"Oh jadi ini ya, anak orang kaya yang manja itu?"
Alena hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak mau berurusan dengan Siska. Anak pemilik yayasan sekolahnya yang terkenal sombong dan sok berkuasa itu. Alena hanya sibuk menyalin PR milik Naomi, teman sebangkunya.
"Hei, aku sedang bicara. Kau tak dengar? Atau jangan-jangan tuli?"
Seketika, semua geng teman-teman Siska menertawakan Alena.
"Ahahahah tuli? Kasian cantik-cantik tuli"
Namun Alena masih tidak menggubrisnya. Dia hanya fokus kepada buku di depannya. Sementara Naomi yang melihat Alena di bully hanya bisa diam memojokkan diri ke dinding.
Karena kesal Alena tidak mendengarkannya, Siska tiba-tiba meraih rambut Alena dan menjambaknya.
"Hei, jangan keterlaluan kau! Kau pikir aku ini apa hah?"
"Aww…" teriak Alena kesakitan.
Dia lalu mencengkram tangan Siska, dan mencakarnya dengan kuku panjangnya.
"Aww…kurang ajar sekali kau! Aduhh…sakit" ujar Siska sambil menggosok-gosok bagian tangannya yang sakit.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Bu guru yang tiba-tiba masuk ke kelas Alena.
Semuanya pun berlari ke bangku masing-masing.
"Awas saja kau Alena! Kita belum selesai!" ancam Siska.
Sementara Alena hanya melirik Siska dengan mata tajamnya.
"Alena, kau tidak apa-apa kan? Maafkan aku, aku tidak berani menolongmu" ujar Naomi menyesal.
"Tidak apa-apa Naomi. Hanya saja sayang sekali kukuku yang mahal ini harus rusak gara-gara Siska sinting itu"
Naomi tercengang, melihat kelakuan Alena. Bukannya takut, dia malah menyayangkan kukunya. Naomi salut sekali dengan Alena, yang memang tidak pernah banyak bicara. Dia pendiam, namun juga pendendam. Alena sangat acuh tak acuh kepada siapapun. Hanya Naomi lah yang diajaknya bicara di kelas. Sedangkan yang lain, hanya sekedar menyapa saja. Dan lagi, Alena adalah orang pertama yang berani melawan Siska. Semua orang takut berurusan pada gadis sinting itu, karena mereka akan mendapatkan kesulitan.
Alena hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan sekolahnya hari ini, lalu pergi menemui Ken dan Kirana. Bagaimana pun Alena sangat merindukan kebersamaan bersama dengan Kirana.
Waktu demi waktu berlalu. Jam sekolah telah usai. Namun semuanya tak semulus pemikiran Alena.
Alena berjalan beriringan dengan Naomi meninggalkan ruang kelasnya untuk pulang. Namun tiba-tiba, Siska dan gengnya sudah menunggu Alena di depan tangga. Alena yang melihat Siska berlagak biasa dan tak pernah terjadi apa-apa. Lagipula sopir sudah pasti sedang menunggunya di gerbang sekolah.
Bruk!
Alena terjatuh. Siska telah menyandung kakinya.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Siska dan teman-temannya terkekeh menertawakan Alena. Sementara Naomi, dia hanya bisa diam dan tidak berani membantu Alena.
"Kenapa? Kau tidak terima? Mau berkelahi denganku?" tantang Siska.
"Dasar cewek saiko!" umpat Alena.
"Apa kau bilang? Kau berani kepadaku? Kau pikir kau ini siapa?"
Alena mendorong Siska agar dia minggir. Alena lalu dengan santainya meninggalkan Siska yang masih nerocos. Tapi tiba-tiba Siska menarik rambut panjang Alena.
"Dasar kau, aku belum selesai bicara!"
Alena pun terjatuh. Di saat bersamaan semua teman dari geng Siska melempari Alena dengan tepung dan juga telur.
"Rasakan itu! Itu akibatnya jika berani melawanku" teriak Siska.
Alena yang tidak bisa berkutik hanya mampu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, agar tepung dan telur itu tidak mengenai matanya.
Naomi berlari ke gerbang, berharap dia bisa bertemu dengan sopir Alena dan meminta tolong. Tapi Naomi tidak menemukan sopir yang biasa mengantar jemput Alena. Naomi kebingungan minta tolong ke siapa? Jika ke guru mereka semua akan mendapatkan masalah dan masuk ke BP. Naomi panik sambil menggigiti ujung jarinya.
Tiba-tiba pandangannya mengarah kepada sebuah mobil mewah yang berada di seberang sekolah. Naomi tidak pernah melihat mobil itu sebelumnya. Naomi berpikir siapa lagi yang menjemput dengan mobil mewah kalau bukan Alena? Karena dia orang terkaya di sekolah itu.
Naomi berlari menyeberang jalan. Dia lalu mengetuk kaca pintu mobil itu.
Tok, tok!!
Tok, tok!!
Vicky yang ada di dalamnya terheran melihat tingkah Naomi. Dia lalu membuka kaca mobilnya.
"Permisi. Apa kau teman Alena? Kau kesini menjemput Alena kan?" tanya Naomi dengan panik.
"Iya benar. Aku teman Alena. Ada apa dengannya?"
"Cepat. Ikuti aku! Alena dalam bahaya"
Mendengar perkataan Naomi dalam kepanikan, Vicky bergegas keluar dari mobilnya.
"Kenapa? Apa yang terjadi dengan Alena?" tanya Vicky yang juga panik.
"Sudahlah ikuti aku saja" perintah Naomi sambil berlari menuju sekolah. Sementara Vicky membuntutinya.
Sudah berapa kilo tepung yang terlempar ke tubuh Alena. Kali ini ia hanya bisa diam karena jumlah teman Siska yang banyak. Beberapa guru melewati mereka, tapi Siska berkata jika Alena sedang ulang tahun. Untuk itu para guru membiarkan mereka. Memang biasanya banyak siswa yang merayakan ulang tahun temannya dengan melempar tepung dan telur. Untuk itu para guru menganggapnya hal yang biasa.
"Kenapa? Kau mau berteriak? Teriaklah! Tidak ada yang mendengarmu!" pekik Siska.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Alena yang mulai kesal.
"Mauku? Melihatmu enyah dari sekolah ini. Kehadiranmu di sini hanya akan menyusahkanku!" bentak Siska.
Alena menyeringai senyumnya. "Bilang saja kau takut tersaingi kan?"
"Apa kau bilang?"
Siska yang marah dengan perkataan Alena langsung menumpahkan plastik berisi tepung tepat di kepala Alena. Sehingga Alena kini tampak seperti hantu berwajah belepotan.
"Teruskan saja kau mengejekku? Aku masih bisa memberimu beribu plastik tepung!"
"Dasar cewek saiko!" pekik Alena.
Siska terkekeh seperti orang kesurupan. Dia sangat puas melihat Alena yang berhasil ia kerjain.
"Terserah apa katamu. Yang jelas jangan berharap ada pangeran kesiangan yang menolongmu!"
"Hentikan!"
Seketika suara keras dan lantang itu membuat suasana menjadi hening. Semua mata tertuju pada Vicky yang berjalan mendekati Alena. Pria tampan, berpostur tinggi, berdagu runcing, berkulit putih. Terlihat begitu sempurna dimata semua wanita itu telah berteriak agar semua berhenti.
Dengan tatapan yang tajam dan kesal, Vicky melepas jaketnya kemudian meletakkannya di pundak Alena.
"Alena ayo kita pergi!" bisik Vicky.
"Jika kalian berani menyentuh pacarku lagi, kalian semua akan ku habisi!" teriak Vicky mengancam.
Semua orang tercengang dengan kehadiran Vicky yang tiba-tiba. Padahal Siska baru saja berkata jangan berharap ada pangeran kesiangan datang. Tapi ternyata pangeran itu benar-benar datang. Pangeran yang begitu sempurna.
Vicky menuntun Alena yang tak karuan. Semua tubuhnya kotor penuh dengan tepung. Tak hanya itu, rambut dan wajahnya juga. Alena menahan semua kekesalannya. Ia akhirnya melampiaskannya dengan tetesan air mata yang mengalir di pipinya.
Vicky mendekap erat pundak Alena dan berjalan melewati kerumunan orang. Semua mata tertuju kepada mereka. Bag pangeran yang menyelamatkan Cinderella. Semuanya dibuat terpana dengan pemandangan itu.
"Alena, jangan menangis. Kau tidak boleh menunjukkan kelemahanmu di depan mereka" bisik Vicky lirih.
Alena mengangguk. Ia lalu menyeka air mata yang mengalir di pipinya dan berusaha untuk kuat.