Kirana hanya menatap makanan yang ada di depannya. Sesekali dia mengaduknya, tapi enggan untuk memakannya. Pikirannya gelisah, saat tak seorang pun datang kepadanya. Kirana mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi Alena. Tapi tidak bisa.
"Alena, kemana ya? apa iya aku harus menunggunya sampai dia pulang sekolah? tapi untuk apa?" batin Kirana dalam gelisah.
Sementara Ken. Dia telah sampai di tempat yang sama dengan Kirana. Ken turun mengenakan jaket hitam, topi dan masker. Dia tidak ingin siapapun melihatnya. Ken juga telah menyewa ruang roof top, agar tak ada yang naik ke atas.
Vicky telah memastikan semua aman. Ken pun turun dan masuk ke dalam restoran itu. Sementara Vicky segera pergi dari tempat itu dan melakukan tugas lain.
Beberapa orang menunduk, memberi salam kepada Ken, dan mempersilahkan Ken untuk masuk ke dalam lift. Ken pun masuk ke lift, menuju ke rooftop. Sesampainya disana, dia melihat Kirana yang duduk menopang dagu sambil memainkan makanan di piringnya.
Ken tersenyum lega. Semua seperti mimpi. Tidak menyangka akhirnya Ken bisa menemui Kirana lagi sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan negara ini.
Ken perlahan berjalan menghampiri Kirana. Tiba-tiba Kirana tersadar, seseorang telah mendekatinya. Kirana menoleh. Ia terkejut dengan orang yang memakai baju serba hitam dengan dilengkapi masker dan topi. Kirana berdiri, namun ia merasa ketakutan.
"Ssi-siapa kau? Jangan mendekat?" pekik Kirana.
Ken lupa kalau dia masih memakai maskernya. Dengan cepat Ken membuka topi hitam dan maskernya. Ken lalu tersenyum, membentangkan tangannya, menunggu Kirana lari kedalam pelukan nya.
Kirana tercengang. Sampai-sampai bibirnya menganga. Entah rasa kaget, terkejut, bahagia, tapi juga gelisah. Kirana sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi. Semua sepi, Kirana lalu berlari menghampiri Ken.
"Ken?"
Seketika Kirana memeluk erat tubuh Ken. Sosok yang sangat ia rindukan. Sosok yang hampir membuatnya gila. Sementara Ken juga memeluk Kirana dengan erat dan mendekapnya.
"Kirana, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan?"
Entah bagaimana, air mata Kirana menetes begitu saja. Dia mengangguk, menjawab pertanyaan Ken, namun air matanya terus mengalir.
"Kirana, hei. Hentikan, jangan menangis! Ini akan melukaiku" papar Ken.
Ken mencoba menyeka air mata Kirana dengan jari jemarinya.
"Kau kemana saja Ken? Aku merindukanmu!" ujar Kirana.
"Aku juga Kirana. Aku sangat, dan sangat merindukanmu!" tambah Ken.
Mereka berdua terhanyut dalam suasana kerinduan yang mendalam. Meskipun Ken sadar, pelukan itu akan jadi pelukan perpisahan untuknya.
"Ayo kita makan dulu. Aku sangat lapar" ujar Ken yang mencairkan suasana.
Kirana lagi-lagi hanya mengangguk sambil menyeka air matanya.
Keduanya lalu sarapan bersama. Di atas rooftop, di mana mereka bisa menikmati indahnya pagi dari puncak bangunan. Mereka melepas kerinduan dengan mengobrol dan tertawa bersama.
Sementara Pak Rudi menjadi murka saat mendengar Ken lari dari penjagaan.
"Apa kau bilang? Ken kabur?"
"Iya pak. Maafkan kami. Tiba-tiba beberapa orang membuat keributan. Mas Ken lalu menghilang"
"Lalu tunggu apa lagi? Cepat periksa semua CCTV di kota ini. Lacak juga keberadaannya lewat ponselnya!"
"Maaf Pak, semua CCTV di kota ini mati beberapa menit. Ponsel mas Ken juga tidak bisa dilacak!"
"Hah…sial. Dasar Ken. Kau mau bermain-main denganku?"
"Kalau begitu, tangkap Kirana. Dan jadikan dia sandera agar Ken kembali"
"Kami sudah mencari Kirana dan ayahnya. Tapi mereka tidak ada di rumah maupun di kedainya"
"Aargg…. Ken. Kurang ajar kau…"
Sementara jauh di sebuah rumah yang cukup mewah…
"Apa om suka makanannya? Makan yang banyak om. Habiskan ya!" ujar Rio kepada Pak Wira.
"Ini enak sekali nak. Tapi ngomong-ngomong, kapan saya bisa ketemu Kirana?"
"Om tenang saja. Kirana aman bersama Ken. Biarkan mereka menghabiskan waktu bersama dulu. Nanti kalau Ken sudah memberi aba-aba kepada kami, kami akan menjemput Kirana" terang Rio.
"Baiklah nak. Terimakasih banyak ya!"
"Om santai-santai dulu di sini. Rio mau pergi sebentar. Jika butuh apapun, ada bibi di sana" ujar Rio sambil menunjuk bibi yang tersenyum kepada mereka.
"Baik nak Rio"
"Oh ya. Di sana ada kursi pijat juga. Om bisa memakainya, sekalian terapi. Pokoknya, om harus berbahagia di sini, menggunakan semua fasilitas apapun di rumah ini. Rio pamit om…sampai jumpa"
Prawira mengangguk. Beberapa jam yang lalu tiba-tiba seseorang telah menjemputnya di depan kedai. Rio mengatakan akan membawa Pak Wira untuk bertemu Kirana. Rio juga akan mengganti uang jualan Pak Wira untuk hari itu, untuk itu Pak Wira bisa tutup tanpa harus rugi. Tentu saja semuanya sudah diatur matang-matang oleh Ken dan teman-temannya.
Selesai sarapan, Ken mengajak Kirana pergi dari tempat itu. Seseorang telah bersiap di depan restoran mengenakan pakaian rapi.
"Mas Ken, mobilnya sudah siap!" ujar orang tersebut.
"Terimakasih, kamu boleh pergi!" papar Ken.
Kirana masih bingung dengan semuanya. Apalagi orang-orang yang terlihat tunduk dan hormat kepada Ken.
"Ken, dia siapa? Kenapa mobilnya kamu yang bawa? Terus orangnya pulang naik apa?" tanya Kirana begitu polosnya.
Ken terkekeh, sambil memasangkan sabuk pengaman ke Kirana.
"Kiran, dia bisa pulang naik taksi atau ojek online kan?"
"Lah tapi kan sayang uangnya. Kan bisa pulang bareng kita. Oh ya dia siapa? Kamu belum jawab kan?"
Lagi-lagi Ken terkekeh. "Dia, orangnya Rio, pegawainya. Aku pinjam mobilnya Rio"
"Berarti orangnya hanya mengantar mobil untukmu lalu pulang?"
"Iya Kirana sayang…"
Seketika pipi Kirana merona merah saat Ken memanggilnya sayang.
"Kenapa? Masih penasaran?" tanya Ken
"Kenapa orang kaya selalu rumit?"
"Yang penting, cintaku ke kamu tidak rumit kan?" papae Ken sambil mengemudi.
Kirana tersenyum. Entah ia harus bahagia ataupun sedih. Bahagia karena akhirnya dia bisa melihat kembali wajah Ken. Sedih karena Kirana sadar, kebahagiaan itu hanya sesaat.
"Kenapa, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ken yang sesekali melihat Kirana bersedih.
"Apa aku harus bahagia?"
"Apa sekarang kamu tidak bahagia?" tanya Ken balik.
"Ken, asal kamu tahu. Kebahagiaanku hari ini tidak bisa diukur dengan apapun. Tapi aku sadar, kebahagiaan ini hanya sesaat"
Ken lalu meraih telapak tangan Kirana dan menggenggamnya. "Kirana, aku tahu setelah ini kita harus berpisah. Tapi yakinlah suatu saat nanti kita akan bersama selamanya. Kau dan aku akan menikah, punya banyak anak. Dan hidup bahagia sampai kakek nenek"
Kirana menyunggingkan senyumnya. Dia merasa terharu mendengar perkataan Ken, tapi menurutnya juga lucu.
"Kenapa ketawa?"
"Tidak. Aku tidak menyangka kalau kau akan mengatakan ini. Apa kamu benar-benar ingin menikah denganku?"
"Tentu saja Kirana. Kamu pikir aku tidak serius? Setelah ini biarkan aku menimba ilmu dulu, lalu pulang mengurus perusahaan ayah, dan aku akan menjadikan kamu nyonya Ken. Pegang perkataanku ini"
"Janji kan?" ujar Kirana sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Aku berjanji Kirana" jawab Ken yang lalu menyematkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Kirana.