. Kedua tangannya melingkar di pundak Ken. Sementara Ken melingkarkan tangannya di pinggang Kirana. Mereka berdua berdansa dengan romantis. Ditambah lagi musik melow yang mengiringi para kontestan pemilihan King dan Queen tahun ini.
Ken berbisik lirih di telinga Kirana. "Tentu saja ini bukan mimpi Kirana. Apa kau takut kehilanganku?"
"Apa yang kau tanyakan? Tentu saja aku takut. Jika mereka menyebutku begitu cantik seperti Cinderella. Aku tidak mau itu!" jawab Kirana sendikit lantang.
"Kenapa? Bukankah Cinderella memang cantik?" tanya Ken.
"Cinderella memang cantik. Tapi ia kehilangan semuanya di tengah malam. Aku tidak mau itu terjadi"
Ken terdiam. Ia tak mampu berkata apapun. Karena ia akan menjadikan Kirana Cinderella di malam ini. Ia benar-benar akan pergi meninggalkan Kirana. Mungkin tanpa sepatah kata pun. Karena pada kenyataannya sampai sekarang Ken tidak berani mengungkapkan tentang kepergiannya.
"Ken, kenapa kau diam? Apa kau akan pergi?"
Sontak pertanyaan itu membuat Ken merasa gemetar. Bagaimana ia bisa menjawab? Ken kehilangan cara untuk mengalihkan pembicaraan. Matanya menatap tajam wajah Kirana, namun bibirnya masih membisu.
"A-aku…"
"Selamat malam semuanya. Hari ini adalah puncak pesta pemilihan King dan Queen di tahun ini. Setelah para juri menilai. Akhirnya pemenang King dan Queen malam ini jatuh kepada…?"
Semua peserta berhenti berdansa. Mereka begitu penasaran dengan pemenangnya. Dan yang pastinya pemenangnya adalah pasangan yang serasi dan romantis. Selain para juri, beberapa murid juga memberikan voting kepada para peserta.
"Pemenangnya adalah…Kirana dan Ken!"
Semua orang berteriak, bersorak-sorai, dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Seketika Ken dan Kirana pun maju ke atas panggung dan memberikan sambutan.
"Aku tak pernah menyangka ini terjadi. Ken? Tahukah kau? Betapa berartinya dirimu bagiku. Aku pernah memintamu jangan terlalu mengkhawatirkanku, agar aku tidak terlalu bergantung padamu. Tapi pada akhirnya, aku tidak bisa memungkirinya. Kini aku selalu menggantungkan hidupku kepadamu. Bahkan aku tidak tahu bagaimana aku bisa bernafas tanpamu?"
Mahkota King dan Queen telah dipasang di kepala Ken dan Kirana, serta piala untuk pemenang. Kirana dan Ken merasa sangat terharu. Ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka. Bukan hanya mereka yang bahagia bisa bersama. Akan tetapi mereka juga bahagia melihat Ken dan Kirana menjadi pasangan.
Tiba-tiba saja lampu di pesta tersebut padam. Suasana yang tadinya begitu ramai dan meriah. Seketika menjadi sepi dan hening. Beberapa orang pun terdengar begitu panik.
"Kenapa ini? Lampunya padam"
"Wah…gelap sekali"
Kirana mendekap erat tangan Ken. Beberapa orang tampak berlarian dan menabrak Kirana. "Ken, kau dimana? Tetaplah bersamaku!"
Ken hanya diam. Tiba-tiba saja ia memeluk Kirana erat. Dan ia tahu, jika itu adalah pelukan perpisahan. Sesekali ia mengusap kepala Kirana dan mengecup keningnya.
"Ken. Kenapa kau? Aku merasa sesuatu terjadi? Apa kau baik-baik saja?" tanya Kirana yang mulai curiga.
Dan lagi-lagi Ken hanya diam. Perlahan ia melepas pelukannya, dan mendekap kedua pipi Kirana. "Aku mencintaimu Kirana. Maafkan aku…"
"Ken? Kenapa kau minta maaf? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kirana semakin panik. Apalagi keadaan sangat gelap gulita, ia tak bisa melihat apapun, bahkan wajah Ken.
Ken mulai melepas tangan Kirana dan menjauh darinya, walaupun sesekali Kirana mempererat genggamannya. Namun Ken berusaha melepaskan genggaman tangan Kirana.
"Ken, apa yang terjadi? Ken?"
Setelah tangan mereka benar-benar terlepas, Ken segera pergi meninggalkan Kirana. Beberapa asistennya sudah menunggu di gerbang sekolahnya. Dengan penerangan menggunakan lampu ponselnya, Ken berlari menuju gerbang sekolah dan masuk ke dalam mobilnya. Ia pun segera menelpon Narendra.
"Halo. Tolong nyalakan listriknya!"
"Baiklah Ken. Berhati-hatilah. Jaga dirimu!"
Narendra segera menyalakan saklar listriknya kembali. Ternyata semuanya memang rencana Ken.
"Arrrghhh…!!!!" teriak Ken sekuat tenaganya sambil memukul-mukul pintu mobilnya. Hatinya begitu terluka.
Ken menyadari bahwa dirinya memang seorang pengecut yang terpaksa meninggalkan Kirana dengan cara yang seperti ini. Dadanya terasa sesak menahan luka yang ia tahan. Nafasnya pun terengah-engah. Tiba-tiba saja air matanya mulai mengalir.
"Kirana. Maafkan aku, maafkan aku yang telah menjadikanmu Cinderella. Aku pengecut, aku benar-benar pengecut"
Sopir Ken yang melihat keadaan Ken begitu khawatir. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya. "Mas Ken? Apa semua baik-baik saja?"
"Ayo jalan…!!!" perintah Ken dengan sesenggukan.
Mobil Ken pun berjalan meninggalkan sekolah itu. Sementara Ken ia menangis sejadinya. Bari kali ini ia benar-benar menangis, meluapkan kekesalan yang ada di hatinya.
"Ken…Ken tunggu. Ken jangan pergi…!!"
Seketika Ken menoleh ke belakang. Tampak Kirana mengejar mobil Ken dengan memakai gaunnya yang indah itu.
"Kirana?"
"Sepertinya Mbak Kirana mengejar kita, apa kita perlu berbalik mas Ken?" tanya sopir Ken.
Ken menghela nafasnya sambil menutup kedua matanya. Ken meyakinkan dirinya bahwa untuk saat ini Ia sanggup untuk kehilangan Kirana.
"Tidak pak. Terus saja!" perintah Ken.
Ken pun tak lagi menoleh ke belakang. Dengan sekuat tenaga ia mantapkan dirinya untuk benar-benar pergi. Ia tidak ingin menyusahkan Kirana dan ayahnya lagi.
"Ken…Ken…"
"Aw…"
Kirana tersandung, dan akhirnya ia pun terjatuh. Air matanya mengalir deras, sampai-sampai bayangan mobil Ken terlihat buram di matanya. Kirana benar-benar tidak menyangka Ken akan pergi meninggalkannya dan menjadikan dirinya Cinderella.
"Keeennn…!!!"