Mereka tertawa bahagia. Sampai-sampai Kirana tak sadar ada sesuatu yang baru saja membuatnya sangat terluka. Seketika Kirana terdiam, dan kembali memasang wajah muramnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Rendra.
"Apa? maksud kamu?"
"Kenapa berhenti tersenyum. Padahal baru saja aku melihatmu tersenyum. Apa kau tau? senyumanmu yang baru saja itu, membuatku sakit jantung!"
Entah kenapa Kirana tiba-tiba terkekeh. "Hah apa? separah itu?"
"Iya. Sangat parah. Kamu gak percaya?" tanya Rendra yang lalu meraih tangan Kirana, dan meletakkannya di dadanya. Seketika Kirana merasakan detakan jantung yang begitu cepat di d**a Rendra.
Keduanya saling menatap tajam. Suasana yang begitu syahdu. Di tambah lagi hembusan angin sepoi-sepoi menerpa keduanya. Kirana tersentak. Ia lalu menarik telapak tangannya dari d**a Narendra. Suasana jadi semakin canggung.
"Senjanya mulai muncul" ujar Rendra sambil menunjuk langit.
Seketika Kirana menoleh, menatap kearah langit. Hembusan angin menerpa rambut panjangnya, membuat Narendra seakan terhipnotis dengan kecantikan Kirana.
Kirana memejamkan matanya. Seperti terselip doa dalam hatinya tatkala melihat indahnya senja itu.
"Kamu mungkin berdoa, agar suatu hari kamu bisa melihat senja dengan orang yang kamu cintai" papar Narendra.
"Bagaimana kamu tau?" tanya Kirana.
"Kirana, tanpa kamu berkata pun, aku sudah bisa menebak. Hatimu begitu lembut. Membuat siapapun yang berada di dekatmu pasti akan terasa nyaman"
"Kenapa kamu lakukan ini? apa Ken menyuruhmu?" tanya Kirana.
"Tanpa Ken menyuruhku, aku pasti akan melakukan ini. Menjagamu, menemanimu dan berusaha membuatmu bahagia"
Lagi-lagi perkataan Narendra membuat Kirana tersentak dan jantungnya berdebar. 'Apa memang dua bersaudara ini pintar memikat wanita?'
"Kirana ayo kita pulang! Ayahmu pasti khawatir" ajak Narendra, sebelum ia semakin salah tingkah.
"Baiklah" kata Kirana. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil.
Hanya melihat senja, Kirana sudah mulai tenang. Sejenak dia bisa melupakan kegundahan hatinya. Meskipun hanya sesaat.
Narendra berpikir akan membelikan Kirana makanan, karena sedari tadi Kirana belum makan. Rendra pun menghentikan mobilnya di bahu jalan, dan turun untuk membeli martabak.
"Kau tunggu di sini dulu ya!" perintah Rendra.
Kirana hanya mengangguk menunggu di dalam mobil. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada mobil yang melintas di depannya. Terlihat dari kejauhan, mobil itu mirip seperti mobil Ken. Dan benar saja, saat melihat pengemudinya. Dia benar-benar Ken.
Seketika Kirana berteriak. "Keenn!!"
Kirana membuka pintu mobil dan turun mengejar mobil itu. Entah pikirannya sudah tak karuan. Keinginannya hanyalah satu, meminta penjelasan dari Ken, kenapa dia tiba-tiba pergi.
Ken menatap Kirana dari balik kaca spionnya. Bukannya berhenti, Ken malah menancap gas lebih cepat. Mobilnya pun melesat jauh meninggalkan Kirana.
"Aargghhn!!" Ken berteriak sambil memukul setir mobilnya.
"Maafkan aku Kirana, aku benar-benar minta maaf. Aku tak punya pilihan lain. Aku harus menjauhimu"
Narendra yang mendengar teriakkan Kirana, ia segera berlari mengejar Kirana.
"Kirana hentikan! tolong berhenti"
"Ken. Aku melihat Ken. Tapi kenapa dia tidak berhenti. Kenapa dia menjauhiku? Ken..."
Seketika Narendra memeluk erat tubuh Kirana. Dia mencoba menenangkan Kirana yang menangis dan kacau.
"Kirana, tenanglah. Aku mohon tenangkan dirimu dulu"
"Apa salahku? kenapa Ken bersikap seperti itu?"
"Kirana, ayo kita kembali ke mobil dulu" ujar Rendra yang lalu menuntun Kirana kembali ke mobilnya.
Sementara Ken melihat semuanya, melihat Rendra yang memeluk Kirana dari balik kaca spionnya. Bagaimana pun Ken masih tidak tega melihat Kirana mengejarnya. Ken memutuskan untuk kembali, tapi ternyata pemandangan yang buruk telah ia lihat di depan matanya. Narendra memeluk Kirana.
Narendra segera mengantar Kirana untuk pulang. Terkadang wanita hanya butuh sendiri untuk menenangkan dirinya.
"Kirana, tidurlah dengan nyenyak. Dan jangan lupa makan" ujar Narendra setelah sampai di rumah Kirana.
Kirana hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumahnya.
Narendra begitu khawatir melihat keadaan Kirana. Tapi dia bisa apa? Kirana masih begitu berharap kepada Ken. Yang bisa dia lakukan hanyalah menghibur Kirana. Tanpa memiliki hatinya.
....
Di penghujung senja yang bisu. Terselip butiran rindu yang kelabu. Terhempas angin hingga membeku, menjadi batu.
Selamat b******u dengan rindu yang tak kunjung bisa bertemu.
Ditepi malam dingin dan sepi. Aku masih terlelap dalam belaian kasur di kamarku. Masih merasa nyaman dalam buaian mimpi indah. Tak terasa malam sudah berakhir, perlahan sang surya menyelinap disela-sela kaca jendela kamarku. memancarkan sinarnya dengan malu-malu,
Saat itupun aku mulai membuka mata dan sadarkan diri. Waktu berkhayal sudah habis dan harus kembali ke rutinitas di dunia nyata yang sedikit rumit dan membosankan.
'Tuhaaaaaannnn, kenapa harus dia? gumamku dalam hati
Aku tidak pernah merasakan rasa sebodoh dan sekonyol ini. Rasa yang membelenggu menyiksa dan kadang menyakiti hatiku sendiri.
JATUH CINTA?
Ya mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Aku tidak pernah mengenal rasa ini sebelumnya.
"Tuhan, ada apa dalam diriku ini? Kenapa?, Aku bingung Setiap detik. Kenapa harus selalu dia yang ada di otak dan pikiranku. Ya dia, dia yang mungkin tidak pernah memikirkan aku sedikitpun. Bahkan sekarang telah pergi dariku"
"Tuhan andai punuk mampu memeluk bulan, mungkin tak akan ada yang bernasib sepertiku. Aku tau diri, aku siapa? dan dia siapa? terkadang aku ingin membenci semesta kenapa harus menghadirkan dia di waktu yang tidak tepat"
Kirana, masih berada di atas kasurnya. Membuka jendela di kamarnya dan menatap langit yang terhampar luas. Masih ada beberapa bintang di langit yang masih terlihat. Meskipun mentari mulai menyinari dunia.
"Itu dia. Dia yang seperti bintang. Dan aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Apa seperti itulah, perumpamaan yang pas untukku dan Ken?"
Seketika Kirana meneteskan air matanya. Karena kelopak matanya sudah tak mampu membendung kesedihan yang menyesakan d**a. Rasa rindu itu terlalu berani datang menyiksa batinnya tanpa malu.
"Apa ini akhir dari segalanya? apa kebahagiaan benar-benar akan pergi dariku satu persatu? lalu kenapa Tuhan? kenapa kau memberikan aku bahagia, jika harus mengambilnya lagi?"
"Aku tau aku salah. Tak seharusnya rasa ini ada. Tapi cinta tak pernah salah. Biarlah ku nikmati rasa ini sendirian tanpa harus dia tau"
"Harapanku hanya satu. Suatu saat nanti semesta akan membisikan kepadanya bahwa aku benar-benar mencintainya. Entah saat aku masih bernafas atau ragaku sudah terkubur tanah. Namun percayalah rasaku kepadanya tidak akan pernah mati walau dalam perih"
Kehilangan Ken, membuat Kirana begitu frustasi. Di tambah lagi tak ada penjelasan apapun darinya. Ken, hanya meminta untuk menunggu. Entah berapa lama? lalu untuk apa? itu semua menjadikan Kirana benar-benar seperti kehilangan akal.
Setiap pagi, setelah ia terbangun dari tidurnya. Kiran hanya berharap bahwa semuanya adalah mimpi buruk. Tapi pada kenyataannya, semua memang nyata. Tak ada mimpi buruk, tak ada khayalan atau kepalsuan. Itu nyata, jika Ken benar-benar pergi darinya.
Kirana kembali menatap ke arah luar jendela kamarnya. Masih terasa pagi, sejuk, dan segar. Tapi kenapa sepagi ini ia harus mengalirkan air matanya?
"Tuhan kenapa senyum dia begitu segar? seperti embun pagi yang murni di pagi hari"
"Tuhan kenapa tatapan matanya begitu indah? seperti pelangi yang hadir setelah hujan"
"Tuhan aku mencintainya dalam kesungguhan"