Bolehkah aku menawar pada Tuhan, perihal takdir jodohku? Jika diperbolehkan, tolong jadikan aku pilihan seseorang yang sangat aku cintai, untuk menjadi kekasih pujaan hatinya serta selalu membayangi dan menyelimuti pikirannya.
Tetapi jika tidak, aku akan berusaha untuk menerima takdir lalu mengikhlaskan. Tentunya juga berusaha melupakannya. Agar tidak ada lagi luka yang tertinggal.
Sebab, jika aku mengingat kembali. Sama saja dengan membangkitkan luka yang berusaha untuk aku lupakan. Akan lebih mudah lagi jika Tuhan mau menghapus memori tentangnya.
Namun, sangat disayangkan, hari ini menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut.
Dia—seseorang yang amat kucintai—telah pergi dari hidupku.
Entah kenapa? Entah kemana? Dan entah bagaimana?
Lalu bagaimana dengan perasaanku setelah kehilangannya? Hancur! Seperti Cermin yang dilempari batu. Akan tetapi, sebisa mungkin setelah itu, aku berusaha menatanya kembali. Serpihan demi serpihan, walau belum bisa utuh seperti semula.
Hari-hari yang kujalani menjelang perpisahan sekolah, aku melewatinya dengan perasaan merana. Selalu bertanya,
"Mengapa dia pergi begitu saja?"
Nyatanya, realitas telah menjawab pertanyaan tersebut. Ya! Aku tidak menjadi pilihannya karena itu, dia memilih untuk pergi. Apa seperti itu?
Berbagai pertanyaan, melayang-layang dipikiran Kirana. Namun tak satupun yang terjawab.
Malam itu, saat pesta perpisahan sekolah menjadi peristiwa yang paling menyedihkan untuk Kirana. Saat ia merasa menjadi sosok wanita yang paling bahagia di dunia, saat itu juga dunia membalikkan fakta jika pada akhirnya ia telah kehilangan kebahagiaan itu.
Kirana bertopang dagu, menatap kosong ke arah taman sekolah. Berharap sosok yang ia dambakan hadir di depan matanya. Sosok yang sempat hadir, namun hilang begitu saja. Tentu saja Ken. Ken lah yang kali ini ingin ia temui.
Tak disangka nama Kirana berada di urutan paling atas dan mendapatkan nilai terbaik di kelulusan tahun ini. Peringkat kedua diraih oleh Ken. Sedangkan Rendra berada dalam peringkat lima. Berbagai macam buket bunga dan beberapa hadiah lainnya dari teman Kirana diberikan untuknya. Tapi tidak ada satupun yang bisa mengubah gundahnya menjadi senyum.
Narendra berpikir keras bagaimana cara untuk mengembalikan senyuman itu dari bibir Kirana. Dia memberikan sebatang coklat mede yang dibalut pita berwarna pink.
"Tada... Kirana, ini untukmu!" ujar Rendra yang begitu semangat.
Seketika semua lamunan Kirana hancur. Ia terfokus kepada coklat itu.
"Terimakasih" jawab Kirana tanpa menatap sekalipun ke seseorang yang memberi coklat itu. Begitu lah yang ia lakukan sedari tadi. Sehingga membuat teman-temannya kebingungan dengan sikapnya.
"Sampai kapan kau seperti ini?" tanya Rendra. Tapi Kirana tetap bungkam.
Rendra lalu duduk di sebelah Kirana. Dia menatap wajah Kirana yang masih dengan pandangan kosong. Narendra meraih tangan Kirana dan menggenggamnya. Sontak Kirana langsung menariknya.
"Rendra, maaf aku ingin sendiri!" ujar Kirana lalu beranjak dari tempat duduknya.
Rendra langsung menahan Kirana dan menarik tangan Kirana.
"Tolong beri aku kesempatan!" papar Rendra yang membuat Kirana kebingungan.
"Maksud kamu? kesempatan apa?" tanya Kirana.
"Kesempatan, untuk mengembalikan senyummu. Aku yakin Ken akan bersedih jika melihatmu terus seperti ini"
"Maaf, tapi aku tidak tertarik melakukan hal apapun!" ujar Kirana yang lalu berlalu meninggalkan Rendra.
Cowok tampan, tinggi, berhidung mancung dan berkulit putih bersih itu baru pertama kalinya di tolak oleh wanita dan diabaikan. Rendra tertawa dalam hatinya. "Hah Rendra, harga dirimu terinjak-injak, oleh Kirana. Benar-benar cewek nyebelin!"
Tak menyerah sampai di situ. Narendra terus mengikuti Kirana kemanapun dia pergi dan mencoba mengambil hatinya. Tapi saat Kirana berjalan terburu-buru, tidak sengaja dia menabrak Mario.
"Brak!"
"Mario? aku minta maaf, gak sengaja"
Mario hanya menatap Kirana yang berwajah muram.
"Kau kenapa? bahkan jalan saja tidak fokus? apa karena Ken?" tanya Mario.
"Maafkan aku, tapi aku tidak ingin membahasnya"
Mario menarik tangan Kirana, hingga menimbulkan kekacauan, semua mata kini tertuju pada mereka.
"Kirana. Asal kau tahu. Ken sudah mencampakkanmu, dan sekarang kembalilah padaku. Hatiku masih terbuka lebar untukmu" ujar Mario.
Rendra yang melihat peristiwa menyebalkan di depannya begitu emosi. Apalagi Mario mencengkeram tangan Kirana sedikit memaksa.
"Mario, maafkan aku. Tapi aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Tolong lepaskan aku!"
"Kenapa masih saja jual mahal? kau harusnya sadar Kirana. Kamu ini siapa? gadis miskin penjual mie!"
"Hentikan!!!" teriak Narendra.
"Wah, Ken menghilang. Ada lagi kacungnya di sini. Sungguh menyebalkan!" gerutu Mario.
"Lepasin tangan Kirana!" perintah Rendra mulai emosi.
"Kalau aku gak mau, kamu mau apa?" ujar Mario mengejek.
Rendra sudah tidak tahan lagi menahan emosinya. Dia mengepalkan tangannya dan mendaratkan pukulan tepat di wajah Mario.
"Bug!!"
Seketika Mario jatuh tersungkur.
"Aww...! hentikan aku mohon. Jangan bertengkar!" teriak Kirana.
Beberapa teman Mario mencoba menyerang Narendra. Kirana berteriak minta tolong untuk menghentikan perkelahian mereka. Sampai akhirnya Dimas datang, dan melerai mereka.
"Ren, berhenti Ren. Cukup! jangan kotori tanganmu untuk orang seperti mereka!" ujar Dimas, yang akhirnya menghentikan Rendra.
Rendra menutupi wajahnya yang memar akibat perkelahian itu. Dia lalu pergi ke kelasnya dan mengambil tasnya. Tanpa berkata apapun, Rendra berjalan cepat menuju mobilnya. Karena khawatir dengan keadaan Rendra, Kirana mengikuti Rendra dan ikut masuk ke mobilnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Rendra.
"A-aku hanya mengkhawatirkanmu!" jawab Kirana.
"Turun! cepat turun!" pekik Rendra yang memang sedang kacau.
"Tidak. Aku akan tetap di sini. Mengikutimu!" ujar Kirana terlihat santai.
"Terserah. Kalau itu maumu!"
Tidak ingin berdebat terlalu lama, Rendra menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari area sekolah.
Dengan kecepatan tinggi, mobil Rendra melaju kencang melewati jalan pegunungan yang berkelok. Kirana memegang erat handle yang ada di atasnya. Dia menutup matanya rapat-rapat dan memasrahkan diri kepada yang Kuasa. Bibirnya terlihat komat-kamit seperti membaca berbagai macam doa.
Rendra melirik ke arah Kirana, ia tersenyum melihat Kirana yang ketakutan. Tapi Kirana bersikap sok tegar dan baik-baik saja.
Sampai akhirnya, Narendra berhenti di pinggir sebuah tebing. Dia menghentikan mobilnya di sana.
"Sudah sampai, buka matamu!" perintah Narendra.
Perlahan Kirana membuka matanya. Di depannya terlihat hamparan langit begitu luas dan indah. Warnanya sudah mulai menguning. Benar saja, senja akan tiba.
Narendra keluar dari mobilnya dan bersandar pada bagian depan mobilnya sambil menikmati sekaleng kopi instan yang selalu ia stock di mobilnya.
"Kau mau?" tanya Rendra menawarkan kopi itu kepada Kirana.
Kirana mengangguk. Rendra membuka penutup kalengnya, dan memberikannya kepada Kirana.
"Kenapa kau pergi ke sini?" tanya Kirana.
"Aku hanya suka melihatnya. Hamparan langit yang luas. Setiap melihatnya, pikiranku yang tadinya kacau akan menjadi sedikit lebih tenang"
"Aku juga suka tempat ini" sambung Kirana.
"Benarkah?" tanya Rendra.
"Lebih tepatnya, aku suka..."
"SENJA..." ujar mereka bersamaan.
Keduanya saling menoleh dan menatap satu sama lain, kemudian tersenyum. Mereka tak menyangka jika mengatakan secara bersamaan. Tentu saja Rendra tahu hal itu dari Ken. Tapi dia mencoba untuk tetap diam, dan mengenal Kirana dengan sendirinya.