“Apa maksud pertanyaanmu, Natalie?”
Damian mengulang pertanyaannya. Jarak yang terlampau dekat membuat hembusan napas hangat keduanya saling berbenturan di udara. Ruang kerja berukuran sedang itu mendadak terasa kehilangan seluruh oksigennya, menyisakan debar jantung yang bergemuruh kencang di balik tulang rusuk. Damian masih terpaku dengan tatapan tajam mengintimidasi, menunggu jawaban atas pertanyaannya yang menggantung di udara.
Namun, alih-alih merasa gentar atau menarik diri, Natalie justru mendongakkan wajahnya semakin tinggi. Keberanian aneh merayap naik, mendesak keluar dari dalam d**a gadis itu setelah berhari-hari tersiksa oleh delusi dan rasa penasaran yang membakar. Tangannya terangkat perlahan, mencengkeram erat kerah kemeja hitam yang membalut d**a bidang di hadapannya.
Tatapan mata mereka terkunci rapat dalam keheningan yang sarat akan bahaya.
"Bagaimana rasanya menulis tentang wanita yang mendesah di bawah kendalimu, Profesor ... atau aku harus memanggilmu Raven?" bisik Natalie tertahan, tepat di garis bibir Damian dengan suara yang bergetar namun telak.
Kalimat itu meluncur bagai sambaran petir di siang bolong. Suasana di dalam ruang kerja mendadak hampa udara secara total.
Damian terperanjat di tempatnya berdiri, manik mata pria di balik lensa kacamata tipis itu membelalak lebar untuk pertama kalinya. Topeng dingin, kaku, dan berjarak yang selama ini ia bangun dengan sempurna sebagai seorang dosen perfeksionis runtuh berkeping-keping dalam sekejap. Seluruh rahasia besar yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik nama pena anonim kini telah terbongkar secara mentah-mentah oleh anak tirinya sendiri.
Pria itu terkesiap, kehilangan kata-kata untuk mendebat atau menyangkal. Otaknya yang terbiasa bekerja cepat mendadak membeku, menyadari bahwa gadis di hadapannya tidak sedang menebak-nebak, melainkan memegang bukti mutlak atas identitas rahasianya.
Sadar bahwa kedoknya telah tersingkap sepenuhnya tanpa sisa, Damian secara refleks mencoba mengelak. Pria itu menarik tubuhnya ke belakang, melepaskan cengkeraman tangan Natalie dari kerah kemejanya, lalu melangkah mundur menjauh dari meja mahoni.
"Kamu bicara apa, Natalie? Jangan meracau," sangkal Damian dengan nada suara yang berusaha ia buat kaku kembali, meski manik matanya tidak bisa menyembunyikan kepanikan yang nyata.
Namun, reaksi mengelak itu justru memicu letupan obsesi yang lebih gelap di dalam d**a Natalie. Hilang sudah sisa-sisa rasa takut atau rasa hormat sebagai anak tiri. Bayangan-bayangan liar dari lembaran novel Raven berkelebat beringas di kepalanya, menuntut kepastian atas fantasi yang selama ini menyiksanya.
“Aku sudah tahu semuanya, Professor. Kamu itu adalah Raven, penulis novel dewasa. Katakan jika aku salah! Tapi aku sudah memastikannya,” ucap Natalie.
“Ap–apa yang kamu katakan?”
Natalie tidak membiarkan pria itu lolos. Ia maju menerjang, memangkas jarak dalam sekali sentakan dan kembali merangsek masuk ke dalam ruang gerak Damian.
Gadis itu mencengkeram kembali kerah kemeja Damian dengan beringas, mendorong tubuh tinggi tegap sang dosen hingga punggung pria itu membentur dinding perpustakaan di sudut ruangan. Damian terkejut setengah mati mendapati agresi liar yang ditunjukkan oleh mahasiswinya. Cengkraman tangan Natalie begitu erat, menyalurkan rasa frustrasi, keputusasaan, dan hasrat menggebu yang sudah tidak mampu lagi dibendung.
"Jangan menyangkal, Profesor!" desis Natalie tepat di depan wajah pria itu, napasnya memburu panas. "Aku membaca setiap diksimu. Aku tahu bagaimana cara jarimu memperlakukan wanita dalam cerita-ceritamu. Dan sekarang, tunjukkan padaku kalau itu bukan hanya omong kosong!" imbuh Natalie.
Damian mencoba menahan kedua pergelangan tangan Natalie, berniat mendorong tubuh gadis itu menjauh untuk memulihkan kendali mutlaknya.
"Natalie, sadarlah. Jangan melewati batas." Suara Damian merendah, memperingatkan dengan nada dingin yang berusaha mendominasi.
Akan tetapi, sentuhan fisik yang tercipta saat kulit mereka bersentuhan justru menjadi bensin yang membakar api gairah di antara keduanya. Alih-alih mundur, Natalie semakin kehilangan akal sehatnya. Ia menggunakan seluruh berat tubuhnya untuk memaksa Damian menyerah pada situasi ini, mendesak sang penulis malam hingga tidak memiliki celah untuk melarikan diri.
Obsesi yang telah berakar terlalu dalam itu membuat Natalie bertindak nekat. Ia berjinjit, memaksa wajah Damian menunduk, lalu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman menuntut yang diinisiasi oleh dirinya sendiri.
Damian sempat membeku, mencoba mempertahankan sisa-sisa pertahanan moralnya sebagai seorang pria paruh baya terhormat dan ayah tiri dari gadis di hadapannya. Namun, desakan bibir Natalie yang sarat akan keputusasaan dan rasa lapar yang teramat sangat melumpuhkan benteng pertahanan itu dalam hitungan detik. Saraf-saraf penolakan di otaknya meleleh bersamaan dengan aroma kayu manis yang menguar pekat di udara.
Pertahanan diri sang penulis dewasa perlahan hancur. Damian nyaris terhanyut sepenuhnya ke dalam pusaran bibir yang merampas kesadaran itu, membiarkan jemarinya merespons dekap hangat sang mahasiswi.
Namun, detik berikutnya, sebuah kesadaran moral yang menghantam keras membuat Damian tersentak. Pria itu mendadak mendorong tubuh Natalie agak kasar ke belakang, memutus tautan bibir mereka secara sepihak. Sembari mencengkeram kedua lengan atas gadis itu dengan kuat untuk menjaga jarak, Damian menatap tajam manik mata Natalie yang berkaca-kaca.
"Sadarlah, Natalie! Apa yang sedang kamu lakukan?" bisik Damian tajam, napasnya memburu berat dengan d**a naik turun tak beraturan di balik kemejanya yang berantakan.
Natalie menggeleng lemah, menolak tunduk pada peringatan itu.
“Jangan minta aku berhenti, Profesor. Aku selalu membayangkan hal ini setiap waktu,” ucapnya.
Kenyataan di depan matanya, bahwa pria dingin di hadapannya adalah pencipta fantasi terlarang yang membelenggu tidurnya, tidak bisa lagi ia abaikan begitu saja. Segala batasan etika, status ayah tiri, dan norma sosial hancur lebur di bawah timbunan obsesi yang sudah melewati batas kewajaran.
Dengan napas memburu dan tatapan mata yang menyala liar, Natalie kembali maju menerjang, merangsek mendekati Damian tanpa menyisakan celah sedikit pun.
Melihat kenekatan yang sudah melewati batas normal, sorot mata Damian berubah menjadi sangat gelap dan berbahaya. Pria itu menatap lurus ke dalam mata anak tirinya, menyadari bahwa ia telah kehilangan kendali sepenuhnya atas situasi ini.
Sebelum Natalie sempat merengkuhnya kembali, Damian menahan bahu gadis itj. Pria itu mendorong agak kasar tubuh gadis di hadapannya hingga Natalie terjerembab ke sofa cokelat di tengah ruangan, lalu berbisik dengan suara rendah yang menggetarkan seluruh tulang rusuk.
"Jika kamu terus memaksa … aku tidak bisa menjamin kamu akan bisa berhenti,” katanya.
Bukannya mundur, Natalie malah menggigit bibir bawahnya, lalu mendongak demi menyambut tantangan Damian dengan menggiurkan.
“Kalau begitu … jangan berhenti, Profesor,” bisiknya.
Jantung Damian makin bertalu. Ia menelan ludahnya dengan kasar, lalu dengan gusar menyerang tulang selangka gadis yang kini pasrah di hadapannya.
“Aah … profesor!” pekik Natalie.