Tok, Tok!!
Pagi-pagi sekali, terdengar seseorang telah mengetuk pintu rumah Kirana. Kirana yang masih sibuk di dapur segera menyempatkan diri untuk membuka pintu rumahnya dan melihat siapa yang datang.
"Alena??" ujar Kirana yang terkejut.
"Kenapa pagi-pagi sekali? apa ada sesuatu yang buruk terjadi?"
Alena tersenyum menatap Kirana. "Tidak kak, aku hanya perlu bantuanmu. Kakak bisa kan bantu aku?"
"Bantuanku? apa yang bisa aku bantu?" tanya Kirana yang masih kebingungan.
"Kakak, ikut aku sekarang. Please, Alena mohon kak!" rengek Alena.
"Baik sebentar, tunggu aku!"
Kirana lalu masuk ke dapur untuk mematikan kompornya. Ia lalu mengambil jaketnya dan keluar menemui Alena. Kirana adalah orang yang paling tidak bisa menolak seseorang yang meminta bantuan kepadanya. Apalagi itu Alena. Gadis yang pernah ia rawat saat sakit.
"Alena ayo pergi sekarang!" ujar Kirana yang sudah siap.
Alena mengangguk. Keduanya lalu masuk ke mobil Alena. Di dalamnya sudah ada sopir pribadi Alena. Semenjak mengalami kecelakaan, Alena tidak diperbolehkan membawa mobil sendiri, sampai dia benar-benar sembuh dan siap. Lagipula Alena masih mengalami trauma pasca kecelakaan itu.
Kirana dan Alena duduk di jok belakang. Sesekali Kirana menatap Alena yang tampak gelisah. Entah apa yang di pikirkan Alena, membuat Kirana semakin penasaran.
"Alen, kita mau kemana? sepagi ini? apa semua baik-baik saja?" tanya Kirana.
Alena lalu meletakkan telapak tangannya ke tangan Kirana.
"Kak Kirana tenang saja. Semua baik-baik saja. Tapi ada hal yang tidak bisa aku jelaskan sekarang!"
"Syukurlah kalau semua baik-baik saja"
Kirana dan Alena kembali fokus menatap ke jalanan yang entah kemana membawa mereka.
Sampai pada akhirnya, mereka sampai di sebuah tempat makan di pinggiran kota. Sebuah restoran yang cukup mewah. Namun karena masih pagi, restoran itu masih sepi pengunjung.
"Kak, ayo kita turun!" ajak Alena.
Kirana mengangguk. Mereka berdua turun. Alena lalu menggandeng Kirana memasuki restoran itu. Namun tidak berhenti di situ. Keduanya lalu masuk ke lift yang membawa mereka sampai di lantai atap. Saat liftnya terbuka, Kirana di buat takjub dengan keindahan langit. Sunrise yang begitu menakjubkan, apalagi dari atas situ terlihat pemandangan hiruk pikuk padatnya perkotaan. Kirana terbawa indahnya suasana. Sampai-sampai dia lupa dengan tujuannya.
"Kak Kirana. Kakak tunggu di sini dulu ya. Aku mau berangkat sekolah dulu. Nanti akan ada seseorang yang menemui kakak di sini"
"Alena, tapi aku di sini sendirian? lalu bagaimana aku bisa pulang?"
"Kakak tenang saja, nanti aku akan mengantar kakak pulang"
"Tapi aku takut Alen, aku tidak mengenal tempat ini"
Alena tersenyum melihat kepolosan Kirana. "Kak, disini aman. Kak Kirana jangan takut ya! sebentar lagi mereka akan mengantarkan sarapan untuk kakak. Alena tinggal dulu ya!"
Alena memeluk Kirana dan mengelus pundaknya untuk menenangkan Kirana.
"Alena tinggal dulu kak ya" pamit Alena.
"Iya. Kamu hati-hati ya!"
Alena pun pergi meninggalkan Kirana di tempat itu sambil melambaikan tangannya. Sementara Kirana masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya ingin membantu Alena. Entah siapa yang akan ia temui di tempat asing itu. Yang jelas Kirana percaya kepada Alena yang tidak akan menjerumuskannya.
Setelah Alena pergi, Kirana duduk di sebuah kursi sambil menatap indahnya langit. Beberapa menit kemudian, seorang waiters memberinya sarapan dan segelas minuman. Kirana hanya tersenyum menatapnya. Anehnya, pelayan itu memberinya dua porsi makanan. Kirana sempat bingung, tapi kembali berpikir santai.
"Ah mungkin makanan satunya buat Alena nanti kalau dia kembali kesini. Aku tidak akan makan, sebelum Alena datang" batin Kirana.
…
Ken turun dari mobil. Ia mendongakkan kepalanya. Tak disangka ia benar-benar akan meninggalkan kota itu. Bukan hanya kota itu saja, tapi meninggalkan orang tua dan juga Kirana kekasihnya.
"Silahkan Mas Ken!"
Seorang pengawal mempersilahkan Ken untuk berjalan terlebih dahulu. Bahkan ayahnya tidak membiarkan Ken untuk pergi sendiri. Rudi menyuruh beberapa orang untuk mengawal Ken ke bandara, sampai Ken benar-benar naik pesawat.
Tentu saja karena Rudi takut jika Ken melarikan diri. Keputusan Rudi untuk mengirim Ken keluar negeri sudah tidak bisa diganggu gugat. Kelak Ken yang harus melanjutkan perusahaan ayahnya. Maka dari itu perlu adanya pendidikan yang tinggi untuk Ken.
Ken berjalan santai diikuti beberapa orang di belakangnya. Sebagian membawa barang-barang Ken, dan sebagian lagi fokus kepada Ken. Ken lalu meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo Rio, apa kau sudah siap?"
"Tenang saja! kami sudah ada di bandara"
"Oke kalau begitu, kita mulai sekarang!"
Tiba-tiba saja tampak segerombolan pemuda menabrak Ken dan orang-orangnya.
"Hei, kau copet ya? kembalikan dompetku"
"Enak saja. Ini milikku!"
"Apa kau bilang?"
Bug!
Bug!
Perkelahian pun tak dapat di hindarkan. Tiba-tiba saja sekelompok pemuda itu berkelahi. Saling memukul dan menendang. Bahkan dari mereka ada yang dengan sengaja memukul pengawal Ken.
Karena mereka semua sedang panik, Ken segera menjauh dari kerumunan, dan berlari kencang meninggalkan bandara.
"Ken, cepat ayo!" panggil Vicky yang sudah siap di dalam mobilnya.
Ken segera berlari menghampiri mobil Vicky. Dengan cepat Vicky melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
Ken tiba-tiba terkekeh. Saat mendapati dirinya bisa lolos dari pengawasan ayahnya.
"Ken, akhirnya kau lolos!"
"Vicky, terimakasih. Terimakasih teman-teman, kalian begitu baik. Kalian telah menolongku" ungkap Ken merasa sangat bahagia.
"Sudahlah, ini sudah tugas kami. Bukankah kita teman baik?"
Ken begitu senang saat teman-temannya membantunya untuk kabur. Tapi bukan kabur, hanya menunda penerbangan saja. Ken masih belum siap jika pergi sekarang.
Mobil Vicky melaju kencang, melewati hiruk pikuk perkotaan yang mulai ramai. Untung saja mereka mahir dalam berkendara, jadi semua itu tidak menyulitkan Vicky.
"Bagaimana dengan Alena? Apa dia sudah melakukan tugasnya?" tanya Ken.
"Tenang saja. Adikmu itu sungguh bisa diandalkan"
"Oh ya satu lagi. Tolong lindungi aku bro!" pinta Ken kepada Vicky.
"Tenang saja Ken. Semua sudah diatur dengan matang. Kau lanjutkan saja perjuanganmu!" tutur Vicky dengan senyum khasnya.
Vicky dan teman-teman Ken yang lain sudah menutup semua akses internet dan CCTV di semua daerah dalam beberapa menit. Mereka semua tidak akan pernah menemukan Ken, sebelum Ken sendiri yang muncul di hadapan ayahnya. Bagaimana pun mereka semua adalah seorang ahli peretas. Hanya menghilangkan jejak seseorang itu bukanlah hal yang sulit.
"Ken, setelah ini. Apa kau benar-benar akan pergi?" tanya Vicky.
"Aku tetap akan pergi untuk memenuhi janjiku kepada ayah. Tapi tenang saja kawan. Aku akan kembali sebagai Ken yang sama. Ken teman baikmu"
"Apapun itu, berhati-hati lah Ken. Kita akan bertemu 4 tahun lagi"
"Pasti. Tolong bantu aku menjaganya" pinta Ken.
"Maksud kamu Kirana?"
"Iya. Tentu saja"
"Aku mau melakukannya, jika kau merestui hubunganku dengan Alena"
"Apa? Kau mencintai adikku?" tanya Ken terkejut.
Vicky hanya senyum malu-malu.
"Lanjutkan. Jika kau yang terbaik untuk Alena, kenapa tidak?"
Keduanya pun terkekeh. Mereka merasa lega karena bisa bercengkrama dan mengobrol bersama dari hati ke hati. Itulah teman sejati.