Ken melajukan mobilnya dengan cepat. Sementara Kirana duduk di sampingnya dengan tenang. Kali ini Ken terlihat begitu bahagia.
Tak bisa dibayangkan saat dirinya benar-benar tidak di perbolehkan untuk bertemu Kirana. Dunia terasa seperti berhenti berputar bagi Ken. Tapi kali ini saat dirinya bisa menggenggam kembali tangan Kirana, Ken merasa separuh hidupnya yang hilang telah kembali lagi.
"Ken kita mau kemana?"
"Ke suatu tempat yang indah. Kirana dengar, ini pertemuan terakhir kita. Jadi aku minta berbahagia lah"
Kirana seketika menoleh ke arah Ken. Dia menatap wajah Ken yang fokus mengemudi dengan seksama.
"Kalau begitu apa artinya pertemuan ini jika akhirnya kau akan pergi?"
Ken lalu meraih tangan Kirana dan menggenggamnya erat. "Kirana, kali ini aku akan pergi dengan perasaan bahagia. Bukan seperti kemarin. Sungguh, kemarin aku benar-benar belum siap. Jadi aku minta tolong. Mari bekerja sama!"
Tak ada pilihan lain. Kirana hanya bisa menganggukkan kepalanya. Walau sebenarnya dia ingin berontak dan tak ingin Ken pergi darinya.
Setelah beberapa menit, mereka telah sampai di sebuah villa yang cukup mewah. Villa tersebut berada di pinggiran tebing sebuah pegunungan dengan pemandangan alam yang sungguh menakjubkan. Tak hanya itu, villa tersebut juga dilengkapi dengan kolam renang serta rooftop.
"Ayo kita turun!" ajak Ken.
Kirana mengangguk. Ia pun turun dan memasuki villa tersebut.
"Surprise!!!"
Tiba-tiba mereka memberi sebuah kejutan dengan meletuskan balon. Kirana dan Ken yang awalnya terkejut akhirnya tersenyum bahagia, karena terharu melihat mereka memberikan kejutan.
Rio, Aldo, Vicky, dan Alena telah sampai terlebih dahulu di villa itu.
"Kak Kirana" panggil Alena yang langsung memeluk Kirana.
"Alena, kau disini juga? Aku sangat senang bertemu denganmu lagi"
"Kak, maaf tadi aku telah meninggalkanmu sendirian"
"Kau boleh meninggalkanku kapan saja jika itu untuk bertemu kakakmu"
Ken tersenyum dan berbunga-bunga saat mendengar perkataan Kirana.
"Wah, kalian berdua membuatku iri saja" sahut Rio.
"Kalau begitu, mari kita mulai acaranya!" kata Aldo.
Jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti ini setelah Ken pindah. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa berkumpul lagi, itupun untuk melepas kepergian Ken.
Mereka semua lalu menuju ke belakang. Di sana ada sebuah kolam renang dengan view pemandangan. Kolam renang tersebut tampak seperti menggantung di tepi tebing. Sungguh menakjubkan. Kirana yang pertama melihat semuanya sampai-sampai ternganga.
Teman-teman Ken sudah menyiapkan semuanya. Mereka akan membakar daging BBQ dan makanan grill lainnya sambil duduk di tepian kolam renang.
"Alena sebenarnya kita ada di mana?" tanya Kirana yang sangat penasaran.
"Ini adalah villa keluarga kita kak. Sudah lama sekali kita tidak kesini. Bagus kan? Apa kakak suka?"
"Tentu saja Alena, aku sangat menyukainya"
"Aku juga sangat suka berada di sini karena pemandangannya sangat bagus. Setiap liburan tiba kita pasti kesini"
"Hebat. Kalian benar-benar kaya raya. Dan hal itulah yang membuatku selalu ingin mundur"
"Ssstt…kakak bicara apa? Kak, cinta kak Ken tulus. Aku yakin kak Ken akan melakukan apapun demi mendapatkan kakak" ujar Alena sambil memegang erat tangan Kirana.
Mereka semua begitu menikmati acara. Setelah kenyang makan-makan. Mereka akan lanjut nonton film bersama. Villa itu dilengkapi dengan bioskop kecil di dalamnya, sehingga menambah kelengkapan fasilitasnya.
Alih-alih menonton film horor, film romantis lah yang mereka lihat. Itu semua karena kemauan Alena. Rio, Vicky dan Aldo terpaksa mengiyakan kemauan adik manja Ken itu.
"Yeay…terimakasih semuanya" seru Alena bersemangat.
Tiba-tiba ponsel Alena berdering. Dan itu dari Narendra.
"Halo?"
"Halo Alen. Apa kau di villa saat ini?"
"Iya kak. Kenapa?"
"Kau bersama Ken dan teman-temannya kan? Kirana juga ada di situ?"
"Benar kak"
"Alena dengarkan aku. Pak Rudi telah mengetahui keberadaan kalian. Dan dia sekarang sedang menuju villa membawa pengawal-pengawalnya. Sekarang aku minta, kalian pergi dari tempat itu. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan paman pada kalian"
Seketika Alena merasa lemas. Iya lalu mematikan filmnya.
"Gaes, gawat. Ini benar-benar gawat"
Semuanya pun ikut terkejut saat melihat Alena yang panik.
"Kenapa Alena? Tarik nafas dulu, pelan-pelan" sahut Ken.
"Ayah mau datang kesini. Entah dapat informasi dari mana, yang jelas dia bawa semua pengawalnya. Kak Ken kau dalam bahaya"
"Apa? Vicky kau bilang semua sudah diretas?" tanya Ken.
"Astaga. Aku lupa membungkam mulut penjaga villa" ujar Rio sambil menepuk jidatnya.
"Ken, jalan satu-satunya kau harus ke bandara dan secepatnya pergi ke Prancis. Jika kau hanya menghilang, nyawa kita yang jadi taruhan" kata Aldo mulai tegang.
"Benar. Kita bisa saja pergi sekarang dari tempat ini. Tapi keluarga kita? Om Rudi sudah terlanjur tahu kalau kau bersama kami!" ujar Rio menambahkan.
Tiba-tiba ponsel Rio berdering. Dan itu dari ayahnya.
"Halo ayah"
"Apa yang kau lakukan? Pak Rudi akan mengancam menarik sahamnya dari perusahaan kita. Ayah tidak mau tahu, bereskan semuanya segera!"
"Ba-baik ayah!"
Rio menutup teleponnya dengan wajah cemas.
"Kau kenapa? Ada apa dengan ayahmu?" tanya Ken.
"Om Rudi mengancam ayahku akan menarik sahamnya dari perusahaan ayahku. Ken tolong bantu kami!"
Ken terdiam sesaat, lalu melirik Kirana yang matanya sudah basah.
Ken lalu meraih tubuh Kirana dan memeluknya erat. Ken mengelus rambut Kirana, dan menenggelamkan kepala Kirana dalam dekapannya. Ken begitu tulus memeluknya, seakan itu adalah pelukan terakhirnya. Bahkan semua orang yang melihat mereka merasakan ketulusan cinta keduanya.
"Kirana. Tunggu aku. Berapa lama pun itu, apa kau mau menungguku? Aku pasti akan datang menemuimu dan menikahimu"
Mendengar perkataan Ken bukannya Kirana menjawab ia malah menangis tersedu-sedu.
"Apa kau benar-benar akan pergi?"
"Kirana. Ini semua demi kita. Aku yakin jika aku menuruti semua perintah ayahku, kelak beliau akan menuruti semua keinginanku" ujar Ken yang lalu menyeka air mata Kirana.
"Kau mau menungguku kan? Aku pasti datang!"
Kirana mengangguk sambil sesenggukan. Dan enggan melepas genggaman tangan Ken.
"Ken, lima menit lagi helikopter datang. Kau bisa langsung ke bandara" ujar Rio yang meminjamkan helikopter pribadinya untuk Ken, tentu saja atas ijin ayahnya.
"Terimakasih banyak teman. Tolong jaga Kirana dan Alena untukku!"
Teman-teman Ken menganggukkan kepalanya. Tentu saja mereka akan menjalankan permintaan Ken yang begitu berharga baginya.
Beberapa menit kemudian, helikopter ayah Rio sudah mendarat di halaman villa yang lumayan luas. Semua orang pergi keluar mengantar Ken.
"Kak Ken!" teriak Alena.
Alena lalu memeluk erat kakak kesayangannya itu.
"Alena jaga baik-baik dirimu karena kakak sudah tidak ada di sampingmu. Belajar yang tekun. Minta lah bantuan kak Kirana. Kalian berdua sangat berarti untukku" ujar Ken.
Alena mengangguk sedih dengan linangan air matanya.
"Kakak hati-hati di sana. Kami pasti akan baik-baik saja" kata Alena.
Ken menganggukkan kepalanya tersenyum senang. Karena adiknya sudah mulai dewasa.
Setelah berpamitan dengan semua teman-temannya. Ken naik ke helikopter agar cepat sampai di bandara.
Setelah Ken sampai bandara, ia mengirimkan foto kepada ayahnya dengan sebuah caption.
Ayah. Aku sudah sampai di bandara. Satu jam lagi aku terbang ke Prancis. Tolong jangan ganggu Kirana dan ayahnya. Aku sudah menuruti semua perintahmu.
Setelah membaca pesan dari Ken, pak Rudi akhirnya putar balik. Dia mengurungkan niatnya untuk ke villa. Tentu saja dia juga konsisten, jika Ken menuruti semua perintahnya, Pak Rudi juga akan menuruti Ken.