“Apa yang kamu pikirkan, Nath?”
Pertanyaan rendah itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di dalam ruang kerja yang dipenuhi aroma buku. Natalie tidak mampu menjawab sepatah kata pun. Lidahnya kelu, sedangkan debar jantungnya bergemuruh hebat menghantam tulang rusuk.
Damian menyipitkan mata di balik lensa kacamata tipisnya. Pria itu mengamati rona merah di wajah anak tirinya dengan tatapan menyelidik yang penuh rasa curiga.
Bagi pria itu, perubahan sikap Natalie yang drastis dan nilai esai yang kosong di kelas hanya membuktikan satu hal. Gadis itu terdistraksi oleh pergaulan bebas di luar kampus, terutama kedekatannya dengan Daniel Cross.
"Nilai akademis kamu hancur semester ini," katanya, suara bariton Damian mengalun dingin, memecah keheningan dengan otoritas penuh. "Kamu sibuk menghabiskan waktu dengan pemuda tidak berguna itu, hingga mengabaikan tugas kuliah," imbuhnya.
Natalie menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak berani mendongak, takut manik matanya justru membocorkan rahasia besar tentang novel Raven yang kini menguasai pikirannya.
"Saya minta penjelasan, Natalie," lanjut Damian sambil melangkah mendekat perlahan. "Apa hubunganmu dengan Daniel Cross sampai membuat fokus belajarmu rusak?"
Jarak di antara mereka terkikis dalam hitungan detik. Bayangan tubuh tinggi pria itu sepenuhnya menaungi sosok Natalie yang berdiri kaku di dekat meja mahoni.
"Kamu terlalu sering melamun di kelas saya, Natalie," ucap Damian rendah, melanjutkan kalimatnya dengan tatapan yang semakin mengintimidasi. "Apakah materi kuliah saya terlalu membosankan, atau pikiranmu sedang berkelana ke tempat lain?"
Aura d******i yang dipancarkan Damian saat ini terasa jauh berbeda dari saat ia berada di ruang keluarga bersama Elena. Di bawah atap rumah ini, di dalam ruang kerja pribadinya, pria itu adalah penguasa mutlak yang tidak mengenal kata kompromi. Natalie menelan ludah dengan susah payah, berusaha mati-matian menegakkan punggungnya yang terasa lemas. Ia harus segera menguasai diri sebelum pertahanan mentalnya runtuh sepenuhnya di hadapan sang dosen.
"Saya mendengarkan penjelasan Anda, Profesor," jawab Natalie berbohong, meski suaranya sedikit bergetar.
"Mendengarkan?" ulang Damian dengan nada sinis yang tertahan. "Pikiranmu melayang entah ke mana selama jam kuliah sastra klasik berlangsung. Nilai esaimu buruk, dan kamu menghabiskan waktu bersama mahasiswa bengal seperti Daniel Cross."
Damian membuka map dokumen di atas meja, lalu menarik selembar kertas esai milik Natalie. Pria itu mulai membedah tulisan tangan anak tirinya dengan analisis akademik yang tajam. Setiap argumen sastra yang disampaikan Damian terdengar sangat logis di permukaan, tapi di balik setiap pilihan diksinya terselip sindiran terselubung bermakna ganda. Dosen itu seolah sedang menguliti kelemahan mental Natalie secara perlahan, menikmati setiap detik penderitaan psikologis yang dirasakan mahasiswinya.
Gadis itu mendengarkan rentetan kritik itu dengan kepala pusing. Fakta bahwa pria berkemeja rapi di depannya ini adalah penulis novel erotis liar yang menguasai fantasi malam-malamnya membuat setiap kalimat sindiran Damian terasa memiliki arti lain. Di telinga Natalie, kalimat-kalimat akademik itu berubah menjadi bisikan menggoda tentang kepatuhan dan hasrat tersembunyi. Pertahanan mentalnya perlahan-lahan mulai terkikis habis, menyisakan rasa frustrasi yang luar biasa membakar d**a.
Ia tidak sanggup lagi terus menunduk dan menerima semua tuduhan ini sebagai anak tiri yang patuh.
Seketika itu juga, Natalie mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi. Ia membalas tatapan tajam Damian tanpa sedikit pun rasa gentar, menantang d******i pria itu secara langsung lewat manik matanya.
"Kenapa Anda begitu peduli pada cara saya berpikir, Profesor?" ucapnya, suara Natalie meluncur tajam, memotong penjelasan akademik Damian di tengah jalan.
Damian menghentikan gerakannya. Pria itu mengangkat wajah, menatap kaget ke arah mahasiswinya yang mendadak berani melawan arus.
"Anda menghabiskan waktu berjam-jam di balik pintu tertutup ini untuk menulis diksi-diksi yang begitu manipulatif," lanjut Natalie dengan d**a bergemuruh, suaranya mulai kehilangan kendali. "Anda menulis tentang gairah terlarang, tentang kepatuhan mutlak, tentang pria dingin yang kehilangan akal sehat karena hasrat gelapnya sendiri. Saya hanya penasaran, kenapa profesor sedingin dan sekaku Anda bisa merangkai kisah-kisah penuh dosa yang begitu liar?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Natalie, lepas kendali akibat akumulasi stres dan delusi yang menumpuk. Ia merasa tersiksa harus berpura-pura tidak tahu apa-apa di hadapan pria yang memegang kendali atas mimpi-mimpinya setiap malam.
Suasana di dalam ruang kerja mendadak membeku secara total. Damian terdiam seribu bahasa di balik meja kerjanya. Pria itu menatap Natalie dengan mata menyipit tajam, memproses setiap kata yang baru saja diucapkan oleh anak tirinya. Alisnya terangkat dalam kebingungan yang nyata, merasa ada sesuatu yang sangat janggal dan berbahaya dari cara Natalie memandangnya.
Damian sama sekali tidak berpikir bahwa Natalie mengetahui rahasianya. Dalam kepala sang dosen, novel-novel erotis itu adalah rahasia mutlak yang disembunyikan di balik nama pena anonim. Namun, tuduhan terselubung mengenai sisi liar dan gairah gelap yang dilontarkan Natalie barusan terasa terlalu spesifik, seolah-olah gadis itu bisa melihat langsung ke dalam sisi tergelap jiwanya.
Rasa terkejut itu perlahan berganti menjadi kilatan emosi yang membakar di balik lensa kacamata Damian. Pria itu merasa otoritasnya sedang diuji secara terang-terangan di dalam wilayah kekuasaannya sendiri.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Damian bangkit perlahan dari kursi kerjanya. Tubuhnya yang tinggi tegap berdiri menjulang, memancarkan aura bahaya yang membuat udara di dalam ruangan terasa semakin menipis. Pria itu melangkah mengitari meja mahoni dengan gerakan tenang dan mematikan, mendekati tempat Natalie berdiri terpaku.
Natalie mengerjap panik saat menyadari jarak di antara mereka menyusut dalam hitungan detik. Ia mencoba melangkah mundur, tapi punggungnya langsung membentur sisi tepi meja kerja yang keras. Tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri.
Damian terus mendesak maju hingga tubuhnya berdiri sangat dekat di hadapan Natalie. Pria itu mengurung tubuh mungil mahasiswinya di antara kedua sisi meja dan bidang dadanya sendiri, menciptakan kurungan fisik yang mutlak dan tidak memberi ruang untuk bernapas. Aroma maskulin dan sabun mandi pria itu menguar pekat, merusak sisa-sisa pertahanan terakhir Natalie.
Wajah pria itu berada hanya beberapa sentimeter di atas wajahnya. Napas hangat sang profesor menerpa lembut permukaan kening Natalie, memberikan sensasi menggelitik sekaligus meremangkan bulu roma. Tatapan mata pria itu menembus manik mata Natalie dengan intensitas yang sanggup meremukkan nyali siapapun. Hingga membuat saraf-saraf gadis itu menjadi tegang.
Ruang kerja yang sunyi itu terasa begitu panas, dibalut oleh ketegangan psikologis yang mencapai titik didih tertingginya. Damian menundukkan sedikit kepalanya, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Natalie sebelum melontarkan pertanyaan bernada rendah yang menghentakkan seluruh sisa kesadaran sang mahasiswi.
"Apa maksud pertanyaan kamu, Natalie?" katanya lirih.