"Aah ... Profesor!"
Desahan napas patah-patah itu berhamburan dalam keheningan ruang kerja yang temaram, melebur bersama sisa debar jantung yang belum sepenuhnya tenang. Di atas sofa cokelat yang berantakan, Natalie memejamkan mata erat-erat, menikmati sensasi hangat yang menjalari sekujur tubuhnya setelah sentuhan liar diberikan oleh Damian. Manik matanya menyala dalam kepuasan terselubung, meresapi setiap jengkal kenikmatan terlarang yang saat ini ia renggut secara paksa dari sang dosen.
Damian mendongak dari posisinya, manik matanya menatap tajam ke arah d**a Natalie yang masih naik turun tak beraturan di balik kain piyama satin. Napas pria itu memburu berat. Sementara sisa-sisa gairah gelap masih jelas terpancar di balik lensa kacamata berbingkai tipis yang sedikit miring.
“Ini gila!” batin Damian.
Namun, detik berikutnya, suasana intim yang membakar itu seketika hancur berkeping-keping.
"Damian? Apa kamu masih bangun? Pintunya tidak dikunci."
Suara serak Elena yang terdengar baru saja tiba dari acara di luar mendadak menghentak udara malam, membuat jantung Natalie seakan-akan copot dari tempatnya. Seluruh darah di tubuh gadis itu mendadak surut, menyisakan ketakutan luar biasa yang meremukkan sisa-sisa kesadaran.
Di dalam ruang kerja yang gelap, Natalie dan Damian membeku dalam jarak yang sangat intim. Tidak ada satupun dari mereka yang berani bergerak selama beberapa detik, seolah-olah suara napas mereka sendiri bisa terdengar hingga ke luar pintu.
Pria itu menempelkan jarinya ke bibir sebagai isyarat agar Natalie diam. Damian langsung bereaksi dengan kecepatan penuh. Pria itu segera melepaskan cengkeramannya dari tubuh Natalie, bangkit berdiri dengan gerakan cepat namun terkontrol. Dengan tangan yang sigap, ia merapikan kemeja hitamnya yang sedikit kusut, membenarkan letak kacamata, dan mengembalikan topeng dinginnya dalam sekejap.
Mengandalkan kepala dingin yang luar biasa di tengah situasi paling berbahaya dalam hidupnya, Damian melangkah tenang menuju daun pintu. Pria itu membuka pintu tersebut sedikit saja, cukup untuk memperlihatkan wajah datarnya tanpa membiarkan Elena melihat celah ke dalam ruangan.
"Ada apa, Elena?" tanya Damian dengan nada suara bariton yang terdengar sangat datar dan wajar, tanpa ada sedikit pun jejak kepanikan atau napas tersengal.
Di balik punggung Damian, Natalie meringkuk di atas sofa dengan jemari mencengkeram erat ujung bantal, menahan napasnya rapat-rapat karena takut setengah mati.
"Aku baru saja pulang dari acara di luar," jawab Elena dari luar, suaranya terdengar lelah sambil melepas sepatu hak tingginya di dekat pintu depan. "Aku lihat lampu ruang kerjamu masih menyala. Jangan terlalu memforsir diri malam-malam begini."
"Aku sedang merampungkan draf evaluasi akademik mahasiswi yang bermasalah," balas Damian beralasan dengan sangat tenang dan meyakinkan. "Sebentar lagi aku selesai. Masuklah ke kamar dan istirahatlah."
"Baiklah. Jangan terlalu malam menyusul ke kamar," pesan wanita itu singkat sebelum langkah kakinya perlahan menjauh menaiki tangga menuju lantai atas.
Saat suara pintu kamar tidur utama tertutup rapat di ujung lorong, Damian menghembuskan napas berat yang sedari tadi ia tahan. Pria itu menutup rapat pintu ruang kerjanya, menguncinya dari dalam, lalu berbalik perlahan untuk menatap sosok Natalie yang masih bersandar lemas di dekat sofa dengan mata penuh kemenangan dan sisa gairah.
Suasana di dalam ruangan kembali berubah menjadi dingin dan penuh tekanan. Damian berjalan mendekat, menatap anak tirinya dengan sorot mata tajam yang menyiratkan penyesalan mendalam.
"Kembalilah ke kamarmu sekarang, Natalie," perintah Damian rendah, suaranya terdengar mutlak dan tidak bisa dibantah. "Lewatilah koridor samping agar tidak terlihat siapa pun."
Natalie menatap pria di hadapannya dengan santai, sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Ia perlahan bangkit dari sofa, merapikan bajunya yang berantakan, lalu menolak perintah itu sambil melipat tangan di d**a dengan senyuman tipis menantang.
"Serius aku diusir, Prof?" sahut Natalie dengan nada santai, sama sekali membuang jauh-jauh gaya bicara formalnya. "Habis dapetin semuanya, sekarang kamu langsung pasang muka galak lagi, Profesor? Apa-apaan ini."
"Jangan main-main, Natalie!" bentak Damian tertahan, mencengkeram rahangnya sendiri dengan gusar. "Situasi ini sudah terlalu jauh melampaui batas kewajaran. Jaga mulutmu rapat-rapat mulai sekarang dan jangan pernah mengungkit hal ini lagi."
"Kenapa aku harus diam, Prof? Kita … tadi melakukannya karena mau sama mau, kan?" desak Natalie, melangkah maju mendekati Damian dengan d**a bergemuruh ringan. "Kamu sendiri yang tadi menyerah, kan? Kamu enggak bisa ngusir aku begitu saja, Profesor,” imbuh Natalie manja.
Damian terdiam seribu bahasa, tidak mampu mendebat argumen tersebut karena ia tahu gadis itu mengatakan hal yang benar. Pria itu memalingkan wajah, mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangan yang sedikit bergetar hebat. Rasa bersalah dan panik bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya, menciptakan rasa mual yang luar biasa.
Bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal itu tadi? Bagaimana bisa seorang dosen pembimbing dan ayah tiri kehilangan kendali sepenuhnya di hadapan anak tirinya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantam batin Damian tanpa ampun, membuatnya merasa menjadi pria paling b******k di muka bumi.
"Pergilah ke kamarmu, Natalie," ulang Damian dingin, mengabaikan protes santai gadis itu dan menunjuk ke arah pintu samping. "Ini kesalahan besar. Dan hal seperti ini tidak boleh terulang lagi."
Karena tidak ingin memicu kecurigaan lebih jauh dari Elena, Natalie akhirnya membuang napas dengan kasar. Dengan sedikit kecewa, ia menghentakkan kakinya sebagai ganti protes. Dengan langkah ringan dan hati yang berbunga-bunga, gadis itu membuka pintu samping ruang kerja, lalu menyelinap keluar menuju koridor sepi yang mengarah langsung ke kamarnya. Sebelumnya, ia menyentuh lengan Damian dengan ujung jari dan mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu.
“Aku kembali ke kamar, Profesor.”
Damian tak menjawab. Ia membiarkan Natalie berlalu demi menjaga kewarasannya. Saat tiba di dalam kamarnya sendiri, Natalie langsung membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia bersandar di balik daun pintu, membiarkan keheningan malam menyelimuti tubuhnya yang masih terasa panas.
Sembari tersenyum tipis penuh kemenangan, Natalie perlahan mengangkat tangan dan menyentuh bibirnya yang bengkak. Ia meraba lehernya, lalu turun menyentuh dadanya sendiri yang masih bergemuruh hebat mengingat setiap detik sentuhan sang penulis kesayangan.
Kesadaran bahwa ia akhirnya bisa merasakan langsung sisi liar dari penulis favoritnya mendatangkan kepuasan yang teramat pekat. Natalie menyadari sepenuhnya bahwa permainan berbahaya ini baru saja dimulai, dan ia tidak akan pernah mau melepaskan cengkeramannya lagi.
"Aku tahu ini berbahaya," bisik Natalie lirih pada dirinya sendiri di dalam kamar yang gelap, sementara senyuman penuh obsesi terukir jelas di bibirnya. "Tapi aku sadar ... aku tidak akan pernah bisa berhenti, Profesor.”