Malam semakin larut. Kirana dan Pak Wira menutup kedai mie miliknya. Begitulah rutinitas Kirana setiap hari. Membantu ayahnya sampai larut, terkadang ia membawa buku-bukunya ke kedai untuk belajar.
Di dunia ini tidak ada yang mau menjalani kehidupan dengan serba kekurangan. Namun Kirana sudah terbiasa akan hal itu. Hidup apa adanya, tanpa sosok seorang ibu. Ayahnya adalah orang terhebat dalam hidupnya. Ia rela melakukan apapun demi Kirana, putri semata wayangnya.
"Kirana, apa yang akan kau lakukan setelah lulus? apa kau akan mencari kerja di kota dan meninggalkan ayah?"
Kirana terdiam. Ia sudah tidak lagi memiliki impian. Mana mungkin ia tega meninggalkan ayahnya hidup sendirian.
"Tidak, Kirana tidaka akan kemana-mana. Kirana akan tetap di sini menemani ayah"
"Lalu bagaimana dengan cita-citamu?"
"Aku bisa meraihnya nanti. Setelah aku punya uang, aku akan meneruskan kuliah"
"Baiklah, jika ia maumu nak"
Wira mencuci piring dan gelas-gelas kotor bekas pelanggan. Sementara Kirana sibuk mengelap meja, dan membersihkan ruangan.
Namun beberapa orang tiba-tiba datang dan berbuat ulah.
"Ayo, hancurkan tempat ini! hancurkan!"
"Hentikan! ada apa ini? siapa kalian?"
Tanpa menghiraukan Kirana, segerombolan orang-orang itu segera menghancurkan kedai Kirana. Melempar botol saos dan kecap ke segala arah. Membalikkan kursi, serta merusaknya.
"Tidak, hentikan ini! tolong!"
"Kirana, Kirana apa yang terjadi?"
Wira yang tadinya ada di dapur segera keluar dan memeluk putrinya.
"Kirana, sudahlah. Biarkan mereka, yang penting kita selamat"
"Ayah. Tolong jangan sakiti ayahku!" Kirana berteriak keras sambil memeluk ayahnya.
Sementara jauh dibalik rumah mewah dan megah Ken melotot menatap video call yang di perlihatkan ayahnya kepadanya.
"Ayah. Hentikan! apa maksudmu? aku sudah menuruti semua permintaanmu, tapi kenapa kau masih mengganggu Kirana dan keluarganya?"
"Kau yakin tidak menemuinya? lalu apa ini?" tanya Rudi yang memperlihatkan Ken sedang mengawasi Kirana.
"Ayah, aku hanya papasan dengan Kirana di jalan. Aku tidak berniat menemuinya"
"Baiklah. Jika kau terbukti berbohong. Aku akan melakukan lebih buruk dari ini" ujar Rudi mengancam.
Ken membalikkan badannya, ia berlari menuju kamarnya dan berteriak keras melampiaskan kekesalannya.
"Aargghhn...!!!"
Sementara semua barang yang ada di warung mie milik Wira hancur berantakan. Tiba-tiba terdengar seseorang menghentikan keributan itu.
"Hentikan! cepat berhenti. Kalau tidak, kalian yang akan aku hajar!"
Kirana mendongakkan kepalanya, melihat siapa sosok yang telah menyelamatkannya.
"Narendra?" batinnya.
"Mas Rendra, maaf ini perintah Pak Rudi"
"Berhenti aku bilang! dan kalian semua cepat pergi dari sini, aku yang akan bertanggung jawab"
Seketika semua preman itu pergi atas perintah Narendra. Narendra segera menghampiri Kirana yang tersudut diantara meja-meja yang berhamburan.
"Kirana, kau baik-baik saja kan?"
"Pak Wira, bagaimana keadaan anda?"
"Aku baik-baik saja Ren" ujar Kirana.
"Pak Wira, saya meminta maaf atas nama paman Rudi. Saya tidak menyangka akan menjadi seperti ini"
"Nak Rendra, sudahlah. Bapak dan Kirana tidak apa-apa. Semua berkat bantuan nak Rendra yang tepat waktu"
"Kalau begitu, mari saya antar pulang" papar Narendra menawarkan diri.
"Tidak. Sepertinya bapak harus membereskan semuanya"
"Tidak-tidak. Bapak dan Kirana harus pulang dan istirahat. Ijinkan saya untuk bertanggung jawab untuk mengatasi masalah ini"
Pak Wira tidak bisa mengelak keinginan Narendra yang sedikit memaksa. Dia pun akhirnya pulang diantar Narendra. sementara Narendra menelpon beberapa orang untuk membereskan dan memperbaiki kedai milik Pak Wira yang hancur.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya, bereskan semuanya sebelum besok pagi!" ujar Narendra dari balik teleponnya.
Narendra kembali fokus mengemudikan mobilnya. Sedangkan Pak Wira dan Kirana, duduk di jok belakang. Pak Wira mengelus pundak Kirana, mencoba menenangkan Kirana yang terlihat masih syok.
Narendra yang melihat Kirana dari balik kaca spion diatasnya tampak khawatir dengan keadaan Kirana.
"Kirana, kau benar tidak apa-apa kan? aku berjanji hal seperti ini, tidak akan terulang lagi"
"Tidak apa-apa Ren. Ini semua bukan salahmu!" tutur Kirana. Tapi tetap saja Narendra merasa khawatir.
Sesampainya di rumah Kirana. Pak Wira segera turun dan istirahat. Sementara Kirana membuatkan teh hangat untuk Narendra. Mereka bercengkrama di teras rumah Kirana.
"Kau masih kelihatan syok. Apa perlu kita ke dokter?"
"Tidak Ren. Aku baik-baik saja. Aku sudah mulai terbiasa menerima hal-hal seperti ini"
"Sejak kapan?"
"Sejak aku mengenal Ken" pungkas Kirana.
"Apa itu artinya, kau menyesal karena mengenal Ken?"
Kirana menggelengkan kepalanya. Dia malah tersenyum.
"Tidak. Aku senang karena mengenalnya. Dan aku bahagia pernah ada di hatinya"
"Tapi Ken sudah membuatmu terluka"
"Bukankah itu konsekuensinya. Setiap orang yang jatuh cinta akan merasa terluka. Karena cinta tidak ada yang sempurna"
Narendra menghela nafasnya. Semakin kesini entah kenapa dia semakin mengerti jika Kirana benar-benar mencintai Ken yang jelas-jelas telah melukainya. Narendra berharap, ada cela sedikit saja untuknya. Tapi sepertinya semua sia-sia, karena Kirana masih saja mencintai Ken.
"Kirana apa aku boleh menanyakan sesuatu?" ujar Narendra.
"Hmm.."
"Apa kamu tidak pernah sadar, jika aku mencintaimu?"
Sontak mata Kirana terbelalak, menatap wajah Narendra yang begitu serius.
"Ka-kau bilang apa?" tanya Kirana gugup.
"Aku mencintaimu Kirana. Entah semenjak aku melihatmu, sejak itulah hatiku tidak pernah merasa tenang"
"Ta-tapi kau tahu kan, aku ini mencintai Ken?"
"Aku tau itu. Aku tidak pernah memaksamu untuk membalas perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu. Kalau aku benar-benar mencintaimu"
Sementara Ken melihat semuanya. Ken melihat Narendra yang menyatakan perasaannya kepada Kirana. Setelah melihat video orang-orang suruhan ayahnya mengobrak-abrik kedai Pak Wira, Ken segera menuju rumah Kirana. Ia ingin memastikan Kirana dan ayahnya baik-baik saja. Tapi Kirana malah melihat Narendra, sepupunya sendiri telah mengkhianatinya. Ken benar-benar tidak percaya Narendra akan melakukan hal itu. Dia begitu percaya kepada sepupunya itu.
"Narendra tolong simpan jauh-jauh perasaanmu itu. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman. Tapi aku juga bener-bener tidak bisa membalas perasaanmu"
"Aku tau Kirana. Mungkin aku memang tidak tahu diri. Tapi aku tidak bisa memendamnya terlalu lama. Maafkan aku, yang mencintaimu..."
"Aku pamit!" ujar Narendra, yang lalu beranjak dari tempat duduknya.
Kirana hanya mengangguk pelan. Entah apa yang harus ia lakukan saat mendengar pengakuan Narendra. Jujur Kirana sempat simpati kepada Narendra yang selalu ada untuknya. Yang selalu menghiburnya. Siapa tau jika itu semua berubah menjadi cinta? Kirana benar-benar salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa.
Kirana mengantar Narendra menuju mobilnya. Tapi tiba-tiba Narenda meraih tubuh Kirana dan memeluknya.
Kirana sangat terkejut. Tiba-tiba Narenda berbisik di telinga Kirana.
"Ku mohon Kirana. Sebentar saja. Aku hanya ingin merasa tenang. Sebentar saja!"
Kirana ingin menarik tubuhnya dari dekapan Narendra. Tapi disisi lain ia merasa kasian kepada Narendra. Lagipula Narendra sudah banyak berkorban demi dirinya.
Kirana akhirnya membiarkan dirinya berada dalam dekapan hangat Narendra.