Bab 7
"Aku harus balas apa?" gumam Natalie cemas di dalam taksi yang melaju kencang membelah kemacetan sore hari.
Ponsel di tangannya mendadak bergetar hebat sebelum sempat ia gunakan untuk membalas pesan titah dari Damian. Layar menyala menampilkan nama Daniel yang terpampang terang, menanyakan apakah dirinya baik-baik saja setelah tiba-tiba kabur dari parkiran kampus tadi. Natalie menarik napas pelan, lalu mengetik balasan singkat dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
Aku hanya perlu minum obat sakit perut dan tidur, Dan. Jangan khawatir.
Ia langsung mengunci layar ponselnya begitu pesan itu terkirim, tidak ingin memberikan celah bagi Daniel untuk bertanya lebih jauh. Pikirannya kini sudah terlanjur kalut oleh titah mutlak yang menunggunya di rumah.
Sesampainya di halaman rumah mewah itu, taksi berhenti tepat di dekat air mancur kecil. Natalie membayar ongkosnya dengan tergesa-gesa, lalu melangkah masuk melalui pintu utama yang tidak terkunci. Baru saja ia menginjakkan kaki di lantai foyer, seorang asisten rumah tangga paruh baya menyapa ramah dari arah dapur.
"Non Natalie sudah pulang?" sapa wanita paruh baya itu dengan senyuman hangat. "Oh iya, tadi Nyonya Elena sempat berpesan kalau beliau ada acara arisan bersama teman-temannya dan mungkin akan pulang agak malam,” imbuhnya.
Natalie menghentikan langkahnya sejenak, lalu mengangguk kaku. "Ah, begitu ya. Terima kasih informasinya, Bi."
"Sama-sama, Non. Kalau Non Natalie butuh sesuatu, panggil Bibi saja di belakang ya," tambah sang ART penuh perhatian.
"Iya, Bi. Nanti saya panggil kalau butuh," balas Natalie singkat sebelum bergegas melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Setelah tiba di dalam kamarnya, Natalie langsung membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia menghempaskan tubuh ke atas ranjang empuk, membiarkan dadanya bergemuruh liar oleh kombinasi antara rasa takut dan antisipasi yang membingungkan. Otaknya mendadak berputar mundur, mengingat kembali salah satu adegan paling ikonik di dalam novel karya Raven. Sebuah adegan intim yang berlatar di dalam ruang kerja pribadi, di mana sang tokoh pria menumpahkan hasrat di atas meja mahoni yang dingin dengan seorang wanita.
Apa adegan itu akan benar-benar terjadi padaku malam ini? batin Natalie ngeri sekaligus terangsang oleh bayangannya sendiri.
Pikirannya sempat terbang jauh mengenai adegan dalam novel itu. Namun, gadis itu buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba membuang jauh-jauh pikiran kotor yang mulai meracuni kewarasannya. Ia bangkit dari ranjang dengan niat awal untuk segera mandi air hangat agar otaknya bisa kembali waras. Namun, sebelum ia sempat melangkah ke arah kamar mandi, suara deru mesin mobil sedan hitam membelah halaman luar rumah.
Jantung Natalie langsung mencelos jatuh ke dasar perut. Damian sudah pulang. Bahkan lebih cepat dari hari biasanya. Gadis itu membuang napas dengan kasar, lalu mencoba menenangkannya.
“Hadapi saja, Natalie. Buang semua diksi Raven dan anggap Profesor Damian adalah ayah tirimu, bukan yang lain,” ucapnya pada diri sendiri.
Sementara di lantai bawah, Damian melangkah masuk ke dalam rumah dengan tatapan lurus ke depan. Sang ART langsung menyambut kepulangannya sambil membawakan tas kerja sang majikan.
"Selamat malam, Tuan," sapa ART sopan.
Damian mengangguk sekilas, melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Lalu mendongak ke atas. "Apa Natalie sudah pulang?" tanya pria itu dengan nada suara bariton yang tenang.
"Sudah, Tuan. Non Natalie baru saja naik ke kamarnya sekitar sepuluh menit yang lalu," jawab sang ART jujur.
Damian hanya merespons dengan gumaman pelan, lalu melangkah pasti menaiki tangga menuju lantai dua. Ketika melewati kamar anak tirinya pria itu berhenti sejenak, lalu membuang napas, sebelum akhirnya melanjutkan langkah menuju ke kamar.
Waktu terus berjalan hingga malam merayap naik, membawa keheningan mutlak ke seluruh sudut rumah. Di depan pintu ruang kerja berukir gelap, Natalie berdiri mematung dengan balutan piyama tidur berbahan satin lembut. Napasnya tercekat di tenggorokan, ragu apakah ia harus mengetuk atau berbalik lari ke kamarnya.
Sebelum beranjak menuju ke ruang kerja Profesor Damian, ia sudah mencoba menenangkan diri. Berharap jika di ruangan sang ayah tiri, tidak ada adegan-adegan gila dari scene novel milik Raven yang ia baca.
Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberanian, jari-jarinya terulur mengetuk permukaan kayu keras itu sebanyak tiga kali.
"Masuk.”
Suara bariton Damian terdengar dari balik pintu dengan mutlak. Natalie memutar kenop pintu perlahan, mendorong daun pintu tersebut hingga terbuka lebar. Ruangan di dalam dipenuhi oleh aroma kayu manis yang pekat, berpadu dengan cahaya lampu meja temaram yang menyorot langsung ke arah meja kerja mahoni di tengah ruangan.
Saat kakinya melangkah masuk, memori tentang fiksi Raven langsung menyerang kepala Natalie secara membabi buta. Pemandangan meja kerja besar itu seketika berubah wujud di mata batinnya menjadi panggung pemujaan daging dan hasrat paling liar. Ia bisa merasakan bayangan jemari panjang Damian menelusuri lekuk tubuhnya di atas permukaan kayu yang keras, merobek pertahanan terakhir di bawah desahan napas panas dan cengkeraman jemari yang menuntut penyerahan mutlak.
Dalam bayangannya, permukaan meja mahoni yang dingin itu berubah menjadi altar pemujaan tatkala jemari kokoh Damian menelusuri lekuk pinggang Natalie tanpa sisa jarak. Desahan napas panas beradu dengan aroma kayu manis dan keringat yang menguap di udara malam, menciptakan simfoni hasrat yang dituntun oleh kuasa mutlak sang pria.
Natalie berada dalam ruang di antara nyata dan diksi manja, ia membayangkan kain satin piyama yang membalut tubuhnya tersibak kasar, membuka jalan bagi telapak tangan besar yang membakar setiap jengkal kulit sensitif di bawahnya. Sentuhan itu tidak lagi mengenal kata ampun, menuntut penyerahan total lewat cengkeraman erat di kedua belah pinggul yang bergetar hebat.
Bisik suara itu terdengar patah-patah, melebur bersama rintihan tertahan di tengah guliran ritme yang menghantam kesadaran tanpa jeda.
Natalie benar-benar hampir gila saat scene selanjutnya berputar di kepala. Menuntun gadis itu dalam halu sesat. Natalie bahkan mampir merasakan d**a bidang yang kokoh menghimpit tubuh mungilnya ke atas permukaan meja, membuat setiap gesekan terasa begitu memabukkan dan meremukkan sisa-sisa kewarasan. Ruang kerja privat itu kini berubah menjadi saksi bisu atas pertumpahan gairah terlarang, di mana batas antara benci dan pujaan melebur dalam dekap erat yang mengunci mati.
Setiap sentakan membawa mereka semakin jauh ke dalam pusaran kenikmatan liar, menembus batas moral keluarga dengan kepuasan yang teramat pekat. Hingga pada puncaknya, erangan berat sang dosen menghentak keheningan malam, menyatu dengan kejang sekujur tubuh Natalie yang terhempas lemas dalam rengkuhan mutlak tanpa ampun. Saat itu, sesuatu yang hangat meleleh tanpa Natalie sadari.
Keringat dingin merembes di pelipis Natalie, membuat lututnya mendadak lemas membayangkan tubuhnya direnggut tanpa ampun di atas meja tersebut.
Damian yang duduk di kursi kerjanya, memperhatikan setiap perubahan ekspresi wajah anak tirinya yang tampak pucat pasi dengan tatapan menilai. Pria itu kemudian bangkit dan mengikis jarak, sebelum akhirnya membuka suara.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sampai membuat wajahmu semerah itu, Natalie?" tanya Damian rendah, suaranya menusuk tajam menuntut jawaban mutlak.