"Sumpah, panas banget hari ini," eluh Chloe sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya, mencoba menciptakan angin buatan.
Matahari siang memang sangat menyengat di atas pelataran parkir Fakultas Sastra, memantulkan kilau panas dari kap mobil-mobil yang berjajar rapi. Udara terasa begitu gerah dan pengap, membuat peluh tipis merembes di pelipis setiap mahasiswa yang berlalu-lalang.
"Bisa gosong kulit aku kalau kelamaan berdiri di sini,” imbuhnya.
Natalie mengangguk membenarkan, ikut menyeka keringat di lehernya dengan ujung jemari. "Makanya jangan ngajak ngobrol di luar gedung, Chlo. Cari tempat teduh, yuk."
Sejak pagi, kepala Natalie memang sudah terasa berat akibat kurang tidur. Bayangan insiden di kamar bersama Damian masih berputar liar di dalam kepalanya, membuat konsentrasinya hancur total di kelas. Ia berusaha keras mengalihkan pikiran, tapi udara terik dan rasa pusing di kepala membuat situasinya semakin menyiksa.
Sebelum Chloe sempat membalas ucapan itu, sebuah suara maskulin yang sangat familiar tiba-tiba memecah kebisingan lorong kampus.
"Hei, Nath. Hai, Chloe. Sibuk nggak?"
Daniel Cross muncul dari balik pilar beton dengan senyuman miring yang selalu berhasil memikat perhatian mahasiswi lain di sekitar mereka. Pria berpostur tinggi atletis itu mengenakan kemeja denim terbuka dengan kaus putih di dalamnya, melangkah mendekat dengan percaya diri penuh. Tanpa meminta izin, Daniel langsung merangkul bahu Natalie secara santai, membawa tubuh gadis itu sedikit lebih dekat ke sisinya.
Bau parfum maskulin bercampur aroma mint langsung menguar di indra penciuman Natalie. Di keadaan normal, kehadiran Daniel mungkin akan sedikit mencairkan suasana hatinya. Namun hari ini, rangkulan tangan di bahunya terasa kontras dengan bayangan cengkeraman tangan kuat Damian di lorong rumah semalam.
"Daniel, lepasin ih. Risih tahu diliatin orang-orang," protes Natalie sambil mencoba melepaskan rangkulan tersebut, meski bibirnya tidak kuasa menahan senyum tipis.
Daniel justru tertawa kecil, mengeratkan rangkulannya sesaat sebelum akhirnya melonggarkan genggamannya. "Biarin pada liat, biar tahu kalau mahasiswi paling galak di jurusan sastra ini udah ada yang punya."
"Idih, mulai lagi buayanya," sahut Chloe meledek, membuat mereka berdua terkekeh pelan.
“Ha-ha-ha, buaya nggak ada yang seganteng ini, Chlo,” sahut Daniel mantap.
Ketiganya kembali tertawa. Tanpa mereka sadari, dari lantai dua gedung fakultas yang sama, sepasang mata tajam mengamati pemandangan itu dari balik jendela kaca besar ruang kerja pribadi. Damian berdiri tegak dengan jemari tangan kiri menyelip di saku celana bahan hitamnya. Lensa kacamata berbingkai tipis memantulkan cahaya matahari luar, menyembunyikan kilatan emosi gelap yang bergolak di balik manik matanya.
Rahang pria itu mengeras tegas, menciptakan garis kaku yang menepis segala bentuk kesabaran akademiknya.
Sebagai dosen sekaligus ayah tiri, Damian tahu betul siapa Daniel Cross. Mahasiswa populer itu terkenal sangat bandel, sering membuat masalah di kampus, dan hobi mempermainkan wanita dan waktu belajar. Melihat penurunan drastis pada nilai esai Natalie akhir-akhir ini, Damian langsung menarik kesimpulan mutlak. Nilai cemerlang anak tirinya hancur gara-gara terseret dalam pergaulan bebas dengan pemuda tidak tahu aturan seperti Daniel.
"Anak muda yang hanya tahu cara membuang waktu," gumam Damian dingin di dalam ruangan yang sunyi, suaranya nyaris tidak terdengar.
Pria itu tidak akan membiarkan potensi intelektual Natalie rusak hanya karena kedekatan yang tidak penting itu. Sebagai kepala keluarga, ia memiliki hak penuh untuk meluruskan fokus sang mahasiswi kembali ke jalur yang benar. Walaupun statusnya hanya ayah tiri yang mungkin tidak akan didengar oleh Natalie.
Tak lama kemudian, ponsel Damian berdenring. Panggilan masuk dari Elena. Wanita itu mengabarkan jika ia akan pergi arisan bersama teman-temannya hari ini.
“Mungkin aku akan pulang agak larut. Tidak usah menungguku pulang,” kata wanita itu.
“Iya. Nikmati waktumu, Elena,” ucap Damian sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.
Pria itu kembali menyimpan ponsel dalam saku celana kainnya, lalu membuang napas kasar. Sepertinya, ia akan memanfaatkan waktu untuk melakukan sesuatu malam nanti.
Di bawah sana, Natalie akhirnya menghela napas pasrah ketika Daniel kembali melancarkan rayuannya. Setidaknya, Daniel bisa memberikan sedikit hiburan untuk pikirannya yang kurang waras.
"Pulang kuliah ada acara nggak, Nath? Temenin aku cari buku referensi di toko buku sana, ya, habis itu kita makan es krim," ajak Daniel dengan mata berbinar penuh harap.
Awalnya, Natalie berniat menolak karena kepalanya masih pusing memikirkan rahasia besar Damian. Namun, ajakan itu terdengar seperti pelarian yang sempurna dari rumah megah yang kini terasa bagai sarang monster. Ia butuh udara segar untuk mendinginkan otaknya dari delusi-delusi liar tentang kehidupan nyatanya dan kisah dalam novel.
"Hmm, boleh deh. Tapi sebentar aja, ya, jangan lama-lama," jawab Natalie akhirnya.
Chloe yang berdiri di sebelah mereka langsung menepuk tangan pelan sambil tersenyum usil. "Nah, gitu dong. Nikmati waktu kalian berdua, deh. Ya, Udah, ya, kalian berdua pergi sekarang, aku mau duluan ke perpus mau nyari bahan tugas."
"Hati-hati, Chlo," balas Natalie.
Setelah kepergian Chloe, Natalie dan Daniel berjalan berdampingan menuju area parkir mobil tempat kendaraan Daniel terparkir. Suasana siang itu perlahan mereda karena celotehan Daniel, tapi obrolan ringan yang dilontarkan pria itu mendadak terhenti saat ponsel di dalam saku tas Natalie bergetar hebat.
Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar utama tanpa menyertakan nama kontak, hanya deretan angka dari nomor tak dikenal yang tampak asing. Natalie menghentikan langkahnya sejenak, mengerutkan kening sambil membuka aplikasi pesan tersebut dengan rasa penasaran.
Saat baris kalimat terbaca di hadapannya, darah di tubuh Natalie mendadak terasa berhenti mengalir.
Pesan singkat itu dikirim dengan format singkat tapi telak, membawa ancaman tak kasat mata yang langsung menghantam ulu hatinya.
Temui saya di ruang kerja rumah malam ini. Ada sesuatu yang harus kita diskusikan berdua.
Natalie menelan ludah dengan susah payah. Meskipun nomor pengirimnya tidak bernama, ia tahu persis siapa pemilik gaya pengetikan kaku dan mutlak tersebut. Damian tidak sedang memberinya pilihan, melainkan sebuah titah mutlak yang harus dipatuhi tanpa bantahan.
Di dalam dadanya, gelombang kepanikan langsung menghantam bertubi-tubi. Apa Profesor Damian tahu soal dirinya yang menyelinap ke ruang kerja malam itu? Atau pria kaku itu memergoki tumpukan kecurigaannya selama ini? Pikiran-pikiran buruk berkecamuk hebat, membuat lututnya mendadak lemas seketika.
"Ada apa, Nath? Kenapa pucat gitu mukanya? Kayak lihat hantu aja. Siapa yang kirim pesan?" tanya Daniel menyadari perubahan drastis pada ekspresi gadis di sampingnya.
Natalie buru-buru mematikan layar ponselnya, memasukkannya kembali ke dalam saku dengan tangan yang sedikit bergetar hebat.
"Nggak apa-apa, Dan. Perutku tiba-tiba agak mulas," dusta Natalie cepat, menyembunyikan kepanikan luar biasa di balik senyum paksanya. "Kayaknya rencana kita cari buku ditunda dulu ya. Aku harus cepat-cepat pulang sekarang,” jelas Natalie sambil berlari menuju ke jalan raya.